JANJI JIWO

JANJI JIWO
Ada Mamak


__ADS_3

"Selamat datang di rumah kami selama ini, Mak." kata Witri begitu berhasil membuka pintu rumahnya di asrama.


"Assalamualaikum..." salam Mamak sebelum memasuki rumah itu.


Matanya kemudian beredar menyusuri tiap sudut rumah mungil itu. Rumah pertama yang 'dimiliki' Witri sebagai seorang istri.


Sesuai hasil pembicaraan dua keluarga mereka, akhirnya diputuskan Mamak akan hidup bersama Witri di rantau. Tadinya semuanya membujuk Witri untuk keluar saja dari pekerjaannya, namun Witri menawar untuk menghabiskan masa kontrak kerjanya yang masih cukup lama, delapan belas bulan lagi. Setelah memikirkan besarnya biaya pinalti yang harus dibayarkan bila keluar sebelum masa kontrak habis, akhirnya diputuskan seperti ini sampai masa kontrak kerja Witri selesai.


Nanti seusai menghabiskan masa kontrak kerjanya, Witri diminta pulang saja ke Jawa, dan boleh mencari kerja di dalam provinsi saja.


Dan bila harus mengontrak rumah, harus ada Mamak di sampingnya.


Soal biaya hidup, Witri tak merasa bingung. Uang pensiun, dan tabungan gajinya selama ini, juga hasil sawah yang janjinya akan di kirimkan setiap panen, setidaknya tidak akan membuatnya kelaparan kelak.


Di asrama inipun Witri hanya punya waktu seminggu untuk kemudian berkemas- kemas keluar dari asrama.


Beruntung salah satu teman kerjanya yang dia mintai tolong mencarikannya kontrakan berhasil mendapatkan sebuah rumah kecil. Lumayan, ada dua kamar tidur, walau luasnya hanya sedikit lebih luas dari rumahnya di asrama.


Yang paling membuatnya senang adalah jarak rumah itu dengan kantornya cukup dekat, hanya perlu jalan kaki nggak sampai sepuluh menit. Jadi selama masa kehamilannya nanti dia berencana akan berangkat dan pulang kerja jalan kaki saja, sekalian olahraga pikirnya.


"Berdebu ya, Mak. Lama nggak dibersihin." kata Witri sambil terkekeh malu.


Dibawanya koper besar milik Mamak masuk ke kamarnya.


Memasuki kamar, tak bisa dibohongi ada yang sangat hilang disana. Kehadiran Hari.


Witri bergegas membuat senyuman di bibirnya.


Dia nggak mau menuruti kesedihannya.


Aksa berhak bahagia. Dan itu dia yang harus menciptakan.


Kehilangan Hari selamanya tentu saja tak akan mudah baginya. Namun menangisinya pun tak akan mungkin mengembalikan Hari di sisinya.


Biarlah dia mengenang suaminya dengan caranya sendiri. Dengan cara berusaha untuk terus bahagia agar tak membebani perjalanan Hari menuju alam selanjutnya.


Ada anak mereka yang harus mulai dia bahagiakan mulai kini.


Di dengarnya suara kompor dinyalakan. Mamak pasti menjerang air untuk membuat minuman hangat.


Setelah mengganti bajunya dengan pakaian rumah, Witri kembali keluar kamar setelah melemparkan senyum ke arah phigura photo pernikahannya.


"I love you, Mas." ucap Witri tanpa suara. Ucapan itu seperti yang sering Hari ucapkan dengan tersenyum- senyum saat kadang menggodanya yang sedang bad mood. Dan biasanya ucapan itu bisa membuat mood nya berangsur membaik karena dia akan mendapat pelukan kekasihnya itu.


Tapi sekarang tentu saja tak akan ada lagi pelukan lengan kokoh itu buatnya. Pemilik pelukan itu sudah pulang kepada Rabb nya.


"Wit, kamu udah lapar banget belum?" suara Mamak dari dapur menghentikan genangan airmata yang lagi- lagi tercipta tanpa dia rencanakan.


"Belum, Mak." jawab Witri sambil menghapus airmatanya dan bergegas keluar kamar.


"Mamak langsung ngliwet ( menanak nasi)?" tanya Witri dengan wajah keheranan.


"Iya. Nanti Mamak bikinkan sambel tapi nggak terlalu pedes sama bikin dadar telur aja ya? Makan seadanya dulu yang ada di kulkas kamu. Yang penting kamu harus segera makan." kata Mamak sambil menggulung lengan bajunya agar lebih leluasa menyiapkan perlengkapan membuat sambalnya.


