JANJI JIWO

JANJI JIWO
Pelukan Keluarga


__ADS_3

Sore itu, sambil menunggu adzan magrib, Pak Dukuh memanggil Witri, Mbak Tati, dan Mas Bondan, suami Mbak Tati.


Di temani masing- masing segelas teh hangat dan sepiring gorengan bakwan, Pak Dukuh mulai berbicara serius mengenai kelangsungan kehidupan rumah tangganya dengan Ibu dari anak- anaknya.


"Bapak sudah mantap menceraikan ibu kalian. Maafkan Bapak kalau hal ini akan membuat malu kalian." kata Pak Dukuh memulai pembicaraan. Anak- anaknya menggeleng namun menandakan mereka mengerti dengan keputusan bapaknya.


"Karena itu nantinya rumah ini akan bapak tempati sendiri. Dan itu sudah bisa Bapak bayangkan akan sesepi apa." kata Pak Dukuh sambil tersenyum miris.


"Karena itu hal pertama yang ingin Bapak minta adalah keikhlasanmu, Ndan..." kata Pak Dukuh dengan suara penuh harap sambil menatap menantunya.


"Kalau Bapak minta kalian pindah kesini buat nemenin Bapak, kamu keberatan nggak, Ndan?" tanya Pak Dukuh kemudian.


Bondan mengangguk pelan.


"Nggak, Pak. Toh Bapak dan simbok disana juga selama ini tinggal ditemani adik ragil (bontot) sama suaminya. Tinggal nanti gimana caranya biar rumah kami nggak kosong percuma. Bisa disewakan ya, Dik?" tanya Bondan sambil menoleh kepada Mbak Tati yang duduk di sampingnya.


"Iya." jawab Mbak Tati pendek.


"Tapi nyuwun pangapunten sak derenge, Pak (minta maaf sebelumnya, Pak), soal Ibu gimana nantinya. Ibu rasanya juga nggak mungkin kalau harus ngenger ( numpang hidup) di rumah Paklik terlalu lama, kasihan Bulik nanti." kata Mbak Tati dengan wajah resah.


Pak Dukuh mengangguk mengerti.


Sebenarnya dia sudah tak perduli perempuan itu akan hidup dimana. Namun mendengar ucapan Mbak Tati barusan, Pak Dukuh jadi berpikir juga.


Masalah hidupnya seakan lepas dengan cara dia menceraikan istrinya, namun keberadaan istrinya numpang di rumah tangga saudaranya pasti akan menimbulkan masalah baru di keluarga lain, mengingat bagaimana menyebalkannya sifat perempuan itu.


"Kalau menurut kalian gimana enaknya ngatasi ibu kalian biar nggak bikin masalah lagi?" tanya Pak Dukuh seperti kehilangan ide.


"Ya di kasih rumah aja, Pak. Biar hidup sendiri. sama di kasih sawah biar jadi tempat nyari nafkah." celetuk Mbak Tati.


"Nggak! Enak aja!" sahut Pak Dukuh cepat yang membuat anak- anaknya tertunduk.


"Sawah dia punya jatah dari warisannya. Cukuplah kalau cuma buat hidup dia sendiri. Sawah yang Bapak punya buat kalian berdua. Akan segera Bapak balik nama " kata Pak Dukuh mantap.


Witri menatap bingung kepada mertuanya itu.


Kalian berdua? Maksudnya Mbak Tati sama Mas Bondan kali ya? Secara anak Pak Dukuh tinggal Mbak Tati saja.


"Alhamdulillah Hari meninggal tapi meninggalkan kamu dalam keadaan mengandung anaknya." kata Pak Dukuh sambil menatap Witri haru. Tati tadi siang cerita padanya kalau baru pulang mengantar Witri periksa ke bidan untuk tahu usia kandungannya.


"Bapak sudah pirso? ( tahu)" tanya Witri agak kaget.


"Tahu. Tadi mbakyumu ngasih tahu kalau calon cucuku itu sudah mau tiga bulan. Iya kan?" tanya Pak Dukuh dengan wajah senang.


