
Witri tersenyum- senyum menatap tiga blouse warna pink yang telah dia gelar di atas kasur. Ketiga- tiganya pilihan Hari.
"Ternyata kamu cantik kan kalau pakai pink." kata Hari sambil beranjak duduk di samping gelaran baju itu.
Tadi saat memilih di toko,Witri kebingungan. Bukan bingung milih modelnya, tapi bingung memilih salah satu warna pink diantara sekian tingkat warna yang bisa hatinya terima.
Seumur- umur dia belum pernah memakai apapun berwarna pink karena dari kecil dia tidak suka warna itu.
Tapi karena dia selalu menangkap basah mata Hari selalu berbinar saat melihat perempuan lain memakai baju warna pink, Witri kesal juga.
Hari memang dulu pernah bilang kalau suka melihat perempuan berpakaian pink. Katanya sih tambah imut dan menggemaskan.
Dan terakhir beberapa hari lalu kebetulan Teh Lilis depan rumah selama tiga hari berturut-turut selalu memakai baju warna pink dengan model dan tingkat pink yang berbeda dan Hari nampak rajin melirik kepada Teh Lilis yang selalu kebetulan pas ada di depan rumah saat dia dan Hari akan pergi.
Semakin berkobarlah kekesalan hati Witri walau tak dia ucapkan.
Karena itu akhirnya dia memutuskan untuk mencoba melawan egonya dan mencoba berteman dengan warna pink.
"Aku suka pilihan modelnya. Mas pinter milihnya." puji Witri dengan tatapan kagum pada Hari yang nampak senang.
"Kenapa kamu tiba-tiba pengen baju warna pink? Kamu kan anti pink selama ini." tanya Hari menuntaskan penasaran di hatinya.
"Yaaaa...pengen aja." jawab Witri tanpa mau berterus terang motifnya mau memakai baju warna pink.
Mau ngaku alasan sebenarnya kok kayaknya malu kalau Hari nanti meledeknya.
"Jangan- jangan kamu ngidam, Jeng." kata Hari dengan tatapan penasaran.
"Ngidam darimana?! Bulan lalu aku datang bulan. Bulan ini juga." sergah Witri cepat.
"Bulan ini kapan? Kita aja rajin kerja baktinya." tanya Hari menatap penuh tanya pada Witri.
"Tadi barusan pas mandi." jawab Witri sambil terkekeh.
"Yaaaaahhhh..." keluh Hari dengan nada kecewa.
"Kenapa?" tanya Witri sambil tersenyum meledek karena tahu apa yang menyebabkan keluhan Hari. Apalagi kalau bukan karena harus puasa seminggu ke depan.
"Ra oleh sangu aku ( nggak dapat bekal aku)." kata Hari sambil melirik malu pada Witri.
Empat hari lagi Hari memang ada tugas keluar daerah mengawal komandannya selama seminggu.
"Nanti pulangnya kan bisa dapat double." kata Witri menghibur.
Mata Hari langsung berbinar- binar.
"Janji ya, double." sahut Hari cepat. Witri hanya mencibirkan bibirnya.
"Ah PHP!" sungut Hari dengan wajah cemberut karena Witri tak mau berjanji.
Witri terkikik sambil menowel dagu Hari.
"Iyaaaa! Double deh." kata Witri sambil tertawa.
"Naaaah gitu kan aku seneng. Ada yang diharapkan saat pulang nanti." kata Hari sambil tersenyum lebar.
Tangannya sudah memeluk bahu Witri kemudian mencium pipi Witri dengan gemas.
"Lepasin ih! Aku mau liat bajumu dulu. Keren kan kalau pakai baju putih...Nggak gelap terus yang dipakai. Baju kok warnanya cuma biru dongker, abu tua, hijau tua, hitam, nggak ada lagi warna lain. Besok kalau beli baju lagi kita cari warna coklat muda atau cream atau biru muda. Ya?" pinta Witri sambil menatap Hari.
__ADS_1
Hari tersenyum membayangkan dia memakai warna baju idaman istrinya itu.
