
Dan di tengah malam ini, setelah menunaikan sholat malamnya, Jiwo bersila di atas sajadah cukup lama.
Dia terngiang- ngiang dengan ucapan Lily tentang berhenti mendoakan Witri.
Melepaskan dan merelakan Witri dari impian dan harapan masa depannya tengah dia upayakan. Namun bila di setiap hening waktunya dia mendoakan perempuan itu, yang ada adalah selalu mengingatnya dalam angan dan dalam benaknya.
Jiwo mengusap- usap wajahnya kembali agar bayangan wajah Witri pergi dari kepalanya.
Mungkin memang benar. Dia harus berhenti mendoakan Witri.
Bukan karena dia berhenti mengharapkan kebahagian Witri. Bukan.
Semua demi kesembuhan hatinya sendiri.
Dia harus mulai egois sekarang.
Menyembuhkan luka hatinya dan mengupayakan kisah yang baru harus jadi prioritas utamanya sekarang.
Setidaknya doa yang dia panjatkan untuk kebaikan dan kebahagiaan Witri sudah terkabul. Dan kalaupun dia berhenti mendoakan Witri, ada yang telah berhak memanjatkan semua hal baik itu bagi Witri. Suami perempuan itu jelas lebih berhak dan berkewajiban untuk itu.
Kini saatnya dia mengupayakan kebaikan untuk hatinya sendiri. Siapa lagi yang akan merawat hatinya kalau bukan dia sendiri?
Dan mulai malam ini,aku akan berhenti mendoakan mu, Wit.
Aku ingin melepaskanmu dari segala sendi kehidupanku. Dari segala sisi diriku.
Teruslah berbahagia dalam lindungan doa yang terlantun dari hati dan bibir yang lain. Aku tetap selalu mengharapkan kebahagiaan untukmu.
Dan nanti, bila semesta berkenan mempertemukan kita kembali, aku berharap aku juga sudah berbahagia dengan hati yang lain. Sepertimu sekarang ini.
🍁🍁🍁🍁
"Kamu nggak papa?" Hari menyentuh lembut lengan kiri Witri, sedang tangan kanan Witri tengah memegang cangkir berisi susu putih hangat kegemarannya.
"Nggak papa. Emangnya kenapa?" tanya Witri kemudian menyesap santai susu hangatnya.
Matanya bertemu dengan tatapan sedih dan gelisah milik Hari.
"Ibu benar- benar nggak berubah sama sekali." gumam Hari sedikit kesal namun dengan wajah muram.
Witri tak menimpali keluhan Hari itu.
Lagian dia mau menimpali dengan kalimat apa?
Mau bilang kalau dia maklum dan selalu mengerti? Bohong banget itu. Secara sejujurnya saja dia gedeg banget dengan semua suara ibu mertuanya yang nggak pernah menganggap dia bener apalagi baik.
Tapi untuk ikut mengiyakan kata- kata suaminya barusan juga kurang bijaksana. Kesannya dia memusuhi ibu dari suaminya itu.
Bagaimanapun dia masih menjaga perasaan Hari.
Sejelek- jeleknya orangtua, tetap punya tempat istimewa dan berharga di mata anak- anaknya.
"Jangan- jangan kamu man dul." Witri sedikit tersengal mencoba menarik nafas panjangnya saat mengingat ucapan ibu mertuanya di telpon tadi. Hatinya merasakan sedikit nyeri dan juga gelisah karena ucapan itu.
"Kalau Hari nggak mungkin dia man dul. Dia pasti sehat jasmani dan rohani." Witri sekilas menatap Hari saat kembali mengingat ucapan ibu mertuanya lagi.
Ya. Kalau secara kasat mata jelas Hari terlihat sangat sehat bahkan prima. Dan Witri pun bisa membuktikan itu sampai ke hal yang terdalam.Performa Hari memang prima.
Namun kalau bicara soal anak kan nggak bisa dong hanya dilihat dari kebugaran tubuh.
__ADS_1
Untuk menciptakan seorang anak yang paling penting adalah kualitas sper ma dan sel telur, bukan dari penampakan fisik yang terlihat prima.
Kalau cuma melihat fisik sih dia juga sehat pakai banget.
"Nggak usah dipikirin semua hal yang bikin kita nggak nyaman. Nanti kita stress tapi nggak sadar. Bahaya buat mental kita." kata Witri sambil meletakkan cangkir susunya tenang.
Wajahnya tetap nampak tenang dan tak terlihat menahan tekanan perasaan. Hari sedikit lega melihatnya.
"Apa kita periksa aja ya,Jeng?" tanya Hari setelah keduanya cukup lama terdiam.
Entah mengapa Witri merasa sedikit tersinggung.
Dia berpikir Hari terpengaruh ucapan ibunya yang menuduh Witri man dul.
Kesal sekali rasa hatinya.
Namun juga cemas.
Kalau nanti periksa dan ternyata dia benar nggak subur gimana?
Apakah Hari akan menuruti kemauan orangtuanya yang pasti akan menyuruhnya menceraikannya kalau terbukti dia yang menyebabkan rumahtangga mereka tak segera dikaruniai keturunan?
Dan bila perceraian itu terjadi maka dia akan punya gelar janda kembang di umur yang tergolong muda.
Astagfirullahaladzim...
"Kalau Mas pengennya gitu aku bisa apa selain ngikut aja?" kata Witri akhirnya dengan suara pasrah.
