
Rania, seorang perempuan yang mencoba lari dari sebuah kenyataan hidupnya. Lari dari keadaan rumah tangga yang sudah tidak dapat di pertahankan,.Walaupun harus meninggalkan kedua anaknya.
semua itu dia lakukan semata hanya ingin terbebas dari siksaan sang suami..13 tahun mahligai yang di pertahanan akhirnya harus dia putuskan dengan kata perceraian.
Bukan tidak memperdulikan psikis atau keadaan anak-anaknya. Tetapi ia sudah tidak kuat dengan segala penyiksaan,bukan hanya penyiksaan lahir yang kerap ia terima, bahkan tudingan kalau dia berselingkuh, dia yang tidak bisa mengurus suami, bahkan keluarga pihak suami pun kerap ikut campur urusan rumah tangganya.sampe suatu saat dengan segala kebohongan,mereka mengarang cerita buruk ke orang tua Raina.
Kebohongan demi kebohongan, hasutan demi hasutan di sampaikan ke orangtua nya bahkan ke tetangga dan keluarga Raina.Miris nya mereka percaya dengan semua cerita bohong itu.
Karena kejadian itu, hubungan Raina dengan keluarganya menjadi renggang. keluarganya yang percaya dengan cerita bohong itu, seolah enggan diakui keluarga olehnya.Bahka untuk sekedar berkunjung saja mereka menutup rapat pintu rumah mereka.
Tapi Raina masih mempunyai ibu kandung yang sangat menyayanginya. ayah nya sudah berpisah dan menikah lagi sejak Raina kelas 5 Sekolah Dasar.
Ibunya kini tinggal dengan adiknya yang sudah berumah tangga juga di rumah sepeninggal Ayah nya.
Rumah itulah satu-satunya tempat untuk pulang.
Hari itu setelah pertengkaran dan penyiksaan di depan anaknya perempuan pertamanya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6.Dan sang adik yang baru kelas 2 SD.,Raina memutuskan untuk mengakhiri biduk rumah tangga yang selama ini ia pertahankan demi anak-anak.
"plak, plak!! "
dua tamp**an mendarat di kedua pipi Raina. Bukan hanya perih di pipinya, tapi rasa itu juga lebih perih ia rasakan di hatinya.
"mamaaaaa"
jeritan kedua anaku,yang berlarian dan memeluku.
mendengar tangisan kedua anaknya, bukan berhenti dia menyiksaku. bahkan satu puk**an mendarat di kepala belakang sebelah kananku. Bukan dengan tangan, melainkan dengan helm.
"Bugh, Bugh!! "
Dua kali pukulan benda keras dan tumpul itu mengenai kepalaku. seketika pandanganku tersa gelap. Tetapi, aku kembali tersadar mendengar jeritan dan tangisan kedua anaku.
"Darah, bu telinga ibu keluar darah"
seru anak sulungku , yang di susul tangisan anak keduaku. aku mencoba bangkit dan tetap sekuat tenaga untuk menahan semua kesakitan itu. karna kalau aku terlihat lemah, bukan berhenti tapi semakin buas dia menyiksaku.
"Ayo bu, kita pulang ke rumah oma"
ajak sisulung yang semakin ketakutan. kulihat badanya gemetar. Aku tidak bicara sepatah katapun. ku angkat koper berisi bajuku dan baju anak-anaku. kami langkahkan kaki keluar dari rumah yang bak neraka bagi kami selama ini.
"Pulanglah, ngadu sana.Dan jangan pernah kau injakan kakimu lagi d rumah ini"
Dengan bertolak pinggang dan santainya,kemudian dia duduk di kursi teras rumah. bahkan tanpa rasa dan raut muka yang menunjukan penyesalan.dia menyulut rokok nya dengan santai.
aku dan kedua anaku berjalan menyusuri gang untuk sampai ke tempat angkutan umum. tetapi jaraknya tidak begitu jauh. sesekali si sulung menenangkan adiknya yang masih terisak.
