JANJI JIWO

JANJI JIWO
Sikap Jiwo


__ADS_3

Jiwo mengetuk- ngetuk pelan telapak tangan kirinya dengan sudut ponsel di tangan kanannya.


Udara malam ini cukup cerah. Jiwo duduk di beton yang ada depan kamarnya.


Tempat duduk beton itu memang sengaja di sediakan untuk duduk- duduk para penghuni mes karyawan.


Baru saja dia bertelepon ria dengan Mbak Rini. Dan seperti yang sudah- sudah, pasti ada menyinggung kondisinya yang masih sendirian.


Umurnya memang baru 24 tahun. Masih muda untuk memikirkan pernikahan. Tapi -menurut Mbak Rini- nggak ada salahnya dia mulai serius menata masa depannya, termasuk pasangan hidupnya.


Untuk hal lain Jiwo sangat jelas terlihat menata.


Bahkan dua bulan lalu dia sudah bisa membelikan rumah untuk ibunya.


Sedikit lega karena telah mampu membelikan rumah nyaman untuk ibunya. Itu adalah cita- cita pertamanya sejak dia bisa menghasilkan uang.


Rumah itu memang tidak sebesar rumah lama mereka. Tapi lebih nyaman untuk ditinggali ibu dan dua adik perempuannya.


Rumah lama kini di tempati oleh Mas Ranu dan anak istrinya serta adik bungsunya.


Tapi saat dia diajak membicarakan masalah pasangan hidup, Jiwo tak berkutik.


Sampai detik ini dia belum bisa untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis. Tak pernah bisa.


Untuk coba- coba, dia tak berani. Dia nggak mau menyakiti perasaan perempuan hanya untuk acara coba- cobanya mencintai anak orang. Dia takut kualat.


Dia punya tiga saudara perempuan. Dia nggak mau saudarinya sampai mengalami dipermainkan perasaan mereka oleh lelaki tak baik.


Jiwo sudah memutuskan untuk begini saja dulu. Tetap sendirian.


Dan entah akan sampai kapan.


Yang kini mengusik perasaan santainya soal keputusannya untuk sendiri saja dulu adalah Ibunya yang biasanya tak pernah membicarakan soal jodohnya, kemarin sudah mulai menanyakan pada Mbak Rini.


Ibunya bahkan berharap Jiwo segera menikah.


Atau kalau belum mau menikah, setidaknya sudah punya calon yang jelas.


Dan saat Mbak Rini menyampaikan tentang keinginan ibunya itu,Jiwo hanya bisa tersenyum kecut.


"Nggak ada, Mbak." kata Jiwo pelan.


"Masak nggak punya pacar sih,Wo? Sayang bagusmu ( cakepmu) kalau dianggurin." ledek mbak Rini di ujung telpon.


Jiwo mendengus kesal.


"Nggak ada..." ulang Jiwo untuk meyakinkan mbakyunya itu.


Diam sesaat.


"Kamu masih ngarepin Witri ya?" tanya Mbak Rini pelan.


Jiwo tercekat mendengarnya.


"Ya nggaklah, Mbak. Gimana aku bisa ngarepin Witri..." sanggah Jiwo lirih.


Bahkan mendengar nama Witri disebut aja dia masih berdebar seperti ini.


Astagfirullahaladzim...


"Ya siapa tahu kamu nunggu jandanya, hihihi..." ledek Mbak Rini membuat Jiwo meringis.


Bolehkah seperti itu?


"Ya enggaklah! Itu sama aja aku mendoakan suaminya kenapa- kenapa. Jahat banget." sergah Jiwo cepat.


"Makanya cepet cari pacar biar bisa melupakan Witri....Hidup terus berjalan, Wo. Disini kamu masih mencintai Witri seperti itu. Padahal yang kamu cintai sudah menikmati masa- masa bahagianya dengan laki- laki lain. Ikhlasin Wo..."


