JANJI JIWO

JANJI JIWO
Bertemu Hari


__ADS_3

Jiwo menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya.


Menghela nafas sedalam mungkin untuk menenangkan hatinya.


Teringat airmata dan lambaian tangan Ifah tadi membuat hati Jiwo merasa tak menentu.


Dia kembali menghela nafasnya berat.


Seperti ada beban baru yang kini hinggap di pundaknya.


Ad satu kewajiban yang harus dia emban.


Setia.


Juga percaya.


Dan entah mengapa itu terasa mengganjal di hatinya.


Soal kesetiaan hatinya, dia masih bisa yakin. Dia bukan tipe laki- laki yang gampang jatuh cinta hanya karena body seksi dan penampilan menarik.


Dia juga sangat bisa menjaga matanya dari penglihatan yang 'ngawur'.


Yang dia khawatirkan justru rasa percayanya.


Apakah hatinya bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Ifah?


Gadis itu sangat menarik.


Dan dia tahu ada banyak teman kerjanya yang menaruh hati pada kekasihnya itu.


Bagaimana kalau Ifah goyah dalam kesetiannya?


Jiwo kesal pada dirinya sendiri.


Belum juga menyeberangi laut yang akan memisahkan dia dan Ifah, dia sudah tak bisa memberi kepercayaan pada kekasihnya.


Bagaimana jadinya saat dia telah ada di Jakarta nanti?


Bisa- bisa dia gila sendiri karena termakan curiganya.


"Ini nggak bener." gumam Jiwo pada dirinya sendiri.


Dilemparnya pandangan ke arah luar jendela pesawat. Cuaca sangat cerah hari ini. Yang terhampar di luar jendela adalah birunya langit berhias putihnya awan yang nampak seperti kapas yang sengaja diserakkan tak beraturan.


Kemudian diliriknya teman duduk sepenerbangan di sebelahnya yang nampak masih asik berbincang dengan satu orang di seberang lorong.


Hhhhh...rasanya lama sekali pesawat ini terbang.


Jiwo hanya ingin segera turun dari pesawat lalu bertelepon sepuasnya dengan Ifah setibanya di bandara.


Jiwo kembali memilih asik melempar pandangan keluar jendela pesawat dan menatap hamparan hijau nun jauh di bawah sana. Entah itu hamparan sawah atau perkebunan.


"Maaf, Mas, minta tolong diambilkan pulpen saya jatuh di bawah kakinya Mas." pria di sebelah Jiwo menyenggol lengan Jiwo pelan sambil tersenyum.


"Oh...ya..." jawab Jiwo sambil bergegas menunduk untuk mencari tahu keberadaan pulpen yang jatuh.


Ternyata ada di dekat dinding pesawat, disamping sepatunya.


"Ini, Mas." kata Jiwo sambil mengulurkan sebuah pulpen pada pria di sebelahnya.


"Ke Jakarta kerja atau liburan nih?" tanya pria itu sambil tersenyum simpatik


"Kerja, Mas. Baru mau pindah ke kantor baru."jawab Jiwo sambil tersenyum juga.


"Perusahaan yang sama?" tanya pria itu lagi.


"Iya." jawab Jiwo singkat.


"Naik jabatan nih pasti." tebak pria itu dengan wajah riang. Jiwo hanya tertawa tanpa suara.


"Enggak juga. Tetap sama posisinya. Saya hanya menempati posisi yang kosong karena pejabat sebelumnya sudah memasuki masa purna tugas." jelas Jiwo.


"Anda PNS? Departemen apa?" tanya pria itu menebak.


"Bukan. Saya karyawan perusahaan tambang. Head office di Kalimantan, tapi kantor pemasaran di Jakarta. Kebetulan di perusahaan saya, karyawan yang sudah memasuki masa pensiun karena usia sudah tua biasanya disebut purna tugas. Kayak prajurit nggak sih sebutannya?" tanya Jiwo kemudian terkekeh.

__ADS_1


Pria disebelahnya itu ikut tertawa sambil mengangguk- angguk.


"Sebenarnya nggak papa juga sih memakai istilah itu. Karena apapun pekerjaannya kalau tiba di masa dia berhenti karena usia dan sudah kurang produktif, memang pantas di sebut dalam masa perna tugas. Tugasnya bekerja untuk perusahaan sudah selesai. Namun tugas kita sebagai lelaki untuk keluarga jelas tak ada selesainya selama raga masih ada nyawanya." kata pria itu dengan tersenyum. Jiwo mengangguk setuju.


