
Setelah kejadian kemarin. suamiku seolah dirundung rasa ketakutan akan Naila yang benar-benar serius dengan ancaman nya. Dia bahkan memutuskan untuk berhenti bekerja demi menjaga bisnis ku dan keluarga kecil kami.
"kamu tenang saja sayang. meskipun aku sudah tak di pabrik lagi. tapi bisnis akar jati dan desain ku masih bisa menghasilkan. bahkan lebih dari gajiku"
Dia mengelus kepalaku dan menciumnya.
"Iya mas. apapun yang menurut mu baik aku manut saja"
aku menengadah wajahku ke hadapan nya. dan memeluk nya sambil membenamkan kepalaku di dadanya.
"lagi pula. kalau ada kamu.barang pesanan bisa di antar kapan saja tak perlu menunggu jadwal sabtu atau minggu."
dia kembali mencium pucuk kepalaku. sambil tak henti membelai rambutku.
...****************...
Pagi-pagi aku yang sedang sarapan dengan suamiku, di kagetkan olah teriakan Nurul yang sedang menyuapi Queen di Garasi. Queen memang senang di suapi sambil main di depan rumah.
"mas zaenal.... teh Raina astagfirullah Sini teh lihat ini"
aku dan suami menghentikan sarapan kami. ketika kami menghampirinya dia sedang merangkul Queen. sambil muntah-muntah di tempat sampah pojok garasi.
aku langsung mengambil Queen yang terlihat sangat syok. dan mengelus punggungnya agar lebih tenang.
"kenapa Rul. ada apa? "
suamiku berjongkok dan bertanya kepadanya.
"hueeekk. hueek itu mas. pas aku buka garasi. di depan sana banyak banget weeekk"
sambil menunjuk ke arah pintu garasi yang baru terbuka sedikit.dan kembali memuntahkan isi perut nya. suamiku segera berlari ke arah yang di maksud Nurul.
"astagfirullah al adzim."
suamiku mengusap wajahnya kasar.
"kamu jangan dulu ke sini Yang. bangunkan Ramdan di gudang dan suruh dia bantu aku bersihin semua ini"
aku segera memanggil Ramdan sambil memapah Nurul ke dalam. lalu menyimpan Queen di karpet dengan mainan nya dan membuat teh manis hangat untuk Nurul.
"Diminum teh nya Rul,biar seger lagi badanmu. apa sih kok sampai muntah gitu kamu? "
aku menyodorkan teh kepadanya, sambil bertanya tentang apa yang dilihat nya tadi. karena aku di larang suamiku untuk melihatnya.
"i itu Teh..."
ia menghela nafas, menyeruput teh nya kemudian melanjutkan ceritanya.
"Tadi kan Queen nunjuk-nunjuk terus ke luar. terus pas aku buka pintu Garasi sambil gendong Queen. baru aja sedikit aku buka. buanyak banget bangkai tikus pas depan pintu garasi."
sambil bergidig dan kembali menyeruput teh nya.
"astagfirullah.kok bisa ada bangkai di situ ya Rul? "
aku termenung sambil berpikir.
"Pasti ada yang sengaja buang di situ Teh, soalnya banyak banget gak ke itung."
aku menghela nafas.
"tap kita gak bisa berburuk sangka dulu Rul. siapa tau itu dari selokan di bawah pintu garasi"
karena memang di depan garasi dekat dengan jalan ada selokan kecil pembuangan saluran air dari mana-mana hanya saja pas depan garasi ku tertutup cor untuk mobil lewat. tapi area yang lain nya masih terbuka karena itu memang saluran umum. yang ujungnya bermuara ke sungai.
"Tapi masa kok banyak banget Teh. trus udah mati semua"
__ADS_1
Nurul keukeuh dengan asumsi nya.
