
Witri keluar kamarnya karena merasa haus. Tidak ada kewajiban sholat magrib yang harus dijalani Witri karena dia sedang kedatangan tamu bulanannya sejak tiga hari lalu.
Dia tersenyum kecut saat teringat wajah Hari yang nampak menyembunyikan kekecewaannya dengan terkekeh pelan saat Witri bilang dia sedang datang bulan.
Hari tidak ceemberut apalagi ngomel.
"Nggak papa. Kita malah bisa melakukan malam pertama kita di rumah kita nanti." kata Hari sambil mengelus pipinya lembut sambil mengerling jenaka.
Hari Witri deg- degan setengah mati saat merasakan sentuhan itu.
Khawatir Hari akan melakukan lebih lagi. Dia belum siap. Atau belum rela? Entahlah.
Yang jelas Witri tidak ingin Hari berbuat lebih kali ini.
Jangan dulu.
Dia butuh membulatkan tekad lagi untuk pasrah menerima kenyataan hidupnya ini.
Kenyataan kalau dia sudah sah jadi milik Hari seluruhnya.Jiwa raganya.
Namun nyatanya kekhawatirannya tak terbukti.
Hari stop di elusan pipi saja.
Hfffff....leganyaaaaa....
Hari tadi pamit akan di langgar sampai selesai sholat isya'.
"Wit, Hari ke langgar?" tanya mamak yang sepertinya baru selesai mengambil wudhu.
"Iya." jawab Witri singkat. Matanya mengedar ke seantero dapur yang sudah terlihat rapi seperti biasanya, seolah tak ada bekasnya kalau beberapa hari kemarin di dapur ini sangat hiruk pikuk karena hajatan pernikahannya.
Semua tetangga yang rewang sudah pamit pulang setelah semua bersih menjelang adzan magrib tadi.
Yang tersisa hanya beberapa jenis kudapan sisa dari yang dijadikan jamuan tamu dan dibagikan ke para tetangga yang rewang.
"Mamak sholat sebentar. Kamu tunggu disitu ya." perintah mamak tanpa menghentikan langkahnya menuju kamarnya.
Witri sedikit heran dengan perintah mamaknya itu. Namun dia memilih menurutinya.
Dia membuat dua gelas teh panas untuknya dan mamak sebagai teman mereka ngobrol nanti.
Dia ngemil rengginang yang diambilnya dari bekas kaleng roti yang sepertinya sudah sangat berjodoh dengan rengginang.
"Udah bapaknya ilang nggak pulang- pulang. Isinya juga nipu. Huuuu!"
Duangggg! Pukulan ringan tangan Witri di kaleng itu mengisi kesunyian dapur.
Besok adalah hari terakhirnya di rumah ini karena dia akan ikut suaminya ke tempatnya berdinas, di Aceh.
Sebuah daerah yang sangat jauh dari kampung halamannya.
Entah kapan lagi dia bisa menginjakkan kakinya lagi di kota ini kelak.
Mas Hari bilang tiga atau empat tahun lagi mereka baru bisa mudik.
Lama sekali.
Sudut mata Witri menangkap kehadiran mamak yang melangkah pelan menuju ke arahnya.
"Aku buatin teh, Mak." Kata Witri sambil mendekatkan segelas teh yang masih panas ke depan mamaknya yang sudah duduk di kursi kayu sampingnya.
"Hari balik habis magrib apa sekalian isya' di langgar?" tanya Mamak sambil membuka tutup gelas teh panasnya. Uap mengepul tipis ke arah atas gelas seiring aroma teh yang menguar.
__ADS_1
"Sekalian isya' di langgar katanya." jawab Witri santai.
Mamak mengangguk dengan wajah lega.
Namun Witri tahu ada sesuatu yang disembunyikan mamaknya darinya kali ini.
"Mau bicara apa,Mak?" tanya Witri tanpa membuang waktu.
Dia mengira mamaknya memang sengaja ingin mengajaknya ngobrol saat Hari tak ada. Apa ada rahasia yang Hari nggak boleh tahu?
"Ini soal Jiwo." kata Mamak sambil menatap wajah Witri yang nampak datar namun matanya tidak bisa berdusta kalau dia kaget.
"Jiwo kenapa?" tanya Witri tenang. Untuk menutupi deg- degannya, dia memilih menggigit besar rengginangnya.
"Pas kamu ke Jakarta tempo hari, beberapa hari setelah kamu berangkat, Jiwo kesini." terang mamak, membuat Witri spontan menghentikan kunyahan rengginangnya.