"Mas sendiri ke Jakarta dalam rangka kerja atau main?" tanya Jiwo balik.


"Tugas nemenin Boss." jawab pria itu sambil mengarahkan ibu jarinya ke kursi seberang mereka.


Jiwo mengangguk- angguk sok mengerti. Padahal dalam hati dia bertanya- tanya pria di sampingnya ini berprofesi sebagai apa.


Kalau dilihat dari penampakan sih kayak orang militer. Tapi kok punya Boss?


"Anda bodyguard?" tanya Jiwo spontan dan langsung disesalinya dalam hati.


Bo doh banget aku nanyanya...Kalau dia marah gimana?


"Bukan. Pengawal aja." jawab lelaki itu sambil terkekeh pelan.


"Beda ya bodyguard sama pengawal?" tanya Jiwo malah kayak punya topik baru soal istilah.


"Ya beda..." jawab pria itu sambil menatap Jiwo dengan senyum geli.


Jiwo sedikit mengernyitkan keningnya, membuat pria itu semakin lebar tersenyum


"Bodyguard kan bahasa Inggris. Kalau pengawal, bahasa Indonesia. Kalau artinya sama aja. Tukang jagain Boss." kata pria itu kemudian tertawa pelan.


Garing, batin Jiwo yang tetap ikut meringis.


"Bapak itu pengusaha apa?" tanya Jiwo sambil sejenak melayangkan tatapannya pada boss pria disampingnya.


"Bukan pengusaha. Tapi penguasa." jawab pria itu sambil tersenyum tipis.


"Orang pemerintahan?" tanya Jiwo sedikit berbisik. Pria di sampingnya itu mengangguk kecil.


"Pejabat departemen apa?" tanya Jiwo makin kepo.


"Pertahanan dan keamanan." jawab pria itu dengan sedikit melihat ke wajah Jiwo yang nampak sedang mengangguk- angguk.


"Orang militer ya?" tanya Jiwo lagi.


"Anda tentara atau polisi?" tanya Jiwo kemudian.


"Tentara." jawab pria itu kemudian tertawa pelan.


"Kok bisa langsung nanyanya polisi atau tentara ya?" tanya pria itu sambil kembali menatap Jiwo dengan tatapan takjub.


Jiwo hanya tersenyum kecil.


Suaminya Witri juga tentara...


"Terlalu gagah untuk jadi orang sipil." kata Jiwo sambil tersenyum menatap teman barunya itu.


"Gagah ya?" tanya lelaki itu dengan mengerling jenaka.


"Pujian receh ya? Pasti istri Mas udah sering bilang begitu." kata Jiwo dengan tawa kecilnya.


"Istriku belum pernah bilang begitu. Kami belum ketemu soalnya." jawab lelaki itu sambil tersenyum geli.


Jiwo mengernyitkan keningnya.


"Belum punya istri?" tanya Jiwo menebak sambil tanpa sadar menunjuk dada lawan bicaranya.


"Yang keras sekalian aja suara nanyanya, siapa tau di pesawat ini ada yang minat sama jones ini." kata pria itu dengan wajah dibuat sedikit cemberut namun kemudian terkekeh malu.


"Sama. Saya juga belum ketemu sama istri." kata Jiwo kemudian.


"Istrimu kemana memangnya?"


"Lagi OTW." jawab Jiwo meringis.


"Lagi jadi pacar orang?" tanya pria itu dengan mimik lucu.


"Mungkin." jawab Jiwo dengan wajah sedih namun kemudian keduanya tertawa, menertawakan keadaan mereka yang belum juga menikah.


"O ya, kenalkan. Namaku Menteng. Tapi teman- temanku memanggilku Imen. Dan boss ku itu namanya Pak Harsa." kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.

__ADS_1


Menteng berarti Seorang anak laki-laki keturunan suku Dayak yang memiliki banyak manfaat bagi orang di sekitarnya.


"Jiwo." kata Jiwo saat menerima uluran jabat tangan Imen.


Sejenak Jiwo lebih memperhatikan orang bernama Harsa itu.


Usianya mungkin lebih tua darinya dua atau tiga tahun saja menurutnya, namun memang nampak begitu berwibawa.


"Jawa asli ya?" tanya Imen kemudian.


