
Jiwo POV
Aku berbincang dengan Witri di warung bakso di samping sekolah Witri cukup lama.
Begitupun Lukman dan Astuti. Mereka berbincang di meja lain di warung yang sama.
Aku tadi nyaris pingsan saat Lukman menyeretku masuk ke warung sambil mengajak Witri.
Aku nggak punya uang sama sekali.
Bagaimana nanti bayarin jajanku dan jajan Witri?
"Tenang saja. Pakai ini dulu. Besok kamu ganti
seratus kali lipat kalau kamu sudah sukses. Oke?!" bisik Lukman - sambil menyisipkan uang limaribuan di genggamanku dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya mengambil kecap di depanku- saat Witri pamit keluar sebentar dari warung karena ada temannya yang mau bicara.
Dengan uang limaribu sudah sangat cukup untuk membayar bakso dan es jeruk kami nanti.
"Siap! Makasih ya,#Dab." kataku dengan sangat terharu.
Aku akan anggap ini hutang budiku padanya.
Aku berjanji akan mengganti kebaikannya ini seperti permintaannya kelak. Seratus kali lipat dari uang yang dia pinjamkan padaku untuk mentraktir Witri kali ini.
Aku dan Lukman baru pergi dari SMEA setelah Witri naik bis untuk pulang. Sedang pacar Lukman sudah pulang di jemput oleh kakaknya.
Sejak hari itu masih ada empat kali aku bertemu dengan Witri di sekolahnya. Tentu saja bareng dengan Lukman yang juga mojok sendiri dengan Astuti di meja lain.
Aku masih ngeri kalau harus menunggu Witri sendirian sepulang sekolah di gerbang sekolahnya.
Banyak banget cewek, dan aku nggak kuat mental menghadapi berbagai macam suara dan gaya cewek- cewek itu yang berniat menarik perhatianku.
Alhamdulillah wajahku banyak yang bilang memang cukup menarik walau tidak yang sangat tampan rupawan juga.
Kata teman- teman sih eye catching. Entah apaku yang menurut mereka menarik perhatian.
Terakhir bertemu dengan Witri adalah saat di sekolahnya ada acara perpisahan.
Seusai acara perpisahan kami bertemu dan berbincang hanya sebentar karena Lukman harus segera pulang karena motornya akan dipakai bapaknya.
Tak ada pembicaraan serius yang kami bicarakan selain janji untuk saling berkirim kabar lewat surat saat nanti kami akan terpisah jarak.
Dia hanya bilang nggak akan mengambil tawaran kerja di tempatnya PKL karena disana diwajibkan ber-make up dan harus memakai rok seatas lutut juga bersepatu tinggi.
"Mana bisa aku kayak gitu? Ngebayanginnya saja aku kesel." kata Witri saat itu.
Seperti biasanya, wajahnya bersungut- sungut cemberut.
Aku malah terus membayangkan kalau Witri berdandan seperti itu.
Pasti cantik. Dan pasti akan banyak cowok yang akan mengejarnya.
Oh no....aku nggak suka membayangkan yang bagian terakhir.
"Kamu yang serius PKL nya. Siapa tahu besok bisa langsung kerja disana. Kerja di tambang biar jadi orang kaya." kata Witri sambil tersenyum meledekku.
"Aamiin. Aku pengen kaya biar bisa ngelamar kamu." kataku waktu itu.
Entah dapat keberanian dari mana aku mengucap kalimat itu karena aku sungguh-sungguh mengatakannya.
Itu bukan kalimat candaan.
Itu salah satu cita- citaku.
Melamar Witri, menjadikan dia istriku, dan membahagiakan dia selamanya.
Itu cita- cita besarku.
Cita- cita yang hanya Mbak Rini yang kuberi tahu.
"Aku doakan cita- citamu terwujud." kata Witri sambil tertawa riang menatapku. Sorot matanya nampak begitu berbinar seolah ada kejora di dalamnya.
Tawa riangnya yang pertama kulihat saat bersamaku.
__ADS_1
Dan tawa itu mampu menghangatkan hatiku.
Sangat hangat.
Bahkan saat hanya mengenangnya saja di tahun- tahun setelah pertemuan terakhir itu.