"Ke sini?! Ke rumah ini?!" tanya Witri kaget.
Mamak mengangguk.
"Kenapa mamak nggak cerita?" tanya Witri sedih.
"Dia pada intinya ingin menunjukkan keseriusannya sama kamu. Makanya jauh- jauh dia nyari kesini." kata Mamak seolah tak perduli dengan ucapan Witri.
Witri menggeleng tak percaya.
Dia nggak ingin percaya kalau Jiwo mencarinya.
Dia nggak ingin percaya mamaknya merahasiakan hal itu darinya.
Padahal mamaknya sangat tahu, bagaimana Witri sangat menyukai Jiwo. Bahkan dia selalu menunggu akan bertemu kembali dengan Jiwo.
"Dia juga ninggal nomer teleponnya. Juga alamat kantor barunya dan berharap kamu akan mengabarinya suatu saat nanti." lanjut mamak, membuat Witri semakin tak percaya menatap ibunya itu.
Satu sudut hati terdalamnya sangat bahagia karena dia kembali menemukan jejak Jiwo. Dia lega, ternyata benar adanya,mereka saling mencintai dan menanti.
"Sudah dibakar sama mbok tuwo" jawab mamak pelan.
"Ya Allah,Mak....teganya sama aku." kata Witri lirih karena tubuhnya tiba- tiba merasa sangat lemas mendengar jawaban itu.
Kuncup yang tadi nyaris merekah membuatnya senang, seketika luluh lantak dan menyisakan lubang luka yang menganga.
"Mbok tuwo nggak tahu kalau di kertas itu tulisan penting. Waktu mau bikin api, nyari urub- urub (alat untuk memulai membuat api di tungku kayu. Bisa memakai kertas,plastik, ranting kecil- kecil, daun kelapa/ blarak atau sabut kelapa) dan nemu kertas itu. Mamak tahunya setelah nyari- nyari kertas itu nggak ketemu dan nanya ke mbok tuwo." jelas mamak dengan nada tenang.
"Kenapa nggak langsung disimpan dulu sih,Mak...?" tanya Witri penuh sesal.
Mamak diam sambil menyeruput teh hangatnya.
"Mamak melihat itu sebagai tanda dari Allah kalau kamu dan Jiwo tidak berjodoh walaupun saling cinta...."
"Mak..."
"Mamak juga kurang setuju kalau kamu sama Jiwo..."
"Kenapa?' potong Witri cepat. Bibirnya sudah gemetar menahan tangis yang sebentar lagi meledak.
"Mamak tahu Jiwo anak yang baik. Mamak lihat juga dia serius mencintai kamu. Tapi kamu jangan lupa Wit dengan kondisi keluarganya." kata Mamak pelan.
"Keluarganya memangnya kenapa? Karena keluarganya kekurangan?" tanya Witri dengan tatapan tajam namun putus asa dan sangat kecewa.
"Kita harus realistis, Wit. Mana mungkin mamak tega melepaskan kamu hidup sama Jiwo padahal dia masih harus menanggung kehidupan ibu dan empat adiknya. Berat itu,Wit. Kasihan dia. Kamu juga bisa hidup susah kalau sama dia." kata Mamak menjelaskan alasannya.
Witri mendengus kesal kemudian menelungkupkan wajahnya ke atas dua lengannya yang bertumpu di meja.
Sepicik itu mamaknya berpikir. Hanya karena khawatir dia hidup melarat mamaknya lebih rela melihatnya tersiksa rindu sekian tahun dan merana dalam penantian kosong lalu terdampar dalam pernikahan ini.
__ADS_1
Teganya.
"Dia gajinya besar, Mak. Aku nggak akan mungkin sampai kelaparan kalau sama dia sekalipun dia harus menghidupi keluarganya." kata Witri sambil menatap Mamaknya dengan wajah sedih dan kecewa.
Airmatanya masih mengalir di kedua pipinya.
Mamak membuang pandangannya saat bertemu dengan sorot mata anak perempuan yang sangat disayanginya itu.
Mamak nggak mengira Witri akan sesedih ini. Sorot mata sedih anaknya itu baru sekali ini terlhat sekelam dan sedalam itu.
Mamak sedih dan menyesal melihatnya.
"Kamu layak dapat yang lebih baik dari Jiwo. Dan kamu sekarang sudah mendapatkannya." kata mamak menenangkan Witri,dan lebih tepatnya menenangkan hatinya sendiri yang diam- diam merasa bersalah.