"Mamak ganti baju aja dulu. Atau mending siram ( mandi, bahasa halus Jawa) sekalian aja biar seger. Masak udah jalan jauh banget dateng- dateng bukannya istirahat malah langsung sibuk di dapur. Kita bisa nyari makanan mateng, Mak nanti. Di depan kompleks banyak yang jualan makanan. Tinggal nelpon yang jual, nanti dianterin sampai rumah." kata Witri mencegah Mamak memasak.

__ADS_1


"Memang boleh orang luar masuk asrama?" tanya Mamak penasaran.


"Boleh asal lapor sama penjaga di depan. Mamak juga orang luar, tapi tadi boleh masuk kan?" jawab Witri sambil tersenyum.


"Kan Mamak yang bawa masuk kamu, penghuni asrama." sahut Mamak sambil tersenyum malu.


"Ya udah, Mamak mandi aja kalau nggak boleh masak." kata Mamak mengurungkan niatnya membuat sambal."Koper kamu taruh mana, Wit?" tanya Mamak kemudian karena tak ditemukannya koper di tempat terakhir diletakkannya.


"Aku masukkan ke kamar, Mak. Masuk aja nggak papa. Rumah ini kamarnya kan cuma satu." kata Witri sambil tersenyum sedikit tersipu.


Dengan langkah sedikit ragu dan tak enak hati, Mamak melangkah menuju kamar Witri dan Hari.


"Assalamualaikum..." salam Mamak lirih seusai membuka pintu dan sebelum melangkahkan kakinya memasuki kamar.


Senyum getirnya jelas tersemat saat menatap photo pengantin Witri dan Hari yang ada di atas kepala ranjang mereka.


"Sayang sekali, kebahagiaan kalian terlalu singkat, Nak. Tapi Mamak berterimakasih sama kamu, Har, bisa mencintai dan merawat Witri dengan baik selama kalian bersama. Terimakasih ya, Le.... Sekarang Witri sama Mamak lagi. Akan Mamak jaga istri dan anakmu sampai Mamak mati. Mamak janji." kata Mamak lirih sambil mengelus lembut gambar Hari yang nampak tersenyum bahagia.


Tak mau berlarut dalam kesedihan dan takut Witri melihatnya bersedih, Mamak bergegas membuka koper dan mengambil baju ganti kemudian bergegas keluar untuk segera mandi.


Witri terlihat sedang membuat minum untuk mereka berdua saat Mamak melintasinya.


"Mamak pengen makan apa? Aku mau pesen sekarang." tanya Witri sebelum Mamak menutup pintu kamar mandi.


"Terserah kamu aja asal rasanya nggak yang aneh- aneh." jawab Mamak karena bingung juga mau makan apa.


Witri terkikik pelan. Rasa yang aneh- aneh versi Mamak adalah rasa western food yang banyak mengandung keju dan aneka saos.


"Sate Padang aja lah." gumam Witri kemudian melakukan panggilan ke nomor Uni Sekar, pemilik warung sate Padang di kanan gerbang asrama.


Witri bergegas ke depan untuk membukakan pintu tetangga depan rumahnya.


Tanpa babibu terlebih dulu Teh Lilis langsung menghambur memeluknya sambil terisak pelan.


"Alhamdulillah kamu udah balik lagi, Wit. Kamu baik- baik aja kan? Sehat kan?" tanya Teh Lilis sambil memegang kedua bahunya.


"Sehat Teh. Alhamdulillah." jawab Witri sambil tersenyum walau sebelah tangannya menghapus sudut matanya yang berair.


Sepertinya dukacita untuk Hari belum usai di asrama ini. Tapi Witri sangat mengerti itu. Almarhum Hari dikenal baik di asrama ini. Maka saat dia meninggal bukan Witri saja yang sedih, tapi juga orang- orang yang mengenalnya.


"Mamak kamu mana? Katanya kamu ditemani Mamakmu." tanya Teh Lilis.


"Baru mandi, Teh. Ayo duduk dulu. Aku bikin minum sebentar." ajak Witri sambil mengajak Teh Lilis duduk di kursi tamu mungil di rumahnya.


Witri bergegas membuat satu lagi minuman untuk Teh Lilis dan membawa tiga gelas minuman ke ruang tamu.


"Ada tamu?" suara Mamak terdengar di belakangnya.


"Bukan tamu, Mak. Saya Lilis, kakaknya Witri kalau disini." jawab Teh Lilis dengan tersenyum sambil berdiri kemudian menyalami Mamak dengan sopan.


"Terimakasih banyak sudah menganggap anak dan menantu Mamak seperti adik kamu, Mbak." kata Mamak dengan terharu.


"Panggil Lilis aja, Mak. Saya pantes kan jadi Mbaknya Witri?" sahut Teh Lilis dengan riang yang disambut anggukan senang Mamak.


