Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
MENCURIGAKAN BAB 60


__ADS_3

Aku tak main-main dengan ucapan ku. dengan di antar Pak RT dan RW sebagai saksi aku melaporkan kasus nya ke polisi.Bukan bermaksud ingin menjerumuskan mertua ku sendiri yang menyebar video itu. tapi aku ingin mengusut lebih dalam lagi siapa di balik semua ini sebenarnya. karena aku sama sekali tidak pernah memberikan video itu ke Mertuaku. waktu itu juga aku hanya menunjukkan lewat ponselku.


Sejak laporan itu. Mertuaku yang keesokan harinya mendapat surat panggilan untuk dimintai keterangan di kantor polisi tidak pernah terlihat. Rumahnya dari pagi sampai malam gelap,gorden nya pun tertutup. aku tanya Ramdan Dia pun tak mengetahui nya. pagar rumahnya juga di gembok dari luar.


tetapi menurut polisi Dia datang untuk memenuhi panggilan. Dan berdasarkan hasil nya ia mengatakan kalau video itu ada yang mengirim nya dari nomor tak di kenal. sedangkan ketika di hubungi no nya tidak aktif. namun polisi masih melacak no tersebut.


"Mas,maaf ya aku bukan nya berprasangka buruk sama Ibumu. tapi kalau memang yang di katakan nya di kantor polisi itu kebenaran. kenapa sekarang dia malah seperti menghilang. kenapa harus meninggalkan Rumah.?"


suamiku memijit kening nya. aku meremas lututnya sambil menatap ke arah wajahnya yang semrawut.


"entahlah Sayang. mungkin dia malu sama orang-orang sini"


aku kembali mengernyitkan keningku.


"lho kenapa harus malu mas.. bukan kah kita yang di permalukan? "


suamiku memandang ke arahku. tanpa menjawab apapun dia beranjak meninggalkanku. aku mengarahkan pandanganku terus ke arahnya masih dengan pertanyaan yang tanpa jawaban darinya.


"malu untuk apa? untuk kebohongan nya yang telah memfitnah anaknya sendiri memper****a Naila. atau malu karena terus berupaya menghancurkan kebahagiaan kami tapi tetap sia-sia.. "


aku berpikir sendiri dalam otak ku.


aku melihatnya keluar.tampaknya dia ke garasi.


aku pun segera belari mengikutinya saat terdengar suara mesin mobil di nyalakan.


"mas... mau kemana? "


aku agak berteriak karena suara mesin mobil yang hampir meredam suaraku.


"aku cari angin sebentar, sambil ngopi di warung temanku"


Dia kemudian melajukan mobil tanpa menoleh lagi ke arahku. aku menarik nafas dan menghembuskan nya.. kemudian kembali masuk dan menemui Queen yang sedang bermain dengan Nurul.


"Nurul, abis mandi sore ini kita jalan yuk? "


Nurul mengangguk senang.


dia anak yang tidak banyak bicara dan bertanya. pas aku ajak aja dia gak mau nanya kemana atau mau apa.


setelah kami mandi. aku kemudian mengeluarkan motor dari garasi. mas zaenal juga belum pulang padahal sudah lewat ashar. aku membonceng Queen dan Nurul. berhenti di cafe yang tak jauh dari Rumah.


aku memesan kentang goreng, sosis,nughet,dan minuman untuk Queen Dan Nurul.. sedangkan aku memesan spagety dan coffelatte.


Sampai mau magrib kamipun pulang ke Rumah. belum nampak mobil suamiku di Garasi. hingga aku bertanya pada Ramdan.


"Dan, mas mu belum pulang? "


Ramdan menggeleng.


"belum mbak. ta kirain barengan tadi. soalnya pas aku lewat warung kopi teman nya tadi sepulang anter pesanan. aku ngelihat di warung itu ada perempuan nya.ta kirain mbak"


aku terhentak kaget. tapi aku tak langsung berprasangka buruk. siapa tau itu pengunjung lain yang kebetulan duduknya berdekatan atau pasangan teman nya.


aku kemudian mengirim pesan.menanyakan masih dimana sambil mengingat kan sebentar lagi waktunya sholat magrib.


[aku pulang malam, suntuk di Rumah. gak usah tungguin aku. aku bawa kunci sendiri]


jawaban nya agak sedikit tak wajar. suntuk di rumah.


"apa karena aku selalu bahas tentang Ibunya?karena bagaimana pun seburuk apapun sifatnya dia tetap ibunya."


aku bertanya pada diriku sendiri. Dan memilih menunggu nya pulang.Baru nanti aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan yang membuat dia suntuk dan tak betah di Rumah.


...****************...


