
"Beneran pacarmu mau melamarmu tahun depan?" tanya Jiwo pada Lily saat mereka hanya duduk berdua di teras depan sambil mengunyah jeruk yang di kupas Lily.
"Kata Mas Robby sih gitu. Tapi belum membahas tepatnya kapan. Semoga aja akhir tahun depan." kata Lily sambil melirik Jiwo.
"Kenapa pengen akhir tahun?" tanya Jiwo penasaran.
"Ya siapa tahu Mas Jiwo mau lamaran dulu di awal atau pertengahan tahun depan trus nikah. Aku kan jadi nggak harus nglangkahi ( mendahului,melompati) Mas Jiwo." kata Lily sambil tersenyum.
Jiwo mendengus.
Itu lagi yang jadi bahasan.
Kemarin Ibunya, sekarang adiknya.
"Aku dilangkahi juga nggak papa. Santai saja." kata Jiwo dengan wajah cuek.
"Beneran nggak papa?" tanya Lily dengan senangnya.
"Mmmmm..." jawab Jiwo sambil mengangguk.
"Nanti minta pelangkah mahal..." kata Lily dengan nada khawatir.
"Nggak! Seikhlasmu aja. Cuma buat formalitas tanda permisi aja karena mendahului kan? Tapi kalau kamu adik yang sopan, pasti tahu bagaimana cara menghargai kebaikan Masnya yang mau dilangkahi." kata Jiwo sambil terkekeh jahat.
Lily cemberut melihatnya.
"Sama aja mau minta barang mahal." sungut Lily.
"Enggak! Siapa bilang aku mau minta? Aku kan bilang seikhlasmu aja." sergah Jiwo sambil menahan tawa.
"Tapi Mas bilang aku harus tahu cara menghargai mu. Masak aku menghargai mu dengan pelangkah satu setel baju?" sungut Lily kesal.
"Lha terus kamu mau ngasih aku pelangkah apa nanti kira- kira? Helikopter?" ledek Jiwo.
"Rumah yang ada landasan helikopternya mau ya?" tawar Lily dengan semangat.
"Pacarmu sultan ya? Kok mau ngasih pelangkah semewah itu? Rumah yang ada helipad nya?" tanya Jiwo sedikit kaget.
"Bukanlah! Mas Robby kan arsitek. Nanti biar dibuatin miniatur rumah yang ada helipad sama helikopternya buat seserahan pelangkah." kata Lily sambil terkekeh membuat Jiwo melengos kesal.
Lily semakin tergelak melihat wajah kesal kakaknya itu.
"Mas Jiwo nggak usah mikirin biaya nikahanku. Mas Robby bilang keluarga kita nggak boleh ngeluarin biaya sedikitpun nantinya." kata Lily santai mengalihkan pembahasan dari pelangkah ke biaya nikah.
Jiwo terhenyak
Yang bener aja?! Biasanya pihak perempuan Jawa pasti akan mengeluarkan biaya sendiri untuk acara resepsi mereka.
Itulah kenapa Jiwo mulai berpikir untuk menyiapkan dana bagi acara resepsi pernikahan Lily nanti.
Walaupun mungkin tak mewah namun setidaknya layak dan berkesan untuk acara sekali seumur hidup adiknya itu.
"Keluarga kaya raya kayaknya si Robby." kata Jiwo sambil tersenyum simpul.
Jauh di dalam hati dia bersyukur bila jodoh Lily nantinya berkecukupan.
Setidaknya adiknya lebih terjamin kehidupannya nanti walau Lily bukan type gadis yang materialistis.
Tapi hidup juga sangat memerlukan kenyamanan finansial. Itu kenyataan yang tak bisa di bantah.
"Kayaknya sih gitu." kata Lily lagi.
"Orangtuanya tahu kalau kamu nggak kaya?" tanya Jiwo kemudian.
"Tahu. Aku pernah di ajak makan malam ketemu orangtuanya dan ditanyain soal keluarga kita. Seperti yang selalu Ibu bilang, kita harus selalu jujur. Ya udah aku bilang aja apa adanya." jawab Lily sambil mengunyah jeruk.
"Mereka mau sama kamu yang cuma anak kuli bangunan?" tanya Jiwo penasaran.
__ADS_1
"Enggak." jawab Lily sambil meringis.
Deg!
Dada Jiwo bergemuruh kemudian.
Orang miskin memang seringnya di pandang rendah dan ditolak.
Kadang kehidupan hanya ingin melihat seseorang itu kaya akan harta saja. Tak ingin melihat sisi lain dari seseorang. Entah itu kecerdasannya atau akhlaknya yang baik. Padahal kecerdasan dan akhlak yang baik adalah juga kekayaan. Bukan hanya harta.
Kadang hidup setidak adil itu berjalan.
"Kalau keluarga Robby nggak mau sama kamu kenapa kalian dengan PD nya merencanakan pernikahan tahun depan?" tanya Jiwo mulai gusar
Jangan- jangan Robby akan membawa adiknya kawin lari
"Karena sekarang keluarga Robby udah nerima aku." kata Lily sambil tersenyum lega.
"Kok bisa? Kamu disuruh ngapain sama keluarganya supaya bisa diterima?" tanya Jiwo penasaran.
"Disuruh membuktikan kalau aku layak jadi pendamping Mas Robby." jawab Lily singkat.
"Caranya?" tanya Jiwo makin mengejar.
"Ya dengan cara menunjukkan attitude yang baik dan berpendidikan. Menjaga nama baik. Aku juga mandiri, bisa bekerja dengan baik. That's all." jawab Lily tenang.
"Gitu aja?" tanya Jiwo belum percaya.