"Betul. Jogja tepatnya." jawab Jiwo sambil tersenyum senang.


"Ah Jogja....Hatiku berdenyut tiap mendengar nama kotamu itu." kata Imen sambil mendekap dadanya dan berekspresi kesakitan.


"Kenapa? Pernah dibuat patah hati sama gadis Jogja?" tebak Jiwo setengah meledek.


"Bukan gadis Jogja yang bikin aku patah hati. Tapi kekasihku memutuskan aku karena kecantol cowok Jogja pas dia kuliah di sana. Sial benar nasibku. Kegagahanku ini kalah sama cowok lemah lembut buatan Jogja." kata Imen seperti menggerutu dan kesal.


Jiwo terkikik mendengar ucapan bernada kesal Imen.


"Aku tadi sudah menduga kau orang Jawa. Ternyata malah orang Jogja. Ahhhh, lukaku menganga lagi ini, Bro." kata Imen lagi sambil kembali mengelus dadanya sendiri dengan lebay.


Jiwo semakin keras terkikik.


"Kenapa cewek suka sama cowok lemah lembut macam ini sih?" gumam Imen sambil menatap penuh selidik pada Jiwo.


"Karena yang lemah lembut itu menenangkan." kata Jiwo sambil tersenyum geli.


"Teori aja itu. Kadang lemah lembut malah bikin tensi naik karena nggak bisa di ajak gerak cepat." kekeh Imen kemudian.


"Iya juga sih." sahut Jiwo ikut tertawa.


Percakapan keduanya terhenti karena Imen dipanggil bossnya.


Jiwo bisa mendengar percakapan keduanya namun kurang bisa memahami isi percakapan karena menurutnya ada banyak kata sandi di percakapan kedua orang itu.


Jiwo kembali menikmati kebisuan sampai pesawat hendak landing.


Jiwo dan Imen berjalan beriringan sampai mereka berpisah di pintu keluar pesawat.


Imen nampak berjalan di belakang Jiwo sambil berbincang dengan seseorang yang dia panggil boss tadi, Pak Harsa.


Mereka ternyata bertemu lagi saat Jiwo sudah duduk asik di bangku tunggu dan selesai menelpon Ifah sambil menanti Wildan, adiknya yang katanya akan menjemputnya.


"Kirain sudah keluar kamu,Wo. Malah duduk santai disini rupanya." kata Imen sudah dengan lagak dan bahasa yang santai macam teman lama.


"Nunggu adikku mau nyamperin." jawab Jiwo ikut bergaya santai.


Imen dan Pak Harsa duduk di samping Jiwo.


"Aku juga nunggu teman. Janjian disini. Dia orang Jogja juga. Nanti aku kenalin. Siapa tahu kalian bertetangga di Jogja." kata Imen sambil menepuk lengan atas Jiwo pelan.


Jiwo hanya meringis.


"Nah itu dia orangnya." kata Imen sambil menunjuk ke arah dimana pandangan Jiwo tadi tengah mencari keberadaan Wildan yang baru saja mengiriminya pesan kalau sudah ada di dekat tempatnya duduk.


Jiwo melihat seorang pria berkemeja abu- abu dengan lengan yang di gulung sebawah siku di padu dengan celana jeans hitam dan sepatu kets warna abu nampak berjalan tenang namun terlihat tegap tengah tersenyum menatap ke arah Imen yang berdiri di sampingnya.


Keduanya langsung berpelukan begitu jarak mereka merapat.


"Tambah tampan saja kau sejak jadi suami orang." kata Imen sambil menepuk- nepuk bahu pria yang kini tengah menjabat tangan Pak Harsa.


"Omongan cowok nggak laku ya kayak gitu, Har." seloroh Pak Harsa yang kini mulai bersuara.


"Ah Boss ini...macam yang sudah laku saja lagaknya." sergah Imen sambil mengerling pada boss nya.


Jiwo hanya ikut tersenyum melihat adegan di depannya itu.


"O ya kenalin ini temanku di udara tadi. Orang Jogja juga." kata Imen sambil menoleh pada Jiwo.


Keduanya lalu saling menjabat tangan sambil menyebutkan nama.


"Hari." kata pria itu ramah dengan genggaman tangan yang hangat dan mantap.


"Jiwo, Mas." sahut Jiwo ramah namun membuat jantung Hari tiba- tiba berdetak kencang.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2