"suttt.. udah dek jgn nangis lagi. malu di lihat orang. nanti kita ketemu oma dan tinggal bareng oma. kita bisa makan enak, gak melulu dengan telor"
sekuat tenaga aku coba tersenyum, dan mengusap kedua pucuk kepala mereka. ya memang penghasilan suami yg hanya tukang ojek, ditambah lagi hobi main judi dan memancing. kami sering kekurangan. terkadang aku mencoba bikin kue basah untuk di titip di warung tetangga. untuk menutupi kebutuhan dapur dan bekal sekolah kedua anaku.
tak perlu menunggu lama angkot yang menuju tempat tujuan kami pun datang.. kami bergegas naik. kulirik kedua anaku yang duduk bersebelahan denganku. nampak terlihat keduanya senyum bahagia.
Betapa tidak, selama ini mereka jarang keluar rumah. apalagi untuk jarak yang cukup jauh. meskipun keluargaku masih tinggal di satu kota.Bukan tidak bosan berdiam diri di rumah, tetapi mereka kerap sekali merasa sedih tatkala melihat temannya memakan jajanan,atau mainan yang mewah.
setelah 30 menitan. kami pun sampai di tujuan kami. kebetulan rumah ibuku letaknya di kota. dan hanya terhalang satu rumah dari jalan raya. untung suasana di situ tetangganya tidak terlalu ramai. siang hari kebanyakan mereka berangkat bekerja, pulang sore bahkan ada yang baru pulang larut malam.
keduanya langsung lari dgn gembiranya.membuka pintu pagar rumah oma nya, dan langsung masuk kedalam.
"Assalamualaikum, omaaa, omaaa"
__ADS_1
"Waalaikum salam"
jawabnya dari dalam kamar, beliau keluar dgn masih mengenakan mukena. kami datang memang di saat waktu Dzuhur.
"sehat mah?!"
kukecup punggung tangannya. dia hanya menjawab dengan senyum.raut mukanya menujukan seribu tanya.
"Masukan kopermu ke kamar,beristirahatlah dulu, ajak anak-anakmu juga. mama siapkan makan siang untuk kalian. setelah itu baru bercerita"
aku anggukan kepalaku. sambil mengajak kedua anaku masuk kamar.. ya kamarku dulu sebelum menikah. yang sampai sekarang masih rapi. dan hanya sesekali di pakai kalau kami lagi berkunjung dan menginap.
selang berapa lama ibu pun memanggil kami untuk makan siang bersama. Aku menyuruh anak-anak untuk makan duluan. sementara aku mengambil wudhu dan melaksanakan sholat dzuhur.
selesai,aku langsung kembali menghampiri mereka yang hampir selesai makan.
"Raisa belum pulang kerja ma? trus suaminya juga masih kerja di bogor? "
aku mengawali percakapan, dengan menanyakan perihal adiku Raisa.Adiku beruntung tak seperti aku.Dia seorang Pegawai Bank swasta,Dan suaminya seorang manager di dealer mobil di kota Bogor. sehingga ibuku merasa betah dan tercukupi kebutuhan nya. tetapi mereka belum di karuniai keturunan setelah 5 tahun menikah. maka dari itu adiku selalu senang jika anaku berkunjung, Dia selalu manjakan dan membelikan apa yg anaku mau. entah mainan, makanan atau apapun. bahkan kadang kerap kali mereka sengaja menjemput anaku untuk di ajak jalan jalan dan menginap.
"biasanya, Raisa pulang sore sekitar jam 5 an.evan suamiya masih di bogor. biasanya pulang sehabis gajian. mungkin masih dua mingguan lagi"
jawab nya ibu panjang lebar. sambil berdiri membereskan piring kotor dan menyimpan nya di wasyafel. aku bergegas membantunya.