"ya bisa aja Rul. ada orang yang kasih racun tikus ke sumber atau lobang nya. hingga tikus nya mati sekomplotan. biasanya kan kalau di kasih racun matinya gak di tempatnya langsung,kecuali kalau lobangnya di tutup dan racun nya di masukin ke dalam"
aku menjelaskan panjang lebar ke Nurul. agar dia tidak terlalu berburuk sangka. Dia hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengangkat Bahunya. kemudian menemani Queen bermain.
"Ya udah Rul. aku mau lihat ke depan. mungkin sudah di bersihkan mas zaenal sama Ramdan"
aku menepuk punggungnya pelan. sambil berjalan ke arah garasi. nampak di situ Ramdan yang sedang menyemprotkan air dengan selang. suamiku mengguyurnya kembali dengan cairan pengharum kamar mandi. setelah selesai Ramdan membawa keresek sampah yang hampir setengahnya penuh dengan motor nya.
"Mas, Banyak bangkainya? "
aku menghampiri suamiku yang sedang mencuci kaki dan tangannya dari air yang mengalir dari selang yang di garasi. yang biasa untuk mencuci mobil atau membersihkan garasi.
"Banyak banget sayang. makanya aku nyuruh kamu jangan melihat tadi. takut kamu kaya Nurul."
Dia yang sudah selesai membersihkan diri. duduk di kursi rotan sambil menatap ke arah depan Garasi.
"kok bisa ya mas? "
aku menghampiri nya lagi dan duduk di kursi yang satunya.
"entahlah. tapi mustahil kalau itu dari dalam selokan Yang. soalnya ada juga kotoran manusia yang sudah di sebar dan ada bekas kantong kereseknya yang di buang tidak jauh dari situ"
aku menggeleng sambil memegangi dadaku.
"astagfirullah. lalu kalau ini perbuatan orang yang ingin berbuat jahat.siapa ya mas? "
suamiku menggeleng. masih dengan tatapan kosong nya ke depan.
"Entahlah sayang. kita juga gak bisa menunjuk atau berburuk sangka sama siapa-siapa dulu. meskipun kemaren Naila yang jelas memberi ancaman. tapi kita juga kan gak punya bukti"
aku mengangguk dan meremas tangan nya. lalu tersenyum ke arahnya.
aku mengalihkan pandanganku pada Ramdan yang baru kembali.
"wes di buak Dan? sampean lempar ke kalen seng ono jembatan ne,seng deres banyune. Ben hanyut"
(udah di buang Dan? kamu buang ke sungai yang ada jembatan nya, yang airnya deras biar hanyut)
belum menjawab tawaranku untuk memasang CCTV dia mengalihkan konsentrasi nya ke Ramdan.
"wes mas, aman. aku mandi langsung"
aku tersenyum ke arah Ramdan.
"selesai mandi langsung Sarapan Dan."
aku menyuruh nya sarapan.
"emohhh. masih mual aku mbak. nanti aja siangan aku beli Bakso yang pedes biar seger"
Dia bergidik sambil menutup mulut dan hidung nya dengan kerah bajunya.
aku kemudian kembali mengarahkan pandangan ke suamiku yang masih dengan tatapan kosong.
"Sayang. kok ngelamun"
aku mengelus pundaknya. Dia terhentak dan menoleh ke arahku.
"i iya sayang kenapa.. aa apa tadi CCTV? "
aku tersenyum sambil mengangguk.
"sebaiknya jangan dulu Sayang. kita lihat dulu saja. jika besok masih ada hal aneh lagi baru kita pasang. siapa tau itu juga ada orang yang buang di saluran air atau tong sampah. lalu di bawa anjing dan kebetulan di jatuhkan dan di acak-acak di depan garasi kita. soalnya di halaman juga banyak yang berceceran "
__ADS_1
aku menghela nafas dan membuangnya.
"Ya, semoga begitu mas. dan semoga juga kita di jauhkan dari perbuatan orang-0rang yang iri dan dengki.aamiin"
Dia mengusap pucuk kepalaku.
