Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
BELUM PUAS MENYAKITI BAB 52


__ADS_3

Jatah Bulanan Ibu mertua ku kali ini mulai utuh lagi. orang yang kami bantu sudah pulang ke kampung nya.


"Sayang. nanti siang kamu yang kasih ke Ibu ya. aku buru-buru.pagi ini ada orang dari pusat yang datang ke Pabrik"


sambil bergegas pergi.


"Buru -buru sih buru-buru tapi masa sampai lupa cium istri dan anaknya"


dia nyengir kuda kemudian balik lagi menghampiriku dan Queen di pangkuanku. aku meraih tangan nya kemudian mencium nya. lalu dia mencium keningku dan Queen.


"assalamualaikum. jangan lupa jatah Ibu"


aku mengangguk. dan dia pun berlalu.


aku tak mau nunggu lama. langsung ku ambil amplop uang jatah mertuaku dan memberikan nya.


"Bu. ini titipan dari mas zaenal. dia buru-buru. jadi nyuruh aku yang kasih ke ibu"


Dia mengambilnya kasar. tanpa berkata apapun dan tanpa menoleh ke arah cucunya sekalipun. aku kemudian beranjak meninggalkan nya kembali ke Rumahku.


saat aku hendak menidurkan Queen sehabis memandikan nya. ponselku berbunyi


tring


tring


aku membuka pesan masuk dari suamiku


[Raina.Gimana sih kamu. kok uang jatah Ibu hanya kamu kasih setengahnya. kamu ambil ya yang setengahnya]


aku kaget tampak sekali dia marah dengan menyebut namaku di pesan nya.


[bukan kah kamu yang menghitung dan memasukan nya langsung mas? jangan kan mengambilnya,membuka pun aku tidak berani mas. coba di ingat lagi mungkin mas lupa]


aku kemudian segera membalas nya.


[lupa bagaimana. semua uang di ATM dan aku hanya mengambil sejumlah yang mau di kasih Ibu]


aku menghela nafas.


[coba tanya lagi ke Ibu mas. Dia langsung menghitung nya atau di biarkan dulu,atau di bawa dulu kemana gitu, bisa ajahkan jatuh atau apa]


Dia kemudian mengirim screenshoot pesan dari Ibunya.


di situ tertulis dan ada sebuah photo kalau amplop itu sudah ada bekas sobekan nya. dia mengaku kalau belum membukanya sama sekali dan melihat isinya berkurang kemudian menghubungi suamiku.


[ya allah mas. sumpah demi allah, amplop itu rapi tak ada bekas sobekan atau apapun ketika aku memberikan nya]


andai saja ada saksi mata di situ. sialnya Ramdan Dan ayah sudah berangkat ke Kebun saat aku memberikan amplopnya.


[saking bencinya kamu dengan perlakuan Ibu ke kamu,kamu membalas nya seperti ini Raina. jangan mentang-mentang aku selalu membelamu kamu jadi seenaknya mencoba mengadu domba aku sama Ibuku]


air mataku mengalir membaca pesan nya. dadaku terasa sesak.aku meremas dadaku sambil terus beristigfar.


[kita bicarakan nanti sepulang kamu kerja mas, dan kalau memang Ibu keukeuh aku akan ganti uang nya]


aku kembali membalas pesan nya.


[alahhh.Ganti darimana.memang selama ini kamu kerja apa selain mengurus Rumah dan Queen. jangan sekali-kali kamu pinjam orang. awas kamu]


aku terus beristigfar dan menyebut nama allah. cobaan apa lagi dan niat apa lagi yang di lakukan Ibu.sebenci itukah kepadaku sehingga memfitnah ku seperti itu.


aku kemudian menggendong Queen yang masih tertidur dan pergi ke Rumah mbak Citra lewat pintu belakang.


aku menceritakan semua dan menunjukan pesan itu ke mbak citra. kemudian mbak citra mengirim pesan ke suamiku. dan menceritakan tentang Bisnis kami.

__ADS_1


[tenang saja zaenal. istrimu tidak akan berhutang. bahkan untuk mengirim anaknya yang di kampung tak pernah sepeser pun mengambil dari uang gajimu. bahkan kadang jika gajimu tak cukup untuk keperluan Queen dia yang menutupinya.]


kemudian suamiku membalas pesan mbak Citra.


[masyaallah. benarkah itu mbak. aku sudah salah menilainya. tapi tetap saja mbak, mengambil hak Ibu juga tidak bisa di tutupi begitu saja dengan cara menggantinya]


mbak citra tertawa sambil menunjukan pesan dari suamiku. dan menggelengkan kepalanya.


[urus dan cari tahu tentang Ibumu. aku sama sekali tak percaya kalau istrimu berbuat begitu. aku berani bertaruh. aku akan ganti Dua kali lipat kalau istrimu terbukti mengambilnya]


tak ada balasan lagi dari suamiku. kemudian mbak citra kembali menambahi perkataan nya.


[pakai logika mu Nal. untuk apa dia mengambil uang yang tak seberapa itu. sementara penghasilan nya saja lebih besar dari itu dan juga gaji mu]


masih tak di balas oleh suamiku. tapi pesan itu sudah di baca.


...****************...


saat sholat ashar aku mengadukan semuanya kepada tuhan agar di beri jalan keluar dan terungkap kebenaran nya.


suamiku pulang masih dengan wajah yang ditekuk. kali ini setelah mandi Dia memangku Queen dan membawanya pergi entah kemana.


aku yang melihat Ramdan turun dari motor segera menanyai nya.