"Yang penting menurutmu keren, aku ngikut aja." kata Hari sambil terkekeh.
Dua potong kemeja putih tadi adalah pilihan Witri.
Untung Witri memilih bajunya juga masuk dengan seleranya. Jadi dia PD saja saat tadi mencoba salah satu kemeja lengan pendeknya.
Lagipula dia mau beli baju putih juga karena sedikit gerah hati karena sering mendengar Witri memuji cowok yang dilihatnya pakai kaos atau kemeja putih. Katanya cool dan bikin adem mata.
Karena dia pengen dapat pujian cool dan bikin adem mata juga dari istrinya itu,makanya dia ingin memakai baju putih.
Dan nyatanya tadi Witri tersenyum senang dan menatapnya dengan bangga.
"Ya Allah kerennya bojoku ( suamiku)." begitu puji Witri tadi.
"Cool juga nggak?" tanya Hari kemudian.
"Pastinya dong! Cool dan bikin adem mata plus hatiku." jawab Witri sambil terkekeh.
Hari menggelegas mengingat gombalan Witri tadi.
"Kenapa senyum- senyum gitu?" tanya Witri curiga karena Hari nampak tersenyum saat melihat kemeja putih di tangan Witri.
"Ngebayangin gimana cool nya aku kalau pakai baju itu." jawab Hari sambil meringis.
"Biar dilirik temen- temen cewekmu ya?" sergah Witri sambil mencibir.
"Ya enggak. Biar dilirik kamu terus." kekeh Hari sambil meraih pinggang Witri dan menariknya cepat hingga istrinya itu terduduk di pangkuannya.
"Wangi." gumam Hari tanpa melepaskan wajahnya dari pundak Witri.
Tentu saja wangi karena begitu tahu Hari suka sekali menciumi pundaknya,Witri selalu menyemprotkan parfumnya bukan hanya di belakang telinga, tapi juga di area pundaknya.
"Kebiasaan sukanya pundak. Enaknya apa sih pundakku ini?" gumam Witri sambil mengacak rambut Hari gemas.
"Enak aja." jawab Hari kini bibirnya sudah merayap ke tulang selangka.
"Aku libur lho." kata Witri mengingatkan agar Hari nggak kebablasan.
"Iya. Aku inget. Tapi setengah badan aja kan nggak papa." gumam Hari dari depan leher Witri.
"Hmmm..." jawab Witri hanya bergumam karena tengah menikmati kecupan di lehernya.
Dan bisa dipastikan kalau Hari tidak akan berhenti bergerak sebelum mencapai batas akhir wilayah yang boleh dijelajahi.
🍁🍁🍁🍁
Jiwo keluar dari kantor nyaris gelap. Sebentar lagi adzan magrib pasti akan berkumandang.
Dengan langkah tak tergesa dia memilih menuju ke arah masjid yang tak jauh dari kantornya untuk nantinya berencana sholat magrib berjamaah.
Sekilas dia menatap arloji di pergelangan tangannya.
Masih ada waktu beberapa belas menit sebelum adzan berkumandang, Dia mengarahkan langkahnya ke penjual pisang gapit yang ada di samping masjid.
Perutnya tadi sudah sedikit gaduh minta di perhatikan.
Sambil menunggu pesanannya disiapkan, Jiwo memilih menundukkan pandangannya, berlagak sibuk menatap ponselnya padahal pikirannya sedang kembali ke pembicaraannya dengan Pak Hasan, direktur perusahaannya yang tadi secara mendadak memanggilnya ke ruangannya.
__ADS_1
Ternyata Jiwo ditawari untuk pindah kantor pemasaran di Jakarta.
Ada satu lowongan yang bisa Jiwo tempati disana karena pejabat sebelumnya telah memasuki masa purna tugas.
