JANJI JIWO

JANJI JIWO
Kabar Dari Lukman


__ADS_3

Jiwo kembali membaca pesan yang baru saja dikirimkan Lukman padanya.


Sahabatnya di STM itu mengabarkan sedang ada di Aceh.


Bukan kabar keberadaan Lukman di Aceh yang membuat Jiwo tercenung saat ini. Tapi kabar yang diceritakan Lukman yang membuat hatinya menghangat, sekaligus nyeri dan dia tak ingin mengakuinya kalau...merasa porak poranda sekaligus.


Lukman bercerita kalau sedang di Aceh menemani mertuanya yang ingin menengok kakak iparnya yang baru saja lahiran.


Lukman sendiri sedang menikmati masa- masa pengantin barunya karena baru menikah sebulan yang lalu dengan cewek SMEA yang di pacarinya dulu, Astuti.


Dan saat jalan- jalan malam bersama kakak ipar lelakinya, tak sengaja Lukman bertemu dengan Witri dan suaminya yang juga sedang mencari makan malam.


Flashback on


**************


Lukman yang sedang menunggu balasan pesan dari istrinya dengan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya tiba- tiba menancapkan pandangannya pada sepasang orang yang baru masuk ke tempat makan itu.


Lukman langsung mengenali sosok perempuannya sebagai Witri walau sudah sedikit lebih glowing sekarang.


Tapi keberadaan cewek itu di Aceh ini tentu saja membuat dia ragu.


Ngapain cewek itu disini?


Dia sama siapa itu?


Mungkin hanya mirip pacarnya Jiwo.


Di dunia ini kan ada tujuh orang yang mirip.


Beruntungnya dua orang yang sedang menarik atensinya itu duduk di meja yang letaknya tepat di samping mejanya.


Begitu keduanya duduk, Lukman langsung pasang kuping tajam- tajam dalam rangka ingin menguping pembicaraan keduanya.


"Mau makan apa?" tanya si pria.


Ck, pakai bahasa Indonesia...


"Aku pengen ngrasakke ( aku pengen merasakan) mie Aceh di daerah asalnya." jawab perempuan itu.


Lukman bergegas menoleh ke arah Witri.


Itu suara Witri!


Lukman masih ingat.


"Goreng atau kuah?" tanya si lelaki.


"Kuah."



"Mas Hari pesen liyane ya...aku pengen melu ngicipi ( Mas Hari pesen lainnya ya...aku pengen ikut ngicipin)." kata si perempuan dengan nada santai namun membujuk.


Oooo...namanya Hari.


"Siaaap. Liyane mie? ( lainnya mie?)" tanya Hari dengan wajah riang yang tak pernah kendur.


"Sak karepmu. Sing penting liyane mi Aceh. (Terserah kamu. Yang penting selain mi Aceh.)" jawab perempuan itu santai.


"Aku pesen sate matang wae ( aja)." kata Hari yang disambut kernyitan kening Witri.


"Jenenge ( namanya) sate matang? Matang mateng maksudnya?" tanya Witri setengah berbisik.



"Matang ki jeneng panggonan. Satene asale seko Matang, daerah Bieureun ( Matang itu nama tempat.Satenya berasal dari Matang, daerah Bieurein)." kata Hari menjelaskan.

__ADS_1


Witri membulatkan mulutnya membentuk huruf O tanda mengerti.


Karena tak tahan, tanpa aba- aba Lukman mendekat ke meja sebelah mejanya itu.


"Nyuwun ngapunten...Mbak Witri nggih? ( Mohon maaf...Mbak Witri ya?)" tanya Lukman sambil menatap bergantian kepada dua orang yang langsung menatapnya dengan wajah mencermati.


"Inggih ( iya)." jawab Witri masih dengan dahi mengernyit. Nampak seperti berusaha sedang mengingat- ingat.


"Lukman...Anak STM... pacarnya Astuti, adik kelasmu di SMEA..." kata Lukman mencoba membantu Witri mengingat.