Witri mengangguk pelan.


"Sebelas minggu." jawab Witri lirih. Matanya langsung berkaca- kaca saat itu karena dia tahu ayah anaknya tak akan bisa dia lihat berekspresi segembira Pak Dukuh.


Mbak Tati merangkum tangannya lembut untuk menguatkan.


"Bapaknya pasti seneng juga disana. Kamu jagain dia baik- baik ya, Wit. Dia akan jadi pewaris Hari sekalipun nanti kamu akan menikah lagi." kata Pak Dukuh sambil tersenyum.

__ADS_1


"Pak..." wajah Witri kebingungan dengan apa yang dia dengar. Witri tak pernah berpikir sejauh ini.


Tanah pusara Hari saja masih basah, tapi bapak sudah membicarakan soal warisan untuk anak- anaknya.


"Sudah Bapak putuskan. Nggak bisa di ganggu gugat." pangkas Pak Dukuh untuk meyakinkan Witri.


Witri hanya tertunduk sedih.


"Bapak sudah bikinkan rumah buat kalian di sawah selatan desa. Sudah jadi. Sengaja Bapak nggak ngasih tahu kalian. Maunya akan jadi surprise saat kalian suatu hari nanti mudik. Tapi ternyata rencana tinggal rencana. Hari nggak sempat tahu kalau dia sudah punya rumah untuk dia pulang nanti." kata Pak Dukuh dengan mata sedikit berkaca- kaca walau bibirnya tersenyum.


Witri kembali menggulirkan airmatanya.


"Rumah ini, saat Bapak nanti nggak ada, buat kamu, Ti. Sama tanah kebun di kiri kanan dan depan rumah ini. Juga sekotak sawah yang ada di sebelah kiri rumah Aksa." kata Pak Dukuh sambil tersenyum menatap Witri.


Witri nampak terkejut karena mertuanya sudah tahu juga nama calon bayinya.


"Untuk Aksa, selain rumah, juga kebun di belakang rumah ini jadi milik Aksa. Sawah di sebelah kanan rumahnya juga jadi milik Aksa." kata Pak Dukuh menjelaskan kemudian menjeda sebentar.


"Sawah yang posisinya ada di tengah kan ada beberapa tempat, nanti kita bagi dua rata." lanjut Pak Dukuh lagi.


"Kalian ada yang keberatan?" tanya Pak Dukuh sambil menatap anak- anaknya.


"Saya, Pak." kata Bondan mengagetkan semuanya.


"Sebenarnya saya nggak ada hak untuk ikut campur soal pembagian ini. Tapi karena Bapak ngersakke ( menginginkan) Saya ikut ngobrol, kalau boleh Saya ikut usul." kata Bondan tenang.


"Mau usul apa?" tanya Pak Dukuh tenang.


Pak Dukuh terpaku, seperti baru diingatkan.


"Jangan, Pak. Biar pembagiannya seperti ini saja." kata Witri mengagetkan semuanya.


"Wit..." bisik Mbak Tati nggak enak hati.


"Terus terang saja, Saya sama sekali nggak pernah ada kepikiran soal harta benda dari keluarga ini sejak dulu, apalagi selepas Mas Hari tiada. Saya malah ingin menolak kalau boleh." kata Witri sambil menunduk takut.


"NGGAK BOLEH !!!" teriak ketiga orang itu membuat Witri terlonjak kaget.


"Astagfirullahaladzim..." desis Witri sambil mengelus- elus dadanya.


"Nanti gaji pensiun Mas Hari akan Saya kirimkan buat Ibu." kata Witri setelah debaran dadanya mereda.


"Nggak! Jangan...jangan! Itu buat anak kalian, Wit!" seru Pak Dukuh sedikit kesal dengan ide Witri itu.


"Saya InsyaaAllah sanggup mencukupi kehidupan kami berdua, Pak. Cucu Bapak tidak akan terlantar. Saya janji." kata Witri meyakinkan.


