
"Aku pasti akan selalu kangen banget sama kamu." kata Jiwo seusai melepaskan pagutan bibirnya di balik pintu kamar hotel sebelum mengantar Witri ke bandara.
Beruntung Kyu yang kemarin ingin ikut mengantar ke bandara membatalkan rencananya karena diare sejak semalam.
Sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan Jiwo karena dia bisa bermesraan sejenak dengan kekasih hatinya tanpa ketahuan siapa pun kecuali Tuhan, malaikat, dan setan tentunya, wkwkwk...
"Kamu jadi tuman gini sih." kata Witri galak dengan sedikit tersipu.
"Kamu marah kalau aku cium?" tanya Jiwo tiba- tiba nggak enak hati. Khawatir Witri berpikir dia adalah pemaksa. Walau Jiwo merasa Witri juga bisa menikmati ciumannya, tapi Jiwo khawatir juga.
Witri hanya diam. Bingung mau menjawab apa.
Mau mengangguk kok mengingkari hati. Nyatanya dia juga menikmati setiap pagutan lembut bibir Jiwo.
Mau menggeleng kok khawatir nanti di kira gampangan walau kenyataannya dia juga tak mampu menolak sapuan lembut Jiwo di bibir dan wajahnya.......Ah susah memutuskan sekedar untuk mengangguk atau menggeleng.
"Aku nggak pernah bermaksud merendahkan kamu dengan sentuhanku, Wit. Maaf kalau itu menyinggungmu. Aku...." Jiwo bingung melanjutkan ucapannya.
Aku hanya jadi ingin selalu melakukan itu sama kamu...
"Aku janji nggak akan melakukannya lagi." hanya itu yang akhirnya terucap dari bibir Jiwo, dengan berat hati.
Ya iyalah berat, dosa indah itu sungguh candu.
"Makasih." sahut Witri kemudian.
Jiwo mengangkat pandangannya. Menatap wajah Witri sedikit bingung.
Makasih buat apa maksudnya?
Makasih untuk ciumannya? Atau makasih untuk janjinya yang nggak akan mengulang lagi?
"Makasih buat apa?" tanya Jiwo akhirnya terlontar juga. Daripada salah faham kan?
Siapa tahu makasihnya buat ciumannya kan? Hihihi....
"Makasih buat janjinya barusan." kata Witri sambil tersenyum malu.
"Nggak ada makasih buat ciumannya?" tanya Jiwo sambil meringis. Witri melongo kemudian terkekeh malu.
"Ya udah. Makasih juga buat itu " katanya kemudian sambil menahan malu
Jiwo nggak tau aja kalau semalam susahnya setengah mati melupakan adegan kissing mereka sebelumnya, sebelum dia akhirnya terlelap di hampir jam 3 dinihari.
"Kalau peluk aja boleh?" tanya Jiwo penuh harap. Sebelum merek check out dari hotel dan ke bandara.
"Boleh." jawab Witri sambil merentangkan tangannya yang bergegas di sambut dengan bahagia oleh Jiwo.
"Aku bakal kangen kamu, Sayang." bisik Jiwo berkali- kali sambil mengangkat tubuh Witri dalam pelukannya.
Witri hanya balas memeluk lebih erat leher Jiwo.
Aku juga, Wo...Aku juga....
...🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
Witri kembali memanjangkan lehernya dari tempat duduknya. Celingukan sambil memegang erat tuas kopernya.
Sosok yang dia cari dan dia tunggu sedari tadi tak juga terlihat sampai di ujung pandangannya.
Padahal seharusnya Nadi sudah ada menunggunya di sekitar pintu keluar bandara ini seperti yang dia janjikan saat mereka saling mengirim pesan sebelum pesawat membawanya kembali ke tanah air.
Panggilan telpon yang sudah lima kali dia lakukan juga tak tersambung.
Apa hape Bang Nadi low bat? Batinnya resah.
Binaran mata Witri membesar saat dirasanya ponsel bergetar. Berharap Bang Nadi yang menelponnya. Tapi ternyata mamaklah yang menghubungi dirinya.
Setelah saling berbalas salam, mamak menanyakan posisi Witri sampai dimana.
"Masih di bandara, Mak. Nunggu Bang Nadi nggak sampai- sampai. Aku telpon bolak- balik hapenya kayaknya mati." jawab Witri sarat dengan nada keluhan.
"Lhoh, kirain sudah mau dekat rumah." kata Mamak sedikit kaget.
Dalam perkiraan mamak, seharusnya kurang dari lima dua puluh menit Witri sudah bisa ada di depannya.
Nadi tadi juga berangkatnya ke bandara dari rumah Witri.
Berniat mengajak mamak dan Aksa ikut serta menjemput Witri ke bandara. Namun mamak menolak karena Aksa baru saja terlelap setelah beberapa jam tadi rewel.
"Aku tinggal pulang sendiri aja ya,Mak?" tanya Witri minta persetujuan mamak untuk meninggalkan Nadi yang tak juga sampai dan tak bisa juga dihubungi.
Witri mengira mungkin tadi di tengah perjalanan bang Nadi dapat tugas mendadak dari kantornya dan lupa membatalkan janjinya untuk menjemput kedatangannya.
