
Witri hanya mengekor Abang taksi yang berbaik hati tetap mendampinginya mencari keberadaan Nadi di IGD.
Matanya sendiri sudah tidak begitu jelas melihat kanan kirinya karena penuh dengan genangan airmata.
Hatinya carut marut tak karuan karena kilasan- kilasan kesedihannya saat akan kehilangan Hari dulu kembali memenuhi benaknya.
...Bagaimana kalau Bang Nadi nggak tertolong?...
Menapaki lantai IGD dengan lutut gemetar hebat bahkan nyaris tak sanggup berdiri tegak. Witri memaksa kakinya terus melangkah mengikuti Abang taksi yang dengan sabar menemaninya sampai bertemu nakes yang bisa ditanyai.
"Di ujung itu, Mbak katanya." kata Abang taksi kembali mendekati Witri yang merapatkan tubuhnya ke tembok sementara Abang taksi bertanya ke seorang nakes tentang keberadaan korban.
Witri melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk Abang taksi, namun tak kuasa bergerak dari tempatnya berdiri saat ini. Dia semakin takut kalau nanti harus mendapati kondisi Nadi seperti kondisi Hari dulu.
Dia lihat Abang taksi itu kemudian meninggalkannya menuju tempat yang tadi di tunjuknya.
Di sana ada dua orang berseragam tentara, dan kini tengah menatapnya setelah sedikit ngobrol dengan Abang taksi.
Witri mengerjap saat seorang tentara itu mendekat ke arahnya bersama Abang taksi.
"Saya Luis, Mbak, temannya bang Nadi. Kebetulan kami tadi sedang piket dan dikabari dari rumah sakit ini. Anda saudaranya?" tanya pria berkulit putih itu.
Witri hanya mengangguk.
"Gi- gimana kondisi abang saya?" tanya Witri dengan bibir gemetar.
"Beium sadar, Mbak" jawab Luis dengan wajah prihatin. Lali dia menjelaskan beberapa hal yang dijelaskan dokter padanya.
Kepala Witri sudah pusing dan tak bisa dengan baik mencerna penjelasan Luis.
Yang dia tangkap adalah,Nadi harus segera diberi tindakan operasi dan pihak rumah sakit butuh tanda tangan pihak keluarga.
Jadilah Witri kini berada di depan meja petugas administrasi untuk menandatangani berkas- berkas yang harus disahkan sebelum operasi dilakukan.
Sebelum menandatangani berkas itu kembali dokter menjelaskan kalau tindakan operasi ini urgent dilakukan.Kalau nanti sudah tidak ada lagi pilihan lain selain amputasi, bisa langsung dilakukan. Jadi berkas ini sengaja disiapkan agar nanti tak perlu lagi mencari pihak keluarga dan semakin menunda waktu.
Disana pula Witri baru tahu kalau kaki kiri Nadi, bagian bawah lutut tulangnya hancur. Dokter masih mempelajari kemungkinan menghindari amputasi. Namun bila tidak ada jalan lain, amputasi adalah satu- satunya pilihan.
Sambil tergugu dan tangan gemetar, Witri menandatangani surat persetujuan itu.
Rasanya seperti sengaja melepaskan seseorang untuk terluka karenanya.
Dan ya, Nadi mengalami kecelakaan seperti ini karena akan menjemput dia ke bandara.
Rasa bersalah tentu tak terhingga melingkupi hatinya.
Bagaimana kalau bang Nadi sampai harus di amputasi kakinya?
__ADS_1
Perasaan Witri semakin carut marut tak karuan.
Abang taksi bergegas mendekatinya untuk mengabarkan kalau Nadi sudah akan dibawa ke ruang tindakan.
Witri bergegas mengikuti brangkar yang sudah bergerak.
Luis yang berjalan di sampingnya tak bersuara sedikitpun. Hanya gesture nya saja yang terlihat melindunginya.
Di sebuah persimpangan lorong rumah sakit, terlihat mamak berdiri manunggu bersama suami Teh Lilis.
Witri bergegas menghambur ke pelukan mamak dan memecahkan tangisnya di sana.
Semua rasa takut dan rasa teramat bersalah dia tunjukkan dengan tangisnya saat ini.
Mamak hanya memeluk erat dan menepuk- nepuk lembut punggung Witri.
"Ayo kita sambil jalan. Nanti ketinggalan." ajak mamak sambil menatap laju brankar yang hampir berbelok.
Dengan isakan yang masih belum berhenti, Witri mengikuti perintah mamak.
Tiba di depan ruang operasi, dokter sedikit bicara dengan Mamak yang terlihat sangat tenang dan tegar. Mamak mengangguk- angguk kecil sebelum kemudian Nadi di bawa masuk.
Witri hanya bisa menatap nanar pintu yang kini tertutup dengan doa yang tak henti dia rapal di hati.
Selamatkan Bang Nadi ya Allah...pulihkan dia seperti sedia kala. Semoga dia mau memaafkan hamba.
Dan Witri seperti baru tersadar kalau dia melalaikan Abang taksi yang sudah menolongnya.