"Aku sudah ikhlas, Mbak. Aku sudah terima kenyataan. Ya kalau kenyataannya sampai sekarang aku masih sendiri, itu karena memang belum ada yang menggetarkan hati aja." sahut Jiwo cepat untuk memungkas kata- kata motivasi yang pasti akan keluar dari mulut kakaknya itu.


"Yo syukur kalau kamu sudah bisa ikhlas. Aku tahu itu nggak mudah. Tapi kamu harus ikhlas. Semua sudah jadi takdir kalian. Mbak sebenarnya juga sedih melihat kenyataan kalian nggak bisa sama- sama...Mbak tahu kamu sedalam apa cinta sama dia." kata Mbak Rini lembut.


Jiwo merasa matanya memanas. hhhhhh, dadanya tiba- tiba terasa sesak bila mengingat kisah cintanya yang menyedihkan. Yang kadang membuatnya merasa menjadi manusia bodoh dan lambat.

__ADS_1


Ikhlas? Dia selalu bilang dia ikhlas. Namun kenyataannya jauh di dalam hati dia masih sering merasa bodoh dan menyesal.


Bodoh karena nyatanya sampai sekarang dia tak juga mampu menghilangkan bayangan Witri dari benaknya.


Menyesal karena tak cepat bergerak untuk bertemu Witri lagi kala itu hingga dia terlambat memiliki gadis itu.


Satu- satunya alasan yang membuatnya merasa harus ikhlas adalah harapannya agar bisa mendoakan Witri selalu bahagia dalam hidupnya, dengan siapapun pendamping hidupnya kini.


Di atas pedih hatinya, dia hanya berharap Witri akan selalu bahagia.


Soal hatinya, biar saja jadi urusannya sendiri. Yang penting dia berdoa dulu untuk kebahagiaan Witri.


Bukankah doa baik kita akan kembali kepada kita lagi?


Dengan mendoakan kebahagiaan Witri, Jiwo pun berharap kelak dia akan sama bahagianya seperti yang telah dimiliki Witri sekarang, dengan siapapun nanti pilihan Allah untuknya.


"Kamu sekarang tahu nggak dimana Witri?" tanya Mbak Rini dengan nada penasaran.


"Nggak tahu lah. Lagian lebih baik nggak tahu. Dia sudah punya kehidupan sendiri.Nggak baik juga kalau aku terlalu mau tahu. Buat apa, ya kan?" tanya Jiwo dengan perasaan getir.


Seharusnya dia bisa tahu dimana Witri berada.


Seharusnya mereka bisa saling tahu bila Witri menerima kertas yang Jiwo titipkan kepada mamak dan Witri menghubunginya.


Nyatanya penantian Jiwo akan sebuah kabar dari Witri berujung hampa.


Tak pernah ada sedikitpun kabar dari gadis itu.


Usahanya meninggalkan alamat kantor dan nomer telpon tak direspon sama sekali oleh Witri.


Dan Jiwo harus meyakinkan dirinya sendiri kalau gadis itu tak menginginkannya lagi. Dan Jiwo sangat terluka bila menyadari itu.


Jiwo merasakan patah hati di tengah penantian panjangnya.


Hatinya semakin remuk saat mendengar kabar kalau Witri sudah akan menikah.


See,dia tak secinta yang kamu bayangkan selama ini. Dia selalu memiliki seseorang di hidupnya.


Aku memang bodoh...sangat bodoh.


"Wo, ada yang nyari." suara Iskandar dari kejauhan membuyarkan lamunan Jiwo.


"Siapa?" tanya Jiwo penasaran.


"Nggak tahu namanya. Anak kantor juga. Liat aja sendiri di pos depan." jawab Iskandar sambil masuk ke kamarnya.


"Cewek? Cowok?" tanya Jiwo lagi.


Dalam hati dia meringis.


Kapan ada cewek nyamperin dia ke mess? Ngayal!


"Cewek." jawab Iskandar membuat Jiwo mengernyitkan dahi.


Cewek?! Siapa?


"OK. Makasih, Is." seru Jiwo sambil bergegas ke depan.


"OK." Jiwo masih dapat mendengar jawaban Iskandar dari balik pintu.


