
Satu persatu masalah sudah dapat teratasi. bahkan bisnis ku juga sekarang sudah berjalan kembali meskipun harus memperbaiki semua kerusakan dan kerugian dengan menguras sebagian Tabungan ku.
Kami pun tidak meminta ganti Rugi ke pihak zahra. yang penting dia sudah berjanji untuk tidak mengusik kehidupan kami.
[Raina, Ibu tadi dapat telepon dari saudaranya Naila, katanya dia sudah pulang dari Rumah sakit]
aku menerima sebuah pesan dari Ibu saat sedang makan siang bersama suamiku.
"mas, Ibu kirim pesan.katanya Naila sudah pulang dari Rumahsakit"
suamiku mengangkat bahunya dan menelan makanan nya, sebelum berbicara.
"lalu? apa hubungannya sama kita sayang? toh itu kecelakaan yang di sengaja oleh perbuatan nya sendiri, uang untuk pengobatan juga kan ada uang dari pembayaran hutang Ibu ke dia"
aku juga mengangkat bahuku. sambil berdiri menuangkan air minum untuk nya. dan mengambil piring bekas makan nya,lalu menyimpan nya ke tempat cucian.
Dia beranjak dari kursi makan dan menghampiri Queen yang sedang di suapi Nurul.
"waaahh anak ayah pinter. makan nya habis banyak"
Dia mengacak pucuk kepala anaknya, ketika melihat piring nya kosong.
"iya dong, Queen kan mau sekolah taun ini Ayah"
aku menghampiri mereka sambil memberi tahu suamiku kalau tahun ini Queen mulai masuk sekolah.
sementara Queen masih fokus ke film kartun favorit nya.
"oh iya kah sayang? kamu mau masuk an Queen ke sekolah yang mana? "
aku tersenyum ke arah suamiku.
"aku rencana nya mau masukin dia ke BIMBEL satu tahun mas, soalnya umurnya baru empat tahun,nanti kalau sudah lima tahun baru aku masukan ke Taman kanak-kanak"
suamiku mengangguk dan meraih tanganku.
"terserah kamu Yang. apa yang menurut mu baik untuk anak kita, aku setuju saja"
"iya mas, aku mau yang terbaik untuk Queen. dia juga yang maksa kepingin masuk sekolah tahun ini. ya sudah aku turuti. biar ada kegiatan juga kan? gak melulu nonton tv sama main ponsel"
aku menarik tangan nya yang masih menggenggam tanganku. kemudian menciumnya.
"assalamualaikum "
aku menoleh ke arah pintu saat ada orang mengucap salam sambil sontak menjawab salam nya.
"waalaikum saaa... haaaa Nai.. "
aku menutup mulutku yang menganga. takjub melihat Naila datang dengan memakai hijab.
Naila langsung memeluku yang sedang duduk di karpet.
"masyaallah,ini beneran kamu Naila? "
aku melepaskan pelukan nya dan mengguncangkan kedua bahunya.
"iya, Raina ini aku. maafin aku ya Raina, zaenal"
dia mengenggam tanganku sambil menoleh ke arah suamiku juga. kemudian aku mengajaknya duduk di kursi. suamiku mengangguk sambil tersenyum.
aku masih tak percaya dan terus melihat dari ujung kaki hingga ujung kepalanya yang berbalut gamis dan kerudung syar'i.
tangan kami masih saling menggenggam.
"aku di kasih tahu abangku Rai, kalau selama di Rumah sakit. kamu selalu menjenguku. rasa bersalah ku semakin terasa saat mendengar cerita abangku juga yang menceritakan semua kebaikan kamu terhadapku. padahal jelas-jelas aku sangat jahat sama kamu Rai"
matanya berembun dan berkaca-kaca saat kami saling tatap.
"setelah aku keluar dari Rumahsakit, abang membawakan ustadz ke rumahku. aku di berinya pencerahan. dan ini lah hasilnya"
dia menujukan kerudung nya dan mengusap nya dari ujung ke ujung.
"masyaallah, Nai. alhamdulillah allah telah memberimu Hidayah."
aku kembali memeluknya.
"kamu mau kan Rai, memaafkan ku dan mengajariku Agama? "
aku tersenyum, sambil kembali memegang tangan nya.