Dia pulang saat aku sedang sholat malam. aku melihat jam di dinding menujukan angka Dua. dia masuk kamar dengan wajah dan rambut acak-acakan.Bau alkohol menyengat kehidungku saat dia lewat. selesai sholat aku segera menghampiri nya yang tengah berbaring.


"Mas. gak ganti baju. bajumu bau keringat"


aku mencoba bersikap biasa saja. tak lebih memperkeruh suasana. padahal jelas bau alkohol di bajunya sangat menyengat.


"Yaaa. ambil handuk aku mau mandi."


aku mengambilkan nya. dan dia berlalu tanpa ekspresi apapun kepadaku.


tapi pandanganku tertuju pada ****** ***** yang dia lepas. ada bekas lipstik di situ.

__ADS_1


hatiku semakin tak kuat menahan.tapi aku masih coba untuk kontrol emosiku.


Dia langsung berbaring setelah memakai baju. aku menghampiri dan mengelus tangan nya.


"Mas, ini apa? "


masih dengan nada halus.


"oh itu. biasa aku memintanya hanya seperti dulu. tenang saja aku tidak melakukan ke intinya. hanya minta di beri sentuhan dengan mulutnya"


dia membalikan badan nya membelakangiku.


"Mas, apa aku sudah tak bisa melayani mu. atau tak bisa melakukan seperti itu untuk mu. sehingga kamu meminta pada wanita lain? "


sambil terisak tapi masih memelankan suaraku.


"Maksudmu apa hah. apa aku bisa melakukan nya dengan mu sementara kamu,di hati kamu masih memikirkan semua tentang perbuatan Ibuku?"


aku tersentak kaget dengan omongan nya yang juga dengan nada membentak.


"MASSS. apa selama ini aku selalu menolak melayanimu meskipun jelas orang tuamu tak pernah setuju dan tak pernah suka sama aku. bahkan saat kamu dulu melakukan hal yang sama seperti sekarang.aku masih sudi memaafkanmu dan memberikan kesempatan. Tapi apa mas? bahkan kau mengulang kesalahan yang sama secara terang-terangan pula mengakuinya"


aku menggeleng dan bicara dengan nada yang tak kalah tinggi..


"lalu. apa yang akan kamu lakukan,Raina?mau mengadu ke Nange agar aku di bunuhnya? Adukan Sana aku bahkan sudah siap Mati Raina. aku sudah muak dengan hidup serba salah seperti ini. asal kamu tau di satu sisi aku sangat takut kehilangan kamu dan Queen. di sisi lain aku juga tak bisa menjadi anak durhaka ke ibuku sendiri"


Dia menangis sambil bersandar di ujung ranjang. dan mengacak rambutnya.


"Tapi bukan dengan cara begini mas.. kamu itu sudah jadi seorang ayah.bicarakan segala sesuatu dengan akal sehat. jangan pernah lari ke jalan maksiat mas."


aku menghela nafas kasar. dan melanjutkan ucapanku.


"aku tak akan memasukan ibumu ke penjara mas. aku hanya ingin tau dalang dari semua ini. jika memang ibu aku pun pasti akan mencabut laporan itu. aku juga masih waras. gak mungkin menjebloskan mertua sendiri. kalau kamu tak percaya silahkan kamu datang ke kantor polisi dan tanyakan apa isi surat laporan itu. atau tanya Pak RT dan RW yang jadi saksi nya."


Dia bangkit dan memeluku sambil menangis.


"Raina, aku selama ini sudah putus asa menjadi Anak yang baik, suami dan sekaligus Ayah yang bijak. hidupku seolah berada di satu jalan sempit di mana kedua sisinya adalah jurang yang mematikan"


tubuhnya berguncang disertai tangisan.


"jujur selama ini Ibu dan aku masih berhubungan melalui ponsel Dan tadi juga saat aku pergi aku menemuinya Raina. Dia menawarkanku dua pilihan. tetap bersamamu dan Queen, atau tidak pernah mengakuinya lagi sebagai Ibu.Dan dia juga memaksa aku untuk tetap menikahi Naila. Ibuku punya Hutang banyak ke Naila Rai.Dan..."


" dan kejadian di garasi waktu itu yang ibu menampar serta ikut mengusir Naila adalah sandiwara belaka. karena sudah terlanjur kepergok kamu dan kamu punya bukti video itu."


mataku membelalak jantungku berdetak sangat kencang. Aku ikut menangis mendengar nya.


"semua rencana mereka Raina.. bahkan kotoran dan bangkai itu.dan malam ini aku juga di paksa untuk memuaskan nya Raina. maaf kan aku yang hina ini Raina."


badan nya melemas. dan kali ini dia bersimpuh di kakiku. aku mengguncangkan pundaknya dengan kedua tanganku.