"Enggak!! Biarkan Hari menghidupi anaknya yang dia tinggalkan di dunia ini dengan pensiunnya, Wit. Tolonglah...Biarkan ikatan antara ayah dan anak tidak hilang begitu saja hanya karena ayahnya meninggal." kata Pak Dukuh dengan wajah memohon.


Witri kembali menitikkan airmatanya. Haru, juga sedih pastinya.


Andai saja Hari nggak pergi secepat ini, pasti setiap habis gajian mereka akan membeli aneka macam keperluan ibu hamil, kemudian akan mulai mencari- cari kelengkapan untuk bayi yang lucu- lucu.

__ADS_1


Ah...semua hanya seandainya saja...


"Biarkan Hari membiayai anaknya sebisa dia, Wit. Jangan menolak dan berpikiran aneh- aneh " kata Mbak Tati ikut membujuk.


Witri hanya mampu mengangguk pelan, tak mampu menjawab lagi.


Namun bagaimanapun dia tak tega kalau tak mengurus ibu mertuanya.


Sejahat- jahatnya beliau, dari beliaulah lahir anak baik seperti Hari yang jadi suaminya. Yang mencintainya dengan sangat baik.


"Saya punya satu keinginan dan yang ini tolong jangan di tolak..." kata Witri kemudian.


"Apa?" tanya mertuanya gelisah.


Witri menarik nafasnya pelan sebelum membulatkan tekad untuk mengatakan keinginannya.


"Rumah Aksa biar dipakai Ibu..."


"Wit..." potong Pak Dukuh dengan wajah keberatan.


"Toh rumah itu belum diperlukan oleh Aksa, Pak. Dia bahkan belum lahir. Sementara neneknya butuh tempat tinggal." kata Witri setengah ngotot.


"Nanti dia koar- koar kalau dapat rumah dari aku." dengus Pak Dukuh dengan wajah masygul.


"Nanti kan bisa kita bicarakan sama Ibu. Beliau hanya punya hak guna pakai saja. Kalau ibu ngomong gimana- gimana ya biarkan saja. Toh itu rumah milik anaknya juga. " kata Witri masih mencoba membujuk.


"Kamu nanti terus nggak bakalan mau pulang kesini?" tanya Mbak Tati dengan mata yang sudah penuh dengan airmata.


"Pulang, Mbak. InsyaaAllah sebisa mungkin akan tetap pulang. Aksa kan juga harus tahu ayahnya ada dimana. Juga harus tahu kalau punya eyang dan bude pakde." kata Witri sambil tersenyum haru.


"Aku kalau mudik boleh numpang tidur disini kan?" tanya Witri sambil tersenyum walau matanya kembali meneteskan cairan bening.


"Tentu saja! Kamu harus tidur disini! Kamar Hari akan jadi kamar kamu dan Aksa selamanya. Nggak akan aku ijinkan dipakai sama yang lain." kata Mbak Tati dengan wajah memancarkan rasa riang.


Maka dicapailah kesepakatan di senja itu.


Rumah jatah untuk Hari akan digunakan ibunya bila beliau mau.


Dan Pak Dukuh serta Mbak Tati akan datang beberapa hari sebelum HPL Witri. Pak Dukuh ingin mewakili Hari mengumandangkan adzan dan Iqamah pertama di pendengaran Aksa nantinya.


Entah mengapa ada kelegaaan di sudut hati Witri dengan kenyataan yang dia dapati sekarang.


Dia tidak merasa sendirian dan ditinggalkan begitu saja.


Keluarga Hari bahkan begitu merengkuhnya dan berusaha membuatnya tenang dan nyaman soal kehidupan Aksa di masa depan.


Witri merasa perlindungan Hari masih akan tetap ada lewat kehadiran keluarganya.


Dia hanya ditinggalkan raganya Hari, namun tidak cinta lelaki itu.


Aksa dan aku akan baik- baik saja, Mas. Kamu yang tenang di sana.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2