
Witri membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di ranjang dan kamar yang asing baginya.
Ini di rumah sakit.
"Mas Hari!!!" pekiknya begitu kesadarannya pulih.
Secepat mungkin dia berusaha bangkit dan ingin turun dari ranjang namun tenaganya seolah habis tak bersisa. Dia kembali ambruk ke atas kasur.
Tangisnya tumpah di pelukan Bu Ikhsan yang sedari tadi menungguinya di ruangan itu.dan bergegas merengkuhnya.
Dadanya sesak tak terkira. Dia ingin lari ke tempat dimana dia tadi terakhir melihat Hari. Dia ingin kesana dan melihat kekasih hatinya itu terbaring di sebuah ruang inap , bukan di tempat lain di dalam rumah sakit ini. Bukan.
Tak apa bila Hari harus sakit lama asal dia masih bisa bertemu setiap hari. Sungguh tak apa. Witri janji tidak akan mengeluh lelah merawat Hari dengan sepenuh hati.
"Mas Hari..." lirihnya di sela isakannya. Saat ingatannya kembali mundur ke beberapa waktu terakhir sebelum dia pingsan.
"Tenangkan diri kamu dulu ya...Kuatkan tubuh kamu dulu." kata Bu Ikhsan lembut sambil mengelus punggung Witri berulangkali dengan lembut.
"Mas Hari gimana?" tanya Witri setelah berusaha menahan isakannya dan mengatur nafasnya setenang mungkin.
"Sudah tenang?" tanya Bu Ikhsan setelah Witri melepaskan diri dari pelukannya.
Witri mengangguk pelan. Dia ingin segera tahu kondisi Hari. Maka dia harus bisa menenangkan diri di depan Bu Ikhsan agar segera diberi tahu.
Jauh di dalam hati dia takut akan mendengar kabar buruk.
Namun bagaimanapun dia harus tahu kondisi sebenarnya dari suaminya.
Di benaknya sangat jelas terbayang wajah terakhir Hari sebelum dia jatuh pingsan.
Wajah itu tenang tersenyum ke arahnya sebelum hampir menutup mata.
Apakah...? No! Hari pasti kuat! Dia pasti kuat karena dia bilang ingin melihat anaknya tumbuh dewasa, tentu saja bersamanya, di sampingnya.
Suasana pilu di ruangan itu sedikit terusik dengan suara pintu yang terbuka.
Ada Pak Ikhsan yang melongokkan kepalanya di ambang pintu.
"Alhamdulillah sudah bangun." kata Pak Ikhsan dengan senyum lega kemudian bergegas masuk dan mendekat ke arah Witri.
"Mas Hari gimana?" tanya Witri tak sabar dengan menatap Pak Ikhsan tak berkedip.
"Ada...Hari ada..." kata Pak Ikhsan sambil tersenyum sedih.
"Kenapa? Dia gimana?" tanya Witri kembali memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dia dengar saat ini.
"Belum bisa operasi...kondisinya ngedrop, Wit." kata Pak Ikhsan sepelan mungkin.
"Tapi dia masih ada kan? Dia nggak pergi kan?" tanya Witri dengan nada khawatir namun juga sekaligus lega. Dia masih bisa bertemu Hari.
"Ada...ada...Hari masih ada sama kita." kata Pak Ikhsan mengerti kecemasan Witri. Dan ucapannya barusan ternyata sangat mampu membuat wajah Witri kembali penuh harap.
"Alhamdulillah..." gumam Witri sangat dalam. Ketakutannya sedikit berkurang.
Setidaknya Hari masih ada bersamanya dan masih mau berjuang untuk tetap hidup.
"Aku mau kesana liat dia." kata Witri dengan tatapan penuh harap.
Suami istri dihadapannya itu nampak saling tatap seolah saling bicara dengan sorot mata.
"Hari ditemani Nadi. Dia kembali masuk ICU tapi sudah stabil. Aku tanyakan dulu ke dokter jaga ya." kata Pak Ikhsan meminta Witri sedikit bersabar dengan tatapannya.
"Iya. Makasih ya, Pak." kata Witri penuh rasa terimakasih.
