JANJI JIWO

JANJI JIWO
Bertemu


__ADS_3

Telinga Witri rasanya penuh oleh suara detak jantungnya sendiri sambil menunggu kopernya yang sedang naik konveyor muncul lagi di depannya.


Sesaat lagi, bila dia sudah bertemu kembali dengan kopernya, dia akan segera bertemu dengan Jiwo yang sudah menunggunya.


Apa yang pertama harus dia lakukan saat nanti bertemu dengan Jiwo? Tersenyum semanis mungkin atau bahkan berlari untuk memeluk lelaki itu? Ah rasanya kalau opsi yang terakhir terlalu berlebihan.


Witri nggak akan mungkin melakukan itu dalam posisi status mereka yang masih abu- abu menurutnya.


Jiwo tak pernah lepas menatap ke arah pintu kedatangan. Beberapa saat lagi, dari sanalah akan keluar perempuan yang tengah dinantinya sejak dua jam lalu.


Ya,Jiwo seperti orang yang kelewat bahagia untuk bertemu pujaan hatinya, hingga dia memutuskan berangkat jauh lebih awal dari jam kedatangan pesawat yang ditumpangi Witri.


Lebih baik menunggu di bandara daripada harus tergesa- gesa nanti.


"Rindu boleh rindu...tapi nggak nunggu dua jam juga di bandara, Wo..." ledek Arata saat tahu kalau Jiwo yang di telponnya tengah di bandara tengah menunggu kedatangan pujaan hatinya.


"Nggak papa. Cuma nunggu dua jam itu hal yang sangat kecil." kata Jiwo sambil terkekeh.


Dia bahkan menunggu belasan tahun untuk tahu akhir dari nasib kisah cintanya dengan Witri.


Mata Jiwo melebar sempurna saat sosok yang dia nanti sudah muncul di antara penumpang lain. Perempuan berwajah khas Jawa itu nampak menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaannya.


Tanpa bersuara, diiringi degupan jantung yang kian bertali, Jiwo melangkah cepat ke arah sosok berwajah manis itu.


Senggolan bahunya pada bahu orang lain yang tak sengaja tertabrak seakan tak dirasanya karena semua rasa dan tujuannya hanya ada di satu wajah ayu di depan sana.


Jawitri, welcome...


"Wit..." panggil Jiwo dengan bibir gemetar saking bahagianya.


Witri yang sedari tadi celingak- celinguk gelisah karena tak juga melihat keberadaan Jiwo tentu saja kaget karena yang dia cari sudah berdiri tegak di depannya dengan tatapan tak berkedip ke arahnya.


"Astagfirullahaladzim Wo...! Aku hampir nangis celingak- celinguk nyariin kamu nggak keliatan." kata Witri langsung mencengkeram lengan Jiwo dengan wajah sangat lega


Hatinya tadi langsung kebat- kebit saat dia mencari-cari keberadaan Jiwo tapi matanya tak bisa menemukan keberadaan lelaki itu.


Jiwo tersenyum lega mendapati perlakuan Witri barusan.


Wow....opening perjumpaan yang diluar angan- angannya.


Dia tadi berpikir Witri pasti akan kaku begitu pertama bertemu kembali dengannya. Tapi lihatlah sekarang, lengannya belum terbebas dari kekuasaan cengkeraman telapak tangan Witri yang sedikit cemberut.


Ha..ha...wajah cemberut itu masih persis sama saat SD dulu. Menggemaskan.


"Aman...Sudah ketemu kan sekarang?" kata Jiwo sambil tersenyum senang.


"Iya. Alhamdulillah aku nggak jadi hilang." jawab Witri sambil terkekeh malu.


"Mana mungkin akan hilang. Aku selalu mengawasimu, ingat itu." kata Jiwo sambil tertawa kecil.


Ayo kita duduk dulu." ajak Jiwo sambil beranjak ke barisan kursi yang lumayan lenggang.


