
Sepuluh hari sudah aku berbaring, Ibu yang sudah seminggu mengurusku bersama zaenal. akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke kampung setelah aku sehat kembali.
kali ini zaenal mengantar Ibu ke terminal. lalu kembali ke kost an ku. dia kembali mengambil libur.
"Nal. kamu selama aku sakit, libur terus lho. nanti bos mu marah. "
"gak apa Rai. jatah liburku sebulan kan 4 kali. aku udah lama gak ambil. sekarang aku ambil jatahnya.besok juga masih dua hari. aku ambil sekalian."
aku menoleh keran ke arahnya. sambil mengernyitkan dahi.
"kenapa Ratuku, sayangku. gak suka aku ngabisin waktu buat kamu? "
Dia memeluku dari belakang.aku berbalik dan menengadah menatapnya yang lebih tinggi dariku. Dia mengecup lembut keningku Dan melepas pelukan nya.
"wis,ayo mandi toh. aku mau nepatin janjiku ajak kamu nonton bioskop"
zaenal tidak seperti felix yang gaya bercintanya lebih berpengalaman. bagaimana tidak zaenal seorang yang taat agama. usia nya yang baru menginjak 23 tahun juga belum begitu banyak pengalaman soal begituan.
...****************...
selepas sholat magrib bareng. aku bersiap untuk ke bioskop.Biiskop nya memang berada di lantai 4 tempat kerja kami.
"Nal. nanti apa gak malu sama temen-temen kalau lihat kita ke bioskop? "
"laaah, kenapa mesti malu Rai, semua udah tau aku pacaran sama kamu.atau kamu yang malu barengan sama aku? "
Aku kemudian menghampiri dan meraih kedua tangan nya.
"eeh,,enggak zaenalku sayang. Bukan begitu"
"yaudah, ayooo"
dia menuntunku. kemudian mengunci pintu kost an ku. dan berjalan menuju bioskop.
"lewat tangga belakang aja, biar kamu gak malu ketahuan temen-temen"
aku mencubit kecil pinggang nya.
"ihh bukan gituuuu.aku belum masuk lagi kerja Nal. nanti ada yang ngomong ke Bu Fitri, kalau aku asik nonton.Ntar di sangka malas-malasan lagi"
aku menjelaskan sambil menautkan tanganku di sela lengan nya.
__ADS_1
"enggak. tiap hari Bu Fitri ngobrol sama aku malah. Dia justru menyuruh mu istirahat sampai benar-benar sehat"
aku tersenyum sambil mengelus-ngelus lengan nya.
setelah tiba di lobby bioskop. zaenal membeli tiket. kemudian sambil menunggu koridor yang kami tuju di buka. dia membeli minuman dan snack di tempat khusus yg berada di bioskop itu.
setelah itu kami masuk, duduk du kursi yang sudah di pesan. kemudian menonton film. entah kenapa dia memilih film horor.mungkin klw aku takut dia berharap aku memeluknya. tapi tidak bagi seorang Raina yang pemberani.
Dari awal film di mulai sampai pertengahan. Tangan nya tak lepas menggenggam sebelah tanganku.aku menikmati snack dan minuman ku dengan sebelah tanganku. Aku yang sedari awal fokus ke film tak sadar kalau zaenal malah memandangi wajahku hingga akhir film.
kami pun keluar dari bioskop itu setelah 3 jam berlalu.
"kamu nonton film atau nonton apa sih Nal? "
aku mengusap wajahnya.
"emang kenapa?"
aku menghentikan langkahku. dan membalikan badan ke arahnya.
"nonton film tuh fokus ke depan, ke layarnya. ini aku perhatiin malah lihatin wajahkuuuuu terus. emang cerita film nya ada di jidatku? "
"Ha.. ha.. haaa."
Dia malah tertawa sambil menepuk jidat ku.
kemudian kami pulang. tak lupa mampir di tempat nasi goreng favorit kami. tapi kali ini kami memakan nya di tempat.
Jam menunjukan pukul setengah sepuluh malam. ketika sampai di kost an. zaenal langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. karna kost an ku tidak besar. hanya muat kasur no 2 dan satu lemari pelastik kecil.
"sini sayang. aku pengen meluk kamu. Boleh? "
Dia merentangkan kedua tangan nya.
"ntar ah. aku lepas kerudung dulu. gerah. "
sambil mengibas-ngibas tangan ku lempar kerudung ke tempat cucian kotor.
"siniii."
Dia menarik tanganku. hingga aku jatuh tepat di atas nya. saat itu juga dia mendaratkan ciuman pertama nya padaku. sampai beberapa menit kami menikmatinya.
__ADS_1
"astagfirullah "
Zaenal kemudian mendorong tubuhku. hingga aku berbalik berbaring di sisinya. dia bangun dan duduk di pinggiran kasur. dan menoleh ke arahku.
"maaf ya Raina. aku khilaf"
aku hanya mengangguk dan tersenyum. kemudian mendekatinya dan mengusap sebelah punggung nya dengan lembut.
"Rai. malam ini aku nginep ya. kayanya jam segini temanku sudah pada tidur"
aku mengangguk lagi.
"gak apa. aku tidur di karpet nanti. gak usah takut"
sambil mengambil bantal dan di letakan di karpet dekat tembok yang bersebrangan dengan kasur ku.
...****************...
Tapi sepanjang malam itu kami malah saling berpandangan dari kejauhan. Jam sudah menujukan tepat jam dua dini hari. angin dari sela pintu menyelusup masuk. ku lihat zaenal kedinginan.
"Nal. kamu kedinginan? ini ambil selimut"
aku menawarkan selimut untuk nya. tapi tanpa ku duga dia malah pindah ke dekatku dan mendekap tubuhku.
Iman nya runtuh seketika,ketika badan kami bersatu dalam kedinginan subuh itu. tak terasa kami pun bergelut dalam selimut tebal itu.hingga kami tertidur pulas tanpa sehelai benang di balik selimut.
...****************...
sinar matahari menyeringai di balik gorden.zaenal menggeliat dan tersentak.
"Rai, astagfirullah. bangun Rai"
Dia membangunkanku. kulihat dia tertunduk di sampingku.dia mengacak rambutnya.aku mengusap punggung nya yang masih polos tak tertutup apapun.
"maaf Rai. aku khilaf. aku janji Rai besok aku kabari keluarga di kampung. setelah itu aku akan menikahimu"
Dia berbalik ke arahku. dan mencium keningku. kemudian menutupi tubuh bawahnya dengan handuk.
aku yang masih termenung mendengar suara gemericik air di kamar mandi. lalu ku pungut baju yang berserakan dan memakainya kembali. selang berapa lama dia keluar dan aku gantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. setelah sebelum nya mengambill baju ganti agar ku pakai langsung di kamar mandi.
aku meraba bagian intimku yang berlendir bekas subuh tadi, dan membersihkan nya. lalu ku raba perutku. ada rasa takut jika aku hamil. karena aku belum mengenal keluarganya. tapi ada rasa bahagia juga karna zaenal sosok laki-laki yang aku idamkan. tapi apakah keluarganya akan setuju dengan status ku. dan umur yang terpaut jauh.
__ADS_1