Kini aku duduk sendiri di warung bakso di bangku yang sama tempat terakhir aku bertemu dan berbincang dengan Witri.
Bahkan tipe ex bertuliskan 2J yang kugores di sudut meja masih ada disana walau sudah berwarna kusam.
Coretan pulpen Witri bertulis Jiwo- Jawi pun masih ada di sudut lain meja ini.
Aku mengusap kedua tulisan itu dengan dada yang penuh rindu.
Sudah lima tahun berlalu dari hari itu. Dan aku tak tahu dia berada dimana kini.
Janji saling berkirim surat nyatanya hanya terlaksana dua kali.
Semua memang salahku.
Tugasku saat PKL ternyata harus keluar masuk hutan bersama tim ekspedisi perusahaan yang mencari titik pasti tempat yang berpotensi banyak batubaranya.
Tak ada kesempatan untukku berkirim surat karena posisi nyaris sepanjang bulan ada di hutan.
Surat kedua dari Witri tak bisa aku kirim balasannya walau aku sudah menulisnya.
Ada saja hal yang membuatku gagal mengirim surat balasan itu.
"Mase bukannya yang dulu suka disini sama Witri ya?" Mbak yang mengantarkan bakso pesananku menatapku agak ragu.
Senyumku langsung melebar mendengar nama Witri disebut.
"Iya, Mbak. Njenengan kenal Witri juga, Mbak?" tanyaku sambil menegakkan punggungku agar dia tahu aku mengajaknya ngobrol lebih serius.
"Ya kenal. Dia kan kondang diantara murid- murid SMEA dulu." kata Mbak itu sambil beranjak duduk di meja samping mejaku, seperti sengaja menjaga jarak duduk kami agar tak terlalu dekat.
"Kondang ya...?" gumamku lumayan tak kaget. Entah kondang galaknya seperti waktu kecil dulu, atau kondang karena otaknya yang lumayan encer.
"Dia pinter, Mas. Mewakili Jogja ikut Lomba Ketrampilan Siswa tingkat nasional juga dulu." cerita Mbak itu.
Keren...keren...
"Masnya udah nggak pacaran sama Witri?" tanya Mbak itu membuatku hampir tersedak kuah bakso yang sudah kubuat pedas.
Aku memilih menggeleng untuk menjawabnya.
Si Mbak itu mengangguk mengerti.
"Kirain mau jadi jodohmu,Mas. Dulu pada seneng kalau habis ngeliat kalian berdua disini." kata Mbak itu membuat senyumku otomatis mengembang.
Ternyata diam- diam kami jadi pusat perhatian juga saat itu.
"Mase sudah denger belum kalau Witri mau nikah?"
"UHUK !!! UHUK !!! UHUK !!!"
PRANGGGG!!!!
kali ini bukan hanya kuah bakso yang membuatku tersedak, tapi bakso yang baru sampai di tengah tenggorokan berhasil keluar lagi ke dalam mulut, dan hidungku jadi jalan kuah bakso untuk keluar.
Tanganku yang hendak meraih gelas minumku entah mengapa malah menyamparnya hingga gelas itu hancur di lantai
Si Mbak nampak kaget dan terlihat agak panik saat batukku tak juga mereda sambil menatap gelas yang sudah berkeping- keping.
Sakit.
Hidungku rasanya pedas dan panas.
Tenggorokanku rasanya nyeri.
Apalagi hatiku.
Remuk berkeping- keping seperti pecahan gelas yang berserakan di lantai.
__ADS_1
Batukku perlahan mereda setelah kuntepuk- tepuk ringan dadaku dan kuminumi air putih yang tadi segera di ambilkan.
Aku menarik nafas panjang berulangkali untuk menenangkan perasaanku yang langsung carut marut.
Witri akan menikah?
Dia akan meninggalkan aku dengan lelaki lain.
"Maaf ya, Mas. Malah bikin njenengan nggak enak hati." kata Mbak itu penuh sesal.
"Nggak papa, Mbak. Saya nggak papa kok. Tadi cuma kaget aja. Karena saya kira Witri akan nikah nanti setelah umurnya 25 tahun seperti katanya dulu." kataku sambil sebisa mungkin menenangkan wajah tegangku.
