
satu bulan sudah kejadian itu berlalu.kabar nya Kiki juga pergi mengasingkan diri ke Rumah saudaranya yang entah tak tahu dimana. karena pihak keluarga nya juga merahasiakan keberadaannya.
steven sering mengirim nya teror lewat ponsel atau secara langsung ke Rumahnya. entah teror seperti apa kami juga tidak mau tahu.
sebagai laki-laki normal suamiku kerap sekali meminta haknya padaku. tapi aku masih terus menolak nya. bayangan saat steven melakukan tindakan yang sangat menjijikkan itu masih saja sering terlintas di pikiran ku.
"sayang, kamu masih belum siap memberikan hak ku? "
suamiku mengelus lembut pipiku. dan mengusap bibirku. nafasku tak beraturan kali ini. aku juga sama,masih sebagai wanita normal yang ingin merasakan kehangatan dari suaminya.
"insyaallah mas, di coba saja dulu"
aku memejamkan mataku. suamiku mulai melakukan pemanasan dan aku pun mulai pasrah melakukan kewajiban ku yang masih sebagai istrinya.
saat suamiku baru mendayung beberapa kali. pikiran itu kembali merasuki otaku. aku mencoba menghalau nya dengan beristigfar dalam hati. tapi malah air mata yang meluncur di kedua pipiku yang diiringi suara tangisan. aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. tubuhku semakin berguncang seiring tangis yang semakin terdengar pilu.
"sayang,, maaf kan aku.. gak apa jika kamu belum siap.. sudah ya.. aku sudahi"
suamiku segera beranjak dari peraduan nya. dia mencabut sesuatu yang masih tampak tegang dengan terpaksa. lalu memakai kembali sarung nya. menutupi tubuhku dengan selimut dan membawaku dalam pelukan nya.
dia mengusap punggung ku dan terus mencoba menenangkan ku.
"besok kita coba ke pesantren tempat Naila mondok ya? kyai di sana juga katanya sebagai psikiater juga"
aku mengangguk. dia menyeka air mataku dan tetap memeluku. malah semakin erat.
"kamu harus sembuh sayang, tidak mungkin begini terus."
aku menatap wajahnya dan mengelus pinggiran yang di tumbuhi jambang. tanpa sepatah katapun.
lalu aku membuka selimut yang menutupi tubuhku.
"coba lagi mas. bismillah "
aku meletakkan kedua tangan nya di gunung kembarku. dan aku berada di atas pangkuan nya kini.
"jangan memaksakan sayang. sudahlah.. aku akan bersabar menunggu sampai kamu benar-benar siap"
aku kembali turun dari atas badan nya.Dan berbalik memunggungi nya. dia memeluku dari belakang dan sesuatu menetes hangat di atas pundaku. terdengar suara tangisan yang di tahan. lalu aku membalikan badanku dan memeluknya hingga kulit kami menempel tanpa pembatas apapun.
aku bergelinjang,kedua tanganku yang memeluk punggung nya pun semakin liar bergerak. kami tampak seperti ular yang saking bergesekan. hingga sesuatu berhasil lolos masuk ke dalam.
"tahan sayang. hampir finish. jangan menangis"
suara paraunya berbisik di telinga ku. aku semakin kencang menggesekan badanku ke badan nya. hingga dia dan aku mencapai finish bersamaan.
"aaahhhh.. stev...jangan lakukan lagi"
aku mendorong tubuh suamiku hingga jauh dari tubuhku. aku mundur dan menekuk kedua lututku di tepian Ranjang.
dia menengadah kan wajahnya ke atas. lalu menunduk dengan tangisan nya.
dia mendekat dan mengelus kepalaku.
"sayang,ini aku suamimu. zaenal bukan steven"
aku menepis tangan nya.
"jangan mendekat, dan jangan menyentuhku. menjauhlah stev"
tangisan nya semakin pecah. dia meremas kasar rambut di kepalanya sambil tertunduk di tepi ranjang yang satu nya. tubuhnya berguncang hebat.
aku menarik selimut dan menutupi tubuhku. meremas selimut itu dan menangis.
"sayang, pakai bajumu. aku akan keluar sebentar"
dia memakai bajunya dan mengganti sarung dengan celana panjangnya. dia juga menyambar jaket nya di lemari.
terdengar di luar kamarku suara Nurul dan Ramdan. yang kemudian Nurul menghampiri ku dan memakaikan baju ku.
"teteh,tidur ya. Queen juga sudah tidur"
aku menoleh ke nurul.