""Tunggu lima menit lagi. Kalau setelah itu dia nggak juga muncul, kirim pesan padanya kalau kamu sudah jalan pulang sendiri." saran mamak kemudian. Witri pun menurut apa kata mamak.
Setelah kembali memperpanjang waktu menunggunya selama lima menit, Witri bergegas mencari taksi setelah mengirim pesan pada Nadi.
Mungkin pria itu tergesa karena terlambat menjemput seseorang.
Setelah menanyakan kesediaan sang sopir untuk mengantarnya pulang, Witri duduk dengan lega di kursi penumpang belakang.
"Abang itu tadi keburu menjemput keluarganyakah, Bang?" tanya Witri basa- basi begitu mobil mulai berjalan
"Iya. Kami terjebak macet lumayan lama tadi karena ada kecelakaan di depan. Jadi waktu penjemputan sudah terlewat." jawab Abang taksi itu dengan tenang.
Apa mungkin Bang Nadi juga terjebak macet?
Witri kembali menatap aplikasi pesannya. Pesan yang dikirimnya kepada Nadi belum juga berubah statusnya. Masih centang satu.
Gimana kalau beneran Bang Nadi ikut kejebak macet dan hapenya low bat juga? Dia nggak bakalan tahu dong kalau udah aku tinggal pulang.
"Korbannya nggak tahu masih selamat atau enggak. Kayaknya parah." suara Abang taksi mengalihkan pikiran Witri.
"Tabrakan apa sama apa, Bang?" tanya Witri jadi penasaran.
"Bukan tabrakan. Ada tronton bawa beton panjang dan ada betonnya yang lepas mengenai mobil di belakangnya. Kena sopirnya." jawab Abang taksi.
"Innalilahi...." gumam Witri dengan wajah ngeri.
Orang ketiban beton segede itu? Witri tak bisa membayangkan.
__ADS_1
"Itu mobilnya udah di singkirkan ke pinggir." kata Abang taksi sambil menunjuk ke sisi depan.
Reflek mata Witri mengikuti arah telunjuk Abang taksi yang menunjuk sebuah mobil dengan kaca depan dan sebelah kap yang hancur.
"STOP! STOP BANG!!" teriak Witri begitu matanya menyapu sisi samping mobil.
Body samping mobil itu sangat dia kenal. Garis merah dan hijau di sepanjang body itu sangat dia kenal.
Itu mobil Bang Nadi.
Astagfirullah.....
"Kenapa, Mbak?" tanya Abang taksi setelah menepikan mobil dan mendapati Witri nampak gemetar dengan mata yang tak lepas dari mobil di seberang jalan itu.
"Itu....itu...." Witri tak mampu berkata lainnya.
Abang taksi sepertinya segera mengerti.
"Itu mobil keluarga Mbak?" tanya Abang taksi segera. Witri hanya mengangguk sambil menyeka air matanya. Seluruh badannya gemetar tak karuan.
"Abang..." lirihnya dengan suara yang nyaris tenggelam karena gemetar.
"Subhanallah..." gumam Abang taksi itu dengan wajah prihatin.
Bang....jangan pergi Bang....Aku nggak mau....jangan kayak gini sama kami, Bang...lirih batin Witri nelangsa.
Terbayang kembali saat dia ditinggalkan Hari untuk selamanya.
Apa iya Nadi pun harus meninggalkan dunia ini dengan cara yang sama. Kecelakaan.
Witri tergugu sendiri.
"Minum dulu, Mbak." kata Abang taksi sambil mengulurkan satu botol kecil air mineral yang tadi dibelinya namun belum jadi dia nikmati.
"Saya antar ke rumah sakit ya, Mbak?" tawar Abang sopir yang hanya disambut anggukan Witri.
Abang sopir sempat bertanya sebentar pada tukang tambal ban yang ada di depan mobilnya tentang rumah sakit yang dituju oleh korban kecelakaan barusan.
"Istigfar mbak....yang sabar..." hibur Abang taksi itu dengan lembut setelah kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat dimana Nadi di rawat.
Walau dia tahu mungkin sekali ucapannya tidak dipedulikan oleh Witri, tapi dia harus berusaha menenangkan penumpangnya itu.
Dia bisa melihat dengan jelas tubuh Witri gemetar dan airmata tak berhenti keluar walau bibirnya diam saja.
"Kalau bisa, hubungi keluarga yang lain, Mbak....biar nyusul ke rumah sakit." kata Abang taksi lagi dengan pelan- pelan.
Witri bergegas mengangguk dan berusaha mencari kontak mamak.
Namun, astagfirullah....jemarinya terasa lunglai tak bertulang hingga untuk memegang ponsel dengan benar saja dia, tak mampu.
Ponsel berulang kali jatuh ke pangkuannya karena tangannya gemetar hebat.
"Istigfar mbak....yang tenang..." kata Abang taksi itu lagi karena dia bisa melihat yang terjadi lewat spion tengahnya.
Setelah lima kali ponsel yang dipegangnya jatuh ke pangkuan, akhirnya Witri bisa melakukan panggilan pada mamak.
__ADS_1
Dan tangisnya langsung pecah begitu di dengarnya suara mamak di seberang telpon.
...💦 b e r s a m b u n g 💦...