JANJI JIWO

JANJI JIWO
Cerita Untuk Witri


__ADS_3

Jiwo bergegas membuka pesan masuk di ponselnya. Dari Lukman.


Dia tengah menunggu mobil kantor yang akan mengantarnya ke bandara. Kebetulan dia dan dua rekannya searah, jadi bisa di jemput sekalian oleh satu mobil dan Jiwo ada di urutan terakhir penjemputan


Seperti janjinya semalam, sahabatnya itu ternyata benar-benar mencari kebenaran soal meninggalnya Hari.


Dan pagi ini Lukman mengirimkan beberapa photo yang berisi surat lelayu ( surat pemberitahuan orang meninggal. Biasanya akan dibagi ke desa- desa terdekat dari lokasi duka untuk diumumkan ke warga lewat speaker masjid), karangan bunga, juga prosesi saat jenazah akan diberangkatkan ke pemakaman. Semuanya merujuk kepada nama Hari Prasetyo. Apalagi di surat lelayu ada nama Jawitri tertera sebagai istrinya.


Fix, lelaki yang dia percaya bisa melindungi dan membahagiakan Witri itu telah lebih dulu berpulang.


"Innalilahi wainna ilaihi rojiun..." gumam Jiwo lirih.


Jiwo kembali memandang pesan yang baru saja masuk.


Sebuah nomor telpon telah dikirimkan Lukman untuknya. Nomer Witri.


Kebimbangan tiba- tiba saja melanda benaknya.


Satu sudut hatinya memaksa dirinya untuk segera menghubungi nomer itu untuk mengucapkan rasa bela sungkawa dan kalimat penghiburan untuk menguatkan.


Namun satu sisi lainnya menahannya karena rasa ragu kalau Witri nanti nggak akan mengindahkan pesannya.


Ting!


Sebuah pesan dari Lukman semakin membuat hatinya berdebar tak karuan.


📩 : Siang nanti aku akan ikut istriku dan beberapa alumni sekolahnya untuk melayat ke rumah duka. Titip pesan nggak?


Jiwo tak bisa menjawab pertanyaan itu walau ingin sekali bilang iya.


Iya, dia ingin titip pesan agar Witri bisa selalu kuat dan ikhlas menerima takdir ini.


Iya dia ingin titip pesan kalau Witri tak boleh terlalu lama bersedih.


Iya dia ingin titip pesan bahwa dia ingin juga ikut ke sana, memberi penghiburan langsung pada Witri.


Iya dia ingin titip pesan bahwa sekarang dia juga ikut sedih dengan kabar duka ini.


Iya dia ingin titip pesan kalau dia sangat ingin terbang pulang.


"Arggggh...!!!" Jiwo mengacak kasar rambutnya yang tadi telah tersisir rapi.


Ting!


Jiwo kembali membaca pesan masuk dari Lukman.


📩: Galau ya mau jawab apa? 😜😜😜


Jiwo mendengus kesal setelah membaca ledekan Lukman itu.


Ckkk, udah tahu aku begitu, masih nanya!


Belum sempat menjawab, mobil jemputan Jiwo sudah datang.


Panik dengan suara klakson mobil yang mengagetkannya dan kondisi rambutnya yang acak- acakan, Jiwo langsung melupakan kegiatannya berbalas pesan barusan.


Bergegas memasukkan ponsel ke saku celananya, satu tangan menarik koper dan satu tangan lainnya merapikan rambutnya sebisa mungkin, Jiwo melangkah keluar rumah sambil berteriak pada adiknya kalau akan berangkat.


"Selamat pagi, Pak." sapa Deni, driver kantor yang terkenal rajin itu menyambut Jiwo sambil membuka bagasi mobil kemudian menerima koper Jiwo.


"Pagi, Den. Udah sarapan belum?" tanya Jiwo basa- basi.


"Belum, Pak. Tapi udah dibeliin sama Pak Martin. Nanti kalau sudah sampai bandara saya tinggal makan." jawab Deni sambil tersenyum.


Jiwo memilih duduk di bangku depan, di sebelah Deni agar lebih tenang melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.


Dia ingin meneruskan obrolan chat nya dengan Lukman yang sempat tertunda sejenak.


📩:Kamu ngilang, Wo? 😳


Satu chat masuk lagi dari Lukman karena Jiwo tak juga menjawab.


Jiwo: Enggak...lagi masuk mobil jemputan, otw bandara.


📩: Oh...OK...👍 Jadi titip pesen apa sama Witri?


Jiwo menghela nafas berat.


"Berat banget kayaknya, Bro...Say goodbye sama siapa sih lu? Pacar?" Martin mulai bersuara juga setelah sedari masuk mobil tadi dilihatnya Jiwo langsung sibuk dengan pesan di ponselnya dengan kening berkerut- kerut dan wajah tak tenang.

__ADS_1


"Bukan. Dari temen sekolah." jawab Jiwo masih dengan dua jempol yang mengambang di atas keyboard ponselnya. Masih bingung mau ngetik apa.