"Mau ngapain?" tanya Witri keheranan saat Jiwo mengarahkan kamera ponselnya sendiri ke arah mereka berdua.


"Photo pertama kita berdua." kata Jiwo sambil tersenyum riang.

__ADS_1


Akhirnya kesampaian punya photo berdua denganmu. Sebentar lagi semoga bisa photo bertiga sama Aksa, batin Jiwo.


"Nelpon Mamak dulu ya?" tawar Jiwo yang langsung mendapat anggukan dari Witri.


Dengan panggilan VC Jiwo dan Witri bisa menunjukkan pada Mamak kalau Witri sudah sampai dan sudah bertemu dengan Jiwo, membuat Mamak tenang dan senang.


Keduanya berjalan berdampingan dengan genggaman tangan Jiwo di pergelangan tangan Witri yang terbalut baju hangat.


Sesungguhnya akan lebih terasa manis dan terlihat romantis kalau dia menggenggam telapak tangan Witri dengan erat, bukan mengenggam pergelangan tangannya seperti yang tengah dia lakukan ini.


Namun menangkap rona malu di wajah Witri dengan bergegas melepaskan pegangan tangannya di lengan Jiwo tadi membuat Jiwo berkesimpulan akan ada kemungkinan Witri akan menolak acara genggaman tangan yang diinginkannya. Jadi untuk mencari aman, begini saja dulu.


Witri nampak tidak terbiasa bersentuhan sembarangan dengan lawan jenis.


Alhamdulillah...


"Mau langsung ke hotel dulu atau mampir dulu ke apartemenku?" tawar Jiwo begitu mereka memasuki sebuah taksi.


"Ke hotel dulu nggak papa ya?" pinta Witri dengan wajah sedikit malu dan nggak enak hati.


"Oke!" jawab Jiwo santai kemudian berbicara pada sang driver.


"Jarak antara hotelmu dan apartemenku nggak jauh. Jalan kaki cuma sekitar tujuh menit." kata Jiwo menjelaskan.


"Baguslah kalau begitu. Kalau kita janjian, aku nggak perlu nunggu lama." sahut Witri sambil tersenyum.


"Mau ku ajak kencan nggak?" tembak Jiwo langsung.


"Ha?! Ken can?" tanya Witri kaget.


"Hmmm..." jawab Jiwo sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.


"Bentar....Definisi kencan harus kita samakan dulu persepsinya." kata Witri sambil kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Jiwo agar bisa lebih nyaman berbincang.


Jiwo terkekeh pelan.


"Kalau menurutmu yang disebut kencan itu yang kayak gimana?" tanya Jiwo ikut memiringkan tubuhnya hingga kini sebelah kaki mereka sudah ada di atas dudukan jok mobil.


"Kamu dulu aja." jawab Witri malu- malu.


Jiwo menautkan kedua alisnya sambil tersenyum meledek menatap Witri.


"Kenapa senyum- senyum gitu?" tanya Witri dengan melirik malu.


"Aku kalau lagi mikir emang suka sambil senyum- senyum gini." jawab Jiwo sambil tertawa.


"Bokis banget!" sungut Witri sambil membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke arah depan.


"Masih mau dengar definisi kencan nggak?" tanya Jiwo sambil menatap Witri.


"Boleh." jawab Witri sok cool. Padahal dia memang penasaran soal makna kencan bagi Jiwo.


Setidaknya - menurutnya- dari cara memaknai istilah kencan itu dia akan bisa menilai sejauh mana kualitas pikiran dan orientasi Jiwo pada sebuah kedekatan hubungan khususnya dengan lawan jenis.


"Hmmmm...kencan menurut definisi ku adalah janjian jalan berdua dengan seseorang yang kita suka, kemudian berencana dan berusaha membuat dia senang dan menikmati waktu saat bersama kita." Jiwo menjelaskan dengan tatapn sedikit menerawang dan senyum kecil bahagia di wajahnya.

__ADS_1


"Kalau kencan versimu apa?" tanya Jiwo kemudian sambil menoleh ke arah Witri.


