Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
MELENCENG DARI PERHITUNGAN BAB 44


__ADS_3

Meskipun tangannya kena luka bakar yang cukup lebar. suamiku tetap melaksanakan sholat dan mengimamiku.


setelah selesai aku kembali memberinya obat. kami mengobrol di kursi tamu kali ini. dia menidurkan tubuhnya di kursi panjang dengan kepala di pangkuanku. aku mengelus kepalanya dan dia berkali-kali mencium perutku. sehingga bayi ku bergerak terus menerus,menendang bahkan menyiku.


"hahaha. Baby Girl ku. senang ya kamu di sentuh ayah"


dia memasukan kepalanya kedalam dasterku. aku memejamkan mata saat kumis tipis nya menyentuh kulit perut ku yang tipis.


"mas.. kumismu bikin aku geli"


aku susah payah menahan slavina ku.


kepalanya keluar dari dalam dasterku. kemuduan mengunci pintu dan mematikan lampu.meskipun lampu di matikan masih terlihat remang-remang bayangan tubuhnya dari sinar rembulan yang masuk melalui ventilasi udara yang terbuka di atas jendela tertutup tirai. bayangan tubuhnya yang polos setelah dia menanggalkan seluruh pakaian nya terlihat di kegelapan. Dia melucuti seluruh pakaian ku. kali ini kami melakukan nya di kursi Ruang tamu.


dengan posisi dia yang memangkuku. aku berada di atas pangkuan nya kini.


"ah sakit mas.terasa sangat menusuk"


aku meringis menahan sakit campur ngilu di area bawahku.


"pelan saja sayang. jangan terlalu menekan nya.aku juga merasakan semakin dangkal Goa mu ini sayang"


aku meletakan tanganku di kedua pinggiran kursi sebagai tumpuan. dia membantuku mengangkat pinggangku agar tidak terlalu terasa menusuk dan tak terlalu dalam menancap.


"ahhh mas aku mau keluaaaaarrr"


aku menjerit tapi pelan.


"keluar kan sayang. beri jalan lahir anak kita sedikit pelumas... ssshhh aaahh.aku juga mau keluar sayaaaaanggg... aaaahhh"


tubuh kami sama-sama bergetar. aku mengangkat tubuhku segera agar benda tumpul itu tak terlalu lama menekan goaku yang semakin dangkal.


Disaat yang bersamaan cairan seperti air seni keluar sangat deras di jalan lahir.


"mas... sepertinya ini cairan ketuban"


Suamiku kaget dan langsung memakai pakaian nya kembali.


"ambilkan kain sarung untuk menutupi badanku mas"


kemudian dia berlari mengambil kain sarung dan memakaikan nya padaku.


"aku panggil Ibu dan mbah ya"

__ADS_1


dengan nafas yang tersendat ia berlari ke Rumah mertuaku.


aku segera duduk di kursi itu. mengambil pakaian ku dan melemparnya ke kamar. kemudian memakai blazer untuk menutupi lengan dan punggungku yang bertelanjang.


perutku seketika sakit, dan keram. kemudian sakit nya semakin menjadi. aku yang sudah beberapa kali melahirkan tahu kalau ini tanda akan melahirkan. tapi baru kali ini pecah ketuban duluan.


Mertua ku dan mbah datang menghampiriku.


"pinjam mobil suaminya Citra Nal. ajak citra juga. kita kerumah bidan segera"


mertua ku mengelus perut ku yang sangat mengeras dan menonjol. mbah mengelap keringat yang membasahi seluruh kening,wajah dan kepalaku.


sakitnya semakin sering. aku menggigit bibir bawahku untuk menahan nya. dan meremas kain sarung yang ku pakai.


"astagfirullah, ssshhh.allahu akbar"


aku terus berdzikir saat kontraksi itu semakin hebat.


tak berapa lama suara mobil terdengar.


suamiku langsung menggendongku ke dalam mobil. mbak citra membawa tas berisi perlengkapan lahiran ku. untung nya jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan nya. sehingga tinggal membawanya jika aku kontraksi.


aku duduk di kursi belakang bersama mbah dan ibu yang bergantian mengelus pinggangku yang terasa panas. mbak citra duduk di depan menemani suamiku yang mengemudi. untung Rumah Bidan nya tak terlalu Jauh. masih di kampung yang sama. sesampainya di sana mbak citra keluar dari mobil duluan. berlari kecil dan memencet bel.