"Mas nggak pengen dan juga nggak mau." tukas Hari cepat.
Hari tahu dengan cepat perubahan ekspresi dan sorot mata Witri sejak tadi.
Istrinya itu gelisah dan juga kesal. Dan dia mengerti akan hal itu.
"Biar begini saja dulu. Mungkin kita diberi lebih banyak waktu buat pacaran bebas dulu. Kita nikmati aja semuanya. Anak itu rejeki. Dan rejeki nggak akan salah dan terlambat datang. Kita juga sudah berupaya walau baru sewajarnya. Nanti kalau sampai di tahun kelima pernikahan kita belum juga ada hasil, baru kita berusaha ekstra. Gimana?" tawar Hari dengan tenang dan senyum menenangkan.
Witri mengangguk setuju.
"Soal Ibu...sebagai anaknya Mas minta maaf padamu ya, Jeng. Mas tahu kamu pasti tersinggung dengan ucapan Ibu." kata Hari sambil meraih jemari Witri yang menganggur di atas meja.
"Aku akan tetap memaafkan Ibu kok. Karena bagaimanapun Ibu yang judes itu sudah melahirkan lelaki baik dan mempesona di depanku ini." kata Witri sambil mengerling dan mengelus lengan Hari.
"Uuuuu....sweetnyaaaa...." sahut Hari sambil terkekeh dan bergegas berdiri untuk memeluk Witri.
Witri tertawa- tawa di bahu Hari yang menciumi pundaknya dengan gemas.
"Kamu bahagia hidup sama Mas?" tanya Hari tiba- tiba. Wajah mereka kini sudah berhadapan sangat dekat. Hanya berjarak sejengkal saja.
"Iya. Bahagia. Kenapa nanya gitu?" tanya Witri keheranan. Hari hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Nggak nyesel di ajak hidup susah gini? Jauh dari rumah, dari saudara, dari teman?"
Dan berpisah dengan kekasih hatimu.
"Aku nggak hidup susah, Mas. Kondisi kehidupan kita cukup bahkan kita bisa nabung." kata Witri mencoba meyakinkan Hari.
"Rumah dan temanku sekarang adalah kamu. Selama ada kamu, aku akan baik- baik saja dimanapun kita berada." kata Witri kemudian.
Hati Hati tiba- tiba menghangat mendengar kata- kata Witri itu.
__ADS_1
Witri telah menganggapnya sebagai rumah. Tempat pulang. Tempat meletakkan semua yang dimiliki dan merasa aman.
"Terimakasih, Sayang. Aku ingin selalu jadi rumah untukmu. Semoga selamanya akan begitu." kata Hari penuh haru. Suara bergetar menahan luapan perasaannya saat ini.
"Tentu saja harus selamanya. Kita kan suami istri." kata Witri kemudian mendaratkan kepalanya ke dada Hari.
Kedua tangannya melingkari perut Hari dan bertaut di pinggang belakang Hari.
Hari menumpukan dagunya di puncak kepala Witri. Setitik airmata merayapi sudut matanya.
"Mas..." panggil Witri dari balik pelukan suaminya.
"Hmmm?"
"Aku pengen beli baju warna pink." kata Witri sambil mendongak.
Dahinya menyentuh bibir Hari yang barengan menunduk.
Hari mengernyitkan dahinya.
Baju pink?
"Buat acara apa?" tanya Hari keheranan.
Dia tahu Witri nggak suka bahkan anti warna pink. Tapi kok mau beli baju warna pink?
"Pengen pakai baju pink aja. Aku kemarin lihat Teh Lilis pakai baju pink keliatan cantik banget. Mungkin kalau aku pakai baju pink juga cantik." kata Witri sambil tersipu di ujung kalimatnya.
"Kamu pakai baju warna apa aja juga cantik. Nggak pakai baju apalagi...lebih cantik. Cantik banget malah." kata Hari sambil terkekeh- kekeh karena Witri mulai mencubiti kedua sisi pinggangnya dengan gemas.
"Ini nanti pinggangku biru- biru kalau kamu cubitin terus." kata Hari sambil merangkum dua tangan Witri di sisi pinggangnya agar menghentikan cubitannya.
"Baju pink!" rengek Witri sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya. Kita nanti beli baju pink." kata Hari sambil memainkan bibir bebek Witri dengan telunjuknya.
"Dua." kata Witri dengan tatapan puppy eyes nya.
Ih lucunya....
"Boleh. Nanti kita beli dua baju pink." kata Hari kemudian mengecup kening Witri lembut.
Apa Witri sedang beralih selera warna baju? Kenapa kayaknya ngebet banget pengen baju pink?
"Mas nanti juga beli baju ya." pinta Witri kemudian.
"Iya. Satu aja tapi. Warna putih ya?" pinta Hari kemudian.
"Kenapa pengen putih?" tanya Witri kemudian.
"Udah lama nggak beli baju putih. Kayaknya bakal keren kalau aku pakai baju putih." kata Hari sambil meringis malu saat mengucapkan kata keren.
"Kamu memang keren kalau pakai baju putih. Kinclong." kata Witri sambil tertawa.
"Kayak ubin dong, kinclong." sergah Hari nggak terima.
Witri terbahak- bahak melihat wajah kesal Hari yang merasa disamakan dengan lantai yang habis di pel.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1
Udah kesel belum, ditinggal tanpa pamit selama 3 hari? 😅😅😅
Maafkan ya...moodnya author lagi anjlok drastis 🙈