
Zaenal segera memberi tahu semua keluarganya tentang niat nya menikahiku. masih seperti dulu,Bapak kandung nya tak menyetujui pernikahan kami. dengan alasan Jarak yang terlalu jauh.selain itu ada adat yang tidak bisa di langgar. keluarganya sangat kental dengan adat dan budaya.
aku dan keluarga ku yang tidak mengerti akan hal-hal seperti itu. hanya asal menjawab ketika mereka menanyakan weton.
[Maaf Rai. sepertinya weton kita tidak cocok. kita saudaraan saja].
dia mengirim pesan kepadaku lewat aplikasi hijau.
Tubuhku terkulai lemas. air mata meluncur dengan derasnya. tak ada jawaban dari perkataan dia. hanya tangisan dan putus asa.
kemudian suara ponsel berdering. panggilan masuk dari zaenal. tapi tak ku angkat.
"tuhan apalagi ini. belum puaskah engkau memberikan semua penderitaan ini tuhan"
di sela tangisku. aku meluapkan semuanya ke tuhanku. aku sudah merasa sangat putus asa. aku yang saat itu sudah berada di rumah Ibu. untuk mempersiapkan kedatangan keluarga zaenal yang akan menentukan tanggal pernikahan kami. Bahkan ayahku pun jauh-jauh dari jakarta menginap dengan istri mudanya. aku menangis sejadi-jadinya.
Ayah dan Ibuku mencoba menenangkan ku.
"Ada apa Rai. apa pesan dari zaenal?"
Ibu mengusap air mataku.
aku menyodorkan ponselku. kemudian ibu membacanya dan ikut menangis.kemudian menyerahkan ponsel ke ayahku.
"perset**an. dengan semua itu. ini mungkin hanya akal-akalan orang tuanya saja yang tidak setuju untuk menikahkan kamu dengan anaknya Rai"
Ayah mengepalkan tangan nya. dengan nafas memburu. terlihat dada nya turun naik menahan amarah. Ibu sambungku mencoba menenangkan nya dengan mengelus -elus punggung nya.
selang berapa lama zaenal menelpon ke nomor Ibu. aku enggan mendengar apapun lagi sehingga memilih masuk kamar dan mengurung diri.
terdengar suara Ayah membentak dan berbicara dengan nada keras. aku menutup kedua telingaku dengan menelungkup kan tanganku agar mendengar perdebatan mereka. sambil meringkuk di sudut tempat tidur dengan air mata yang tak henti bercucuran.
sekilas ingin rasanya ku akhiri hidupku. aku mendekati meja rias mengambil sebuah pisau cutter. saat ku mencoba menyayat nadiku. terdengar ketukan pintu dari luar kamarku. yang di susul suara Ibuku.
"Rai, buka nak. semuanya sudah selesai.kami sudah bicara dan pihak keluarga zaenal akan mempertimbangkan ulang serta mencari jalan keluarnya. agar kalian bisa tetap menikah"
pisau itu sudah terlanjur mengenai sebagian kulit ku.meskipun tidak terlalu dalam tapi tetap melukai pergelangan tanganku. Darah seketika mengucur di area itu,walau tak terkena nadi ku.
aku melemparkan pisau itu sembarang. dan tetap tak kubuka pintu kamarku. kata-kata yang di ucapkan zaenal di awal telah membuat luka hati yang sudah mengering menganga kembali. perkataan Ibu seolah tak ada gunanya lagi.
__ADS_1
karena aku tak kunjung membuka pintu. terdengar suara ricuh dan kemudian Evan mendobrak pintu kamarku. Ibu segera merangkulku dan memegang tanganku yang penuh darah.
"astagfirullah Raina.Raisa ambil kotak P3K. dan air hangat untuk bersihkan luka kakakmu!! "
kemudian Adiku segera berlari mengambil apa yang di perintah kan Ibuku.
"ya Allah,Nak.jangan berkecil hati. pasrahkan semua sama allah. kalau memang dia jodoh kamu. allah pasti akan memberi jalan untuk kalian bisa bersatu"
Kali ini Ibu sambungku yang mencoba menenangkan ku. Ibu ku segera membersihkan luka dan membalutnya dengan kain kasa dan plester.
aku hanya terdiam. tak bergeming.pandanganku kosong menerawang entah kemana.
sayup ku dengar Ayah menelpon seseorang. dan memberitahukan kalau aku mencoba melukai diriku sendiri.
"Nak, ini zaenal dan orang tuanya,bicaralah Nak"
Ayah memberikan ponselnya padaku. tapi aku menggeleng dan menepisnya. kemudian meringkukan tubuhku di pinggir ranjang tempat tidur. Ibuku mengelus -elus rambutku. dan Ibu sambungku memegangi kakiku yang meringkuk. tampak raut muka kekhawatiran di wajah mereka.
"Raina saat ini masih terpukul Nal. kami masih mencoba menenangkan nya. Kamu urus dulu semua urusan di situ kalau sudah selesai titik temu nya baru kamu kabari ayah lagi"
Terdengar suara zaenal mengiyakan.
aku mendengar jelas suara nya karena Ayah mengencangkan speaker di ponselnya.
semalaman kedua Ibuku menemaniku di kamar sampai mereka tertidur. mungkin mereka khawatir aku berbuat lebih dari itu. terlihat juga Ayah dan anak-anaku. serta Evan dan Raisa. tertidur di karpet ruang tv. yang berhadapan dengan kamarku. pintu kamarku pun sengaja tak di tutup. mungkin agar mereka bisa memantau ku.