Jiwo sedikit penasaran siapa cewek yang sampai menghampirinya ke mess.


Jiwo sejenak memicingkan matanya saat melihat Adelia duduk sendirian di bangku kayu yang ada di depan pos satpam.


"Del..." sapa Jiwo pelan. Matanya beredar mencari keberadaan satpam, tapi nggak nampak ada satpam di sekitar pos.


"Satpam baru ke depan, beli rokok." kata Adelia seperti tahu yang sedang Jiwo cari.


Jiwo mengangguk mengerti.


"Kamu beneran nyari aku selarut ini? " tanya Jiwo to the point setelah melirik jam tangannya. Hampir setengah sepuluh malam.


"Ini belum larut untuk orang dewasa." kata Adelia sambil tersenyum geli.

__ADS_1


Jiwo sedikit mengangkat alisnya.


"Gitu ya..."


"Aku biasa berangkat keluar main jam segini." kata Adelia lagi, membuat Jiwo semakin mengernyit.


"Jam segini berangkat main? Main kemana malem- malem gini?" tanya Jiwo dengan keheranan.


"Ya ke tempat hiburan malamlah! Ya....minimal nyari makan malam." jawab Adelia santai.


Jiwo mengangguk mengerti.


Not my type at all...


"Trus kamu kesini ada perlu apa?" tanya Jiwo kemudian.


"Mau ngajakin kamu keluar. Besok kan libur,Wo. " kata Adelia penuh harap.


Jiwo langsung menggeleng.


"Maaf Del, aku nggak bisa. Besok ada acara pagi- pagi. Dan aku nggak biasa tidur larut malam, apalagi hanya untuk main." kata Jiwo tegas.


Ardelia nampak terkejut walau kemudian tersenyum mengerti.


"Kalau lain waktu bisa? Nggak malam keluarnya. Mungkin di hari Minggu pagi, atau siang,atau sore?" tanya Adel masih belum menyerah.


Jiwo kembali menggeleng.


"Maaf. Aku nggak bisa. Hari Minggu aku ada kegiatan dari pagi sampai sore. Setelahnya


mau aku pakai buat rebahan aja." kata Jiwo sambil tersenyum.


Adelia kembali mengembangkan senyum.


Susah sekali hanya untuk mendekati saja.


"Kalau udah nggak ada yang mau diomongin, lebih baik kamu pulang, Del. Ini udah malem. Nggak baik cewek keluar rumah malem- malem." usir Jiwo setengah halus.


Adelia bergeming. Tak juga nampak tersinggung dengan pengusiran halus itu.


"Kalau nggak mau di ajak keluar ya udah. Kita ngobrol disini aja nggak papa kan?" tawar Adelia santai.


Jiwo menggeleng tegas.


"Maaf, Del, nggak bisa.Aku harus menelpon ibuku. Aku takut beliau keburu ketiduran nunggu telponku. Lebih baik kamu pulang sekarang. Nggak bagus cewek malem- malem nongkrong di mess cowok." usirJiwo lagi.


Adelia mendengus kesal.


"Ya udah aku pergi." kata Adelia akhirnya walau dengan wajah yang mulai mengeruh.


"Dan aku minta nggak perlu mencari ku kesini lagi." kata Jiwo dengan tatapan tegas walau bersuara lembut.


"Walaupun siang hari." sambung Jiwo saat dilihatnya Adelia mau bicara lagi.


Adelia bergegas berdiri kemudian berlalu setelah melambaikan tangannya tanpa bersuara.


Dia sangat kesal malam ini.


Bukan tanpa persiapan dia nekad mendatangi Jiwo.


Dia sudah berdandan semanis mungkin.


Dia juga harus menyiapkan nyali dan menebalkan muka untuk mendatangi mess karyawan cowok ini.


Agar bisa sedikit lebih dekat dengan Jiwo.


Namun nyatanya Jiwo sekaku itu padanya.


Bahkan tega mengusirnya dengan halus.


Menyebalkan.


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧 💧💧...

__ADS_1


__ADS_2