Nampak Abang itu kini juga tengah bicara pada mamak. Witri bergerak mendekat untuk menyampaikan terimakasih nya dan juga memberi uang taksinya yang belum dia bayar tadi.
"Ini banyak sekali, Mbak. Ongkosnya nggak sebanyak ini, Mbak " kata Abang taksi itu dengan wajah kaget
"Nggak apa, Bang. Buat ganti waktu Abang yang sudah kesita disini bantuin saya yang kebingungan." kata Witri dengan wajah serius." Maaf ya,Bang cuma segitu." sambungnya lagi.
Abang taksi itu ganti menatap haru pada Witri. Matanya berkaca- kaca hampir menangis.
"Ke- kenapa,Bang?" tanya Witri bingung.
"Mbak ikhlas memberi ini?" tanya Abang taksi itu dengan tangan sedikit gemetar.
"insyaaAllah ikhlas, Bang." jawab Witri sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ya Allah..." kata Abang taksi dengan wajah lega mendekap tujuh lembar uang merah di dadanya.
"Hari ini saya harus nebus obat untuk anak saya, Mbak. Dari pagi bingung harus nyari dimana kekurangan uangnya. Tadi malah sudah berencana mau pinjam ke kakak sepulang mengantar Mbak. Alhamdulillah malah saya dapat rejeki disini. Saya nggak perlu ngutang." cerita Abang taksi itu.
"Alhamdulillah kalau bermanfaat buat anak Abang." kata Witri dengan wajah gembira.
__ADS_1
Sesaat ingatannya melayang pada Aksa. Ah ya, Aksa sama siapa di rumah kalau mamak disini?
"Abang namanya siapa?" tanya Witri.
"Saya Umar. Mbak." jawab Umar dengan tersenyum.
"Saya Witri,Bang. Mungkin suatu hari kita ketemu di jalan atau dimana, kita bisa saling sapa." kata Witri sambil tersenyum kecil.
"Iya, Mbak. Semoga kita bisa ketemu lagi. Dan Abang yang sedang di operasi semoga lancar operasinya, dan hasilnya baik." kata Umar dengan tulus.
"Aamiin..." sahut Witri sepenuh hati.
Ucapan terimakasih kembali Witri ucapkan setelah Umar berpamitan dan akan meninggalkannya di depan kamar operasi bersama mamak.
"Aksa ditinggal sama siapa, Mak?" tanya Witri setelah kini hanya mereka berdua duduk bersebelahan di samping pintu kamar operasi .
"Sama Teh Lilis. Tadi pas tidur waktu mamak pergi." jawab Mamak.
Witri jadi tenang. Aksa sudah mengenal Teh Lilis sejak bayi merah, jadi tak pernah rewel bila bersama Teh Lilis karena Aks juga suka di ajak Teh Lilis main ke rumahnya tanpa mamak atau dirinya
"Aku takut, Mak." kata Witri setelah keduanya sejenak terdiam.
"Berdoa saja. Nggak usah takut. Semua sudah digariskan sama Allah." kata Mamak sambil menatap Witri lembut.
"Bang Nadi pasti sangat marah sama aku. Gara- gara aku dia harus kehilangan kaki kirinya." kata Witri sambil menunduk dalam. Airmata sudah kembali menetes di pipinya.
Andai garis suratan bisa di nego, Witri rela kakinya saja yang di amputasi. Jangan punya Nadi.
Nadi seorang tentara. Bagaimana dengan kariernya nanti?
Witri semakin tersedu saat menyadari hal itu.
Dia bisa jadi seorang yang menghancurkan masa depan orang lain.
"Mak, aku harus gimana?" rintih Witri sambil menjatuhkan kepalanya ke pangkuan mamak
"Nggak ada yang bisa kita perbuat untuk saat ini selain berdoa,Nduk. Nanti setelah operasi selesai, kita akan hadapi bersama apapun itu." kata Mamak lembut sambil mengusap kepala Witri.
"Wajar kalau Nadi nanti murka. Kita harus terima itu. Tapi kamu harus camkan dalam hatimu, bukan kamu yang membuat Nadi mangalami semua ini.Bukan." tegas Mamak. " Ini garis takdir untuk kita semua. Sekalipun Nadi tidak ke bandara, kalau sudah tertulis dia harus kehilangan kakinya, pasti ada kejadian lainnya yang akan menjadikan takdir itu menimpanya. " kata mamak lagi mencoba menenangkan hati Witri.
"Kita akan lewati semua ini bersama. Kita pasti bisa. Yang penting, kita jangan sampai jauh- jauh dari Nadi. Gimanapun dia keluarga kita." kata Mamak lagi.
Hampir malam Nadi baru keluar dari ruang operasi. Jantung Witri berdetak tak karuan mengiringi brankar menuju ruang rawat.
Membayangkan reaksi Nasi saat nanti sadar dan mendapati kakinya tak utuh lagi.
Ya Allah...aku harus bagaimana menghadapinya nanti?
__ADS_1
...💦 b e r s a m b u n g 💦...