
Time keeps on passing.....
"Udah di kunci pintu sampingnya,Jeng?" tanya Hari dari atas motor yang sudah menyala dan siap gas sambil menatap punggung Witri yang tengah mengunci pintu depan.
Witri nampak keren dengan setelan kerjanya. Blazer warna abu muda dan rok span warna abu tua sebetis dengan sepatu hitam berhak 5 cm.
Tas hitam kecil terjepit di lengannya.
"Udah. Udah aku cek dua kali." jawab Witri dengan nada setengah kesal.
Hari selalu berulangkali mengingatkannya soal mengunci pintu samping tiap kali mereka akan pergi karena pernah sekali mendapati pintu samping tak terkunci saat rumah mereka kosong padahal pintu depan terkunci.
"Manyun gitu..." kata Hari sambil tersenyum saat melihat Witri menghampirinya dengan bibir manyun karena kesal.
"Kesel! Ngomong aja dari tadi. Pintu samping...pintu samping...tadi sebelum nangkring di atas motor kan kamu bisa cek dulu pintunya.Tahu aku ribet dari tadi." omel Witri sambil memasang helm dan kesulitan mengunci helm karena emosi.
Hari meraihnya kemudian mengunci helmnya dengan tenang.
"Pagi- pagi nggak boleh ngomel. Nanti rejekinya takut kalau mau mendekat. Cantiknya juga berkurang banyak kadarnya." kata Hari sambil mengelus pipinya sambil tersenyum.
"Gombal! Ayo buruan jalan!" kata Witri masih galak sambil mendudukkan dirinya di belakang Hari yang langsung tancap gas.
Waktu keberangkatan mereka meninggalkan rumah memang mundur hampir sepuluh menit dari biasanya mereka pergi di pagi Hari.
Walau tak akan terlambat sampai kantor, tapi Witri nggak suka segala sesuatu bergeser dari biasanya.
"Udah di kasih tahu kalau habis subuh jangan bikin acara, bandel! Marai kemrungsung ( bikin keburu- buru)!" omelan Witri masih berlanjut yang hanya ditanggapi Hari dengan kekehan dan elusan tangannya di dengkul Witri.
Witri menepuk kesal tangan suaminya yang kelayapan itu.
"Sabar...sabar..." kata Hari sambil menoleh dan tersenyum agar Witri mendengar suaranya.
"Sabar apa?!" sungut Witri kesal sambil mencubit pinggang Hari yang dilapisi seragam lorengnya itu.
Hari mengaduh karena cubitan kecil itu.
"Kejemnya kayak ibu tiri kalau lagi ngambek." kata Hari sambil mengelus bekas cubitan Witri.
"Ben! ( Biarin!)" sahut Witri kesal.
Semua kekesalan Witri memang karena ulahnya selepas subuh tadi.
Witri yang hendak keluar kamar seusai sholat subuh bertubrukan dengan Hari yang hendak masuk kamar seusai pulang dari jamaah subuh di masjid.
Witri yang hampir terpelanting ke belakang dengan kesigapan tangan Hari akhirnya selamat hingga tubuhnya tak sampai menyentuh lantai.
Tangan Hari merengkuh Witri hingga menempel ke dadanya dan membuat Hari langsung terpancing karena gesekan dua aset depan Witri yang tanpa pembungkus di balik daster batiknya.
Kebiasaan Witri kini memang melepas br*anya menjelang tidur dan kadang lupa memakai lagi begitu bangun tidur. Dan biasanya akan memakai br*anya lagi setelah mandi pagi.
Hari menekan punggung Witri agar semakin merapat ke dadanya.
"Belum pakai wadah ini..." kata Hari sambil menggoyangkan dadanya sendiri.
Witri yang menyadari keteledorannya bergegas memberontak hendak melepaskan diri dari pelukan Hari.
Namun kuncian lengan Hari di tubuhnya membuat tubuh Witri tak bergerak sedikitpun dari pelukan Hari.
"Lepas ih! Aku mau masak." pinta Witri sambil mencubit lengan Hari agar melepaskan dirinya. Namun nyatanya cubitan tajamnya tak mengendurkan kuncian Hari di tubuhnya.
"Masaknya libur aja. Nanti beli aja sarapannya." kata Hari langsung menunduk untuk merengkuh kaki Witri dan membopongnya kembali ke ranjang.