"Ini Teteh bawain makanan buat Mamak dan kamu, Wit. Belum masak kan?" tanya Teh Lilis sambil mengangsurkan satu tas plastik berisi dua bungkusan makanan.

__ADS_1


"Tadi Papahnya beli nasi Padang, sekalian beliinnya." kata Teh Lilis sambil tersenyum.


Air liur Witri tiba- tiba langsung terbit.


Membayangkan nikmatnya nasi yang tersiram kuah bumbu Padang membuat Witri semakin ngiler.


Dengan secepat kilat Witri membuka dengan semangat bungkusan nasi itu dan langsung melahapnya tanpa tolah toleh lagi.


Teh Lilis sampai keheranan melihat kelakuan agak aneh dari Witri yang biasanya terlihat tenang dan penuh sopan santun.


Mamak hanya tersenyum simpul sambil menggeleng kecil.


"Kayaknya Aksa suka sekali sama nasi Padangnya." gumam Mamak sambil menyentuh lutut Lilis yang langsung tersenyum senang saat dia ingat kalau Witri tengah hamil.


"Enak banget ini, Teh." kata Witri di sela kunyahannya yang tak berjeda.


"Habisin kalau gitu. Besok Teteh beliin lagi kalau kamu suka." kata Teh Lilis dengan mata berkaca- kaca.


Dia sedih sendiri mengingat bahwa Witri akan menjalani kehamilannya dalam keadaan sendirian. Bukan karena ditinggal bertugas suaminya, tapi suaminya telah meninggal. Nggak ada yang akan dijadikannya tempat bermanja selain Mamak nantinya. Nggak akan ada pertemuan pertama antara ayah dan anak.


"Besok aku beli sendiri aja. Teteh bisa bangkrut kalau beliin aku terus." kata Witri setelah meminum setengah gelas teh hangatnya. Teh Lilis hanya tertawa lirih.


Ketiganya menoleh keluar saat di dengarnya suara motor berhenti di depan rumah. Lalu tak lama seorang perempuan tengah baya muncul di depan pintu sudah dengan mata berkaca- kaca


"Assalamualaikum..." salam Uni Sekar sambil melangkah pelan menatap Witri yang terpaku karena melihatnya hampir menangis.


Witri hanya mampu membalas pelukan hangat uni Sekar padanya.


"Kamu sehat?" tanya Uni Sekar lembut sambil menatap Witri.


Witri mengangguk pelan.


"Sehat Uni. Alhamdulillah." jawab Witri sambil tersenyum getir.


Ya, dia harus selalu seperti itu bukan agar orang- orang lega?


Setelah berbasa- basi sebentar dengan Mamak dan Teh Lilis, Uni Sekar langsung pamit karena warungnya tadi ramai. Tentu saja uang yang diulurkan Witri padanya dia tolak dengan halus.


"Kali ini aku tidak menerima pembayaran. Lain waktu saja kamu boleh membayar." kata Uni Sekar sambil tersenyum. Selama ini memang Hari adalah langganan tetap sate Padangnya.


Rupanya Teh Lilis bukan satu- satunya tetangga yang menemui Witri. Ada beberapa tetangga yang menyempatkan datang atau langsung mampir saat tahu Witri sudah kembali. Sebuah sapaan hangat penuh kekeluargaan yang membuat Mamak begitu terharu.


"Pantes saja kalian betah nggak pulang kampung. Kalian sudah punya keluarga juga disini." kata Mamak sambil menutup pintu setelah tamu terakhir berpamitan. Witri hanya tersenyum kecil.


Mamak nggak tahu aja gimana sedih hatinya saat lebaran nggak bisa sungkem dan makan opor masakan Mamak. Beberapa lebaran hanya dia lalui berdua saja bersama Hari dan harus dia sembunyikan sedihnya sendirian.


Hari telah beranjak larut. Saat tinggal berdua seperti ini entah mengapa rasa lelah langsung terasa di badan Mamak dan Witri.


Keduanya membaringkan tubuh di ranjang yang barusan diganti spreinya oleh Mamak.


"Mulai sekarang aku tidurnya sama Mamak ya..." kata Witri sambil memeluk Mamak. Kebiasaan yang dia lakukan saat beranjak tidur dengan Hari.


"Iya. Mamak akan selalu temani kamu." kata Mamak lembut sambil mengelus- elus dahi Witri dengan wajah sedih.


Seharusnya saat hamil gini kamu bermanja sama suamimu ya, Nduk...Tapi ternyata Allah menginginkan kamu jadi perempuan yang lebih kuat lagi. Jangan sedih ya, Nduk...Ada Mamak.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2