
Puasa Ramadhan akhirnya berakhir dengan bergema nya takbir. alhamdulillah Anaku puasanya full satu bulan penuh. Idul Fitri kali ini aku memutuskan untuk tidak pulang kampung. karena Ibu dan Anak-anak di kampung yang akan berkunjung dan menginap di rumah Bu Tika.
Selain itu malam takbiran,selepas buka puasa. Surya muntah-muntah, badan nya panas.Bu tika sudah memberikan obat penurun panas dan memeriksanya.sampai tengah malam aku masih terjaga dengan Bu tika. panasnya tak kunjung turun. bahkan dia mengigau.
"Gimana ini Bu? "
Aku cemas dan memandang ke arah Bu tika yang sedang mengompres kepalanya.
"besok pagi kita bawa ke Rumah sakit Rai kalau malam ini tak kunjung turun panas nya"
Aku mengangguk. sambil menciumi tangan nya.
"A... ayah, aku... mau..ketemu a.. yah"
aku dan Bu tika saling pandang. mendengar igauan nya.
"iya, nak. kamu nya yang sehat. nanti kita temuin ayah nak"
aku mengelus kening nya dan mencium nya. dengan air mata yang tak terasa meluncur begitu saja. tapi panas nya sudah berangsur turun. Bu tika memasang alat pengukur suhu tubuh.
" panas nya sudah kembali normal Rai"
Aku bernafas lega dan tak terasa terlelap di kursi di samping tempat tidurnya.
Tiba-tiba aku tersentak ketika mendengar suara nafas yang tersendat-sendat. aku melihat anaku dengan keringat bercucuran dan nafas yang tersendat.
"Astagfirullah. Bu..Ibu..Surya Bu"
aku kemudian berlari ke kamar Bu tika Dan memanggil nya. kemudian berlari lagi ke kamar ku.
"Kenapa Rai,Surya kenapa? "
__ADS_1
Dia kemudian memeriksa nya.
"Bangun kan pak Wahyu Rai. suruh keluarkan mobil. kita ke Rumah Sakit sekarang"
aku segera berlari membangunkan supir nya Bu Tika yang bernama pak wahyu.
tak berapa lama kamipun tiba di Rumah sakit. Surya langsung di tangani Dokter.
aku segera menghubungi Ibuku Di kampung. yang berencana akan datang besok bersama anak -anak setelah sholat Idulfitri.
tak berapa lama dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bu,anak ibu terkena Demam Berdarah. dan harus di rawat di sini beberapa hari"
aku bergegas berdiri menghampiri nya.
"iya Dok. tak apa yang terpenting anak saya dapat segera sembuh. tapi tadi sempat seperti sesak nafas begitu dok. kenapa ya? "
"tak apa Bu. itu hanya pengaruh dari suhu tubuh yang sangat panas. saya tinggal Bu. silahkan ibu boleh masuk.permisi"
"Iya, terimakasih dok"
setelah dokter berlalu. Aku dan Bu tika masuk ke kamar rawat nya. aku mengusap lembut wajahnya dengan matanya yang masih terpejam. jarum dan selang infus menancap di tangan mungil nya.
"sembuh nak, nanti kita cari ayah"
aku mengusap tangan nya. dengan luncuran air mata yang deras tak terbendung. aku kemudian menyuruh Bu Tika untuk pulang bersama supirnya. Tapi Dia memilih menemani ku. dan hanya supir nya yang pulang.
Gema takbir masih terdengar bergema. Idulfitri yang seharusnya menjadi hari bahagia. malah jadi hari paling menyedihkan.
Hingga tepat di waktu adzan subuh. nafas nya kembali tersendat, bahkan lebih berat dari sebelumnya.Bu tika berlari memanggil Dokter. Dan aku hanya bisa meremas tangan mungil nya sambil menangis.
__ADS_1
kemudian Dokter menyuruhku menjauh.
aku berpelukan dengan Bu tika.
"inalillahi wa inna illahi rojiun. maaf Bu. anak ibu telah di panggil allah"
sambil melihat ke arahku. dan menyuruh perawat untuk melepas selang infus di tangan nya.
Tubuhku lemas seketika seolah tak ada tulang yang mampu menopang lagi. aku menjerit histeris menyebut nama anaku. tapi badan ini tak kuasa untuk berdiri dan menyentuh nya.
ketika perawat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut putih. seketika itu juga penglihatan ku gelap. dan tak sadarkan diri.
entah berapa lama aku tak sadarkan diri.
hingga tiba-tiba aku sudah berada di atas kasur bersebelahan dengan jenazah anaku.
Nampak Ibu dan adiku sudah berada di samping ku. aku mencoba bangun dan tertatih ke arah nya.
"Nak.. bangun sayang. kita cari ayah nak"
aku mengguncangkan tubuh kecil nya yang di tutup kain putih.
"sabar Rai, ikhlaskan. kasihan anakmu. allah lebih sayang dia Rai"
Ibuku merangkul pundaku dan membawaku menjauh. lalu mengangguk pelan. memberi isyarat pada perawat untuk segera membawa jenazah ke dalam ambulance.
aku duduk di samping jenazah nya. bersama ibuku. Bu tika di depan.sementara kedua anaku dan adiku naik mobil Bu tika beserta sopir.
kami tiba setelah orang-orang selesai sholat Idulfitri. acara saling maaf-maafan pun berubah sekaligus menjadi acara pemakaman.
setelah acara pemakaman selesai. aku kembali ke kamar dengan tangis yang belum reda. aku kembali histeris ketika melihat baju baru yang akan di pakainya saat lebaran hari ini. tergantung di gagang lemari. aku meremas dan memeluk baju itu. sambil menangis ku ciumi baju yang tak bertubuh itu. aku menangis sekencang-kencangnya.
__ADS_1
tak seorang pun yang bisa meredakan tangisanku. hingga Bu Tika meminta ustadz yang memimpin pemakaman untuk memberiku air yang sudah di beri doa. hingga akhirnya aku merasa lebih tenang.