Aku keluar dari mobil. dan duduk di kursi itu do dorong suamiku. setelah itu tidur di kasur dan segera di periksa.


dia menuntunku untuk merenggangkan kedua kakiku. kemudian memasukan jarinya ke jalan lahir.


"waaah lebih cepat dari perkiraan ya tanggal lahirnya. ade bayinya sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia ini mungkin"


dia tersenyum sambil memiringkan badanku ke kanan.


"mas zaenal. sini mas"


dia memanggil suamiku yang kemudian masuk menghampiri.


"duduk sini mas. hebat sekali pembukaan nya sangat cepat. mas bantu puter-puter udel istri dan ****** nya ya. untuk merangsang pembukaan nya cepat bertambah."


suamiku kemudian berdiri dan melakukan yang di perintahkan Bidan. keringat ku semakin deras keluar. dan rasa mulas semakin menjadi. hingga aku merasakan seperti ingin mengejan.


"mas panggil... Bu Bidan... aaahhh. aku sudah mau mengejan"


dengan tersendat aku menyuruh suamiku. kemudian dia berlari memanggil nya. tak berapa lama kembali dengan Bu Bidan. yang kembali mamasukan jarinya.

__ADS_1


"ayo mas. bersiap ya. mas zaenal bantu istrinya ya.. sekarang sudah waktunya"


Dia merenggangkan kedua kakiku. suamiku berdiri di samping kepalaku sambil membantu mengangkat punggung ku yang kesulitan mengejan. aku berpegangan pada lengan nya. dan yang satu ke besi ranjang di atas kepalaku.


"hmmmmmppppttt. huh huh huh"


aku mengejan dan membuang nafasku. kemudian kembali menarik nafas dalam.


"iya pinter. ayooo ayooo kepalanya sudah kelihatan. ngeden lebih kuat lagi"


aku yang mendengar kepala bayiku sudah mulai terlihat semakin bersemangat dan mengejan dengan kuat.


"heeeeeeemmmmmmmppptt. aaahhh"


seiring dengan hembusan nafasku terasa sesuatu bergerinjal keluar dari jalan lahirku, dan mengeluarkan suara seperti ikan keluar dari lobang nya.


"owek owek owe"


aku yang terkulai lemas tersenyum ke arah suamiku. yang menangis di atas kepalaku. kemudian menujuk ke arah bayiku yang sedang di bersihkan.


"lihaaat sayang. bayi kita."


aku mengangguk sambil tersenyum.


"silahkan di adzani mas"


Bidan segera memberikan bayi kami yang sudah terbungkus kain untuk di adzani.


sementara itu dia mengurusi ku kembali.terasa tangan nya merogoh kedalam perutku untuk membersihkan sisa darah di dalam nya. dan memberiku suntikan.


"Bagus sekali Bu Raina. tidak ada yang sobek rapi sekali. hanya lecet sedikit saja mah wajar ya"


dia tersenyum sambil meneliti lubang bekas lahiran bayiku. aku membalasnya dengan senyuman. terdengar suara suamiku yang bergetar mengumandangkan adzan di telinga anak kami sambil menangis. aku yang sudah bersih kemudian di suruh langsung menyusui nya. karena bayiku sudah mencari-cari sesuatu untuk di hisap.


Mertuaku dan yang lain nya masuk menghampiri ku yang sedang menyusui Baby Girl.


"iiihhh mirip banget zaenal ya. padahal baru lahir tapi wajahnya sudah ngebentuk Ayahnya"


mbak citra memperhatikan wajah Baby Girl kami. kemudian mbah dan mertuaku ikut menlihat nya.


"iya Nal. hudung nya itu hidung kamu banget"


seru mertuaku. yang di sambut dengan tertawa an mereka. aku baru di izinkan pulang besok pagi. mbak citra pamit pulang,dengan mbah. di antar suamiku sekalian mengembalikan mobil. lalu nanti balik lagi membawa motor. sementara mertuaku menemaniku.

__ADS_1


__ADS_2