"Biar, Raina yang cuci piring kotornya ma"
Ia hanya mengangguk, dan mengajak anak-anaku menonton tv di ruang depan. sambil sesekali ku lirik bercanda dengan cucu nya. setelah selesai aku lalu menghampirinya dan duduk di sebelah ibuku
"Biarkan anakmu nonton Na, ayo pindah ruang tamu dan ceritalah kenapa kamu tiba-tiba pulang dan membawa baju-bajumu segitu banyaknya"
aku mengiyakan nya. dan kuceritakan semua nya ke ibuku. karna selama ini aku tidak pernah cerita ke siapapun tentang kehidupan pahit yang kurasakan bersama suamiku. bahkan ketika keluarga nya memfitnah dan menjelekkan ku aku tak pernah sekalipun membela diri.. karna mereka sangat lah pintar dalam bersilat lidah.
"Ya allah, Raina. kenapa yang mama rasakan dulu waktu bersama ayahmu terjadi sama kamu Na"
"tunggu,adikmu pulang. nanti kita bicarakan dengan nya. mungkin dia punya solusi untukmu"
Beliau melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata di kedua pipiku. senyumnya mengembang, senyum yang seketika menyembuhkan dan menghilangkan rasa sesak di dadaku.
--------------------------------------------------------------
waktu menunjukan jam 5sore lebih lima belas menit. anak-anaku sudah selesai mandi. kemudian menonton film kartun kesayanganya di televisi. sementara aku dan ibu baru selesai memasak untuk kami makan selepas magrib nanti.
"mandilah dahulu Na. habis itu mama. adikmu sebentar lagi pulang"titah ibuku
aku hanya mengangguk dan bergegas mandi. selang berapa lama terdengar suara motor dan pagar di buka.
"Assalamualaikum "
adiku masuk ke rumah yang memang pintunya kami sengaja buka.
"tanteuuuu.. yeeeee tante pulang"
anaku yang kedua berlari kegirangan dan berlari memeluk tante nya. sementara si sulung meraih tangan nya dan mencium nya
"Haiiii... kesayangan-kesayanganku.. iiiihhh seneng banget ada kalian"
senyuman gembira terlihat di wajahnya, sambil menggendong cia anak keduaku. tangan yg satunya memeluk punggung chila anak sulungku. sepertinya rasa capek nya hilang seketika saat melihat kedua keponakan nya.
"Teteh sehat? kenapa gak telpon dulu kalau mau datang. aku kan bisa belikan es krim dulu dan jajanan buat cia dan chila"
__ADS_1
Dia menurunkan cia dari gendongan nya. dan menyalami aku. aku menyambutnya dengan senyuman.
"Alhamdulillah sehat dek, sengaja gak ngasih tau.biar kamu gak repot beliin segala macam"
Dia mengeeucutkan bibir nya dan tersenyum. sambil mengusap punggung tanganku.
"gk repot kok teh, aku seneng malah. ya udah ya aku mandi dulu.. bau acemmm"
sambil mengibaskan tangan di depan hidung nya.
selepas sholat magrib kami pun makan, dan ibu menceritakan semuanya ke adiku. aku yang keukeuh ingim bercerai kemudian ,di beri saran oleh nya untuk menemui salah satu teman nya di pengadilan agama. dan dia juga menyarankan untuk sementara ikut suaminya cari kerja di Bogor.agar mencegah hal yang tidak di inginkan dari sikap temprament nya suamiku. Dan aku mengiyakan saran nya.
-----------------------------------------------------------
kesokan harinya, tanpa mengulur waktu aku menemui orang yang di maksud adeku. alhamdulillah allah lancarkan. dan hari itu juga aku berikan semua persyaratan yang sudah kusiap kan,itu pun ibu yang memberi tau apa saja yang di butuhkan. dari pengalaman beliau dulu bercerai dengan ayah.
setelah selesai,aku bergegas pulang. dan menunggu adiku pulang untuk membicarakan lagi rencana kedua.
seperti biasa.. kami bicarakan setelah selesai sholat isa. adiku langsung menghubungi suaminya Evan lewat telpon genggamnya dan menceritakan semuanya.
dari sambungan telpon yang di loadspeaker terdengar suara evan.
