JANJI JIWO

JANJI JIWO
Yakinkan Aku


__ADS_3

Hari memeluk Witri dengan erat setelah Witri mencium tangannya.


"Kangen bangeeeeet." kata Hari kemudian menciumi wajah Witri yang terkekeh- kekeh geli.


Tas yang tadi digendong dipunggungnya sudah teronggok di dekat kaki mereka.


"Mandi dulu sana, Mas. Kamu aseeeemmm." kata Witri sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Hari.


"Bentar lagi peluknya." tawar Hari belum mau melepaskan dekapannya.


"Kamu asem ih!" berontak Witri sambil mencubit lengan Hari yang kemudian melepaskan pelukannya.


"Nggak mau nerima apa adanya kalau gini ceritanya,Jeng. Suami asem aja nggak mau dipeluk." gerutu Hari sambil meraih tas yang tadi dia lempar di dekat kakinya kemudian meletakkan di kursi dan bergegas melangkah menuju kamar mandi.


"Emang!" jawab Witri sambil terkikik. Hari hanya mencebik pura- pura kesal.


"Nanti double!" seru Hari sebelum menutup pintu kamar mandi dengan suara merengek seperti bocah minta jajan.


"Ish! kalau yang itu nggak ada lupanya." sahut Witri sambil menggeleng keki.


"Aku kangennya sama itunya!" seru Hari sambil tertawa yang rupanya mendengar gumaman Witri.


"Ih, nyebelin!" balas Witri sambil cemberut kesal.


Tega banget ngomong gitu. Masak cuma mau itunya aja. Kesel! omel Witri dalam hati kemudian menghentakkan satu kakinya untuk meluapkan emosinya.


Dia pikir aku apa? Pemuas naf su dia aja? Hina banget sih aku.


Witri menyiapkan makan untuk Hari dengan hati kesal.


Dia tahu suaminya pasti hanya bercanda tadi, tapi dia nggak suka candaan seperti itu.


Melecehkan sekali!


"Kok manyun?" tanya Hari begitu keluar dari kamar mandi dan melihat wajah kesal Witri.


Witri tak menyahut ucapan Hari barusan, bahkan berpura- pura tak mendengar apapun.


Aku salah ngomong di bagian mana ya? batin Hari langsung gelisah.


"Aku salah ngomong ya? Maaf ya, Sayang. Aku nggak maksud gitu." tanya Hari sambil memeluk Witri dari belakang.


Istrinya itu baru saja mengangkat jemuran dari halaman samping rumah dan segera dia sergap agar tak sembunyi di balik pintu kamar dengan wajah kesalnya.


Kalau itu sampai terjadi, bakal runyam urusan selanjutnya.


Witri hanya menghela napas kesal.


Dari sikap Witri itu saja Hari sudah tahu dia bikin salah walau nggak tahu persis dimana salahnya.


"Aku salah ngomong di bagian mana?" tanya Hari kembali mengulang pertanyaan yang tadi belum mendapat jawaban.


Ini adalah salah satu hal yang disukai Witri dari suaminya itu.


Hari cepat tanggap dengan kekesalannya dan segera sadar kalau ada yang salah dengan yang diperbuatnya dan nggak malu untuk minta maaf dan bertanya dimana salahnya.


Sejauh ini setelah tahu hal apa saja yang membuat kesal Witri, Hari tak pernah mengulanginya lagi di kemudian hari.


"Kamu cuma kangen sama ituku. Kamu pikir aku apaan?!" ketus Witri sambil menggerakkan badannya kasar agar bisa lepas dari dekapan Hari dan itu berhasil.

__ADS_1


Hari meringis ngeri.


"Aku cuma becanda, Jeng. Masak iya aku nggak kangen sama ciumanmu, sama pelukanmu, sama wangimu, sama masakanmu. Nggak mungkin itu!" kata Hari sambil meraih baju dari jemuran yang ada di pelukan Witri. Diletakkannya di atas karpet di depan tv- karena Witri biasa melipat baju hasil jemuran disana sambil nonton tv- kemudian membawa Witri yang masih berdiri kaku di depan pintu samping untuk duduk di kursi makan.


Wajahnya masih manyun walau sudah mau melirik sedikit kepada suaminya.


"Maaf ya, Sayang. Nggak akan aku ulangi lagi. Janji." kata Hari sambil berjongkok di depan Witri dan merangkum jemari Witri yang ada dipangkuan.


Matanya menatap Witri dengan penuh sesal.


"Nyebelin!" kata Witri sambil menarik kedua pipi Hari ke kanan dan ke kiri berulangkali.


Hari terkekeh pelan walau sambil meringis karena pipinya terasa pedas di jewer sedemikian rupa oleh Witri.


Dia tersenyum lega saat Witri membungkukkan badannya dan memeluk kepalanya yang masih agak basah.


"Kangen ya?" tanya Hari lembut sambil mengelus pundak Witri berkali- kali.


"Iya. Ada hujan sama petir kemarin. Aku takut sendirian di rumah." kata Witri dengan nada sedih mengadu.


Hari melepaskan pelukan Widuri kemudian berdiri dan menarik lengan Widuri agar ikut berdiri.


"Maaf ya, Jeng. Kamu harus sering sendirian begini karena sering aku tinggal." kata Hari dengan sorot mata penuh sesal dan sedih.


"Aku kan udah tahu resikonya dari awal kalau mau jadi istri prajurit. Nggak harus sedih gitu juga mukanya." kata Witri sambil tersenyum mencoba menenangkan Hari.