Dia bingung mau menulis apa untuk membalas pesan Lukman. Kepalanya tiba-tiba terasa penuh dengan ide yang nggak karuan juntrungannya.


"Pacarmu rewel nggak mau di tinggal?" tanya Lusi dari sebelah Martin.


"Nggak...nggak ada pacar- pacar." sahut Jiwo sambil meringis malu.


Martin melirik Lusi yang kemudian nampak tersenyum gembira.


Ya, hampir semua teman di divisinya tahu kalau Lusi naksir Jiwo yang sayangnya nggak peka dengan perasaan Lusi itu.


"Pacarmu minta dibeliin oleh- oleh apa, Wo?" tanya Martin lagi, memancing percakapan.


"Nggak minta apa- apa." jawab Jiwo ngasal karena pikirannya lebih tercurah ke layar ponselnya.


"Dia kan nggak punya pacar...gimana sih lu, Tin?" sergah Lusi nggak terima dengan pertanyaan Martin.


"Siapa bilang nggak punya? Dia punya, tapi disembunyikan. Kalau nggak punya, dia nggak mungkin reflek jawabnya." kata Martin berteori.


Jiwo mendecih mendengar teori Martin. Sedang Lusi mendengus dengan wajah yang mulai keruh.


"Lu punya pacar nggak sebenarnya? Jawab yang bener, Wo!" seru Martin makin kepo.


"Nggak." jawab Jiwo santai.


Martin dan Lusi saling pandang tak percaya.


"Tapi masih doyan perempuan kan lu?" tanya Lusi kemudian tanpa segan.


"In syaa Allah, masih suka lawan jenis." jawab Jiwo sambil tersenyum keheranan dengan pertanyaan Lusi. Ya kali dia belok...


"Alhamdulillah kalau lu masih lurus, nggak belok." sahut Lusi dengan riang


"Coba jalan sama Lusi mau nggak lu, Wo?" tanya Martin tiba- tiba, membuat Lusi langsung merah mukanya dan membuat Jiwo tersenyum kecil.


"Pa'an sih lu!" sergah Lusi sambil mencubit lengan Martin dengan wajah memalu.


"Pa'an...pa'an...Lagak lu malu- malu." ledek Martin sambil mencibir.


"Mau nggak lu, Wo sama Lusi? High quality jomblo juga dia nih." tanya Martin sambil berlagak promo.


"Trus lu maunya langsung di lamar gitu? Ya kali Jiwo mau, bentukan lu kayak gini..." seloroh Martin sambil terkikik geli. Lusi mendengus kesal.


"Emang bentukan 'gue kenapa?" tanya Lusi tak terima.


"Modern banget gaya lu." kata Martin sambil melihat gaya berpakaian Lusi yang khas anak gaul dengan baju ala kadarnya, antara mau dan nggak mau nutupin badan " Jiwonya solehun gitu...Nggak imbang gaya kelen" jawab Martin sambil berkali- kali melempar pandang ke Jiwo dan Lusi bergantian.


"Kurang ajar lu!"umpat Lusi kesal walau agak malu juga dengan ucapan Martin.


Dalam hati dia mengiyakan juga ucapan sejawatnya itu.


Sejak dia mengenal Jiwo, memang lelaki itu terlihat sopan dan agamis. Mana mau sama cewek slebor macam dia begini.


Diliriknya Jiwo di kursi depan. Cowok itu tak bersuara dan nampak masih sibuk dengan ponselnya walau selalu merespon obrolan Martin walau hanya dengan senyuman.


Dengan hati berdebar akhirnya Jiwo membalas pesan Lukman agar sahabatnya itu tak terus menerornya dengan ledekan- ledekan yang membuatnya ingin meringis.


Jiwo: nggak titip pesen apapun. Kamu juga jangan ngomongin aku sama Witri kalau disana. Hargai perasaan keluarga Mas Hari. Sepulangnya dari Jepang, aku baru akan bergerak kalau memang harus bergerak lagi.


send.


Tak lama balasan dari Lukman kembali masuk.


📩: Tuhan udah merancang semesta untuk ngasih kesempatan kedua sama kamu buat mendapatkan Witri, Wo...Jangan sia- siakan lagi. Jangan kelamaan mikir dan kebanyakan alasan. Ingat, janda semakin menggoda 🤭🙈 Jadi jangan nangis kalau Witri akan cepat sold out lagi kalau kamu lambreta 😜😜😜


"Kampret!" umpat Jiwo tak sadar. Membuat Deni di sampingnya sontak menoleh kaget dan Martin saling lempar pandang dengan Lusi.


"Lu...barusan ngumpat, Wo?" tanya Martin dengan wajah takjub.


"Maaf...maaf..." sahut Jiwo sambil meringis malu.


Ufffff...gara- gara Lukman nih.


"Kirain lu nggak bisa ngomong kasar. Ternyata merdu juga suara lu kalau lagi kesel." kekeh Martin yang disambut tawa Jiwo dan dengusan kesal Lusi.


...🍁🍁🍁...


Witri cukup surprise dengan kedatangan beberapa teman- temannya jaman di SMK untuk melayat. Ada dua mobil yang membawa teman- temannya sampai ke rumah Hari.

