
Keesokan harinya suamiku yang sudah izin gak masuk kerja mengantarku ke dokter kandungan. kali ini dia meminjam mobil saudaranya karena perjalanan yang lumayan jauh. Ibu mertuaku ikut bersama mbah.
"aku mau tau cicitku di dalam sana"
kata mbah. aku dan suami mengiyakan. Dia menyetir mobil dengan sangat hati-hati. mbah duduk di kursi depan karena takut pusing katanya. aku duduk di kursi belakang bersama Ibu mertua ku.
"sehat ya cucuku"
mertua ku mengelus perutku. aku tersenyum dan mengaminkan.
"kamu mau syukuran kapan Nal? "
tanya mbah.
"insyaallah nanti pas tujuh bulanan saja mbah. empat bulan kemaren kebetulan belum ada rezeki lebih"
suamiku menjawab dengan tetap fokus ke kemudi.
"Mulai Nabung Raina. setelah tujuh bulanan. nanti masih banyak lagi biaya harus di keluarkan"
mbah menoleh ke arahku.
"nggih mbah, ini juga sudah mulai nabung"
Ibu mertuaku menambahkan.
"opo sih mbok. aku juga gak tinggal diam. ini cucu pertama ku kok. aku juga pasti ikut mikirin"
dengan muka kecut sambil memalingkan muka ke arah jendela.mbah mencibir sambil kembali mengarahkan pandangan ke depan.
aku tertawa kecil melihat tinggah mereka. Suami ku sesekali memperhatikan ku lewat kaca di depan nya.
aku mengalihkan pandanganku ke arah luar. sambil mengelus perut ku yang bergerak-gerak. mungkin merasa senang naik mobil bersama nenek dan eyang nya.
"Turunkan AC nya Nal. gak baik terlalu dingin buat Ibu hamil"
mbah menyuruh suamiku menurunkan suhu AC nya. kemudian suamiku menurutinya.
"alah,bilang aja sampean gak kuat dingin"
Ibu mertua ku memanyunkan bibir nya.
"kowe,memang gak nurut kata orang tua dari dulu. Jangan ikuti mertuamu Nduk. Dia dulu pas hamil gak ada pantrangan."
mbah kembali memutar tubuhnya ke arah kami.dengan muka ketus. dan mengacungkan telunjuk nya ke arah mertuaku.
"halah halah, ra ngurusi. yang penting lahiran nya lancar"
mertuaku kembali membantah.
"Iya lancar tapi pas habis lahiran. di suruh jangan makan sembarangan dulu. dia sembunyi-sembunyi akhirnya sakit perut. zaenal juga dulu tuh pas lahir perutnya kembung, nangis terus semalaman"
"pret. pret pret pret pret"
aku dan suamiku tertawa melihat tingkah mereka.
"awas nduk. nanti kamu harus nurut sama mbah ya. biar selamet, sehat"
aku mengangguk.
"jaman moderen ini mbok. cucu mu ini juga udah pernah punya anak. wes toh ra usah kakehan cangkem"
mbah melempar tisu ke arah mertuaku.
"sambuuu ndas mu"
mertua ku mencibir sambil mengambil tisu yang terjatuh di bawahnya. aku dan suamiku kembali tertawa.
Gerbang Rumah sakit Bersalin sekaligus tempat praktek Dokter kandungan itu sudah terlihat. suamiku kemudian memarkirkan mobil nya.
kami kemudian keluar bersama-sama dari dalam mobil.
"Rumah sakit Bersalin Asyifa"
mbah membaca nama yang terpampang di pintu masuk.
"wah besar ya Nal tempatnya. mahal ini bayarnya pasti Nal"
__ADS_1
dia menarik tangan suamiku sambil agak berbisik.
"emmh Desooo"
mertuaku mencibir. kemudian mbah menoyor kepalanya.
"Sudah sudah malu. ayo masuk"
suamiku membukakan pintu kaca di depan kami. yang di sambut dengan hawa segar dan wangi dari ruangan ber AC itu.
kami duduk di ruang tunggu di antara kursi yang berderet. kemudian suamiku menuju ke loket pendaftaran. dan kembali dengan membawa satu lembar kertas dan nomor antrian.
