
Sampai di depan UGD klinik, Nadi bergegas melompat turun untuk meraih kursi roda di dekat pintu masuk dan membawanya ke sisi pintu mobil.
"Bisa?" tanya Nadi lembut saat melihat Witri sudah bersiap keluar dari dalam mobil.
"Hmmm." jawab Witri menahan rasa mulas yang tiba- tiba menyerang.
Witri di dorong menuju ruang bersalin oleh seorang suster jaga ditemani Mamak disampingnya.
Sedang Nadi bergegas ke ruang administrasi seusai memarkirkan mobilnya.
Menjawab beberapa pertanyaan seputar. bumil dan jadwal kontrol serta HPL yang dia sudah tahu jawabannya, sesudahnya langsung menyusul ke ruang bersalin.
Dia heran dalam hari kenapa bisa ikut panik seperti ini. Kalau istrinya yang akan melahirkan lalu akan sepanik apa dia kelak?
"Masuk aja nggak apa, Pak. Bu Witri belum menjalankan proses lahiran kok. Barusan selesai diperiksa baru bukaan lima." kata suster dengan ramah.
"Iya. Makasih, Sus." jawab Nadi kemudian dengan ragu melangkah masuk. Dipikirannya langsung berputar sebuah istilah baru, yaitu BUKAAN. Maksudnya apa itu?
Pemandangan yang dia lihat pertama kali begitu masuk adalah Witri yang terbaring miring dengan mamak yang tak henti mengelus punggung bawah Witri yang tengah meringis- ringis.
Jaket Hari di dekap erat di dada Witri.
"Baru bukaan lima, Mak?" tanya Nadi lirih yang dijawab anggukan oleh Mamak.
"Barusan disuruh minum pil kecil. Kayaknya pemacu." kata Mamak lirih.
"Pemacu apa?" tanya Nadi bingung.
"Pemacu biar cepet bukaannya.Kalau nggak cepat bukaannya bisa kehabisan air ketubannya. Bahaya buat Aksa." bisik Mamak.
"Astagfirullahaladzim...Jangan sampai ya Allah..." kata Nadi panik. Walau dia belum mengerti apa sesungguhnya arti bukaan, Nadi berpikir kalau bukaan yang dimaksud adalah berhubungan dengan proses bayi untuk lahir.
"Kita bantu doa ya..." bisik Mamak sambilp tersenyum ke arah Nadi yang nampak kebingungan.
"Berapa lama begininya?" tanya Nadi kembali bertanya.
"Apanya?" tanya Mamak bingung.
"Sakitnya." jawab Nadi sambil memandang iba ke punggung Witri.
"Nggak ada yang tahu. Bisa lama, bisa juga sebentar." jawab Mamak lirih.
"Ya Allah...." desah Nadi sedih. "Mudahkanlah ya Allah..." bisiknya kemudian.
"Bukaannya sampai berapa sih, Mak?" bisik Nadi lagi.
"Sepuluh." jawab Mamak kemudian.
"Baru setengah." gumam Nadi tanpa sadar.
Dan bukannya Witri tak mendengar bisik- bisik di belakang punggungnya. Dia hanya lebih memilih untuk mempraktekkan berbagai masukan dan informasi soal bagaimana menjalani proses kelahiran dengan tenang. Mengalihkan rasa sakit dan tak nyaman selama proses pembukaan jalan lahir dengan cara mengenang semua hal indah dan nyaman dalam hidupnya.
Kak Berli bahkan pernah membisikinya untuk mengenang saat proses pembuatan Aksa. Dan itu tengah Witri praktekkan saat ini untuk melupakan rasa nyeri dan pegal gak terperi di pinggangnya, kadang diselingi juga mulas yang keterlaluan di perutnya.
Untuk menguatkan hati dan dirinya sendiri Witri memilih untuk mengenang perjalanan mengarungi malam- malamnya bersama Hari. Saat mereka saling mencurahkan cinta dengan segenap hati hingga mereka gak tahu di pertemuan yang mana yang akhirnya menghasilkan Aksa di rahimnya.
Witri tengah mengenang rasanya ciuman dan cum bu an Hari. Mengingat bagaimana kekasihnya itu menguasai setiap jengkal tubuhnya dengan ke cu pan. Mengenang bagaimana mempesonanya cara lelaki itu dalam memanjakan dan mengalahkannya di pertempuran malam mereka. Mengingat kembali bagaimana panasnya udara disekitar mereka karena berbalasnya serangan demi serangan satu sama lain.