Sesungguhnya Lukman ingin menyebut nama Jiwo. Tapi dia menjaga perasaan laki- laki yang bersama Witri itu. Siapa tahu itu suaminya.


Begitu mendengar kata STM, Witri langsung teringat siapa Lukman ini. Sahabatnya Jiwo yang selalu menemani Jiwo bila ke sekolahnya.


Hatinya berdesir dan tanpa sadar dia melirik cemas ke arah Hari.


"Oh...iya...Pacarnya Astuti yang suka nungguin di depan gerbang..." kata Witri dengan nada riang.


"Kok Kowe tekan kene ki dalam rangka ngopo? (kok kamu sampai sini tuh dalam rangka ngapain?)' tanya Lukman dengan gaya santai. Dia melempar senyum pada Hari yang juga tersenyum padanya.


"Melu bojoku lah! Dines neng kene.( ikut suamiku lah. Dinas disini)."jawab Witri sambil menatap Hari dengan senang.


"Kenalke...Iki Mas Hari, my husband. Mas, kenalke..Iki Lukman.( kenalin...ini Mas Hari, suamiku. Mas, kenalin..ini Lukman.)" kata Witri sambil menyentuh lengan Hari yang langsung berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Dines neng ndi, Mas?( dinas dimana, Mas?)" tanya Lukman santai namun sopan.


"Kodam." jawab Hari sambil tersenyum.


"Weiihhh...Pak tentara ternyata..." seloroh Lukman sambil mengerling setengah terkejut.


Hari dan Witri hanya terkekeh.


"Udah lama disini?" tanya Lukman yang akhirnya oleh Hari diajak bergabung saja di mejanya bersama kakak iparnya.


"Belum. Belum ada tiga minggu ya, Jeng?" tanya Hari sambil menoleh pada Witri.


"Nikahnya udah lama?" tanya Lukman kemudian. Dia saat ini tengah mengingat Jiwo.


Bagaimana kabar sahabat yang telah sekian tahun tak dijumpainya itu? Apa Jiwo tahu kalau Witri sudah menikah?


Lalu Jiwo sedang berhubungan dengan siapa sekarang kalau Witrinya diambil orang gini?


"Belum juga. Belum ada sebulan. Kami dua hari setelah nikah langsung kabur kesini." jawab Hari sambil terkekeh.


"Waaah...manten anyar ( pengantin baru) juga nih..." seru Lukman sambil terkekeh.


Hari hanya manggut- manggut untuk membenarkan ucapan Lukman.


Dan pertemuan tak sengaja malam itu diisi oleh obrolan Hari dan Lukman yang rasanya tak ada habisnya. Witri dan kakak ipar Lukman hanya sesekali menimpalinya.


Flashback off


**************


"Aku kira kamu bakal nikah sama Witri, Wo. Ternyata enggak." kata Lukman yang kemudian melakukan panggilan telpon pada Jiwo.


Jiwo meringis sedih.


Mauku juga begitu, Man...


"Kami nggak berjodoh, Man." jawab Jiwo diplomatis. Tinggal copy paste ucapan kaum patah hati generasi sebelum- sebelumnya namun rasa di hati beda- beda kadar rasanya.


"Untung aku nggak nyebut namamu, Wo. Takutnya suaminya nanti nggak suka." kata Lukman lagi.


Jiwo menghembuskan nafasnya sedih.


Bahkan hanya namanya pun kini bisa jadi ancaman untuk kebahagiaan Witri.

__ADS_1


"Iya. Jangan. Kasihan Witri kalau nanti suaminya nggak suka." kata Jiwo membenarkan sikap Lukman.


"Kamu nggak papa,Wo?" tanya Lukman dengan nada prihatin dan khawatir.


"Enggak. Memangnya aku kenapa?" tanya Jiwo sok santai.


Aku remuk, Man. Rasanya pengen mati waktu denger Witri mau nikah.


"Nggak mungkin kamu nggak papa. Kamu cinta sama dia nyaris seumur hidupmu kok." kata Lukman tanpa sadar menyangkal pertanyaannya sendiri.


