
setelah lamaran keluarga sepakat untuk acara pernikahan akan di langsungkan dua bulan setelah lamaran. karena kata suamiku di daerahnya memang seperti itu. jarak dari lamaran menuju ke pernikahan tidak terlalu jauh.
sehingga aku yang di percaya mertuaku untuk mengatur semuanya harus pontang panting mengurus nya.
mulai dari seserahan, mas kawin, baju seragam keluarga,aku yang atur. meskipun dari pihak keluarga Nurul akan mengadakan acara yang tidak terlalu mewah, tapi aku dan suami sepakat ingin memberikan yang terbaik.
"Yang. pokoknya kamu atur semuanya. Ramdan adiku satu-satunya. aku ingin pernikahan nya menjadi moment paling berkesan dalam hidupnya"
aku mengacungkan jempol ke arahnya. sambil terus mencatat keperluan untuk acara nanti. keluarga ku juga yang di Bandung akan datang sebelum waktunya agar bisa hadir di acara pernikahan Ramdan nanti.
"mas. Ibu menyerah kan uang ke aku hanya dua puluh lima juta, sedang di catatanku semuanya hampir lima puluh jutaan bahkan lebih"
aku mengetuk pulpen ke keningku.
"itu udah termasuk sewa mobil kan Yang? "
suamiku menghampiri ku dan mengambil catatan itu. sambil mengecek nya.
"iya udah mas. kalau mas kawin itu Ramdan yang beli. perhiasan juga Ibu nanti yang beli."
dia mengangguk. dan menyimpan kembali catatan nya di meja.
"untuk kurangnya bisa ambil dari uang kita gak apa kan Yang? "
dia mengelus rambutku, dan menuntun kepalaku ke pundaknya.
aku mengangguk.
"iya gak apa sih mas. cuma aku kan awalnya mau kasih Nurul gelang emas buat kenang-kenangan"
dia mengecup keningku. dan tersenyum.
"kalau gitu kamu kurangi hantaran nya sayang. cukup yang penting saja atau jangan yang terlalu super. untuk perabotan juga beli yang biasa. kamu sih milih nya yang super semua. kulkas juga yang gede. Nanti juga mereka usaha sendiri .yang penting kita bawa hantaran lengkap"
Dia mengangkat wajahku dengan jari telunjuk nya di daguku dan mendekatkan wajahnya.
"makasih Sayang. kamu memang istri sholeha. pengertian ke keluarga ku dan adiku"
Dia ******* bibirku dengan bibirnya yang tipis. tanganku sepontan meremas rambut di belakang kepalanya. saat tangan nya mulai meremas gunung kembarku.
"mas... e eeehh maaf. aku langsung masuk gak ucap salam dulu"
Ramdan tiba-tiba sudah di pintu masuk. aku segera merapikan bajuku, dan suamiku merapihkan rambutnya yang acak-acakan.
"I...iya pret ono opo? "
dengan muka merah dia bertanya maksud adiknya.
"Ini mas, aku mau nyerahin uang buat besok beli mas kawin. Nurul hanya minta seperangkat alat sholat"
aku tersenyum ke arah nya. dan menoleh kearah suamiku.
"Ya bagus Dan. Karena sebaik-baiknya mas kawin itu yang tidak memberatkan tapi tidak merendahkan"
dia mengangguk. dan menyerah kan amplop berwarna coklat kepadaku.
"ini kalau masih sisa di bikin bucket uang nya Dan"
aku mengintip isi nya. gak mungkin juga beli seperangkat alat sholat haga sepuluh juta.
"Iya terserah mbak. pokoknya atur saja. Nurul juga udah serahin ke mbak saja katanya masalah model nya"
aku menangguk paham dan masuk ke kamar untuk menyimpan uang itu. Ramdan mengobrol dengan kakaknya. merencanakan acara nanti.
...****************...
Tinggal dua minggu lagi acara pernikahan adik ipar ku di laksanakan.persiapan Sudah siap sembilan puluh persen. hanya tinggal hantaran kue basah dan makanan yang akan di antar orang yang kami pesan saat sehari sebelumnya.perabotan juga sudah lengkap tersimpan di gudang. hanya tinggal angkut saja. begitupun dengan baju seragam keluarga dan hantaran.
aku juga tak lupa membelikan gelang emas untuk Nurul. dan baju seragam untuk keluarga ku yang dari Bandung.uang untuk sewa mobil juga sudah di serahkan ke yang punya rental. untuk mobil pengantin kami sepakat memakai mobil kami saja.
"piuuuhhh. selesai sudah.. haaahhh"
aku mengelap keringatku saat menyelesaikan hiasan hantaran yang terakhir.
"sayaaaang. istirahat kamu udah dari kemarin -kemarin sibuk terus"
Dia memijit kedua pundaku. sampai aku merem merasa keenakan.
