
Empat malam aku bisa tidur nyenyak tanpa gangguan suamiku. apalagi Queen jam tidur malam nya sudah mulai teratur. selepas isa dia sudah mulai tidur dan bangun pas adzan subuh. aku menyusui nya lagi biasanya. sampai dia tertidur lagi dan bangun saat ayah nya hendak berangkat kerja.
"mas, masih lecet? "
aku bertanya saat malam kelima dia tak meminta jatah. apalagi ini malam jumat.
"udah gak sih Yang. tapi aku kok jd takut ya. takut sakit lagi karena cengkraman mu yang sangat menggigit"
aku tersenyum. tapi ngakak di dalam hati. aku tetap bersikap biasa saja dan terus menawari nya.
"pelan aja mas. ini malam jumat lho. kamu juga biasa minta tiap malem. udah empat malam gak minta jatah"
aku meraba bulu halus di sekitar dadanya.
"iya Sayang. kalau gak karena lecet aku juga mau terus Yang."
Dia mengelus punggungku.
"ya udah sana Yang. bersihin dulu area inti mu. pakai baju yang seksi Ya"
aku mengangguk dan berlalu ke kamar mandi untuk bersih-bersih. lalu kembali ke kamar dan memakai satu set Lingeri warna merah transfaran yang aku beli di online. satu set dalaman nya juga terlihat menerawang di balik kain transfaran itu. Bra brukat dengan tali di belakang dan hanya menutupi bagian gunung kembar saja. serta CD yang hanya menutupi bagian depan saja. membuatnya semakin melotot ke arahku.
"sayang, kamu beli dari mana ini"
aku mencuil hidung nya sambil berbaring manja di sisinya.
"ada deh"
"kamu makin hari kok makin pinter sih nyenengin suami"
aku memalingkan muka sambil berkata dalam hati.
"prett. lihat saja empat hari kamu tak menjamahku. area ku pasti makin sempit karena obat yang ku minum juga"
Dia mulai meremas bagian belakangku dan mengelus kulit ku yang mulus di balik Lingery ku. aku menggeliat sambil meraba benda tumpulnya yang sudah siap tempur sejak melihat ke seksian ku dari tadi.
"eeemmmhhh"
aku terlentang dan menaikan badanku hingga bersandar ke tepian Ranjang. membuka kedua kakiku lebar. lalu menyibak CD nya ke pinggir tanpa aku lepas.
"kamu gak kasih pelumas dulu mas? biar gak keset pas di masukin"
aku menarik kepalanya dan membenamkan nya di bagian intiku. dia memberi pelumas di sana. entah kenapa sejak dia mengancamku untuk jajan diluar jika aku tak bisa memuaskan nya sikap ku jadi Buas saat bercinta. mungkin karena rasa takut yang teramat besar.
aku menekan kepalanya.
"ahhh"
__ADS_1
aku mengangkat kepalanya. ketika merasa area intiku sudah basah dengan air liurnya. aku menarik pinggangnya dan menuntuk benda tumpul nya.aku menyibak kedua bibir area intiku dengan kedua tanganku. Dia masih menggesekan bagian kepala benda itu di permukaan nya.
"aahh masukin mas. aku udah gak kuat"
aku menggeliliat dan menekan bokong nya. hingga benda nya menerobos masuk.
"Aaahhh Raina,sayaaaaanggg"
tangan nya meremas kedua gunung kembarku. baru dua genjotan dia sudah melepaskan kenikmatan nya. tapi aku terus bergoyang. meskipun terasa bendanya lembek di dalam.
"aaahhh masss"
aku meraih tangan nya dan menuntun nya untuk memainkan bagian intiku.
"aaahh bantu aku mas, di sini masss aaahhh. "
aku mengerang saat dia memutar jarinya di bagian atas area intiku. bagian yang paling aku suka jika di sentuh. di bagian itu aku cepat mencapainya.
setelah aku terkulai. dia melepaskan bendanya yang dari tadi sudah lemas. dan menjatuhkan tubuhnya di sampingku.
"hah..hah.. sayang. aku kok gak kuat lama sekarang"
napas nya masih ngos-ngosan dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
"kamu juga harus konsultasi ke dokter sayang. aku juga gak mau ah punya suami loyo. kemana aku cari kepuasan?masa aku.. "
"jangan ngomong yang tidak-tidak Raina"
aku tertawa dalam hati. skak mat.. itu juga yang aku rasa pas kamu ngomong beberapa hari lalu.
...****************...