"Iya. Sama- sama. Kamu disini dulu. Aku ke ICU dulu. Nanti aku kabari gimana- gimananya." kata Pak Ikhsan sambil tersenyum penuh penghiburan.
"Aku harus disini, Pak? Nggak keluar aja? Aku udah nggak papa." kata Witri berusaha menawar. Sesungguhnya dia sudah sangat tak sabar untuk melihat Hari kembali. Meyakinkan dirinya sendiri kalau Hari memang masih ada disini dan apa yang dia cemaskan tak terjadi.
"Tadi aku sudah tanya dokter, katanya kamu harus habiskan infus itu dulu.Baru boleh pulang." kata Pak Ikhsan sambil tersenyum.
"Ingat, kamu nggak sendirian sekarang. Anak kamu harus dijaga juga." sambung Bu Ikhsan sambil menatap perut rata Witri.
Witri tersenyum. Ya, dia hampir saja terlupa kalau kini ada makhluk mungil yang sangat bergantung padanya saat ini.
Doakan Ayah baik- baik saja ya, Sayang....Ayo kita beri semangat Ayah biar cepat sembuh dan pulang bersama kita.
"Iya. Aku nurut." kata Witri sambil tersenyum.
__ADS_1
"Adik yang pinter." kata Bu Ikhsan sambil mengelus lengan Witri dengan sayang.
🍁🍁🍁🍁🍁
Nadi memandang Hari dengan hati yang berkecamuk.
Seandainya pantas, dia ingin sekali meninggalkan Hari sendirian di ruangan yang dingin ini. Tapi itu nggak mungkin bisa dia lakukan.
Apalagi saat ini, saat anak buahnya itu tengah berusaha keras untuk tetap bernafas karena ingin tetap hidup.
Dia kuat- kuatkan hati mendampingi Hari walau sesungguhnya dia kembali tersiksa oleh kenangan buruk enam tahun silam di sebuah ruang ICU.
Delia, istri yang baru dia nikahi selama enam bulan harus memejamkan matanya untuk selamanya di depan matanya dan pergi selamanya dengan keadaan hamil tiga bulan buah cinta mereka.
Peristiwa yang nyaris sama dengan yang tengah dijalani oleh Hari dan istrinya.
Dia lihat tadi bagaimana istri Hari begitu sedih, ketakutan dan kehilangan. Dia tahu rasanya seperti apa berkecamuknya perasaan istri Hari saat mengira pasangan jiwanya pergi selamanya di depan matanya.
Wajar saja kalau Witri tadi pingsan.
Dan bagaimana leganya dia tadi saat tahu Hari masih bisa diselamatkan lagi dari sesak nafasnya. Dia merasa, seolah kebahagiaan juga menjadi miliknya.
Setidaknya pasangan muda ini masih bisa saling menatap dan tetap bersama. Dia berharap dan ikut berdoa untuk waktu yang sangat panjang untuk keduanya.
Namun pesan- pesan yang Hari ucapkan padanya tadi sangat mengusiknya. Dan membuatnya tersentuh sekaligus gelisah.
"Mas, kalau aku sampai nggak selamet nanti, tolong pastikan anak istriku baik- baik saja sepeninggalku." kata Hari setelah sesak nafasnya bisa teratasi dan dia bisa nampak terlihat bernafas dengan normal.
"Kamu ngomong apa sih, Ri? Yang punya tugas ngurusin kesejahteraan mereka itu kamu, jangan mau enaknya aja kamu." sergah Nadi ketus walau hatinya gemetar.
Terus terang saja dia takut Hari akan ' lewat'..
"Witri perempuan yang baik. Dia istri yang baik dan aku menyesal nggak bisa jagain dia lebih lama lagi." ucap Hari lagi.
"Siapa yang bilang? Emangnya kamu mau kemana, nggak bisa jagain istrimu sendiri?" potong Nadi cepat. Hatinya mulai kalut.
"Pria yang dulu dia cintai namanya Jiwo. Dan lelaki itu sepertinya sampai sekarang belum menikah, entah kenapa. Tolong besok pertemukan mereka berdua ya, Mas, bagaimanapun caranya...Siapa tahu mereka memang berjodoh..." kata Hari lagi tanpa perduli dengan sergahan dari Nadi.