__ADS_1
Witri dapat merasakan tubuhnya terasa memanas karena mulai tersulut hasrat saat ini. Membuat sebuah pergerakan di bawah sana tanpa dia sadari.
Apalagi saat ingatannya sampai di saat pencapaian kli maks nya, Witri merasa sebuah kejutan terasa di bawah sana.
Witri mengeratkan jaket Hari ke dadanya. Merasa seakan Hari tengah memeluknya erat saat ini sambil berbisik "Kamu keren. Terimakasih."
"Wit, kok diem aja..." kata Mamak karena sedari tadi tak ada rintihan Witri terdengar.
"Hmmm..." sahut Witri sambil 'mengemasi', memori panasnya bersama Hari.
"Boleh nangis Nak kalau sakit. Jangan di tahan." kata Mamak membujuk.
"Nggak papa kok, Mak." jawab Witri namun tiba- tiba meneteskan airmata.
Nadi yang melihat airmata witri merasa tak sampai hati. Dia memilih pamit kepada Mamak untuk keluar ruangan dan menata rasa ibanya kepada witri.
Nadi merasa tangisan Witri tadi bukan karena menahan sakit. Tapi karena perempuan itu sedang sedih dengan kondisinya yang mana akan melahirkan tanpa didampingi seorang suami.
Ya Allah, aku bisa apa untuk membantunya melewati semua ini?
Nadi duduk gelisah di bangku di depan ruang bersalin hingga dia melihat dr.Farida melangkah menuju ruangan di mana Witri berada.
"Tetap setia mendampingi hingga akhir ya Bang?" sapa dr. Farida setengah bercanda pada Nadi yang dilewatinya. Nadi hanya meringis salah tingkah.
"Mau ikut masuk nggak Bang?" tanya dr.Farida sebelum menghilang di balik pintu ruangan bersalin.
"Enggak. Aku nunggu di sini saja. Kalau butuh bantuanku bisa panggil aku kapan saja."
"OK." balas dr.Farida sebelum menutup pintu ruang bersalin itu. Meninggalkan Nadi yang kembali di dera rasa gelisah dengan mata yang tak berpaling dari pintu ruangan yang baru saja tertutup itu.
Ya ampun Ri...Kamu nggak pengen ngelihat anakmu lahir apa? Aku yang bukan bapaknya saja stres kayak gini... Kamu nggak pengen ikut ngerasain stressnya menyambut kelahiran anakmu? Nggak iri kamu sama aku? Aku deg-degan kayak gini ya Allah...
"Wa'alaikumsalam..." jawab Mamak dan Witri pelan.
"Kita lihat udah nambah belum bukaannya ya... Semoga malah udah sempurna bukaannya." kata dr. Farida langsung menuju ke tubuh bagian bawah Witri.
"Nggak mules mules atau pegel kah? Kayaknya dari tadi nggak ada suaranya..." tanya dr Farida sambil mulai menggerakkan jarinya di area jalan lahir.
"Ada terasa sedikit-sedikit tadi." jawab Witri setengah berdusta.
Dokter Farida tersenyum menanggapinya.
"Ini Aksa keren, nggak mau bikin mamanya susah. Udah bukaan sempurna loh ini. Cepet ini." kata dr.Farida dengan wajah sumringah.
Ada kelegaaan di tatapan Mamak dan juga Witri.
Berarti sekaranglah saatnya perjuangan sesungguhnya di mulai.
"Mau minum dulu nggak?" tanya dr.Farida sambil memposisikan kaki Witri senyaman mungkin.
"Udah tadi, Kak. Nggak haus juga." jawab Witri di tengah rasa deg- degan yang baru saja muncul.
Sanggupkah dia nanti melahirkan Aksa dengan lancar? Apakah dia dan Aksa akan mampu melewati proses ini dengan selamat?
"Ditemani Mamak aja atau perlu dipanggilin Bang Nadi?" tawar dr.Farida.
"Enggak! Mamak aja. Sama Mamak aja." tolak Witri cepat. Mau ditaruh dimana mukanya kalau saat melahirkan ditunggui Nadi?