__ADS_1
"Jangan macem-macem! Nanti kita kesiangan,Mas!" seru Witri tertahan karena tahu apa tujuan Hari selanjutnya.
"Enggak akan kesiangan. Baru jam lima. Kita nanti mandi jam enam." kata Hari sambil melepas sarung dan bajunya tanpa melepaskan tatapannya pada Witri yang berusaha bangun dan berdiri.
"Tadi malam udah lhoh! Rambutku aja belum kering banget ini."kata Witri mencoba mengingatkan Hari soal kegiatan mereka semalam.
"Sekarang dessert nya." sahut Hari tak mau kalah lalu kembali menyambar pinggang Witri hingga terduduk di pangkuan Hari.
Hari mengarahkan bibir dan tangannya langsung menuju ke titik sensitif istrinya agar Witri cepat panas. Bagaimanapun ber cin ta di pagi hari di hari kerja harus berpikir taktis. Hasrat bisa terpenuhi namun berangkat kerja juga tak boleh telat. Belum lagi harus menghitung waktu untuk Witri mengeringkan rambutnya seusai keramas nanti.
Dan itu yang sesekali Hari lakukan akhir- akhir ini pada istrinya. Menakali Witri di pagi hari dan akan mendengar omelan Witri disepanjang perjalanan dari rumah sampai ke kantor istrinya itu.
Mendengar ancaman itu- itu saja namun tak pernah diaplikasikan menjadi kenyataan.
"Seminggu ini udah nggak boleh minta jatah." Namun saat malamnya Hari bergerilya,Witri tetap melayaninya dengan sangat menyenangkan walau intronya pakai ngomel dulu.
Atau akan bilang "Aku udah capek banget sumpah, besok libur lho ya." tapi kenyataannya Witri tetap ikut bersemangat juga menikmati percintaan mereka saat hari menyulutnya di hari berikutnya.
Perempuan memang unik. Suaranya penolakannya gahar kayak knalpot bocor, giliran udah ngerasain yang nyaman- nyaman tetep aja ikut hanyut.
Sejak tiga bulan mereka di Aceh, Witri memang kembali bekerja atas persetujuan Hari.
Hari kasihan melihat Witri yang nampak bingung di rumah sendirian saat siang hari karena Witri sudah terbiasa mengisi hari- harinya dengan bekerja.
Pekerjaan itupun Hari yang menawarkan atas rekomendasi istri dari kawannya.
Witri bekerja di bagian administrasi di sebuah cabang perusahaan swasta yang baru berdiri di kota mereka.
Katanya ada empat cabang lain di Indonesia, salah satunya di Jakarta.
Tak banyak karyawan di kantor Witri, hanya sekitar 20 orang itu sudah termasuk pimpinan cabang sampai bagian umum.
Kantornya menyewa sebuah bangunan rumah yang cukup besar, dengan banyak kamar yang kini jadi ruang kerja karyawan.
Badannya memutar ke samping untuk bisa membantu Witri melepas helmnya kemudian mencantolkan helm Witri di cantolan bagian depan motor.
"Besok nggak mau lagi pokoknya!" sungut Witri sebelum menerima uluran tangan Hari untuk berpamitan.
"Iya. Besok nggak lagi." kata Hari sambil menahan senyum.
"Bohong! Nanti pasti lagi." sahut Witri sambil menatap kesal pada Hari.
"Yang penting kan besok enggak." kata Hari dengan wajah menahan tawa.
"Sebel!" kata Witri sambil menghentakkan kakinya kemudian pergi menjauhi Hari yang veleng- geleng kepala gemas.
"Bilang sebel. Giliran ditiban nggak mau dilepas." kikik Hari sambil kembali melajukan motornya pelan untuk menuju ke tempatnya bekerja yang hanya berjarak lima menit dari kantor Witri.
Matanya masih menatap langkah Witri yang mendekati pintu masuk kantornya.
Dan senyumnya melebar saat dilihatnya Witri kembali menoleh kepadanya.
Hari nyaris tergelak sendiri saat Witri membalas lambaian tangannya.