"Ogah! Kamu cepat sembuh lah. Kasian istrimu. Dia lagi hamil muda. Kalau kamu buat sedih dia terus, kasihan anakmu juga." potong Nadi cepat, tak ingin Hari semakin bicara ngelantur.
"Pokoknya aku minta tolong kamu,Mas. Tolong jagain anak istriku sebelum Witri bertemu jodohnya." kata Hari seolah benar- benar tak perduli dengan semua ucapan Nadi.
"Mau... Mau banget." jawab Hari lirih sambil mengangguk kecil dan mata yang berkaca- kaca.
Sumpah, Nadi rasanya pengen menggantikan Hari saja kalau sahabat baiknya itu sampai kenapa- napa.
Setidaknya kalau dia yang mati, tidak akan ada perempuan yang harus menyandang status janda dimasa kehamilannya.
Kalau dia yang mati, setidaknya tidak akan ada anak yang terlahir sebagai anak yatim nantinya.
Toh dia sebatang kara di dunia ini. Kematiannya tidak akan membuat luka untuk keluarga.
"Aku cuma nggak yakin bisa..." kata Hari sedih.
"Bisa! Kamu harus yakin kamu bisa. Jangan lemah seperti ini. Kamu prajurit. Kamu seorang calon bapak. Inget, sebentar lagi akan ada anak yang ingin melihat wajah bapaknya yang keren ini. Kamu harus sembuh." sahut Nadi cepat. Nafasnya sampai memburu karena dia harus bertarung juga dengan kesakitan dihatinya karena ingatan sedihnya.
Dia pernah menyemangati Delia seperti ini dulu dan istrinya ternyata lebih dicintai oleh Penciptanya.
"Jangan biarkan istrimu nanti sendirian mengurusi anakmu. Kasihan. Katanya cinta sama istri." kata Nadi lebih bersemangat saat dilihatnya binar semangat kembali muncul di mata Hari.
Hari tersenyum lewat matanya, dan itu sedikit melegakan Nadi.
"Kamu harus menjaga anakmu sampai dia dewasa,Har." kata Nadi lagi yang kini sudah dengan suara bergetar menahan tangis, yang kembali mendapat balasan senyum dari Hari.
Jauh di dalam hati, Nadi juga sangat ingin memiliki moment itu. Menjaga anak istri sampai dia tua dan mati.
"Witri gimana keadaannya?" tanya Hari kemudian. Dia mencari Witri setelah bisa diselamatkan ( lagi) dari serangan sesak nafasnya. Dan Nadi bilang kalau Witri sedang diberi infus karena kelelahan dan tadi pingsan.
"Udah siuman dari tadi. Dia nggak papa. Tapi harus habisin infusnya dulu baru boleh kesini. Sementara ini kamu harus terima kalau aku yang temenin. Nanti kalau Witri udah sehat lagi, dia yang akan nemenin kamu." kata Nadi sambil tersenyum dengan wajah seolah sedikit kesal.
"Masih lama nggak kesininya?" tanya Hari lagi.
"Enggak. Nggak sampai besok." jawab Nadi santai.
"Jangan sampai besok dong. Ntar nggak keburu." kata Hari sambil tersenyum yang terlihat aneh di mata Nadi. Dan itu membuat Nasi kembali ketakutan.
"Ngomong apa sih kamu?" dengus Nadi akhirnya, mencoba melawan pikiran buruknya yang berulangkali melintas sejak tadi.
__ADS_1
Berkali- kali dia menangkap tatapan kosong di mata Hari. Dan dia nggak suka melihat itu. Hatinya nyeri.
Lewat tengah malam, Witri sudah ada di depan ruang ICU. Tersenyum senang karena akan kembali bertemu dengan Hari.
"Terimakasih, Pak, sudah menjaga Mas Hari." kata Witri begitu bertemu dengan Nadi di depan pintu ruang ICU.
Mereka akan bertukar tugas menjaga Hari.
"Sama- sama. Kasih semangat terus sama Hari ya. Demi anak kalian, dia harus sehat kembali." kata Nadi sambil tersenyum.