"Queen? mas zaenal? "
__ADS_1
Nurul mengangguk sambil mengelus rambutku.
"iya, Queen anaknya teteh, sudah tidur. mas zaenal suaminya teteh. sekarang dia sedang memanggil ustadz bersama suamiku Ramdan. adik ipar teteh"
aku mengangguk dan tersenyum.
"suamiku zaenal? bukan steven? "
Nurul menggeleng, mulutnya melengkung dan menangis sambil memeluk ku.
"kenapa teteh jadi begini? sadar teh, istigfar... teteh wanita kuat, istri dan ibu yang hebat"
dia mengguncangkan tubuhku yang dipeluknya. pandanganku masih menerawang entah kemana. semua ingatanku seperti hilang. yang ada saat ini hanya bayangan steven.
...****************...
jam telah menujuk angka Dua belas,tepat tengah malam suara deru beberapa motor terdengar masuk ke garasi Rumahku. Naila masuk ke kamarku dan langsung meneluku.
"astagfirullah, mbak Raina.. kenapa jadi begini "
setelah memeluku yang masih mematung di sudut Ranjang. Naila menengadahkan pandangan nya ke arah suamiku.
suamiku hanya menunduk dan berkali-kali menyeka air matanya.
"pak kyai, tolong "
suara naila terdengar lirih sambil memohon dan memandang ke arah pak Kyai. seseorang yang memakai jubah putih dan sorban di kepalanya, mengangguk dan mencoba mendekati ku.
"Bismillah, atas izin allah"
Dia melantunkan beberapa ayat suci di hadapanku sambil memegang segelas air di tangan nya. setelah itu dia menyuruhku dengan lembut untuk meminumnya.
"ini nak. minum lah agar kau merasa tenang"
aku meraihnya dan meminumnya. dia kemudian memberi isyarat ke suamiku dan yang lain nya untuk mengikuti nya keluar daru kamarku. sementara Naila masih menemani ku dan mengelus pundaku.
"mbak... masih ingat aku? dulu mbak yang menolongku mengenalkan Kyai dan menunjuk pesantren yang ku tinggali saat ini. sampai aku sembuh dari keterpurukan hidup"
aku mengernyitkan kening dan tersenyum ke arahnya. lalu menangis dan memeluknya.
Naila mengangguk sambil terus memeluk dan mengelus punggungku.
"insyaallah mbak. mbak juga harus semangay. dulu mbak yang memberi ku semangat.mbak Rajin sholat, baca al Quran juga. pasti bisa melewati ini semua"
aku melepaskan pelukan kami dan saling pandang.
"mbak harus kembali hidup seperti dulu. ada Queen yang masih membutuhkan sosok Ibu yang dulu"
aku mengangguk dan tersenyum. Naila lalu membawa ku keluar dari kamar untuk bergabung dengan yang lain.
Tampak mereka tengah membaca Al Quran bersama. aku menghampiri suamiku dan memeluknya dengan tangisan.suamiku merangkul tubuhku sangat erat dan sama-sama menangis.
"Yang kuat anak-anaku. ujian dari Allah memang terkadang sangat menyakitkan.tapi yakin lah Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak sesuai dengan batas kemampuan umat nya. allah yakin kalian pasti sanggup dan kuat"
suamiku mengusap air mata di kedua pipiku. dan mencium keningku. aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya dan bersandar ke bahunya. tangan satunya mengelus lengan atasku.
"bagaimana dengan dosa zina kami kyai? dengan cara apa kami menebusnya? "
aku bertanya ke pak Kyai.
dia tersenyum ke arahku.
"suamimu sudah cerita saat di perjalanan tadi. kamu seorang istri yang sholeha Nak, perbuatan itu tidak dengan sengaja engkau lakukan. kamu hanyalah korban nafsu adik iparmu,bukan atas keinginan yang di dasari suka sama suka."
dia menghela nafas sejenak.
"sholat taubat lah Nak, serahkan dan mohon ampunan hanya padanya. Dan kau Zaenal. lindungi istri dan anakmu lebih baik lagi. perkuat lagi iman dan takwamu."
suamiku mengangguk.
"insyaallah pak Kyai, mohon doa dan bimbingan nya"
pak Kyai mengangguk sambil tersenyum ke arah kami. kemudian segera berpamitan dengan Naila.
"semangat mbak, mbak wanita kuat dan hebat. Titip mbak Raina,Nal.jangan kamu sakiti dan sia-siakan Dia. kamu juga bukan imam yang hebat tanpa makmum sepertinya "
__ADS_1
Naila mengelus punggungku. lalu mengarahkan pandangan tajam ke arah suamiku.