__ADS_1
Kalau saja bisa dan boleh, aku hanya ingin Mas Hari ada saat ini. Cukup melihatku saja disini. Melihat Aksa kami keluar dari rahimku dengan selamat. Apakah boleh? Apakah bisa?
"Ayo kita berdoa. Semoga apa yang kita lakukan akan berjalan lancar dan dimudahkan." kata dr. Farida sambil menatap mata Witri yang nampak berkaca- kaca.
Di dalam hatinya, dokter usia tigapuluhan itu sungguh mengerti apa yang diinginkan Witri. Pasti dia ingin suaminya ada disini.
"Kamu kuat dan pasti bisa dengan mudah melewati ini. Bismillah ya, Wit..." kata dr. Farida memberi semangat yang dibalas anggukan Witri yang tak bisa menahan laju airmatanya namun tetap berusaha mengikuti semua instruksi dari dr. Farida.
Rasa sakit di raganya nyatanya masih kalah oleh rasa nelangsa yang tengah merejam hingga ke dasar relung hatinya.
Isakan yang lolos dari bibirnya bukan karena tak kuat menahan rasa sakit yang kian hebat di area bawah tubuhnya, tapi lebih karena rasa sedih dan merasa sendiri disaat yang harusnya dikuatkan oleh suaminya.
Aku mau kamu disini, Mas...Temani aku sebentaaar saja.... kata batin Witri mengiba saat dia terpejam memusatkan tenaganya mengikuti aba- aba untuk mengejan.
"Pinter...Ayo sekali lagi..." kata dr Farida membuat Witri berkobar semangatnya.
Digenggamnya tangan Mamak dan membuka matanya untuk mencari kekuatan dari senyum Mamak.
Namun yang dia lihat bukan hanya Mamak yang ada disampingnya.
Ada Hari!
Suaminya itu nampak berdiri di samping kepalanya sambil menatapnya dengan tersenyum haru memberinya semangat tiada tandingan.
"Mas..." gumamnya sangat lirih sambil mengerjapkan matanya agar airmata tak menghalangi pandangannya menatap kekasih hatinya.
Hari ada disana sambil terus tersenyum hingga suara tangisan bayi terdengar sangat kencang mengisi ruangan itu.
"Alhamdulillah..." ucap syukur langsung terdengar dari semua yang ada di ruangan itu.
Witri makin tersedu- sedu karena Hari mencium keningnya dengan lembut dan berbisik "Terimakasih, Sayang." lalu hilang dari pandangannya saat dia berkedip.
Tangis Witri pecah tak tertahan lagi. Mamak memeluknya dengan sayang.
"Ada Mas Hari Mak tadi." kata Witri di pelukan Mamak." Dia nemenin aku." katanya di sela isakannya. Mamak sontak terpaku sebelum akhirnya berucap lirih "Allahuakbar."
"Alhamdulillah..." kata Mamak kemudian sambil menghapus airmata Witri.
"Kenalan sama mamanya dulu yuk..." kata suster sambil membawa Aksa yang te lan jang untuk di tempatkan di dada Witri. Sementara dr. Farida masih melakukan sesuatu di area bawah Witri.
"Keren nih mamanya Aksa. Nggak perlu di jahit. Sip!" puji dr Farida.
Dan merasakan tubuh anaknya pertama kali menyentuh tubuhnya menghadirkan rasa indah yang tak ada duanya.
Saat tubuh mungil itu bergerak dengan sangat lincah untuk mencari sumber kehidupannya, Witri tersenyum bangga. Tak butuh lama jagoan kecilnya itu menemukan sumber kehidupannya.
"Waaah Aksa juga kereeeeeen. Pinternyaaaa anak sholeh." puji dr. Farida sambil mengangkat tubuh Aksa dari dada mamanya.
"Kita pakai baju dulu biar ganteng ya...nanti di adzani siapa? Bang Nadi?" tanya dr. Farida.
Witri dan Mamak saling lempar pandang bingung. Hampir saja lupa kalau bayi lahir disunnahkan di perdengarkan suara adzan dan iqomah di telinganya.
"Iya, nggak papa. Dia yang repot ikut ngurusin Aksa dari dalam perut kok." jawab Witri kemudian sambil melirik ke tempat dimana tadi dia melihat Hari berdiri.
Nggak papa kan Mas tugas pertamamu pada Aksa diwakili Bang Nadi?
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1
"