"Aku masih cinta sama Jiwo, Mak." kata Witri sambil menatap manik mata mamaknya untuk meyakinkan perempuan yang telah membuatnya berada di dunia ini.
Linangan airmatanya semakin menjadi membuat pandangannya sendiri jadi mengabur walau dia bisa melihat mata mamaknya sangat berkaca- kaca bahkan kini sudah menggulirkan airmata.
"Aku masih nggak tahu harus bagaimana aku menjalani kehidupanku nanti sama Mas Hari. Aku belum bisa menerima dia sepenuhnya." kata Witri sambil terisak dengan nada putus asa.
"Maafkan mamak ya, Wit. Mamak nggak ada niat buruk melakukan semua ini. Mamak hanya ingin kamu hidup tenang dan layak." kata mamak sambil merangkum tangan Witri lembut.
Ada sesal dan nyeri di hatinya melihat tangis pilu Witri.
Anaknya ini bukan anak yang cengeng sejak kecil dulu. Dia sangat jarang menangis dari dulu.
Witri biasanya lebih memilih mengamuk memukuli apapun daripada menangis.
Dan bila dia sampai menangis,itu berarti perasaannya sudah di atas ambang batas dan tidak bisa lagi di lampiaskan dengan amarah.
"Aku sedang mati- matian melupakan perasaanku pada Jiwo.Aku sedang meyakinkan diriku sendiri kalau aku hanya bertepuk sebelah tangan mencintainya. Tapi barusan mamak malah menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Ternyata benar selama ini kami saling mencintai. Ternyata dia juga menungguku selama ini. Harusnya aku bisa bahagia dengan Jiwo, Mak. Bukannya harus berjuang untuk mencintai laki- laki lain sebagai suamiku." kata Witri dengan terisak- isak.
Mamak menunduk ikut terisak.
"Harusnya mamak nggak usah mengatakan soal Jiwo. Harusnya itu biar jadi rahasia saja sampai kapanpun biar aku nggak nambah beban pikiran. Kalau sudah begini aku harus bagaimana, Mak? Aku harus gimana dengan cintaku? Dengan penantian Jiwo? Dengan perasaan mas Hari?" tanya Witri kemudian sesenggukan di atas meja.
Hatinya sudah tak berbentuk saat ini.Hancur luluh lantak.
"Lupakan Jiwo ya, Nduk. Kalian nggak berjodoh. Doakan dia mendapatkan jodoh yang baik juga. Kamu teruslah melanjutkan hidup barumu bersama Hari. Cinta akan datang karena terbiasa. Biasakan hatimu hanya mengarah padanya. Bukan ke siapapun lagi. Hanya ke suamimu saja." kata Mamak lembut sambil mengelus- elus lengan Witri.
"Apa bisa, Mak?" tanya Witri dengan tatapan gamang.
"Bisa! Pasti bisa. Niatkan ibadah, Nduk. Jalani dengan ikhlas. Setiap hal baik yang kamu lakukan untuk suamimu akan menjadi ladang amal untukmu. Lakukan dengan niat baik dan ikhlas." kata mamak sambil tersenyum meyakinkan memberi semangat.
Ikhlas.
Ibadah.
Ya. Tak ada jalan keluar lagi bukan selain mengikhlaskan yang ada dan menjalani pernikahannya sebagai ibadah terpanjang seumur hidupnya.
"Hari anak baik. Dia juga sangat sayang sama kamu. Setidaknya kamu tidak perlu berjuang untuk bisa melihat keseriusannya. Dia sudah ada nyata di depanmu. Bahkan dia sudah sah jadi suamimu. Dia berhak mendapatkan semua hatimu, Nduk. Dia pantas mendapatkan pengabdianmu." kata mamak lagi.
Sudut terdalam hati Witri membenarkan itu walau satu sisi hatinya masih berteriak lantang bahwa bukan Hari yang dia mau. Tapi Jiwo.
Jiwo yang ingin diberinya pengabdian seumur hidup.
Jiwo yang ingin dia beri hatinya seutuhnya.
Hanya Jiwo.
Bukan Hari yang sayangnya kini telah sah jadi suaminya dan memang berhak mendapatkan semua yang terbaik yang dia punya.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
Selamat hari Senin. Hari penerimaan vote gratis 😄 Yang votenya bingung mau diapain,lemparkan saja kemari. Nggak bakalan nolak juga 😄😄😄😄
__ADS_1