__ADS_1


Belum lama tadi dia baru melepas Pak dan Bu ikhsan, Pak Zul serta Pak Nadi untuk berangkat ke bandara karena mereka akan balik ke Aceh pagi ini.


Pak Zul bilang Witri bisa mendapat libur seminggu di rumah. Diambilkan jatah cuti di sambung ijin. Tentu saja Witri lega karena bisa ikut tahlilan sampai selesai tujuh harinya Hari.


Kebetulan di rumah Hari hanya ada Witri dan Mbak Tati juga mamak.


Pak Dukuh dan suami Mbak Tati mengantar rombongan Pak Nadi sampai ke bandara.


Baru seusai subuh tadi Witri dan Mamak tahu kejadian yang dialami Bu Dukuh. Mbak Tati yang bercerita saat mereka di dapur untuk memasak sarapan untuk mereka semua.


Flashback on


**************


"Terus Ibu sare ( tidur) dimana sekarang, Mbak?' tanya Witri dengan nada khawatir.


"Di ajak pulang sama Paklik. Mungkin sementara akan di sana dulu. Nanti kita bicarakan lebih serius lagi sama bapak bagaimana dengan Ibu. Biar gimanapun nggak tega juga kalau ibu sampai terlantar nanti." kata Mbak Tati sambil menunduk sedih . Witri mengangguk mengerti.


"Nanti kamu juga harus ikut ngobrolin masalah ini ya, Wit. Kamu sekarang menggantikan Hari di keluarga kita." kata Mbak Tati sambil menatap sendu pada Witri.


"Iya, Mbak. Makasih masih tetap menganggap aku keluarga." kata Witri tak bisa menahan haru.


"Tentu saja kita tetap akan jadi keluarga. Aku dan Bapak sayang sama kamu. Apalagi Hari. Kamu udah aku anggap adikku sendiri, bukan ipar. Walau pun sekarang Hari udah nggak ada, kamu tetap adikku. Jadi jangan menganggap aku orang lain sampai kapanpun. Ya?" pinta Mbak Tati dengan penuh harap.


"Iya, Mbak...Iya..." jawab Witri semakin terharu.


Flashback off


**************


Witri semakin surprise saat melihat ada sosok Lukman di antara rombongan teman sekolahnya.


"Apa kabar, Wit?" tanya Lukman sambil tersenyum saat tiba giliran menyalami Witri.


"Baik,Mas. Alhamdulillah." jawab Witri masih dengan wajah yang penuh tanya.


"Aku nganter istri." kata Lukman seakan tahu dengan pertanyaan di benak Witri.


Pandangan Lukman terarah ke adik kelas Witri yang jadi istrinya.


"Oalah...istrimu to?" tanya Witri dengan wajah takjub.


"Iya. Hasil mejeng di depan gerbang sekolahmu itu." kat Lukman sambil terkekeh.


Witri tertawa kecil.


Dia masih sangat ingat, dengan siapa Lukman ke sekolahnya dulu. Jiwo. Selalu dengan Jiwo.


Apa kabar lelaki itu sekarang?


"Mau tahu kabar teman SD mu nggak?" tanya Lukman sambil tersenyum kecil. Matanya sudah menyisir semua tamu yang sudah duduk nyaman di atas hamparan tikar sambil menikmati minum dan snack ala kadarnya.


"Hah?" tanya Witri kaget.


"Jiwo lagi ke Jepang." kata Lukman seolah tak perduli dengan kekagetan Witri.


"Kerja di sana?" tanya Witri tanpa sadar langsung mengikuti bahan pembicaraan Lukman.


"Cuma tugas dua minggu. Baru berangkat pagi tadi. Sebenernya Jiwo pengen ikut juga kesini karena dia katanya kenal juga sama almarhum." kata Lukman yang berbau dusta.


Mana ada Jiwo bilang pengen ikut melayat?


Witri mengangguk mengerti. Sebelum menghembuskan nafas terakhir Hari sempat bilang kalau pernah bertemu dengan Jiwo. Dan itu ternyata benar. Lukman bahkan tahu soal itu. Mungkin Jiwo yang bercerita pada Lukman soal perjumpaannya dengan Hari.


"Nggak apa. Lagian repot banget juga kalau harus terbang dari Kalimantan hanya untuk ikut melayat." tukas Witri sambil tersenyum kikuk.


"Dia udah nggak di Kalimantan. Udah agak lama pindah di kantor Jakarta, jadi Deket dan cepet kalau mau ke Jogja juga. Yang penting dia lagi nggak bokek aja." kekeh Lukman.


Witri mengangguk mengerti.


Udah di Jawa rupanya dia kerjanya.


Witri bergegas memilih untuk meninggalkan percakapannya dengan Lukman dengan dalih ingin ngobrol dengan teman- temannya.


Dia nggak mau terlalu fokus membicarakan Jiwo. Nggak penting juga sekarang ini.


Lebih penting menghargai kedatangan teman- temannya yang datang ke rumah duka ini.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...

__ADS_1


.


__ADS_2