"Nduk. uang mu cukup? dari tempatnya kayaknya mahal Nduk. mbah cuma bawa sedikit lagi kalau kamu kurang"
mbah berbisik. aku terkekeh.
"Insyaallah cukup mbah. masih ada simpanan juga di ATM mas zaenal"
aku kembali menenangkan nya sambil mengusap tangan nya. Mertua ku tak mendengar percakapan kami karena asik celingukan ke sana kemari.
Tak berapa lama nomor antrian ku di sebut dan di suruh masuk Ruangan USG. mbah dan mertua ku mengikuti dari belakang. ketika aku masuk ke ruangan itu mbah memaksa ikut.
"nanti dulu mbok. aku minta izin perawat sama dokter nya dulu. boleh ikut atau ndak"
suamiku menjelaskan nya. kemudian mbah duduk di kursi tunggu dengan wajah kesal.
"se toh. tunggu dokternya"
mbah memukul tangan mertua ku dengan tas wanitanya.
"silahkan duduk dulu pak, Bu. dokter syifa sedang menuju ke sini"
perawat mempersilakan kami duduk di kursi .sementara perawat itu menyiapkan peralatan UsG dan membenahi nya.
saat dokter hendak masuk. mbah mencegatnya.
"Dokter, saya nanti boleh lihat kan. ini buyut pertama saya."
dokter tersenyum dan mengangguk.
mbah mengangguk girang. sementara mertua ku mukanya sudah merah menahan malu. aku dan suamiku tertawa kecil.
Setelah berkonsultasi kemudian aku di persilahkan untuk berbaring di kasur.menghadap layar monitor. suamiku duduk di samping kepalaku. kemudian perawat memanggil mbah dan mertuaku untuk masuk. mereka duduk di kursi tempatku tadi sambil menghadap monitor.
perawat membalurkan gel ke permukaan perut ku. kemudian dokter menggerakan alat nya ke area perutku.
"Itu bayinya. usia nya sudah Duapuluh tiga minggu. bayinya sehat,detak jantungnya juga sangat bagus."
aku tersenyum ke arah suamiku. sambil memegangi tanganku dia mengelus pucuk kepalaku. mbah dan mertua ku tak banyak bicara seperti tadi. hanya terlihat kedua mata mereka berkaca-kaca.
"sekarang coba kita cari. posisi untuk melihat jenis kelaminnya"
kemudian Dokter kembali mengarahkan alatnya.
"yeeess. Perempuan pak zaenal, Bu Raina. itu terlihat jelas di monitor"
suamiku tersenyum senang. menciumi pucuk kepalaku berulangkali.
"alhamdulillah.akhirnya kesampaian dengan cucu. setelah anak saya laki semua dok"
mertuaku berucap syukur sambil tersenyum ke arah dokter. sementara mbah menangis tanpa bicara. sesekali menyeka airmata dengan saputangan nya.
Setelah selesai. suamiku menyuruh kami menunggu di dalam mobil. Dia pergi ke apotik untuk menebus obat dan mengambil foto hasil USG. setelah itu kembali menuju mobil.
sepanjang jalan pulang. mbah yang kali ini minta duduk di belakang bersamaku mengelus perutku tanpa henti sambil menangis.
"kok nangis to mbah."
aku mengelus tangan keriput nya.
"mbah nangis bahagia Nduk"
aku tersenyum sambil melihat kearah suamiku.
"se Nal. Ibu lesu. ayo mampir mangan"
(sebentar Nal. Ibu lapar ayo mampir makan)
__ADS_1
Ibu mengelus perut nya yang lapar. kemudian suamiku berhenti di rumah makan yang tak jauh dari situ.
kami duduk di meja yang masih kosong. kemudian seorang pelayan memberikan buku menu.
suamiku memesan satu ekor ayam bakar,satu gurame bakar, dan soto babat.teh panas dan air mineral sebagai minuman nya.
"waduh Nal. uang mu cukup ora."
mbah kembali merasa khawatir.