"aku dan mas zaenal sudah memaafkan dari dulu. dan untuk urusan agama, mari lah kita sama -sama belajar Nai, aku juga tidak pantas menggurui mu. aku juga masih jauh belajar"
__ADS_1
Dia mengangguk. dan mengambil sesuatu di dalam Tas nya.
"Nal, Raina, ini aku mau kembalikan uang kalian"
aku dan suamiku mengernyitkan dahi kami. saat dia menyodorkan amplop warna coklat ke hadapan suamiku yang duduk di seberang kami.
"apa ini Naila? kami gak ngerti"
suamiku bertanya dan mendorong kembali amplop itu ke hadapan Naila.
"itu uang pembayaran hutang Ibu mu.aku kembalikan sebagian. karena memang hutang nya hanya Tiga puluh juta .aku meminta bunga yang teramat besar"
dia menunduk kemudian menghapus air mata yang menetes dari matanya.
"astagfirullah, naila"
suamiku menghembuskan nafas kasar.
"makanya itu aku mau kembali kan. aku mau hidup dan mencari rezeki yang Halal mulai sekarang. aku juga mau buka usaha warung nasi dan kopi yang benar-benar tanpa barang haram nya"
aku dan suami tersenyum ke arahnya.
"mohon di terima kembali uang pengembalian Ini Raina. agar aku merasa tenang"
Dia meraih amplop itu dan meletakkan nya di tanganku. aku menoleh ke suamiku. dia tersenyum dan mengangguk.
"baiklah Naila, aku terima. tapi sebagian dari uang ini aku akan sedekah kan ke anak yatim ya? gak apa kan? "
Naila tersenyum dengan mata yang berbinar bahagia.
"terserah kamu Rai. itu kan uang mu"
Dia meraih kembali tanganku sambil menoleh ke arah suamiku.
"Nal, Rai. aku punya permintaan satu lagi"
dia menunduk dengan wajah sedihnya.
aku kemudian mengangkat wajahnya sambil tersenyum dan mengangguk.
"katakan Nai? "
"setelah opreasi kemarin, dokter harus mengangkat Rahimku, karena terjadi sobekan di bagian dalam.. aku sudah tidak mungkin punya suami dan anak"
dia menghentikan bicaranya sambil mengusap air matanya. aku mengelus pundaknya.
"boleh kan aku menganggap Queen sebagai anaku juga? "
suamiku dan aku mengangguk.
"Boleh Naila, boleh sekali. kamu juga jangan putus asa, siapa tahu setelah ini allah datangkan jodoh terbaik untukmu dan yang mau menerima kekurangan kamu"
suamiku mengusap bahunya kali ini. Naila memeluku sambil menangis. lalu aku menyuruh nya melihat Queen yang sedang tidur siang di kamarnya.
dia membuka pintu kamar Queen dengan hati-hati. dan mengamatinya dari kejauhan.
kemudian kembali berbincang dengan kami.
dia juga bercerita akan pergi ke pesantren beberapa bulan ini,untuk mencari ilmu agama di sana. aku sangat senang mendengar nya. semoga ini Taubat yang sebenar-benarnya.
lalu setelah lama kami saling bercerita dan bercanda dia pamit untuk pulang. aku mengusulkan supaya dia mampir dulu ke tempat mertua ku.
...****************...
Setelah sholat isa. aku dan suami berbincang di kamar sambil Rebahan dan menonton televisi.
"mas, aku kok jadi kasihan ya sama Naila dengan kondisi badan nya saat ini"
aku menyanderkan kepalaku di dada suamiku.
"iya sayang, tapi itu mungkin cara nya allah untuk menyadarkan umatnya."
suamiku mengecup pucuk kepalaku.
"mana statusnya belum menikah, tiba-tiba harus kehilangan Rahim nya"
suamiku mengangkat daguku hingga wajahku menengadah.
"sayang, meskipun belum nikah dulu kerjaan nya kan menjual ****.jadi dia sudah banyak menikmati berbagai laki-laki"
dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
__ADS_1
"termasuk kamu juga sudah mencicipinya? "
Dia menggulingkan tubuhku dan menindih ku.