"Dan, lihat mas zaenal sama Queen? "


dia kemudian menjawab.


"Di Rumah mbah "


"terus kamu dari mana? "


aku kembali bertanya.


"nganter Ibu bayar utang ke Bu Rt"


"Ibu di tagih Bu Rt. entah hutang bekas apa. tadi pagi sebelum ke kebun Ribut sama ayah karena ayah gak punya uang sama sekali untuk bayar. trus sepulang dari kebun ibu nyuruh aku mengantarnya untuk bayar. pas di tanya uang nya di kasih mas'e jatah bulanan"


aku menarik tangan Ramdan.


"trus Ibu nya mana?utang nya berapa? "


Ramdan kembali menjawab sambil duduk di teras.


"ibunya masih ngobrol. utang nya Dua juta. pas sama uang yang di kasih mas. wong aku yang buka amplop pertama kali dan menghitung nya mbak"


aku tersenyum penuh kemenangan kali ini.


aku tarik tangan Ramdan dan mengajaknya menemui mas zaenal di Rumah mbah. Biar tau sekalian mbah dan Nange.


sampai di Rumah mbah. aku menyuruh Ramdan menceritakan semuanya. suamiku langsung pergi dengan sepeda motor Nange.


"mau kemana Nal? "


nange berteriak.


"Rumah Bu Rt"


dia kembali berteriak. aku kemudian pamit pulang sama Ramdan yang menggendong Queen. Nange Dan Mbah hanya tertunduk seolah merasa malu kepadaku. aku tersenyum sambil mengusap kedua punggung mereka.


saat aku sedang menidurkan Queen yang mulai mengantuk. aku mendengar Suara suamiku berteriak dan memukul meja kaca di Rumah Ibunya hingga pecah.


terdengar suara Ibu nya menangis. kemudian suara Ayah yang mencoba menenangkan suamiku.


"mbak mbak. mas e ngamuk. tangan nya berdarah kena pecahan kaca meja"

__ADS_1


Ramdan berlari ke kamarku.


"titip Queen ya Dan. kamu di sini. mbak mau ke sana"


aku bergegas lari menuju keributan. tampak ayah sedang menghalangi suamiku yang masih emosi. dadanya naik turun.aku meraih telapak tangan nya yang terluka cukup dalam.


"sudah mas,sabar,kontrol emosimu. ayo pulang bersihkan lukamu"


aku memegangi pundaknya dan menariknya pulang. dia melangkah mundur mengikuti tarikan ku tapi masih dengan nafas memburu dan mata yang menatap tajam ke arah Ibunya yang menangis di pojok kursi.


Aku bergegas mengambil air hangat di baskom. membersihkan lukanya dengan saputangan handuk. kemudian memberinya obat luka dan membungkusnya dengan kain kasa. tanpa berkata apapun.


"Aku balik mbak. Queen masih tidur"


Ramdan pamit pulang. aku mengangguk sambil senyum kearah nya. kemudian Ramdan menutup pintu dari luar.


suamiku mengusap pipiku dengan telapak tangan yang tidak terluka. aku meraihnya dengan tangaku dan mencium telapak tangannya itu.sambil memejamkan mata.


Dia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku. dan berkata sedikit berbisik


"sayang, maafkan aku dan Ibuku ya"


aku mengangguk sambil tersenyum dan menempelkan ujung hidungku dengan hidung nya. kemudian mengecup bibirnya.tanganku mulai menuruni dadanya yang masih memakai kaos berkerah. saat bibirnya mulai menjelajahi leherku. kami tersentak mendengar rengekan Queen.


aku berlari ke kamar. meninggalkan suamiku yang wajahnya masih memerah.


"Queeeeeeennn. kenapa sih kamu Nak. selalu membuat petualangan ayah menggantung. Tanggung lho Nak"


aku tertawa mendengar dia kesal dari dalam kamar. lalu menggendong Queen mendekatinya.


Queen tertawa lucu menggoda Ayahnya. kemudian aku menidurkan nya di karpet. suamiku menggelitik perut Queen dengan hidung nya.


"a hahaha,Ya yah,haha Ya yah"


Aku dan zaenal saling pandang.


"katakan lagi sayang. apa? "


lalu Queen mengulang nya.


"Ya yaaah. emmm mama mama"


suamiku mencium pipinya.


"dengar sayang, anak kita sudah bisa manggil ayah sama mama"


Dia mengguncang pundaku dengan senyum kegembiraan nya.


"iya dong. lihat giginya juga sudah tumbuh Ayah. sekarang Queen kan udah mau tujuh bulan"


aku mengguncangkan perut Queen hingga ia merasa kegelian.


"terima kasih sayang. kamu memberikan Buah hati yang cantik dan bisa menjadi Qurotha aini"


sambil memeluku dan mencium keningku. dan menjalar ke bawah. saat dia memberi tanda merah di antara sela gunungku. aku yang masih terenggah mencoba menahan hasrat.


"sayang, Queen masih bangun masa mau kaya kemaren dulu. kuda-kudaan di depan Queen"


aku menjauhkan kepalanya yang masih membenam di dadaku. kemudian memangku Queen dan menyusui nya.


"cekalang bagianku dulu Ayah. tunggu aku tidul"


aku menirukan suara anak kecil seolah Queen yang berbicara.


"hadeuuuhh.cepat besar Nak. biar cepat pisah kamar. ayah gak kuat harus nahan terus nunggu kamu tidur"

__ADS_1


dia menepuk jidatnya. kemudian menjatuhkan tubuhnya di karpet.


__ADS_2