Jiwo tak bisa berkata apapun untuk menyanggah ucapan Lukman itu.


"Sayangnya aku nggak berani minta nomor ponselnya Witri, Wo. Aku nggak enak sama suaminya. Suaminya kayaknya cinta banget sama Witri. Tahu sendiri kan kalau cowok terlalu cinta sama cewek biasanya over protective dan kadang cemburuan. Aku takutnya nanti suaminya cemburu kalau aku ujug- ujug minta nomernya." terang Lukman panjang lebar.


Ya, Jiwo mengerti.


Tak apa tak bisa punya nomer kontak Witri. Yang penting dia tahu Witri dalam keadaan baik dan dicintai dengan semestinya.


"Nggak papa. Lagian juga buat apa aku punya monernya Witri sekarang? Masak aku mau ngobrol sama istri orang?" kata Jiwo mencoba menjawab secara waras.


"Iya juga sih. Tapi aku prihatin sama kamu, Wo..." kata Lukman penuh simpati.


"Aku nggak memprihatinkan, Man. Aku udah nggak semenyedihkan dulu." kata Jiwo sambil terkekeh meyakinkan.


Lukman mencibir sesaat.


Pura- pura baik- baik saja itu melelahkan,Bro...jujur kenapa sih sama aku? Hati kamu terluka parah kan?


"Kapan kamu pulang ke Jawa? Aku pengen ketemu kamu." tanya Lukman kemudian, setelah Jiwo tak juga bicara.


Semenjak lulus sekolah, baru sekali mereka bisa bertemu.


Tiap kali Jiwo cuti libur, Lukman pasti selalu sedang keluar kota untuk urusan pekerjaannya.


Lukman bekerja di sebuah perusahaan kontraktor besar, atas ajakan kakaknya.


"Heleh. Nanti aku pulang, kamunya pergi keluar kota." sungut Jiwo dengan nada kesal.


"Makanya sekarang aku nanya kamu biar aku bisa mengatur jadwalku. Kamu kebiasaan kalau pulang dadakan ngasih tahunya. Salah sendiri." sergah Lukman sedikit meninggi.


"Pertengahan bulan depan aku dapat jatah cuti." kata Jiwo sebelum Lukman semakin panjang lebar ngomelnya.


"Minggu kedua apa ketiga? Yang jelas tanggalnya, Nye*t!" seru Lukman makin jengkel.


Jiwo meringis keki. Kebiasaan memanggilnya 'nye*t ' nggak ilang- ilang tuh orang.


"Minggu kedua sampai akhir bulan aku di Jawa." kata Jiwo kemudian.


"OK. Aku atur jadwal dulu di tanggal- tanggal itu. Walaupun cuma sehari,kita harus menghabiskan waktu buat ketemu. Kita bikin reuni dadakan besok. Yang bisa merapat, kita pinta merapat." kata Lukman dengan nada bossy nya.


Boleh juga...Pasti seru ketemu temen- temen jaman sekolah...


Tanpa sadar senyum kecil terbit di bibir Jiwo.


"OK. Deal. Kita ketemu bulan depan." kata Jiwo riang.


"Ya udah. Aku tutup dulu telponnya. Istriku udah melambai- lambai minta dibelai." kata Lukman sambil terkikik sendiri.


"Asem!"


"Malem- malem gini bobok berdua sambil membelai atau di belai enak lho,Wo." kata Lukman sengaja meledek Jiwo.


"Luweh! ( Serah!)" seru Jiwo dengan nada kesal. Lukman terbahak.


"Bye, jomblo ngenes ditinggal rabi ( kawin)." teriak Lukman sebelum menutup sambungan telponnya.


"Sial!" umpat Jiwo sambil menatap emosi pada ponselnya seolah Lukman akan bisa melihat kekesalannya.

__ADS_1


...šŸ’§šŸ’§šŸ’§b e r s a m b u n gšŸ’§šŸ’§šŸ’§...


__ADS_2