
Setelah aku mengetahui semuanya. akhirnya keesokan hari nya aku di ajak Suamiku berziarah ke makam nya. aku membacakan al quran di atas pusara anaku.
"mas, selesai empat puluh hari. kita ziarah juga ke makam surya di kampung ku ya. sekalian juga ajak Queen dan keluarga liburan"
Suamiku mengiyakan sambil menuntun tanganku meninggalkan gundukan tanah yang masih merah dengan taburan bunga warna-warni itu.
aku kemudian masuk ke mobil yang terparkir agak jauh dari situ. pemakaman umum memang jaraknya juga agak jauh dari Rumah. selain itu luka di perutku juga belum benar-benar sepenuhnya aman kalau di bawa naik motor.
"Yang.besok kita kontrol lukamu ke dokter ya"
dia mengelus rambutku dengan dan menarik kepalaku agar bersandar di bahunya.matanya fokus ke kemudi yang sesekali memiringkan wajahnya untuk mengecup keningku.
"luka nya kalau dari luar udah kelihatan kering kok mas."
dia tersenyum
"Iya Sayang. tapi dari dalam kan belum tau. aku juga ingin mastiin kondisi di dalam nya baik-baik saja"
aku menengadahkan wajahku sambil mengembangkan senyum menggoda.
"eemmm palingan udah gak sabar nanya kapan bisa di pake. iya kan iya kan"
aku mencuil ujung hidungnya.
"hahaha.. tau aja kamu"
dia tertawa sambil kembali mencium keningku yang masih bersender di bahunya.
"tunggu enam minggu biasanya Yang. aku tanya saudaramu yang jadi Bidan dekat Rumah mu itu lho"
dia manggut -manggut. sambil melirik arah sepion untuk membelokan mobil masuk garasi.
tin
tin
suamiku memencet klakson. Ramdan berlari membukakan pintu garasi.
"mas,simpan luar ae. aku mau minjem mobil nya"
Ramdan berlari dan mengetuk kaca mobil samping suamiku. kemudian berbicara setelah kaca terbuka.
"oalah kenapa pintu garasinya di buka kalau mau pake"
suamiku keluar dari mobil. dan berlari kecil membukakan pintu untuku.
__ADS_1
aku terkekeh melihat tingkah lucu Ramdan yang menggaruk kepalanya sambil memasang wajah bingung.
"Iki kuncine, tangkap"
suamiku melempar kunci mobil ke arah Ramdan yang tersontak kaget sambil menangkap kunci itu.
"oalah punya mas kok ngono"
saat masuk ke rumah. aku lihat Queen yang sudah di dandani Nurul sedang berlenggak-lenggok depan lemari kaca di ruang tamu.
"lhooo. anak nya mama mau kemana? "
aku berjongkok sambil mencium kedua pipinya.
"beli boneka sama uyuy"
dia menunjuk ke arah Nurul yang baru keluar dari kamar Queen menenteng tas kecil nya.
"Aku mau ajak Queen belanja Bulanan ku Teh. sekalian nanti main-main di area permainan anak. boleh kan? "
aku mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh kok. hati-hati ya sayang.pamit ayah dulu yuk"
aku menuntun nya untuk pamit ke ayahnya yang sedang membuat kopi di dapur.
Queen mengangguk. ayahnya mencium kedua pipinya dan keningnya.
dasar bocah dia langsung berlari keluar merangkul Nurul yang sudah di ambang pintu.
"pamit ya Teh. ta pinjam mobil e,assalamualaikum"
Nurul berteriak sambil menggendong Queen. kami mengiyakan dan menjawab salamnya serempak. suamiku membawa kopi nya dan meletakan di meja Ruang tengah. sambil menyalakan TV dengan Remote.
aku menghampirinya yang duduk di sofa dan duduk di sampingnya.
"sini sayang"
Dia menarik dan mengangkat tubuhku hingga berada di pangkuan nya. menghadapkan tubuhku berhadapan.dia membuka kerudungku dan menyimpan di samping nya. kedua tangan nya menyelusup keleherku dan menarik kepalaku mendekat wajahnya.
"sayang,, cukup sampai Queen saja ya"
aku mengernyitkan dahiku tak mengerti dengan ucapan nya.
"sehabis Operasi kemarin Dokter langsung melakukan KB sterilisasi.jadi kita sudah tak bisa nambah anak lagi sayang"
__ADS_1
dia menjelaskan sambil terus mengelus leherku dengan jemari nya.
aku mengangguk.
"iya mas, selain faktor umur. aku juga sudah terlalu sering melahirkan. resiko nya terlalu tinggi"
aku menambahkan. dia tersenyum sambil menyematkan rambutku ke belakang telingaku.
"tapi untuk itu masih bisa kan sayang? "
aku mengangguk dan mengelus dada bidang nya.
"tunggu sampai di perbolehkan dokter sayang"
aku mencium keningnya. Dia mengangguk.
"hanya minta ini sayang"
Dia ******* bibirku. dan menuntun tanganku menyusup ke dalam celananya dan aku memainkan nya di sana.
"aahh lakukan dengan cara ini saja sayang"
Dia lalu menggendong ku ke kamar. dan aku melaksanakan tugas ku sebagai istri dengan cara lain.
...****************...
Keesokan hari nya aku kontrol ke dokter yang mengoperasiku kemarin. setelah berkonsultasi dengan nya kami pun pulang.
"mas, benerkan enam minggu baru boleh?"
dia mengerucutkan mulut nya.
"hemmmh. iya sayang iyaaa. puas banget kamu nyiksa suaminya"
aku tertawa.
"hahaha. nyiksa apa sih mas. wong malem juga tangan ku tersiksa kok. sampe pegel"
aku membuang mukaku ke luar kaca mobil di samping ku sambil tertawa.
"Yang.nanti malam gencet sama gunung kembar mu ya?"
dia mencuil daguku. sambil mengedipkan matanya genit.
"ihh macem-macem aja minta nya"
__ADS_1
aku bergidig sambil menepuk keningku. dia tertawa terpingkal-pingkal.