"udah selesai mas. tinggal kue-kue saja. nanti kalau sudah dekat. dan parsel buah"
aku mendongak an kepalaku ke atas dan memutar nya ke kiri dan kanan. suamiku menggendongku ke kamar dan menjatuhkan tubuhku pelan di ranjang.
"suttt Queen udah tidur"
aku memberi kode padanya. kemudian dia memijit kedua betisku. aku tersenyum dan mengelus kepalanya sambil menatap wajahnya. Dia mendekat kan wajahnya ke wajahku. menyatukan bibirnya dengan bibirku dan ******* nya.
"pindah ke karpet sayang, nanti Queen bangun"
dia berbisik sambil menggendong ku. dan kembali menidurkan ku pelan di karpet sebelah ranjang tidur kami.tangan nya mulai melucuti bajuku satu persatu. aku menggelinjang saat alat pengecapnya memainkan bagian sensitif di area intiku. menghisap dengan mulutnya. hingga membuat tubuhku meremang. semua bulu halusku berdiri. aku menekan kepalanya saat tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat keluar dari dalam. meremas rambutnya seiring desir darah yang kian memanas di tubuhku. tanganku menuntun bendanya masuk ke dalam.
__ADS_1
dia menekan nya lebih dalam dan menggenjot lebih cepat.. sampai puncak kenikmatan di raihnya.
dia menghisap leher ku dan memberi beberapa tanda di sana.
lalu mengecup keningku. dan kami memakai pakaian kembali. lalu tidur memeluk Queen.
...****************...
Akhirnya tiba juga saat hari spesial untuk Ramdan Dan Nurul. semua keluarga sudah kumpul begitu juga keluargaku yang di Bandung sudah tiba dari dua hari sebelumnya. Ramdan terlihat sangat tampan dengan balutan Baju pengantin warna putih seperangkat dengan peci dan beberapa aksesoris. Baju itu di antar sehari sebelum acara. aku juga menyewa jasa Rias untuk merias Ibu mertuaku. untuk diriku sendiri aku tak pernah Dandan berlebihan. Suamiku juga lebih suka istrinya Natural. aku hanya memoles wajahku dengan pondasion dan bedak tipis -tipis.menyapu alisku dengan sedikit mascara, lipstik warna Nude, sedikit perona pipi dan perona mata.
"waaahh cantiknya istri mas zaenal"
Suamiku memeluk pundaku dan melerakan dagunya di sana. aku yang selesai berias depan kaca tersenyum dan memandang wajahnya di cermin. aku memang jarang berdandan di rumah, lebih di bilang tidak pernah malah. hanya lipstik dan menyapu alisku dengan mascara tipis-tipis. aku juga tak pernah pake bedak. hanya sedikit cream untuk melembabkan wajahku.
"pangling Yang. soalnya kamu gak pernah dandan"
suamiku mengecup keningku.
"kamu mau aku Dandan gini tiap hari? katamu kamu gak suka istri yang menor, ya meskipun dandanan ku ini juga gak menor sih"
aku yang duduk di kursi mendongak ke wajahnya yang berdiri.aku melingkarkan kedua tanganku ke pinggang nya. dan mencium perut nya.
"perut mu makin gendut"
aku menggoyangkan perutnya dengan tanganku.
"iya.di manjain kamu mulu sih"
dia mengecup keningku. aku membalasnya dengan mencium kedua pipinya bergantian. kemudian memakai kebaya seragam keluarga dan kerudung. dan bergegas bersiap untuk ke tempat acara.
mobil pengantin dan rombongan sudah berderet di sepanjang jalan. aku memerintahkan salah satu ponakan mas zaenal untuk membagikan snack ke semua orang yang sudah bersiap duduk di kursi mobil nya masing-masing.
Queen tampak senang di gendongan Anaku yang paling besar.
"ma.. Queen ikut mobil kami saja Ya? "
anaku yang kedua minta izin padaku. sambil mencubit pipi gembilnya Queen. aku mengangguk dan tersenyum.
"Boleh sayang. tapi Kakak jagain adek nya baik-baik ya"
aku mengusap pucuk kerudung nya. Dan segera masuk ke mobil masing-masing. aku masuk di mobil paling depan bersama Pengantin Pria yang duduk di jok depan. suamiku memegang kemudi. aku duduk di jok tengah dengan Ibu mertuaku dan Mbah. di jok belakang ada Ayah dan Nange.
"Bismillah"
Siamiku mengusap setir di depan nya. kami berdoa dan berangkat ke tempat tujuan.di perjalanan suamiku menggoda Adiknya hingga sontak membuat kami tertawa.
"hehh. Kampret..awas lho salah nanti ngucapin Ijab Qobul nya, udah hapal kan? "
"udah dong. dari seminggu lalu aku latihan depan kaca"
suamiku menoyor kepalanya.
"depan kaca sama depan penghulu beda kampret"
Ramdan membenarkan pecinya yang kena toyoran. dan mengerucut kan bibir nya ke arah suamiku.