"jangan bahas itu lagi. aku gak suka Raina"
tok
tok
tok
saat suamiku mulai ******* bibirku. dan aku memejamkan mataku menikmati setiap sentuhan tangan nya di kedua gunung kembarku. kami tersentak mendengar suara pintu kamar di ketuk dari luar. dan terdengar suara tangisan Queen.
"mamaaa... ayaaahhh"
Suamiku segera loncar dari atas tubuhku. untung saja kami belum melepaskan apapun. hanya aku segera menyambar kimono ku untuk menutupi lingeri ku yang tipis.
"uuuppp kenapa sayang, anak ayah kenapa? "
suamiku langsung menggendong nya yang masih segukan.
"Queen bangun mau pipis. terus pas mau minta tolong uyuy nganterin ke kamar mandi, Queen masuk kamar uyuy. pintunya kebuka, Om Ramdan jahatin uyuy.. huhuhu"
aku mencoba menenangkan nya. sambil berpikir tentang cerita nya yang belum selesai.
"maksud anak ayah ini apa ciiihhh. cerita lagi sayang biar ayah ngerti. om Ramdan ngapain uyuy? "
aku sudah tidak enak hati. pikiran ku sudah mengarah ke urusan ranjang. tapi cerita Queen juga belum jelas.
"Queen denger uyuy ngomong gini. aww sakit mas, pelan-pelan. trus denger suara Plak gitu ayah. om Ramdan malah bilang gini Ah enak sayang... ayo ayah lihat uyuy..pasti di pukul om."
aku menepuk jidat dan menoleh kearah suamiku sambil mengigit bibir bawahku.
"astaga Kampret. kenapa lupa ngunci pintu"
suamiku menengadah ke atas langit-langit dan rahang nya mengeras.
aku mengajak Nya membawa Queen ke kamar mandi.
"ayo sekarang Queen pipis dulu. trus tidur lagi ya? nanti ayah sama mama ke kamar uyuy. nanti om nya biar di jewer Ayah"
setelah memastikan Queen tidur lagi. aku dan suami mencoba mengirim pesan ke Ramdan.
[kampret. kalau mau sunnah, kunci pintunya. Queen nangis lihat kamu mukul sesuatu nya Nurul. di kiranya kamu nyakitin Nurul]
Pesan dari suamiku terkirim. kami tertawa menertawakan tingkah Ramdan.
[oalah massss. sorry kebelet. jadi lupa hehehe]
kami makin tertawa melihat balasan nya.
"hadeuuuhh gara-gara si kampret. acara ku malah yang gagal."
syamiku menepuk jidatnya.sambil memandang ke arahku dan merangkul tubuhku ke pelukan nya. lalu menyimpan ponsel di meja kecil di pinggir ranjang.
"sayang, masih mau gak? "
aku tersipu dan membenamkan wajahnya ke sela gunung kembarku. dia menaikan wajahnya ke leherku dan memberi tanda di situ. kedua tangan nya melucuti lingeriku. dan memainkan kedua gunungku dengan kedua tangan nya.
dia membalikan tubuhku hingga menungging. lalu
plak
"hahaha. sayang. nanti Queen denger"
aku menjatuhkan tibuhku hingga telungkup dan tertawa terbahak-bahak.
"ah,sayang gak asik ah istriku ini"
dia menjatuhkan tubuhnya di sampingku yang masih tertawa terpingkal -pingkal mengingat cerita Queen tadi.
"aku jadi inget cerita tadi mas, ahahaha. kamu malah ikutan lagi"
aku bicara sambil tertawa. suamiku mengerucutkan mulutnya. dan menariku yang masih tertawa ke atas tubuhya.
aku menghentikan tawaku saat bibirnya mengulum salah satu gunungku. tanganku menuntun sesuatu yang mengeras dibawah sana untuk masuk ke sarang ku.kedua tangan nya meremas bagian belakang ku dan menekan nya. hingga sesuatu berdenyut di dalam sangkarku mengeluarkan sesuatu yang hangat. kemudian dia membalikan tubuhku. merenggangkan kedua pahaku dan memainkan jarinya di situ.
"aaaahhhh awww"
aku menjerit sambil meremas seprei. merasakan sesuatu yang keluar dari sarangku. Dia kemudian mengecup keningku dan merengkuhku hingga tertidur di pelukan nya.
__ADS_1