JANJI JIWO

JANJI JIWO
Keberangkatan


__ADS_3

Dan sampailah waktu perpisahan itu. Kesedihan yang kemarin- kemarin masih bisa ditahan dan berusaha disembunyikan, akhirnya pecah juga saat ini.


Hanifah tak berhenti menangis sejak memasuki bandara.


Tangannya tak lepas dari genggaman tangan Jiwo.


Hatinya rasanya sangat resah dan ingin sekali memohon Jiwo tak usah pergi saja. Dia tak mau berpisah jauh.


"Kok jadi nangis terus gini?" kata Jiwo lembut sambil menghapus airmata yang terus merambati pipi halus Ifah.


Hanifah hanya menggeleng pelan dan semakin terisak. Dia sadar nggak mungkin meminta Jiwo untuk bisa tetap tinggal.


"Jangan lupa sering ngabarin aku." kata Ifah sambil menyembunyikan wajahnya di balik bahu Jiwo.


Malu juga rasanya tak bisa berhenti menangis dari tadi.


Baru beberapa saat lalu dia menyadari dirinya jadi bahan lirikan orang- orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


"Iya. Aku kan udah janji mau ngabarin kamu sehari lima kali." kata Jiwo sambil tersenyum, berusaha mengikis kesedihan Ifah.


"Tiap hari ya? Nggak ada hari libur ngabarinnya." kata Ifah lagi.


Kali ini wajahnya menempel di ujung bahu Jiwo. Menatap Jiwo dari samping.


"Iya. Nggak ada hari libur ngabarinnya." jawab Jiwo sambil menolehkan wajahnya mengulang ucapan Ifah untuk meyakinkan kekasihnya itu.


Wajah mereka sangat dekat kini. Jiwo bisa mencium kening Ifah dengan mudah. Dan itu tengah dia lakukan dengan gerakan tenang.


Dalam hati dia terkekeh sendiri dengan ulah lancang bibirnya barusan.


Ini aksi mengecup kening pertamanya. Dan ternyata dia bisa melakukannya dengan tenang.


Kayak udah biasa aja aku nih. Main kecup kening anak orang tanpa permisi.


Dilihatnya wajah Ifah langsung merona dan langsung bergerak menjaga jarak.


"Malu ih!" bisik Ifah sambil mencubit pelan pinggangnya.


Jiwo terkekeh pelan.


"Nangis terus sih. Setelah dicium keningnya udah nggak nangis lagi." kata kata Jiwo setengah meledek, membuat Ifah meringis malu.


Ya, kenapa dia tiba-tiba bisa berhenti nangis begini? Apa karena saking kaget dan bahagianya mendapat ke cu pan pertama dari Jiwo?


Ya. Jangan dikira karena mereka sudah dewasa maka gaya pacaran mereka juga dewasa


Jiwo sangat sopan bertingkah laku pada kekasihnya.


Tiga bulan pacaran mereka, Jiwo hanya menyentuh area tangan Ifah. Mengenggam atau menggandeng tangan Ifah saja.


Paling banter memeluk bahu Ifah.Itu pun sangat jarang dia lakukan.


Dan bila sekarang Jiwo mau mengecup kening, itu adalah peningkatan level keberanian Jiwo.


"Kalau besok aku rindu gimana?" tanya Ifah kembali merapatkan duduknya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jiwo dengan manja.


"Tinggal telpon. Bisa ngeliat photoku juga kan di galeri ponselmu. Ada banyak kan?" jawab Jiwo lembut sambil sedikit menolehkan wajahnya.


Rambut halus Ifah menyentuh pipi Jiwo. Harumnya shampo bahkan bisa tercium oleh hidung Jiwo.


"Kalau pengen di peluk kamu?" tanya Ifah lirih sambil sedikit mengangkat wajahnya, membuat wajah mereka kembali nyaris tak berjarak.


Sepersekian detik keduanya membisu dan terpaku pada posisi yang sangat mendukung untuk terjadinya sebuah adegan 18+ di tempat umum.

__ADS_1


Mata Jiwo nampak jelas tertancap pada bibir mungil namun penuh berlapis lipstik jingga muda di jarak tak lebih sejengkal dari bibirnya sendiri.


Mata Ifah menatap penuh tanya ke mata Jiwo.