"insyaallah Nai. kamu juga semoga cepat dapat imam yang baik untuk dunia dan akhirat mu"
Naila tertawa dan segera berlalu mengucap salam.
"hahaha.. gak mikir aku Nal, udah ya..assalamualaikum "
kami menjawab salamnya sambil melambaikan tangan ke arah Naila dan pak Kyai.
saat masuk ke rumah suamiku memapahku. aku menggelayut manja di tangan nya sambil menyandarkan kepalaku di bahunya.
"mas malam ini boleh aku tidur dengan Queen? "
suamiku mengangguk. sambil membuka pintu kamar Queen dan menggendong nya.
"kita tidur bertiga,biar Queen pindah ke kamar kita,sayang"
aku lalu membaringkan badanku memeluk Queen yang tidur sangat pulas, sementara suamiku yang berada di belakangku juga memeluk tubuhku erat.
"aku kangen kamu yang dulu, sayang"
dia berbisik lembut di telingaku. aku memalingkan wajahku mendekati wajahnya tetapi masih dengan posisi badan membelakangi nya. dia memandang lekat wajahku dan ******* bibirku.
"mas, nanti Queen bangun"
aku berbisik saat tangan nya mulai menyelusup ke bagian bawahku.
"Biarkan di posisi ini dulu sayang. sumpah aku teramat rindu"
Dia memintaku tidur dengan posisi tangan nya tetap di situ. tetapi bagian intiku berdenyut saat jemarinya bersentuhan dengan bagian itu. aku menarik tangan nya keluar dari situ.
"masss,, sabar... nanti ya? aku gak bisa menahan nya jika begitu tanganmu"
dia mengangguk,lalu membalikan tubuhnya membelakangku.
"mungkin kamu masih teringat steven ya? wajar saja. Dia lebih gagah dibanding kan aku. permainan nya juga lebih lincah"
aku membalikkan badanku dan melotot ke arahnya.
"mass,, bantu aku untuk melupakan kejadian itu. bukan malah mengingatkan nya lagi"
aku sedikit meninggikan suaraku. Dia bangkit dari tidur nya dan keluar dari kamar sambil mendengus kasar. aku mengikutinya keluar.
"sudahlah tidur.nanti sakit kalau kurang tidur"
dia menunjukkan muka masam nya.
"kenapa sih mas .selalu saja tentang urusan Ranjang yang ada di pikiran mu ?. aku tak selamanya bisa memenuhi nya mas. umur kita juga makin bertambah, ada masanya nanti bukan urusan itu yang jadi prioritas untuk keharmonisan rumah tangga"
dia masih mengacuhkan ku. dan tak menoleh ke arahku.
"aku ini masih normal, Raina. di umurku ini masih wajar dengan hasrat yang masih menggebu. toh nanti kalau umurku sudah tua dan tak sanggup lagi. aku juga gak akan meminta nya"
aku menggeleng sambil mendekatinya.
"baiklah. lakukan.. kalau yang di otakmu hanya itu yang bisa membahagiakan mu"
aku duduk di pangkuan nya. meraih kedua tangan nya dan mengangkat Daster ku dari bawah.
"ya gak di sini juga sayang"
Dia kembali tersenyum sambil menggendong ku masuk kamar dan menidurkanku di karpet bawah Ranjang. dia menekan mulutku dengan jari telunjuk nya.agar aku tak bersuara yang bisa membangunkan Queen.
aku mendengus dan berucap dalam hatiku.
"dasar hiper ***"
dia melampiaskan semua nya seperti singa kelaparan. setelah hampir sekian lama aku terus menolak nya. bahkan sampai beberapa kali pelepasan dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"kamu masih kurang Hot,Yang.besok-besok yang Hot main nya. Kamu gak mau kan aku cari wanita lain yang bisa memuaskan mu? "
selalu kata-kata itu yang selalu di jadikan ancaman jika istrinya kurang bergairah. padahal selama ini aku selalu mencoba sekuat tenaga mengimbanginya. dan dia selalu merasa terpuaskan selama ini.
hanya saja setelah kejadian bersama steven,aku merasa kurang bergairah. bukan karena seperti yang di katakan nya,bahwa steven lebih gagah dan perkasa. tapi rasa trauma akan paksaan nya yang tidak di dasari suka sama suka dan juga rasa berdosa yang begitu besar sebagai istri yang ternodai kesucian pernikahan nya.
__ADS_1