"wes toh mbah. uangku masih banyak. gak make uang gaji juga. ini uang sampingan jual desain bangunan kemaren"
Suamiku memang terkadang di minta teman nya yang pemborong proyek untuk mendesain bangunan. dia bukan lulusan arsitek tapi hobi menggambarnya dari dulu membuahkan hasil. mbah mengangguk sambil kembali tersenyum.
setealah selesai makan kamipun pulang.
...****************...
sesampainya di Rumah. aku segera mandi karena badanku sudah berkeringat. di susul suamiku. kemudian aku merebahkan badanku di kasur dengan memakai daster longgar tanpa lengan. karena sudah hampir malam juga kami sampai.perjalanan ke kota memang lumayan jauh dari kampung suamiku.
wangi sabun mandi dan shampo tercium saat suamiku masuk kamar. Dia melilitkan handuknya di pinggangnya. kemudian memakai sarung dan kaos dalam seperti biasa.
"assalamualaikum baby girl nya ayah"
Dia mengelus perut ku. seolah mendengar sapaan ayahnya. dia bergerak dengan aktif.hingga suamiku tertawa girang. aku kemudian memijit pinggang ku yang merasa panas.
"kamu kenapa?pegal pinggangnya? "
dia meraba pinggangku.
"iya mas. mungkin karena perjalanan tadi. agak panas rasanya"
"sini ta pijet"
aku memiringkan badanku. kemudian dia memijat pinggangku agak pelan tapi lumayan membuat pinggangku enakan. Dia merebahkan badanya dan memeluku dari belakang. tangan kanan nya menyibak daster bagian bawahku hingga Celana dalamku kelihatan.
"aku mau menjenguk baby girl ku. tapi kalau kamu capek gak apa"
dia berbisik di telinga ku. aku tak bisa menolak meskipun jujur aku cape. tapi aku takut di punya pikiran pengen jajan kalau aku tolak. akhirnya aku mengangguk dan membalikan tubuhku hingga terlentang.
"Berdiri sayang"
Dia menuntunku untuk berdiri. kemudian melucuti semua pakaian ku. dan diapun demikian hingga kami berdua berdiri tanpa selembar benang pun. Dia membalikan tubuhku hingga posisi membungkuk dengan kedua tangan memegang tembok. Dia mengangkat satu kakiku ke atas kursi rias. kemudian berjongkok dan ******* area bawahku dari bawah.
"ah, aaahh"
mulutku menganga menahan nikmat. Dia menyibak lobang itu dan memasukan alat pengecap nya lebih dalam. kemudian memainkan nya. tanganku yang satu meremas rambutnya.
Dia mendudukan ku di kursi rias ku dan menyandarkan tubuhku di meja nya. kedua kakiku di angkatnya dengan kedua lutut melipat. aku menggeliat hingga kepalaku menengadah ke atas. kemudian dia memasukan benda tumpulnya dengan posisi berdiri. aku memegang kedua lututku untuk menahan nya agar tetap di posisi tadi. satu tangan nya meremas gunung kembarku secara bergantian. dan tangan yang satunya memainkan area goa ku bagian atas.
"aaaahhh. masss aaaduuuhh"
sentuhan di area paling sensitif itu memang cara paling cepat agar aku mencapai puncak.
"ssshhhh.. ahh sayang sebentar lagi sayang. emmmpttt enaaakk"
kemudian dia menyemburkan cairan hangatnya. terasa benda tumpulnya bergetar di dalam goaku. dia mencabutnya. tapi malah memasukan jari tengahnya ke Goaku lebih dalam.
"Aaahh"
aku kembali mengerang. dan menyemburkan cairan seperti air kencing. basah dan banyak.
Dia tertawa puas. aku beranjak dari tempat itu. kemudian memukul punggung nya.
"puas sekali ketawa mu mas"
"hahaha. ada yang sampe terkencing-kencing"
aku kemudian mengelap cairan itu dengan lap pel. Dia masih terengah-engah di atas kasur tanpa busana. kemudian merengkuh tubuhku di pelukan nya.
"mas. kamu ternyata Hiper ya"
aku mencubit hidung mancung nya.
"halal kan?toh sama istrinya. lagian sayang aku paling terakhir menikah di sini. penantianku untuk ini sangat panjang. temanku anak nya sudah pada besar. aku baru mau sekarang"
dia kembali mengelus perut ku.
__ADS_1