"Kamu jadi harus ketakutan sendiri kalau ada petir. Coba kalau aku pegawai biasa..." kata Hari masih melow. Pikirannya tiba- tiba saja teringat pada Jiwo.


Andai saja Witri sama Jiwo, mungkin Witri lebih bisa bergantung pada lelaki itu karena jam kerjanya jelas dan teratur. Malam hari selalu ada di rumah. Setidaknya bisa lebih sering ada di dekat Witri.


Astagfirullahaladzim...mikir apa sih aku ini?


"Enggak!" jawab Witri sambil menggeleng.


"Kenapa nggak nyesel?" tanya Hari lagi.


"Kenapa juga harus nyesel?" tanya balik Witri dengan tatapan curiga.


Dia merasa Hari sedang tidak baik- baik saja perasaannya.


"Karena ternyata jadi istri prajurit itu susah. Nggak bisa manja dan ditemenin setiap saat." kata Hari sambil tersenyum kecut.


Kenapa juga di pikirannya tergambar Jiwo yang sedang menatapnya kesal?


"Aku kan memang bukan cewek manja. Kalau pengen ditemenin terus, aku pasti nyari suami yang pengangguran atau yang lum puh aja." kata Witri sambil nyengir.


Hari tergelak tak percaya pada jawaban Witri.


"Jadi nggak masalah ya kalau aku sering tugas keluar?" tanya Hari kemudian merengkuh tubuh Witri yang kemudian balas melingkarkan kedua tangannya di sekeliling pinggang Hari.


"Kalau tugasnya jelas dari kantor ya nggak papa. Aku malah seneng." kata Witri sambil mendongak di dada Hari.


"Seneng? Seneng kenapa?" tanya Hari keheranan.


"Sering dapat oleh- oleh souvernir. Bisa buat hiasan rumah." jawab Witri sambil tersenyum.


"Sekarang bawa oleh- oleh apa buat aku?" tanya Witri seperti langsung diingatkan kalau dia belum mendapat oleh- oleh dari Hari.


"Hmmmm...apa yaaaa?" tanya Hari sambil tersenyum dan pura- pura mengingat, sengaja meledek Witri.

__ADS_1


"Apa?" tanya Witri tak sabar.


"Miniatur Monas sama ondel- ondel mini." jawab Hari kemudian.


"Ada makanannya nggak?" tanya Witri tambah semangat setelah tahu Hari membeli oleh- oleh.


"Ada. Di...kardus..." jawab Hari mengambang kemudian terlonjak.


"Astagfirullahaladzim...!" seru Hari kemudian sambil melepaskan pelukannya dengan cepat.


"Kenapa, Mas?" tanya Witri kaget.


"Aku kok pulangnya nggak bawa kardus ya tadi?" kata Hari dengan wajah kebingungan.


"Hah?"


"Kardusku ketinggalan dimana ya, Jeng?" tanya Hari langsung panik menatap Witri.


"Ya aku nggak tahu kamu tinggal dimana kardusnya." sahut Witri ikut bingung.


Hari mencoba mengingat dengan cepat pergerakannya sejak turun dari pesawat.


Berhenti dimana saja dia tadi.


"Ketinggalan di markas, Sayang!" seru Hari kemudian setelah sejenak mengingat.


"Ha?"


"Tadi aku taruh di parkiran setelah nurunin jatah buat yang jaga. Kami tadi kan dari bandara langsung ke markas. Aku ambil motor sekalian." terang Hari. Witri mengangguk mengerti.


"Kita ambil nggak papa kan nanti?" tanya Witri kemudian.


"Sebentar. Aku telpon temanku yang jaga dulu buat mengamankan kardus. Takut kehujanan." kata Hari kemudian mencari ponselnya dan terlibat sedikit pembicaraan mengenai kardus oleh- oleh itu.


"Udah beres. Nanti mau dianterin selesai dia jaga." kata Hari sambil tersenyum puas.


Witri mengangguk mengerti dan lega.


"Ya udah makan dulu yuk." ajak Witri kemudian membalikkan badannya hendak ke meja makan.


Namun tubuhnya tak jadi berbalik karena dua lengan kokoh Hari sudah keburu menyambarnya dan membuat tubuhnya terbang di gendongan Hari.


"Makan dulu!" rajuk Witri karena dia tahu akan diapakan oleh Hari bila sudah menuju ke kamar.


"Nanti aja makannya. Mumpung aku masih wangi, kita melepas rindu dulu." bantah Hari sambil tersenyum penuh godaan.


"Nanti perutku bunyi kruyuk- kruyuk lho..." Witri masih mencoba mengelak dengan suara mengiba.


"Sekali aja dulu. Kilat khusus nggak papa. Aku udah kangen banget sama punyaku ini, Sayang." rayu Hari sambil menendang pelan pintu kamar -yang tadi sudah dibukanya dengan sedikit kerepotan- hingga pintu tertutup rapat kembali.


"Aku nggak mau kalau kilat khusus." kata Witri dengan manja setelah Hari membaringkannya dengan lembut di ranjang.


"Lama juga boleh. Whatever you want, honey." bisik Hari kemudian tak membiarkan Witri berbicara lagi karena bibirnya telah dikuasai oleh Hari.


Ada sesuatu yang begitu mendesak batinnya yang ingin segera Hari ketahui.


Dia ingin diyakinkan lagi tanpa dia harus bertanya.


Yakinkan aku kalau kamu benar- benar menginginkan aku, Jeng. Kalau kamu sungguh- sungguh bahagia dan rela jadi istriku.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2