...****************...
Pagi harinya kami semua berkumpul untuk sarapan bersama. aku hanya terdiam menikmati sarapan tanpa ekspresi apapun.
sementara ayah dan yang lain menikmati sarapan sambil membahas acara pernikahanku nanti.sambil sesekali memandang ke arahku. mereka mungkin sengaja seperti tidak terjadi apa-apa untuk mengembalikan keceriaan ku.tapi tetap mood baik ku belum bisa kembali.
mereka masih sibuk mengobrol di meja makan setelah selesai sarapan. aku memilih masuk kembali kamar tanpa bicara apapun.
Aku meraih ponsel yang ku letakan di atas meja rias. kemudian pas aku lihat layarnya. tertera hampir 20 panggilan tak terjawab dari zaenal. ada juga beberapa panggilan dari orang tua dan kerabat nya yang sama tak ku jawab. hingga pas ku buka aplikasi hijau tampak satu foto terkirim yang belum aku buka. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat foto kiriman zaenal.
Dia menyayat tangan nya hingga berdarah dan membentuk namaku.
kemudian satu pesan yang sangat panjang tertulis di bawahnya.
__ADS_1
[
Raina luka ini mungkin tak seberapa dibanding luka hati dan rasa malu keluarga mu jika aku tak jadu menikahimu. jika luka ini masih tak bisa menebusnya. aku ridho melakukan lebih dari ini. aku tak pernah main-main dari dulu dengan janjiku. itulah sebabnya sampai saat ini aku belum menikah. bukan tak ada wanita lain. jujur selama ini banyak yang bersamaku. tapi hatiku masih yakin kalau tuhan akan menakdirkan kita bersatu. dan akhirnya aku memutuskan nya. tolong Rai angkat telponku]
aku tetap hanya membacanya. tanpa menjawab pesan nya. beberapa saat setelah itu sebuah panggilan darinya kembali terlihat di layar ponselku. aku hanya melihat dan lalu mengabaikan nya.
lalu suara pintu kamar di ketuk dari luar. dan Ibu membawa ponsel nya lalu memberikan padaku.
"Rai. jangan terlalu larut dalam sedih nak. ini terima dulu telpon dari zaenal. dengarkan dulu dengan kepala dingin"
sambil mengelus pundaku Ibu menasehatiku.
aku mendekatkan ponsel itu di telinga,tanpa bicara sepatah katapun. hanya suara isakan mungkin terdengar jelas ke telinga zaenal.
"Rai. Raina.. dengarkan aku Rai. besok aku akan datang sayang. Dengan atau tanpa restu orangtuaku. aku akan tetap menikahimu. aku akan menepati janjiku dulu sama kamu"
aku masih tak menjawab. isak tangisku malah semakin kencang.
"Sudah Rai, jangan nangis lagi. aku tak sanggup mendengarnya. tunggu aku di situ Rai. aku pasti datang. besok siang aku akan urus surat-surat untuk melengkapi persyaratan nya. setelah itu aku akan langsung datang.hentikan tangisan mu sayang.aku mau kamu bahagia selalu. terseyum selalu. kamu dengar kan apa yang aku katakan? "
Dengan isak dan suara yang bergetar kali ini aku menjawabnya.
"Iya aku dengar. tapi alangkah baik nya jika kamu bicara lagi dengan orangtuamu. tak usah juga kamu memaksakan dan melawan nya"
"Alaaahh. masa bodoh.selama ini aku selalu patuh sama mereka. kali ini aku yang akan menentukan pilihan dan jalan hidupku. yang akan menjalani kehidupan Rumah tangga ini aku dan kamu Rai.Atau kalau tidak. aku tak akan pernah menikah seumur hidupku"
aku kembali mengontrol isakanku agar tak begitu terdengar.
"ya sudah. terserah kamu. tapi aku tak mau kalau di akhir nanti akan ada omongan. kalau aku telah merubah hidupmu jadi pembangkang. aku juga tak mau jika nanti keluarga mu menyangka aku yang mempengaruhi hidupmu"
terdengar suaranya menghela nafas.
"Insyaallah tidak Rai. akan aku coba dulu bicara baik-baik sekali lagi. jika tetap seperti kemarin. aku akan melakukan rencanaku yang tadi.Doakan perjuangan ku kali ini berhasil Rai. selama ini kamu telah berjuang sendirian saat aku menghilang. kamu menanggung penderitaan, rasa malu, di asingkan, dari mengandung sampai melahirkan anaku. kamu berjuang sendirian Rai, bahkan hingga anak kita meninggal. kali ini aku yang akan berjuang sampai kita di persatukan dalam ikatan suci pernikahan"
Aku kali ini yang menghela nafas.
" baik lah. aku tunggu Nal. akan ku sampaikan kabar ini ke keluarga ku. tapi jika ucapan mu lagi-lagi tak dapat di percaya seperti dulu. kamu hanya akan menemukan namaku terpahat di batu nissan"
aku kemudian mengakhiri panggilan telpon sepihak. setelah itu aku menghampiri keluarga ku yang sedang berkumpul di ruang depan. sambil memberikan ponsel Ibu. aku lalu bercerita tentang apa yang zaenal katakan tadi.
__ADS_1
Semua nya kini bisa tersenyum lega. tinggal menunggu kabar selanjutnya dari zaenal.