"Mungkin karena calonnya tentara dan mau tugas keluar Jawa, jadi nikah cepat biar bisa langsung diboyong ke tempat tugasnya." kata Mbak itu memberiku satu informasi lagi.
Witri akan jadi istri seorang tentara rupanya.
Di atas kesedihan dan rasa patah hatiku, aku harus bersyukur Witri mendapatkan suami yang jelas masa depannya.
"Orang mana Mbak calonnya Witri?" tanyaku lagi dengan nyeri di dalam hati.
"Orang sini juga. Tapi calonnya tugas di Aceh." jawab Mbak itu sambil sekilas menatapku.
"Witri suka kesini ya, Mbak?" tanyaku penasaran.
"Enggak pernah. Cuma kesini dua Minggu lalu janjian ketemuan sama teman- temannya. Karena itu Saya tahu kalau dia mau nikah. Tadinya dia juga nggak ngomong apa- apa, cuma saya pancing- pancing aja nanyain masnya. Katanya Masnya ngilang." kata Mbak itu sambil mengulum senyum.
DUARRRRR !!!!!
Hatiku rasanya sudah tak bersisa saat ini.
Bukan hanya patah hati yang kurasa, tapi juga rasa sesal dan rasa bersalah.
Apa karena tak ada balasan suratnya dulu membuatnya memutuskan menjalani hubungan dengan lelaki lain?
🍁🍁🍁🍁🍁
Aku sedang menikmati jatah liburku selama dua minggu dan seperti biasanya, aku memilih pulang untuk menjenguk ibu dan saudara- saudaraku.
Kepulanganku kali ini lebih istimewa karena Mbak Rini akan menikah.
Dia memilih pulang kampung setelah terjadi PHK besar- besaran di perusahaan tempatnya bekerja dulu kemudian bekerja di pabrik kerajinan perak di Kotagede. Disanalah dia bertemu jodohnya.
Beruntung Mbak Rini kena PHK saat aku sudah bisa menopang kehidupan keluargaku. Mengambil alih tanggungjawab yang dulu dilakukan oleh Mbak Rini dan Mas Tri.
Mas Tri sudah menikah dan sudah memiliki bayi berumur hampir setahun. Otomatis dia sudah tak bisa menyokong ekonomi keluarga kami seperti dulu.
Dia punya tanggungjawab menafkahi rumahtangganya sendiri.
Dan Mbak Rini pun demikian. Dia akan memiliki kebutuhan sendiri setelah berumah tangga.
Maka tanggungjawab membantu kelangsungan pendidikan adik- adikku dan membantu kebutuhan rumah ibu akan aku emban. Sudah jatuh masanya giliranku melaksanakannya.
Selama ini kami tak pernah mengharapkan bantuan dari Mas Ranu karena dia memang tak pernah mau diberi tanggung jawab ikut menyokong kebutuhan rumah.
Tak apa.
Mungkin dia yang harus jadi yang beda di dalam keluarga kami.
Bukankah setiap keluarga biasanya ada satu anak yang sikapnya berlawanan dengan sikap saudara- saudara lainnya?
Bapakku meninggal dua tahun lalu karena asma kronis.
Aku menyesal tak bisa mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya karena saat itu aku baru dua hari di Jepang, mengikuti pelatihan mewakili perusahaan tempatku bekerja.
Ijin pulang jelas tak mungkin diberikan.
Ibuku kini akan tinggal bersama empat adikku setelah nanti Mbak Rini akan ikut suaminya.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧 💧💧...
#Dab \= Mas . Ini adalah bahasa prokem yang awalnya biasa dipakai oleh kalangan preman di Jogja khususnya namun jadi trend di kalangan masyarakat Jogja terutama anak mudanya.
Bahasa ini diciptakan dengan cara membalik pemakaian huruf di abjad huruf Jawa.
__ADS_1
Bahasa ini dulunya adalah bahasa sandi yang digunakan oleh para prajurit yang bertugas sebagai telik sandi ( mata- mata) pada jaman pemerintahan Sultan Agung agar bahasanya tidak dimengerti oleh mata- mata pihak Belanda.