
Keesokan paginya zaenal kembali menghubungi keluarga ku. kali ini dia langsung menelpon ke Nomor ayahku.
"Assalamualaikum. Yah"
"waalaikumussalam. nak"
Ayah kemudian menjawab salam nya.
"Begini Yah, semalam aku sudah mencova membicarakan kembali perihal aku akan menikahi Raina. akhirnya setelah obrolan dan perdebatan yang begitu panjang,keluarga ku merestui nya"
dia menjeda pembicaraan nya.
"Alhamdulillah. lalu bagaimana nak? "
sambung ayah.kami mendengarkan lewat suara panggilan yang di loadspeaker oleh ayah. kedua ibuku tersenyum ke arah ku. adiku yang duduk di sampingku mengelus punggung tanganku. yang saling bertautan dengan tangan nya.
"Untuk penentuan tanggal nya bagaimana Yah. zaenal gak mau menunggu lama lagi. acara lamaran sepertinya tidak akan di adakan.zaenal ingin langsung menikah saja. siang ini juga jika tanggal sudah di tentukan akan langsung mengurus surat -surat.Dan jika ayah beserta keluarga di situ sepakat. zaenal tidak akan mengadakan pertemuan kedua keluarga Yah. kita ketemu pas langsung di hari pernikahan juga"
zaenal melanjutkan pembicaraan nya panjang lebar dan kami hanya menanggapi. kemudian ayah mengarahkan pandangan kesekeliling kami. kami mengangguk sebagai isyarat setuju atas keputusan zaenal.
"Kami di sini ikut apa baiknya menurut keluargamu Nak. termasuk masalah tanggal kami serahkan pada pihak kalian"
ayah memberi jawaban kepada zaenal.
"Baiklah kalau begitu. malam nanti zaenal kabari lagi,setelah kami di sini mendapat tanggal yang baik"
"Baik.Ayah dan keluarga di sini menunggu kabar baik berikutnya, nak.
__ADS_1
senyuman kini terkembang di balik bibir ayah. begitupun dengan kami. aku berkali-kali mengucap syukur. akhirnya restu itu kami dapatkan. karena aku tidak mungkin juga melaksanakan pernikahan ini hanya dari restu sepihak yang kami dapatkan.
kemudian mereka menutup sambungan telepon tersebut dengan ucapan salam.
...****************...
Di malam hari setelah kami selesai melaksanakan sholat isa berjamaah. ponsel ayah kembali berdering. ayah yang masih mengenakan peci dan sarung kemudian menerima panggilan itu.
setelah tau dan melihat tulisan yang tertera di ponsel itu adalah zaenal. ayah lalu menekan tombol loadspeaker nya.
"Assalamualaikum, Ayah"
"Waalaikumussalam Nak"
"zaenal. mau memberitahukan perihal yang tadi pagi kita bicarakan Yah."
Dia menjeda obrolan nya kemudian menyambungnya kembali. setelah tak terdengar ayah memotong ucapan nya.
"Lalu, nak. di bulan apa yang terdapat tanggal baik nya? "
Ayah memotong pembicaraan zaenal. terlihat raut wajah cemasnya. tentusaja ia merasa cemas. ketakutan akan hal serupa seperti yang sudah-sudah terulang lagi. kami takut ini hanya akal-akalan saja keluarga nya untuk mengulur waktu.Dan mencari cara untuk membuat zaenal menghilang lagi.
Ibu sambungku kemudian.mendekati ayah dan mencoba menenangkan ayah.
"Sttt. pak. kita berbaik sangka saja"
Beliau mencoba menghalau ayah yang hampir meluapkan kekhawatiran nya. karena sudah terlihat mulutnya agak sedikit terbuka dan hampir berucap.
__ADS_1
"Ayah dan keluarga di situ jangan khawatir. aku tak akan mengingkari lagi janji. Bulan depan tepat di tanggal 22 bulan 2 di tahun 2022 Yah. dan besok siang aku akan segera mengajukan surat permohonan izin menikah di tempat Raina Yah. dan Raina pun sudah bisa mendaftar besok ke KUA setempat."
zaenal mencoba meyakinkan kami. mungkin dia mendengar ucapan ibu sambungku tadi. lalu kami sama-sama mengucap syukur. Zaenal mengakihkan panggilan nya menjadi videocall kali ini.
Terlihat di sana semua keluarganya berkumpul. dan kami saling berbincang lewat videocall.pertemuan antara kedua keluarga yang sangat berjauhan. Dan aku berharap ini akan menjadi sesuatu yang baik untuk hubungan kami kedepan nya.
setelah larut malam kami segera istirahat ke kamar masing-masing. esok pagi ayah dan ibu sambungku memutuskan untuk kembali dulu ke jakarta, bulan depan ketika acara pernikahan ku sudah dekat mereka baru akan kembali.
Akupun masuk kamar dan merebahkan diri di kamar. lalu panggilan videocall masuk dari zaenal. saat ku buka terlihat senyuman nya mengembang di balik ketampanan nya.
"assalamualaikum, calon istriku "
"Waalaikumussalam"
aku menjawab dengan muka yang sudah memerah menahan malu.
"Bahagiakah kamu yang? tinggal satu bulan ya. tolong lebih sabar lagi. setelah itu kita akan hidup bersama selamanya. tanpa ada yang bisa memisahkan lagi. kecuali allah mencabut nyawa kita"
terlihat bulir bening di balik matanya yang berembun. seolah menahan tangis.
kemudian terlihat dia menengadahkan wajahnya ke atas langit-langit. aku tahu dia sedang menahan air mata nya agar tak jatuh.
"Kamu mau nangis ya. calon suamiku? "
aku menggodanya dengan sebutan itu. kemudian dia terkekeh.
"He he.. Iya sayang. aku menangis bahagia tapi. Bahagia akhirnya sebentar lagi kamu jadi istriku"
__ADS_1
aku tersenyum. dan kamipun saling memandang lewat layar ponsel itu.
kami saling melepaskan perasaan kami melalui percakapan. saling melepas kerinduan lewat kata-kata mesra. Dan akhirnya kami sama-sama tertidur. Hingga pagi dengan perasaan bahagia menyambut hari pernikahan yang kami tunggu bertahun-tahun lamanya.