"minggu depan aku pulang. nanti teteh sementara aku titipkan di kost an teman kerjaku Rani. besok aku ngobrol dulu sama dia. sementara teteh nunggu di situ. aku cari info lowongan kerja di sini. teteh tapi harus sabar. gak bisa buru-buru. anak - anak, biarlah tinggal di situ sekolah nya juga kan tidak terlalu jauh masih bisa pake angkot atau abudement ojek"
aku cuma mengiyakan lewat anggukan ke adiku. dan adiku menyampaikan nya..
"alhamdulillah, ya allah aku di berikan adik dan ipar yang baik" dalam hatiku aku bergumam.
keesokanya hari libur adiku kerja. dia mengajak cia dan chila ke mall untuk jalan-jalan dan bermain di game store yg di sediakan mall itu. aku dan ibu memilih gak ikut.
malam harinya. Evan kembali menelpon. dan memberikan kabar kalau ada loker untuku, di sebuah pusat perbelanjaan. sebuah toko aksesoris HP. yang punya toko masih relasi nya Evan. dan tidak perlu surat lamaran atau apapun.. alhamdulillah.
...****************...
waktu yang kutunggu tiba.. ada perasaan sedih harus meninggalkan kedua anaku meskipun di situ bersama nenek dan tante nya yang amat menyayangi nya.tapi ini juga demi mereka. aku tidak mau bergantung pada ibu dan adiku sepenuhnya..
saat aku berpamitan, keduanya sempat menangis tapi tak berapa lama chila tersenyum dan meminta sesuatu.
"nanti kalau mama sudah kerja, dapat uang banyak, adek minta sepatu yang ada lampunya"
sontak semua tertawa.. aku mengiyakan dan mengacak rambut di pucuk kepalanya.
"Aku pamit ya ma. doakan yang terbaik"
aku menyalami ibu dan adiku. mereka tersenyum dan mendoakanku. aku berangkat dengan Evan..mobil yang evan kendarai melaju semakin jauh dari rumah ibuku..sesekali air mata ini terjatuh. tapi aku kembali menguatkan hatiku dan mencoba tegar. Evan memang tidak banyak bicara sehingga di perjalanan pun kami hanya ngobrol seperlunya saja.
...****************...
Beberapa jam kemudian sampai lah kami di kota Bogor. aku di antar Evan ke tempat Rani yang di ceritakan nya itu. kebetulan kami sampai setelah jam kantor. Dan Rani berada di kost an nya.. Evan. menitipkan ku sementara sama Rani. dan berpamitan.
Anaknya Ramah, asik, cepet akrab, sehingga tidak butuh waktu lama untuk kami saling mengenal.
"maaf teh, kost an nya kecil. aku cuma sendiri soalnya. semoga teteh betah dan nyaman ya"
senyum manis mengembang di bibir gadis itu. cantik,ramah,dan sopan, baik pula.
"gak apa Ran.. teteh makasih lho udah ngerepotin"
"gak ngerasa di repotin kok teh, pak Evan itu atasan saya di kantor. dia juga orang nya baik. masa saya tidak bersedia di mintai tolong untuk saudara nya"
__ADS_1
kami asik ngobrol dan bercerita.. hingga sama-sama tertidur.
keesokan harinya aku di jemput lagi Evan dan di antar menemui yang punya toko. Dia menyuruhku langsung memakai pakaian rapi. karna kata yang punya toko aku langsung bisa masuk kerja. pantas saja tidak begitu susah. yang punya toko salah satu relasi dan costumer di dealer tempat Evan kerja..