
Siang menjelang sore itu akhirnya digunakan oleh Hari dan Witri bergotong-royong untuk memasukkan satu buah ranjang lengkap dengan kasur dan bantal guling baru, satu set meja kursi tamu, satu kardus berisi alat masak, dan satu buah kompor.
Witri memandang puas ke arah kursi tamu dan ranjang pilihan Hari. Kasur baru dan bantal gulingnya sudah terbungkus rapi dengan sprei baru bermotif batik berwarna krem yang sengaja Witri bawa dari rumah.
Dia berkacak pinggang di gawang pintu kamar tidur yang langsung menghadap ke kamar tamu bahkan baru disadarinya kalau pintu kamar lurus dengan pintu keluar rumah.
Ini kontraktornya dapat ilham model rumah kayak gini darimana sih? Gini amat desainnya.
Padahal saat melihat bentuk bangunannya dari luar tadi Witri mengira posisi kamar tidur ada di sebelah ruang tamu, bukan di depan ruang tamu seperti ini,secara ada satu jendela di tembok depan, yang posisinya terpisah dari jendela dan pintu masuk ke dalam rumah.
Begitu Witri masuk, ternyata oh ternyata, ruangan berjendela itu malah ruangan kosong yang bergabung dengan dapur. Mungkin dimaksudkan untuk difungsikan sebagai ruang keluarga dan ruang makan yang menyambung dengan dapur.
Nggak asik nih letak pintunya. Gimana kalau aku baru bangun tidur dan pakai daster pendek dan harus keluar kamar padahal ada tamunya Mas Hari lagi ngobrol di kursi tamu...? Ish...pasti penampilanku bikin ngeri...
"Mas, kayaknya di sepanjang tembok kamar yang menghadap ruang tamu sini harus di kasih partisi deh..Biar kalau keluar kamar nggak langsung keliatan kalau ada tamu." kata Witri dari posisi berdirinya.
Hari yang sedang merapikan posisi alat dapur -sesuai instruksi Witri tadi- menatap Witri sekilas.
Hari berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Besok kita cari triplek aja gimana? Trus kita cat. Sekalian kita nyari cat buat ganti cat tembok." tawar Hari sambil menatap meminta persetujuan.
Hari tahu Witri nggak suka warna kuning dalam bentuk apapun kecuali warna kuning di buah pisang.
"Gitu juga boleh.Nanti lorong yang tercipta diantara tembok kamar dan triplek penyekat bisa kita kasih lemari kecil tempat nyimpen handuk, sprei, dan mukena di tembok sana." kata Witri sambil menunjuk tembok rumah dan sudah langsung punya bayangan untuk memaksimalkan lahan rumah mungilnya.
"Kita masih harus beli lemari pakaian juga ya, Jeng." kata Hari sambil mendekat kemudian memutarkan pandangan melihat hasil kerja Witri pada penataan ranjang dan kursi tamu.
Tadinya Witri mau 'menguasai' semua pekerjaan menata rumah dan meminta Hari membantunya bila nanti dia kesulitan saja. Namun Hari memaksa tetap meminta jatah pekerjaan.
Dan saat diberi pilihan akan menata ranjang atau dapur, tentu saja dia memilih menata dapur dengan arahan Witri.
Hari sadar nggak pandai dan nggak bisa rapi menata sprei.Karena itu dia menyerahkan hal itu kepada Witri setelah beberapa kali menggeser posisi meja dan kursi tamu menuruti perintah Witri.
"Memangnya masih punya uang?" tanya Witri sambil tersenyum meledek. Hari meringis malu.
"Kalau cuma buat beli lemari dua pintu sih masih ada.Kemarin juga waktu mau berangkat di kasih uang sama Bapak. Tuh di koper. Kamu aja nanti yang pegang ya." kata Hari sambil menatap Witri.
"Aku juga dikasih uang sama mamak kemarin." kata Witri ikutan jujur.
Tadinya dia mau nggak ngomong soal uang pemberian mamak itu. Biar jadi uang perempuan pikirnya.
Tapi Hari yang ternyata juga punya 'uang lelaki' malah ngomong duluan dan menyerahkannya padanya.
Jadi nggak enak hati kan kalau mau berlaku nggak jujur sama lelaki itu.
__ADS_1
"Kalau gitu mari kita kumpulkan uang bekal kita." ajak Hari sambil mengerling dan tersenyum geli kemudian mendekati koper, membukanya cepat, kemudian tangannya nampak merogoh- rogoh di balik tumpukan bajunya dan tak lama tangannya sudah muncul lagi di udara sambil mengenggam sebuah amplop putih tebal.
Witri sendiri juga membuka kopernya dan melakukan hal yang sama dan tak lama sudah mengenggam sebuah dompet kain.
Keduanya lalu duduk bersila di atas ranjang kemudian mengeluarkan 'bekal' merantau yang diberikan orang tua mereka.
Keduanya saling tatap dengan pandangan takjub saat menghitung uang pemberian orangtua mereka itu.
"Waaah, ini sih bisa buat bikin rumah kayak gini seisi- isinya!" seru Witri tak percaya.
Hari meringis melihatnya.