"aamiin istriku Sayang, Sholehaku, Bidadari syurgaku, Ibu terbaik untuk anak -anaku"
aku tertawa sambil mencubit perut nya. yang makin hari makin buncit.
"hahaha. pujian nya banyak banget. pasti ini ada maunya kalau udah muji-muji begini"
dia kemudian berdiri.
"emang ada maunya. mau mandi lagi.bajuku dan badanku kotor lagi habis bersihin yang tadi"
sambil mencubit pipiku. aku tersipu malu,kenapa aku yang jadi pikiran nya ngeres sekarang. mungkin candu dan terbiasa di belai setiap malam.
aku lalu beranjak ke kamar untuk menyiapkan pakaian suamiku. dan duduk di tepian ranjang sambil berbalas pesan dengan Mbak Citra.
[untung ya Neng hari ini gak produksi. anak -anak yang kerja juga masuk nanti siang untuk ngemas barang yang akan di antar doang kan? ]
dia mengirim pesan balasan setelah sebelumnya aku menceritakan perihal itu.
[Iya mbak. dan semoga tidak ada lagi kejadian serupa terulang besok-besok. bisa menurun omset kita mbak. apalagi kalau orang sekitar melihatnya. keburukan kan cepat sekali menyebar nya]
dia membalas dengan mengaminkan.
lalu aku menyodorkan pakaian ke suamiku yang sudah segar.
Dia menunduk dan mencium keningku.
"Habis mandi,lihat kamu yang duduk di ranjang aku kok malah pengen ehem Yang"
dia mengangkat kedua kakiku yang menggantung di tepi Ranjang hingga aku terlentang. aku melihat sesuatu yang mengacung di balik handuk yang masih melingkar di pinggul nya. dengan hanya memakai kaos atasan dan melepaskan handuk nya dia menghujani ku dengan ciumannya. dan terasa serasa seperti gigitan semut di leherku.
"masss, ini masih pagi. baru jam sembilan"
suaraku parau karena sentuhannya yang memabukan.
"justru masih pagi Yang. masih jauh waktu dzuhur biar gak langsung mandi lagi."
sambil membuka satu persatu kancing kemejaku.
"jangan di buka semua mas. cukup yang kamu butuhkan. takut nanti tiba-tiba Queen.....aaahhh"
belum selesai aku bicara dia sudah memasukan bendanya yang sudah sangat keras. dan menggempur ku dengan gagahnya. hingga dia terkulai lemas di sampingku. aku mengusap peluhnya dan menyalakan AC di kamarku. aku bangun dan mencium nya. hasratku masih menggebu karena belum mencapai puncak. aku yang saat ini terbiasa di buai kenikmatan. jadi lebih berani nagih.
aku meraih tangan nya mengajaknya memainkan bagian intiku yang masih meminta di tuntaskan.
"ssshhh. ahhh... enak Yang aahhhh ke keluaaaarrr Yang"
Dia menarik tangan nya dan tertawa melihat ku yang masih bergetar dan mengerang.
"hahahaha... lucu banget kamu Yang."
aku bangun sambil mengerucutkan mulutku. rasa yang begitu nikmat hilang seketika dengan suara tawanya. aku lalu mengambil tissu basah untuk mengelap bagian intiku. sebelum ke kamar mandi untuk mencucinya.
aku melempar tissu ke arah bendanya. dia masih tertawa geli. kemudian mengelap bendanya dan memakai Celana sambil berdiri di sampingku.
"kamu sekarang jadi semakin banyak tingkah ya? takut suaminya jajan. atau... "
"atau apa... yang jelas aku juga mau kamu adil jangan mau enak sendiri. aku juga punya hasrat.cuma gak punya niat sekingkuh kaya kamu"
aku memotong omongan nya dan masih manyun karena di tertawakan. kemudian bergegas keluar kamar. dan menuju tempat kerja karyawan-karyawanku.
__ADS_1