"Pasti,Pak. Terimakasih banyak." kata Witri kemudian bergegas masuk menuju kamar Hari.
"Hai, Sayang." sapa Hari begitu dilihatnya Witri telah berdiri di ujung ranjangnya dengan senyum dan deraian airmatanya.
"Jangan lagi bikin aku takut, Mas...Aku nggak mau kamu kayak tadi lagi. Aku nggak mau." kata Witri sambil beranjak duduk lalu berulangkali menciumi punggung tangan Hari yang ikut berkaca- kaca.
"Maafkan aku ya..." kata Hari lirih karena dia juga tengah ikut menangis.
"Kamu jangan nangis. Nanti sesak lagi." kata Witri cepat dan bergegas menghapus jejak airmatanya.
"Ya..." jawab Hari sambil tersenyum lemah.
"Aku ingin anak kita nanti di beri nama Aksa." kata Hari sambil tersenyum dan menatap Witri dengan sorot mata penuh kerinduan. Seperti telah sangat lama berpisah saja.
"Kita kan belum tahu dia cewek atau cowok." kata Witri setengah tertawa.
"Apapun nanti jenis ke la min nya, tetap Aksa namanya. Ya?" pinta Hari penuh harap.
"Baiklah. Ayahnya yang memberi nama. Aku tak boleh menolak. Dan nama itu memang bagus. Aku setuju." kata Witri sambil tersenyum manis.
Senyumnya memudar saat dia melihat sorot mata Hari yang berbeda. Seperti...sedang berusaha menyimpannya dalam tatapannya yang sangat lekat.
"Mas...kenapa?" tanya Witri dengan wajah khawatir.
"Kamu cantik, dan baik. Aku minta maaf kalau nyusahin kamu selama ini." kata Hari dengan sorot mata yang kembali berubah. Sekarang terlihat sangat serius namun sendu.
"Ngomong apa sih kamu, Mas..." kata Witri yang kembali merasakan ketakutan.
"Jiwo juga pria baik." kata Hari kemudian. Witri terlonjak saat mendengar ucapan Hari itu.
"Ji...Jiwo?! Ka...kamu tahu da...dari mana soal Jiwo?" tanya Witri keheranan.
"Aku pernah nggak sengaja ketemu dan ngobrol sama dia. Dia mencintai kamu dengan cara yang hebat." kata Hari dengan bibir tersenyum dan mata yang menerawang jauh.
"Semoga suatu hari nanti kalian bisa bertemu lagi ya." kata Hari dengan tatapan tulus.
"Mas..."
"Bila bukan aku, pasti dia yang akan menjaga kamu." kata Hari lagi.
"Mas..."
"Tidurlah, Jeng. Kamu pasti capek banget." kata Hari sambil menatap sayang pada Witri.
"Enggak capek. Aku akan temenin kamu." tukas Witri cepat.
Nggak akan mungkin Witri memejamkan mata selama Hari belum baik- baik saja. Tidak akan pernah bisa.
"Jangan sesak nafas lagi ya, Mas. Jangan mikir apa- apa. Pikirkan untuk kesembuhanmu aja.." kata Witri dengan sorot mata penuh harap.
"Ya." jawab Hari singkat sambil tersenyum tenang.
"Aku ngantuk." kata Hari kemudian sambil menatap Witri dengan sorot mata yang sayu.
Witri terpaku. Juga ketakutan.
Dia takut saat mata itu terpejam,dia tak akan membuka kembali nantinya.
"Nggak mau ngobrol aja sama aku?" tanya Witri dengan tatapan merayu. Sengaja dia begitu agar Hari melupakan keinginannya untuk memejamkan mata. Namun rayuannya hanya mendapat balasan Hari yang menguap.
"Ayo tidur dulu. Jangan takut. Aku akan bangun nanti." kata Hari seperti mengerti ketakutan Witri padanya.
" Kamu janji ya,Mas. Nggak boleh ingkar." kata Witri dengan tatapan menuntut.
"InsyaaAllah aku akan tepati janji." kata Hari sambil mengeratkan genggaman tangan Witri di jarinya.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1
Masih aman...🤭