"Iya. Gitu aja." jawab Lily meyakinkan.
"Serius gitu aja?" tanya Jiwo masih belum yakin.
"Iya! Kenapa sih nggak percaya banget gitu?" tanya balik Lily dengan wajah kesal.
"Nggak sulit syaratnya." kata Jiwo kemudian.
"Apa?" tanya Jiwo ikut merendahkan suaranya.
"Akan ada perjanjian pra nikah soal harta. Gimana- gimana nya besok baru mau kami bahas." kata Lily dengan suara semakin rendah.
Nah kan,harta tetap jadi bahasan utama.
"Kami siapa maksudmu? Kamu sama calon mertuamu?" tanya Jiwo mulai sedikit kesal.
"Iya." jawab Lily sambil menatap Jiwo takut- takut.
"Mereka khawatir kamu ngerampok harta anak mereka ya?" tanya Jiwo dengan terkekeh pilu.
Sedih hatinya mendengar ini.
Apa merka pikir orang miskin kalau mendekati orang kaya hanya untuk menguras harta mereka saja?
Apa mereka kira orang miskin selalu kalap kalau melihat kemilau dunia?
Rendahnya kami di mata mereka ya Allah...
"Kamu nggak merasa tersinggung dengan permintaan perjanjian pra nikah itu?" tanya Jiwo lagi.
"Nope!" jawab Lily mantap.
"Lagian motivasi aku mau dinikahi Mas Robby kan juga bukan mau menguras harta keluarganya. Sekalipun Mas Robby nggak kaya aku tetap mau sama dia selama dia tetap seperti Robby yang punya kepribadian yang aku kenal selama ini. Aku jatuh cinta sama kepribadiannya dan semangatnya bekerja, bukan sama harta bapaknya." kata Lily menjelaskan.
Jiwo mengacungkan jempolnya bangga.
"Yang penting jangan sampai harga dirimu diinjak- injak hanya karena harta." kata Jiwo kemudian.
"Pastinya." sahut Lily sambil tertawa yakin.
__ADS_1
"Mas Jiwo beneran belum punya calon istri?" tanya Lily setelah keduanya sejenak terdiam.
Jiwo menggeleng mantap.
"Pacar?" tanya Lily lagi.
Jiwo kembali menggeleng.
"Masih menikmati patah hati?" tanya Lily lagi.
Jiwo kali ini menatap Lily sedikit kaget.
"Siapa bilang?" tanya Jiwo sambil tersenyum kecut.
Menikmati patah hati ya? Apa iya?
"Mbak Rini pernah cerita soal Mbak Witri..."
"Sttttt...stop...! stop!" potong Jiwo tak ingin Lily meneruskan kalimatnya.
"Kenapa?" tanya Lily nggak terima.
"Nggak perlu ngomongin itu lagi. Sudah berlalu." sahut Jiwo cepat.
Lily menangkap perubahan di wajah kakak lelakinya itu.
Walaupun berusaha bersikap tenang di depannya,namun Lily tahu kakaknya itu sedang meredam kegundahan.
"Semoga secepatnya dapat gantinya ya,Mas." kata Lily akhirnya.
"Aamiin." sahut Jiwo kemudian.
"Udah pernah mencoba menjalani sama orang lain?" tanya Lily kemudian, dengan sedikit takut.
Takut dianggap lancang terlalu mencampuri urusan pribadi kakaknya itu.
"Belum berani menerima siapapun. Aku belum selesai membereskan hatiku sendiri. Nggak adil rasanya menerima seseorang padahal ruang hati kita masih di tempati orang lain." kata Jiwo menanggapi.
Lily mengangguk mengerti.
Berarti benar,. Mas Jiwo patah hati sekali. Kasihan dia.
"Mas belum ikhlas?" tanya Lily mencoba bertanya lebih dalam.
"Harus ikhlas,Ly. Aku sedang berusaha sungguh- sungguh mengikhlaskan. Kalau aku nggak ikhlas sama saja artinya aku mau melawan garis takdir." kata Jiwo pelan.
"Bukannya doa bisa mengubah takdir,Mas?" tanya Lily sambil menatap Jiwo dengan serius.
"Ya. Dan sejak dahulu aku selalu mendoakan Witri mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Aku selalu berusaha menjadikan diriku selalu lebih baik setiap harinya agar aku bisa jadi yang terbaik untuknya. Namun ternyata takdir menunjukkan kalau ada yang lebih baik dari aku. Seseorang yang kini menjadi pendamping Witri adalah yang terbaik untuk hidupnya. Dan itu bukan aku. Yang terbaik buat Witri adalah suaminya." kata Jiwo pelan, dan sedih.
"Mas yakin Mbak Witri sudah mendapatkan yang terbaik?" tanya Lily.
"Untuk saat ini, ya. Aku tetap mendoakan dia selalu mendapatkan yang terbaik." jawab Jiwo.
"Mas masih tetap mendoakan Mbak Witri?"" tanya Lily keheranan.
Jiwo mengangguk sambil menatap heran pada reaksi kaget Lily barusan.
Apa salahnya mendoakan?
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Jiwo sambil menatap Lily.
"Bagaimana bisa mengikhlaskan dia pergi dari hatimu kalau dia masih saja ada dalam doamu? Padahal inti dari semua rasa mengharap dan ingatan selalu ada dalam doa." kata Lily membuat Jiwo terhenyak.
"Lepaskan dia dari doamu, Mas. Doakan dirimu sendiri saja. Ada seseorang yang sudah memilikinya dalam doanya. Suaminya telah memilikinya dalam doanya." kata Lily semakin membuat Jiwo terhenyak.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1