Terbayang wajah bapaknya yang menyumpalkan amplop berisi uang itu ke tas ranselnya.
"Ini uang bapak. Ibumu nggak tahu kalau bapak nabung ini buat bekal kamu berumahtangga. Gunakan sebaik- baiknya untuk membahagiakan keluargamu. Jangan bikin malu keluarga kita di tanah orang. Kalian harus bahagia. Janji ya?!" kata Bapak sambil menepuk- nepuk bahunya beberapa kali dengan mata yang berkaca- kaca.
Hari tercekat sebelum kemudian bergegas bersikap tegak kemudian memberi hormat pada bapaknya.
"Siap laksanakan, Pak!" katanya mantap walau dengan mata berkaca- kaca pula.
"Ngelamunin apa? Kok jadi sedih gitu mukanya?" suara Witri membuyarkan lamunan Hari.
"Jadi keinget Bapak waktu ngasih uang itu. Ngasih itu di belakang Ibu." kata Hari sambil tersenyum kecut.
Witri ikut tersenyum kecut.
"Oh iya...! Kita telpon sekarang ya?" tawar Hari kemudian beranjak meraih ponselnya dan melakukan panggilan telpon kepada bapaknya.
Seperti dugaannya, Bapaknya senang mendengar kalau mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan.
Bapak juga menanyakan kondisi rumah dan lingkungan asrama yang akan mereka tempati.
"Baik- baik kalian disana. Bapak cuma bisa mendoakan dari jauh." kata Bapak sebelum Hari mengakhiri panggilan telponnya.
"Giliran kamu yang telpon mamak." kata Hari sambil mengulurkan ponselnya pada Witri yang langsung berwajah cerah sambil memencet nama mamak dalam panggilan telpon.
Seperti halnya bapak tadi, Mamakpun senang begitu dikabari kalau mereka berdua sudah sampai tujuan dengan selamat.
Mamak juga berpesan tak jauh beda dengan bapak pada mereka. Hanya ada tambahan khusus untuk Witri agar anak perempuannya itu nurut dan baik pada suaminya.
Hari tersenyum- senyum mendapati Witri yang beberapa kali melirik malu padanya.
"Tuh dengerin...harus baik dan nurut sama suami." kata Hari sambil menepuk- nepuk lembut poni Witri.
Witri hanya mencibirkan bibirnya.
__ADS_1
"Ngeyel..." ledek Hari sambil tersenyum- senyum meledek.
"Aku nggak ngeyel!" sahut Witri kesal.
Hari tertawa melihat wajah kesalnya.
"Tambah menggemaskan kalau cemberut gitu. Jadi pengen nyium." kata Hari sambil menatap menggoda pada Witri.
"Paan sih!" sergah Witri kemudian bergegas turun dari ranjang dan keluar kamar.
"Heiii...ini uangnya disimpen dulu. Kok malah ditinggal pergi." seru Hari sambil tertawa- tawa.
"Taruh disitu aja dulu. Aku mau masak air.Pengen bikin minuman anget." kata Witri berdusta.
Dia memang menjerang air, namun bukan karena pengen minuman anget. Tapi karena nggak mau dekat- dekat dengan orang yang punya niat pengen nyium dia barusan.
Padahal dia suamiku...
"Uangnya aku simpen di bawah kasur ya, Jeng. Aku keluar dulu." pamit Hari saat Witri sedang bengong menatap ceret yang sedang menjalani proses mendidihkan air.
"Mau kemana?" tanya Witri kikuk. Mungkin Hari menangkapnya yang sedang bengong barusan.
Keliatan banget kalau menghindar nggak sih?
"Ke rumah sebelah. Kayaknya Pak Hartanto, suaminya Bu Aisyah udah pulang waktu mas mandi tadi." kata Hari sambil sesekali nmenatap Witri.
"Memangnya kedengeran suaranya Pak Hartanto dari kamar mandi? Kok Mas udah kenal sama dia?" tasnya Witri keheranan.
"Mas pernah tugas kesini nemenin komandan selama sepuluh harii beberapa bulan lalu. Ketemu sama Pak Hartanto. Jadi kenal." terang Hari.
"Ya udah sana kalau mau main. Sebelum magrib pulang ya." kata Witri yang membuat Hari tertawa.
"Kayak pamit main sama ibuku ini...Padahal aku udah gede dan pamit sama istri dan aku cuma main ke sebelah. Dipanggil dari pintu samping juga aku denger." kata Hari di tengah tawanya.
Witri ikut tertawa menyadari kelakuannya.
Dia jadi ingat kalau pamit main pada Mamak pasti jawabannya seperti yang dia ucapkan pada suaminya. Pulang sebelum magrib.
Ah, kenapa kalau jauh gini semua memori seperti berlompatan seolah ingin mematrinya untuk tetap pada masa lalu...
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
Anyway.....ada yang punya tips biar author ini bersemangat kembali rutin up nggak ya...? 😅😅😅
Biar kata novel ini sudah lolos kontrak, tapi kenapa jadi ngedrop gini ya semangatnya....🙈
__ADS_1
Selamat berpuasa semua saudara muslimku...😘😘😘