"Kenapa kamu diam saja mas?, kenapa gak cerita dan jujur kepadaku? apa artinya aku di hidupmu? bukan kah menikah itu berarti harus siap menghadapi segala seauati bersama-sama?bukan hanya suka tapi duka, masss:


dengan suara bergetar dan air mata yang bercucuran.


"aku malu Raina. semua ini hasil kerja kerasmu dan ak... "


aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku. dan ikut bersimpuh di bawah.


"stop mas. jangan katakan itu lagi. semua ini rezeki kita bersama. Berapa hutang ibumu kita selesai kan bersama. tapi dengan satu syarat mas. Naila jangan pernah ada di kehidupan kita lagi"


Aku mengusap air matanya. dan membenamkan wajahnya di dadaku.


lalu dia melepaskan wajahnya dari pelukanku dan menatapku.


"Seratus juta Raina. dan dia juga minta kamu cabut laporan nya."


aku membelalak an mataku.


"u untuk apa mas dia berhutang uang segitu? maaf mas sedangkan kehidupan kalian selama ini terlihat biasa saja"


suamiku menggeleng.


"entahlah Rai. katanya dulu bekas biaya hidup selama dia kabur ke kalimantan dan mengayomi laki-laki yang sekarang jadi ayah tiriku. Memang ibu dulu seolah membeli-beli laki-laki saking cinta nya"


aku menarik nafas kasar.


"Baiklah mas. besok pagi kamu hubungi Ibumu. bilang aku akan melunasinya dan bersedia mencabut laporan ku. tapi aku minta hitam di atas putih. kita bikin surat perjanjian di atas materai dengan Si Naila."

__ADS_1


Dia kali ini yang mengguncangkan tubuhku.


"Raina. Benarkah? apakah uang mu cukup Rai?"


aku mengangguk pasti.


"insyaallah mas lebih dari cukup"


aku berdiri dan kemudian


mengambil buku rekening dan ATM gajinya serta hasil kerjanya selama ini yang tak pernah aku pakai.


"Ini mas.. ini buku rekening atas namamu. di situ tertera jumlah saldo nya. tiap bulan aku selalu memprint nya. itu uang gajimu yang terakhir dari pabrik dan uang hasil bisnismu. "


Dia memeriksa buku itu. matanya membelalak dan mulutnya menganga.


"Rai, selama ini kamu menyimpan nya dan tak pernah memakainya? "


aku tersenyum.


"aku memakainya mas. hanya untuk keperluan Queen"


"la.. lalu kebutuhan sehari-hari kita? "


aku mengelus tangan nya.


"dari awal aku suka nulis mas tanpa kamu tau. uang hasil itu yang aku pakai. Dan Bisnis yang sekarang "


aku kemudian memberikan buku rekening pribadi ku.


"terserah kamu mau pake yang mana untuk bayar utang ibumu mas. yang ini juga boleh kalau itu kurang"


Dia melihat angka yang tertulis di rekening nya.


"I ...ini benar Yang. ternyata selama dua tahun ini hasil kerja ku segini? "


aku mengangguk dan tersenyum.


Disitu tertera saldo terakhir seratus lima puluh juta delapan ratus ribu rupiah. itu sisa dari yang kuambil untuk kebutuhan Queen.


"Ya allah, sayang. selama ini aku belum pernah bisa simpan uang sampai segini.makasih istriku. kamu memang istri sholeha dan terbaik"


dia memeluku erat dan menciumi ku.


"Gak usah pake uang mu.. biar uang ini aja. ini juga sudah lebih Yang."


aku mengangguk dan tertunduk.


"mas.. tapi apa kamu malam melakukan nya dengan Naila? "


Dia meremas tanganku dan menatap ku.


"tentu tidak sayang. Ibuku salah memberi obat ke minuman ku. malah ke minuman Naila jadi dia tak sadar sampai aku pulang"


aku tak percaya melihat noda lipstik yang di celana nya.


"lalu Noda lipstik itu? "


Dia mengelus rambutku.


"itu memang terjadi sebelum dia tak sadarkan diri. lalu aku meninggal kan nya dalam keadaan telanjang. aku pura-pura telah menikmati nya di depan Ibu. Ta tapi Ibu menangis dan minta maaf ke aku"


aku tersenyum meskipun agak kecewa karena tetap saja Naila sudah menyentuh Benda suamiku.


"masa sih mas. tapi kamu mabuk kan tadi? mungkin kamu juga gak sadar sudah... "


Dia menutup mulutku dengan jari telunjuk nya.


"Demi allah. aku masih kontrol"


aku menangguk dan tersenyum.


"ya udah. sudah subuh. aku mau sholat. kamu juga. abis itu tidurlah. kamu pasti belum tidur"


"kamu juga abis solat tidur. belum tidur juga kan? "


Dia mencubit hidungku.

__ADS_1


setelah sholat kami sama-sama tidur. karena memang belum tidur.


__ADS_2