"Katanya sebel. Masih aja mau dadah- dadah, Gemesin banget sih kamu." gumam Hari sambil tersenyum sendiri. Tak perduli lirikan bahkan tatapan prihatin dan penasaran dari orang- orang yang melihat ke arahnya.
"Doh yang diantar si Abang, pake dadah- dadah pula." ledek Kak Berli yang melihat kelakuan Witri dan Hari dari dalam lewat jendela.
"Ya nggak papa kan,Kak. Dadah sama suami sendiri juga." kata Witri dengan sedikir tersipu.
"Ya nggak apa.Beda cerita kalau kau dadah sama suamiku. Ku tabok kau." kata Kak Berli sambil tertawa.
__ADS_1
"Galak banget." kata Witri sambil terkikik.
"Bang Nadi dulu susah kali aku dapatnya. Mana boleh dia diganggu perempuan lain setelah kumiliki." sergah Kak Berli dengan antusias.
"Jangan- jangan kaupun cemburu sama anak perempuanmu, Kak." kata Witri sambil meletakkan tasnya di meja kerjanya.
"Oh iya...Suka kesal aku sama Bang Nadi. Aku jadi yang kedua setelah punya anak gadis. Kadang dia memilih tidur sama anak gadisnya." cerita Kak Berli dengan nada emosi.
Witri tertawa membayangkan wajah kesal dan cemburu Kak Berli pada putrinya yang masih berumur hampir dua tahun.
"Kau akan merasakan macam tak berharganya dirimu di depan suamimu kalau kau sudah punya bayi. Suami kau akan lebih fokus sama bayinya daripada sama istrinya." kata Kak Berli sambil mengangguk-angguk untuk meyakinkan kalimatnya.
Witri kembali tertawa melihat tingkah seniornya itu.
Kak Berli adalah kepala administrasi di kantor ini.
"Jangan cuma ketawa- tawa aja kau. Serius ini aku ngomong." kata Kak Berli dengan wajah kesal.
"Iyaaa...aku percaya, Kak. Banyak yang bilang begitu." kata Witri sambil tersenyum.
"Nah kan! Apa kubilang?! Memang kayak gitu kelakuan laki- laki." kata Kak Berli kembali berujar penuh semangat.
"Suami kau pun pasti kelak akan begitu. Makanya nikmati waktu manja kau sama suami kau tuh sebelum kalian ada bayi." saran Kak Berli kembali dengan mengangguk- angguk.
Witri tersenyum kecil.
Bayi ya?
Kapan dia akan punya bayi?
Sudah hampir setahun usia pernikahannya dengan Hari namun dia belum juga hamil padahal mereka sangat rajin bercocok tanam.
Mamak dan lebih- lebih ibu mertuanya sudah berisik menanyakan calon cucu.
Apa ada yang salah dengan kesuburan salah satu diantara mereka berdua?
"Dua tahun aku bisa manja- manja sama suamiku. Hampir tiga tahun sama masa hamilku. Setelah anakku keluar, harus berebut perhatian rasanya." kata Kak Berli lagi.
Oh, Kak Berli punya anak juga setelah kosong dua tahun.
"Untung saja sama Tuhan aku nggak cepat dikasih hamil waktu itu. Jadi aku bisa merasakan manja- manja dulu sama suamiku. Nggak kebayang kalau baru nikah sebulan langsung isi." sambung Kak Berli semakin membuat Witri bisa bernafas lega.
Kak Berli aja harus nunggu dua tahun untuk punya baby. Mungkin dia juga harus sabar untuk memiliki bayi.
Yang penting berprasangka baik saja pada takdir Allah.
Yang penting dia juga tetap ikhtiar dengan rajin 'bergotong-royong' dengan Hari.
Bila dihitung dari pertama mereka berdua menyatukan raga mereka, bahkan belum ada setahun hitungannya.
Ya...akhirnya keduanya bersatu juga setelah hampir empat bulan sebagai suami istri gara- gara hujan deras dan geledek yang sejak kecil dulu ditakuti Witri.
Witri meringis malu saat mengingat sebuah kejadian di siang berhias hujan deras, angin kencang, serta gemuruh dan kilatan petir.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
Kenapa....? 😄😄😄
Mo bilang nanggung ya?😂😂😂😂
Emang di sengaja sih 🙊🙈🙈🙈
__ADS_1
🏃......💨💨💨💨💨💨
.