Menuruti kata hati, Jiwo bergerak lembut mendekatkan bibirnya. Mengikis jarak untuk mendaratkan bibirnya di...pipi Ifah.


Dia kemudian menegakkan tubuhnya untuk sebisa mungkin membuat jarak tanpa menyinggung kekasihnya.


Kalau diteruskan bisa meningkat teramat drastis dalam sehari soal.kelancangannya pada anak orang. Jiwo khawatir soal itu.


Ada sedikit kecewa di hati Ifah saat Jiwo hanya mencium pipinya, bukan bibirnya.


"Kalau pengen di peluk sama di cium kayak tadi ya harus sabar menghitung hari selama tiga bulan kemudian." jawab Jiwo sambil tersenyum.


"Belum jadi pisah aja udah berat begini rasanya. Pengen pegangin kamu terus aja biar nggak jadi ikut naik pesawat." kekeh Ifah dengan wajah sedikit kesal pada dirinya sendiri.


Semakin mendekati menit- menit terakhir kebersamaannya dengan Jiwo semakin berat membayangkan akan menjalani hari sendirian nantinya. Akan mengisi hari berteman celengan rindu untuk kekasihnya.


Jiwo tertawa lirih.


Sesungguhnya dia pun mengerti kegundahan hati Ifah karena dia sendiripun merasakan hal yang sama.


Namun dia kemudian berpikir sebagai manusia dewasa yang harusnya pasti memiliki ketangguhan hati dan kesetiaan yang lebih teruji untuk menjalani sebuah LDR.


Dia sadar tak akan mudah awalnya karena terbiasa bertemu setiap hari. Namun dia yakin mereka bisa membiasakan diri mereka untuk 'saling kehilangan' di hari- hari selanjutnya sambil saling menumpuk rindu yang akan mereka urai nanti saat mereka bertemu di waktu- waktu yang telah mereka sepakati.


"Kita bisa menjalani ini, Sayang." bisik Jiwo kemudian merengkuh bahu Ifah.


Dia tidak tahu pasti, ucapan itu sebenarnya untuk meyakinkan Ifah atau meyakinkan dirinya sendiri.


"Kalau ada apa- apa dengan hatimu bilang ya,Mas." kata Ifah yang kembali menangis.


Jiwo mengangguk berat. Dia tahu maksud dari kata 'ada apa- apa dengan hatimu' yang diucapkan Ifah.


Ifah jelas khawatir dia tergoda dengan hati yang lain nantinya.


"Hatiku nggak akan kenapa- napa dan nggak akan kemana- mana. Di kamu aja udah." kata Jiwo membuat hati Ifah menghangat.


"Kamu juga yang setia ya disini. Jangan keluar main berdua sama cowok lain. Aku nggak suka." kata Jiwo mengingatkan.


"Iya. Aku kan juga nggak pernah keluar sama cowok selama ini selain sama pacarku ini." kata Ifah sambil melingkarkan kedua lengannya memeluk perut dan pinggang Jiwo.


"Pinter. Aku percaya sama kamu." sahut Jiwo sambil mengelus lengan Ifah lembut.


"Kalau nanti ada cowok yang nembak kamu, bilang kamu udah punya pacar cowok manis dari Jogja." kata Jiwo sambil terkekeh.


Ifah tergelak sambil melepaskan pelukannya.


"Idih! PD sangat Anda, Pak." kata Ifah disertai tawa.


"Aku kan memang seperti itu. Manis." kekeh Jiwo masih narsis.


"Iya. Manis kayak gula Jawa. Gila parah manisnya." sahut Ifah akhirnya.


"Makasih pengakuannya..." kata Jiwo sambil mengerling genit penuh kesombongan.


"Ya Allah narsisnya..." kekeh Ifah sambil menggeleng tak percaya walau dalam hati dia tak menyangkal kebenaran atas kenarsisan Jiwo itu.


Pria itu memang tak tampan rupawan bak pangeran. Jiwo biasa saja sih, namun punya pesona tersendiri dan mampu menarik perhatian dengan pesonanya itu.


Pembawaannya yang nampak pendiam memang membuat segan orang yang belum mengenalnya.


Padahal bila sudah kenal,Jiwo adalah sosok yang hangat dan menyenangkan.