Jarak wajah mereka dekat saat ini. Bahkan mungkin ini jarak terdekat yang pernah terjadi diantara mereka. Hanya sekitar dua jengkal saja.


Dan Jiwo baru tahu kalau tepat di lekukan bawah bibir Witri ada tahi lalatnya. Kecil, namun sangat manis bertengger di sana.


"Kurang lebih sama kayak yang kamu bilang." jawab Witri kemudian membuang pandangan ke samping, mencoba melihat pemandangan di luar. Dia tahu Jiwo sedang menatapnya dari tadi, dan itu membuat dirinya sedikit kurang nyaman.


Tiba- tiba ada rasa takut dan khawatir menyergapnya.


Apa yang ada dipikiran Jiwo saat menatapnya? Apakah ada pikiran nakal terlintas di benak lelaki itu?


Witri memejamkan matanya resah.


Ya Allah sepertinya aku salah telah memutuskan untuk datang kesini sendirian.


"Apakah sama juga dengan yang ada di khayalanku tentang apa yang biasanya dilakukan oleh orang yang berkencan?" tanya Jiwo semakin memperburuk rasa takutnya.


Witri hanya melirik pura- pura tak melihat raut penasaran dan meledek dari lelaki di sampingnya.


"Memangnya orang kencan biasanya ngapain?" tanya Witri sok cuek. Padahal dia jelas tahu apa yang biasa dilakukan sepasang kekasih saat nge date dengan pasangannya.


Sentuhan- sentuhan intim pasti akan ada menghiasi acara kencan dua orang yang telah dewasa.


Witri meringis ngeri sendiri dengan pikiran nakalnya.


Ah dasar jablai, dengus Witri kesal pada dirinya sendiri.


"Hmmm,.." Jiwo menatap Witri sambil tersenyum jahil."Pertama paling gandengan tangan, genggamannya nggak mau lepas, nempel- nempel kalau duduk atau jalan..." Jiwo terkekeh melihat rona merah muda di wajah Witri." Terus mulai deh peluk- peluk kecil, nyuri- nyuri nyium pipi..."


"STOP!! Awas ya kalau kamu begitu!" sahut Witri sambil melotot ke arah Jiwo dengan telunjuk mengarah ke wajah Jiwo yang langsung tergelak.


"Kenapa? Takut?" tanya Jiwo nggak percaya.


"Nggak!" jawab Witri cepat namun kemudian disusul dengan ucapan "Iya!" dengan wajah yang disembunyikan di balik telapak tangannya.


Tawa Jiwo meledak melihat tingkah Witri itu.


"Takut aku romantisin?" ledek Jiwo lagi.


"STTTT!! Berisik!" sahut Witri dengan wajah kesal menahan malu. Jiwo semakin tergelak.


Dalam hati keduanya saling menilai lawan bicaranya.


Ternyata galakmu nggak berkurang ya, Wit...Aku nggak pangling dengan sikap ini...Kamu masih aku kenali dengan baik.


Ternyata sekarang kamu lebih manusiawi, Wo...Nggak kayak kanebo kering dan lebih percaya diri. Jauh lebih menyenangkan dibanding masa remaja dulu.


Begitu sampai hotel tujuan,Jiwo tak menyempatkan diri untuk mampir dan ngobrol dulu dengan Witri.


Dia lebih memilih memberi waktu kepada Witri untuk beristirahat. Mereka berjanji untuk bertemu lagi saat menjelang makan malam.


"Sampai jumpa di kencan pertama kita nanti." pamit Jiwo di depan inti kamar Witri begitu dia sudah membukakan pintu untuk pujaan hatinya.


"Ya." jawab Witri malu sebelum Jiwo membalikkan badannya dan berjalan tenang tanpawnoleh lagi padanya.

__ADS_1


"Ish...nggak ada drama- dramanya." gumam Witri kesal.


...💧 b e r s a m h u n g 💧...


__ADS_2