Hari jumat biasanya masuk kerja setengah hari. Bisnis ku semakin mengingkat. hingga Rumah mbak citra sudah gak kuat menampung barang yang lebih banyak.
aku juga ajak tetangga untuk bantu-bantu. ada empat orang yang kini bekerja bersamaku.
"mas. teras depan kalau aku tutup trus pake buat nyimpen barang dagangan ku gimana? pintunya biar pindah ke pinggir. kan kalau ngangkut bisa langsung ke arah mobil. gak harus muter dulu ke jalan lewat motor mu.tapi membelakangi Rumah Ibu nantinya"
Suamiku menghadap ke arahku.
"boleh.. gak apa ngebelakangi juga. kan buat mempermudah angkut-angkut nya"
aku tersenyum dan memeluknya.
esok harinya aku langsung menyuruh tukang.
"heh Raina. sombong banget ya kamu. mentang -mentang bisa ngehasilin uang sendiri. belum satu bulan sudah bungan -bangun terus. yo ya mertuamu di urusi. jangan mau enak sendiri. kamu itu nikah sama zaenal kalau gak ada restu orang tuanya juga gak bakal bisa."
__ADS_1
aku hanya menghela nafas tak menjawab saat mertua ku mengomel.
"Toh ya kalau punya rezeki. bagi mertua dan adik ipar mu. Jamin juga hidupnya. ini malah enak sendiri"
aku menoleh ke arahnya.
"astagfirullah, Bu. setiap bulan kan Ibu sudah dapat jatah. Dua juta itu lebih dari cukup Bu. Ramdan suka aku kasih kok Kalau omsetku naik juga aku kasih lagi lebih"
aku menggeleng kepala sambil melihat tukang yang sedang mengerjakan pekerjaan nya.
"alah hidup kamu itu memang Royal.Raina.masa bisnis begini kamu juga ngambil pengasuh buat Queen. kalau kamu gak becus urus anak, sambil cari duit.sini Queen aku yang urus. jangan ngamburin uang cuma buat urusin anak"
emosiku mulai terpancing kali ini.
"Bu, kerjaan ku ini bergelut dengan minyak dan cabe. aku gak mungkin sambil gendong Queen. meskipun aku sudah punya yang bantu. tapi kalau soal resep aku belum bisa kasih ke orang"
dia mencibir sambil menyilangkan tangan di dadanya.
"Ibu bicara seolah aku tak berguna untuk Rumah tanggaku. aku bisa cari uang buat bantu anak mu, alhamdulillah selesai ngerjain nya aku kembali mengurus cucu dan anak mu. lalu dulu Ibu sepertiku sekarang? bukan kah dulu Ibu pergi dengan laki-laki lain,alasan bekerja. menelantarkan mas zaenal dan Ramdan yang kelaparan di urus mbah. bahkan kadang minta makan ke tetangga. aku tau semua Bu. jadi tolong Ibu jangan menghakimi ku terus. jika selama ini Ibu benci dan gak setuju aku menikah dengan anak Ibu. silahkan Ibu suruh anak Ibu menalak ku"
Brak
aku membanting pintu dan masuk kedalam. meluapkan semuanya lewat tangisan.
"sabar teh"
Nurul yang sedang menggendong Queen. mengelus punggungku. aku kemudian menyeka air mataku. meraih Queen dan mencium nya.
kemudian ponselku berbunyi. aku lihat pesan dari zaenal.
"hmmh. ngadu lagi ini pasti"
[kamu berantem lagi sama Ibu?]
aku tak menjawabnya.
[katanya kamu bentak Ibu dan bahas masalah dulu dia nelantarin aku. Dia nelpon sambil nangis.ada apa lagi sih sayang]
kali ini aku menjawab nya
[dia yang mulai mas. dia bilang aku sombong gara-gara bikin buat nyimpen barang, trus mau enak sendiri nikmatin uang, gak becus urus kamu dan Queen sampai harus nyari pengasuh.padahal kurang apa aku. aku gak pernah larang kamu kasih jatah bulanan, aku juga suka kasih Ramdan juga dari uangku]
sambil menghela nafas aku mengetik nya.
[harusnya kamu gak ladeni. pergi saja lain kali. habis ini dia pasti langsung koar-koar ke tetangga. dan kamu yang melawan malah akan jadi bahan omongan tetangga. sayang. yang sabar. Ibu memang begitu]
aku tak mau membalas pesan nya lagi panjang lebar. hanya kata maaf saja dan dia membalas dengan tanda love.
__ADS_1