__ADS_1


Bicara dengan Jiwo seakan tak akan pernah kehabisan bahan pembicaraan karena wawasan luas cowok itu. Ibarat kata ngomongin bumbu dapur sampai pesawat tempur Jiwo bisa mengimbangi lawan bicaranya.


Ifah tentu saja bangga bisa menjadi kekasihnya.



Sumber: google


Ketegangan kembali melanda sepasang kekasih itu saat terdengar panggilan untuk para penumpang menuju Jakarta.


Pesawat yang akan membawa Jiwo sudah siap menanti para penumpangnya untuk masuk.


Ifah kembali berkaca- kaca. Genggaman tangan Jiwo yang lembut dia remas lebih kuat sebagai pelarian rasa gundahnya.


"Udah waktunya aku pergi. Kamu baik- baik ya disini." kata Jiwo setelah beberapa detik memilih menunduk.


Hatinya sedikit kacau dan dia tak suka perasaan ini.


Ini bukan perpisahan selamanya. Kenapa harus secemas ini berpisah?


"Iya." jawab Ifah sambil mengangguk dan menghapus cepat airmata yang bergulir.


Dia tak tahu lagi harus bicara apa.


Hatinya resah bercampur aduk tak karuan dengan rasa tak rela dan ingin ikut saja rasanya.


Belum juga lelaki ini beranjak dari depannya dia sudah merasa begitu jauh dan rindu.


Bagaimana bila nanti dia telah dibawa pergi oleh pesawat dan jarak jelas nyata terbentang diantara mereka?


Bagaimana nanti dia melewati hari- harinya dengan menumpuk rindu disini sendirian?


"Sini peluk dulu." kata Jiwo sambil merentangkan tangannya. Membuka dirinya lebar- lebar agar Ifah masuk ke pelukannya.


Dengan menghambur Ifah menubruk dada Jiwo dan meledakkan tangisnya kembali.


"Kita hanya berbeda pulau, bukan berbeda alam. Kamu masih. bisa denger suaraku, nggak cuma bisa mengingatku kalau rindu. Jangan sesedih ini karena jarak di dunia." kata Jiwo lembut membuat hati Ifah yang tak karuan bisa sedikit mereda.


Ya, mereka masih ada di bumi yang sama. Menikmati matahari dan bulan yang sama. Menatap langit yang sama.


"Kamu bisa kirim pesan padaku kapan saja. Bukan hanya kirim doa. Kita akan baik- baik saja. Kita akan buat semua baik- baik saja. Ya?" kata Jiwo lagi semakin menenangkan Ifah.


Ifah mengangguk mengerti di dada Jiwo.


"Aku cinta kamu." kata Ifah sekuat hati. Dia sebenarnya malu mengucapkan kata itu, tapi kali ini dia ingin Jiwo tahu dengan jelas tentang perasaannya.


"Aku juga cinta sama kamu. Aku juga percaya sama kamu." balas Jiwo sambil menambah sedikit erat pelukannya sebelum kemudian mengurainya karena sudah terdengar panggilan kedua.


"Aku berangkat ya." pamit Jiwo lagi sambil merapikan wajah Ifah yang sedikit berantakan oleh sisa airmata dan helaian rambut yang menghiasi wajah.


"Hati- hati ya. Kabari aku kalau sudah sampai." jawab Ifah sambil berusaha tersenyum manis.


Dia tak ingin Jiwo melihat tangisan di ujung kebersamaan mereka kali ini.


Biarlah Jiwo mengingat senyum manisnya di antara langkah- langkahnya meninggalkan kota ini.


"Pasti." jawab Jiwo dengan mantap.


" Sampai jumpa 3 bulan lagi." kata Jiwo lagi sambil tersenyum, melambaikan tangannya, melangkah mundur beberapa langkah sambil mengukir dalam hati wajah berhias senyum penuh harap dari wajah yang ingin dia sematkan dihatinya sampai akhir usianya nanti.


Dia tinggalkan senyum termanisnya untuk gadis itu sebelum membalikkan badannya dan melangkah cepat dan tak menoleh lagi.


Hamba serahkan kisah hamba ini kepada- Mu ya Allah. Mudahkanlah dan ringankanlah kami bersatu bila kami memang berjodoh.

__ADS_1


Dan bila tidak, jangan KAU biarkan kami saling menyakiti terlalu lama.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2