"Peluang ini Saya tawarkan pertama pada Anda Mas Jiwo, dengan pertimbangan Anda memenuhi kualifikasi untuk memegang jabatan itu. Jam terbang Anda sudah tidak diragukan lagi selama disini. Hampir semua divisi sudah pernah Anda pegang dan selalu bagus. Alasan lainnya adalah karena Anda orang Jawa. Siapa tahu Anda ingin lebih dekat dengan keluarga." kata Pak Hasan dengan pembawaan yang kalem.
Jiwo mengangguk mengerti.
Sejujurnya dia tak masalah di tempatkan dimanapun. Apalagi kalau dia bisa lebih dekat dengan rumah. Dia tentu saja senang. Bisa lebih sering mengunjungi ibunya.
Apalagi dia tidak perlu beradaptasi dengan pekerjaan yang akan dipegangnya di kantor baru karena dia tetap di divisi yang sama dengan disini. Hanya tinggal beradaptasi dengan orang- orangnya. Dan menurutnya itu tak akan sulit.
Gajinya yang sudah sangat lumayan juga tak akan terpengaruh karena kepindahannya itu. Aman.
Yang membuat mengganjal hanya satu hal saja. Dia akan berpisah jauh dengan Hanifah, teman kerja. yang kini berstatus jadi kekasihnya.
Mereka bahkan baru menjalin hubungan belum sampai tiga bulan. Apakah tidak akan jadi masalah bila mereka terpisah jarak sejauh itu nantinya?
Jiwo pribadi sebenarnya tak masalah bila harus menjalani LDR dengan karyawan baru bagian HRD itu. Tapi dia belum tahu bagaimana tanggapan kekasihnya nanti bila dia memutuskan akan menerima tawaran pindah kerja itu.
"Aku harus segera membicarakan ini sama dia." gumam Jiwo pada dirinya sendiri.
"Mas!" Jiwo tersentak kaget saat pundaknya di tepuk lembut dari belakang.
Sosok yang sedang ada dipikirannya telah berdiri di belakangnya sambil tersenyum riang.
"Lhoh,kok kamu masih disini?" tanya Jiwo kaget. Dilihatnya baju Hanifah masih sama dengan baju yang dipakai perempuan itu tadi siang, ,saat mereka bertemu untuk makan siang.
"Mendadak lembur. Ini baru pulang." jawab Ifah - begitu dia biasa dipanggil- sambil beranjak duduk di samping Jiwo.
Ifah memesan satu porsi pisang gapit dan teh tawar hangat untuk dirinya sendiri.
"Mas juga lembur mendadak?" tanya Ifah sudaj kembali memusatkan perhatiannya pada kekasihnya.
"Enggak. Tadi di ajak ngobrol sama Pak Hasan cukup lama."" jawab Jiwo santai.
"Ambil aja kalau pengen." kata Jiwo saat dilihatnya Ifah menatap penuh minat pisang gapit pesanan Jiwo yang baru saja diantarkan.
Ifah mengambil satu sendok di wadah yang tersedia di meja dengan riang lalu dengan semangat mengambil seiris pisang dari piring di hadapan Jiwo lalu mengunyahnya sambil menatap Jiwo yang sejak tadi menatap kelincahannya.
"Lincah sekali kalau disuruh makan." ledek Jiwo sambil tersenyum tipis.
"Aku juga lapar, Mas." jawab Ifah di sela kunyahannya.
Sumber: google
Baru saja dua suap Jiwo memakan pesanannya, adzan magrib berkumandang.
"Kamu makan ini aja ya. Aku ke masjid dulu. Nanti aku makan pesananmu." pinta Jiwo pada Ifah yang mengangguk setuju.
"Ada yang ingin aku obrolkan. Kamu tunggu disini dulu ya." pinta Jiwo sambil tersenyum.
"Iya." jawab Ifah sambil balas tersenyum.
Dia sendiri sedang tidak sholat dan siang tadi Jiwo sudah tahu.
Jiwo bergegas melangkahkan kakinya menuju masjid diiringi senyum dan tatapan penuh cinta dari kekasihnya. Lelaki yang tiba- tiba mengajaknya ngobrol panjang di kantin di hari pertama dia jadi karyawan di perusahaan yang sama.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1