"alah apanya yang beda"
"eehh ya beda lah. di sana nanti di saksiin banyak orang, di depan kaca kan cuma lihat satu itu juga monyet yang lagi ngaca. hahaha"
Ramdan menonjok lengan suamiku.
"eehhh udah mas, becanda mulu. fokus nyetir. jangan dengerin mas mu udah. kamu berdoa aja semoga lancar Ramdan"
aku menepak bahu suamiku dari belakang. agar lebih fokus menyetir.
"Iya Ramdan, yang penting juga nanti malam siapkan alat tempur nya biar kuat nerobos benteng pertahanan.hahaha"
Ayah di belakang setengah berteriak. hingga di timpuk Ibu pake tas nya.
"Husss Ayah ini juga. malah ngajarin anak nya"
kami tertawa ngakak di dalam mobil. apalagi ngelihat ayah yang mengelus-ngelus kepalanya kesakitan.
"oalah Bu...Bu.. isinya apa sih tuh tas. kepalaku benjol ini"
Ibu mencibir ke arah Ayah.
"Batu. buat nimpuk orang yang suka pikiran nya mesum"
kami sontak tertawa kembali.
Tak berapa lama nampak Janur kuning di pinggir jalan menuju Rumah Nurul. kami segera memarkir mobil sesuai yang di arahkan pengatur parkir yang sudah di siapkan panitia di sana.
kemudian kami turun dari mobil dan berbaris menuju tempat acara. Queen dan anak-anaku berjejer denganku.kemudian suamiku menggendong Queen.Ramdan tampak sumringah di apit kedua orang tuanya. dan tersenyum ke arah Rombongan pengantin wanita yang menyambut di hadapan nya.
Nurul di apit kedua orang tuanya dan beberapa pengiring pengantin yang memegangi kain kebaya putih nya yang menjuntai ke bawah.
"masya allah cantiknya Nurul"
__ADS_1
aku yang di belakang Ramdan berbisik ke telinga nya sambil menepuk pundaknya. Ramdan agak memalingkan wajahnya ke arahku. sambil berbisik pula.
"aku gugup mbak.tambah gemetar lagi lihat bidadari depan mata"
aku terkekeh, lalu kami segera menuju tempat yang sudah di sediakan.
kami di sambut dengan musik gamelan khas adat daerah sini. kalau aku yang orang sunda biasanya ada tarian upacara adat. tapi ini adat jawa timur, daerah suamiku tentu berbeda. aku hanya tinggal duduk saja mengikuti arahan panitia.
aku memilih tempat duduk kembali di belakang Ramdan dan mertuaku. berjejer dengan Suami dan anak-anaku.sambutan demi sambutan dari pihak kedua mempelai telah selesai Dan tiba saat nya untuk prosesi Ijab Qobul.
"Bismilah Pret, Jangan grogi. anggap aja gak ada orang"
suamiku menepuk bahu adiknya yang tampak gugup. kedua kakinya tampak gemetar. aku mengelus bahunya. sambil berbisik.
"Bismillah dulu Dan. gak usah gugup"
dia mengangguk dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya.lalu menarik nafas dan menghembuskan nya pelan.
Prosesi nya alhamdulillah berjalan lancar.walaupun Ramdan terlihat gugup sebelumnya, tapi lancar mengucap ijab nya tanpa hambatan sampai para saksi dan Hadirin mengucap kata SYAH serempak.
kami lalu berdoa dengan hikmat, dan mengaminkan bersama. lalu dilanjutkan acara selanjutnya.
"Yang. nanti aku boleh joget sama Ramdan ke atas panggung Ya? "
Suamiku berbisik ke telinga ku. aku mengangguk dan tersenyum.
"tenang aku bawa Queen Kok. kamu juga boleh ikut naik nanti"
aku tersenyum dan sedikit menggeleng.
"aku gak biasa joget, belum pernah malah mas. mas aja nanti aku rekam dari bawah"
suamiku mengusap pucuk kerudungku.
"ikut naik aja, Yang gak joget juga gak apa. kamu cuma goyangin badan dikit nanti juga terbawa alunan musiknya"
aku hanya tersenyum menanggapi omongan nya. saat tamu yang lain menyantap hidangan yang di sediakan. aku dan Suami di panggil mertua ku untuk berfoto bersama. kemudian di susul keluarga mas zaenal dan keluarga ku yang dari Bandung.
setelah itu kami sama-sama menikmati acara penuh kegembiraan tersebut. aku dan ketiga anaku ikut naik ke panggung bersama kedua pengantin, orang tua dan suamiku. meskipun aku tak bisa berjoget. tanganku di ayun-ayunkan suamiku yang juga menggendong Queen sambil berjoget. lalu dia menurunkan Queen yang meronta ingin berjoget sendiri.
perhatian kini tertuju pada Queen yang berjoget dengan asik nya. aku tertawa melihat tingkah lucunya. suamiku menghujani Queen yang berjoget dengan uang saweran. artis panggung nya nampak gemas melihat tingkah bocah Tiga tahun itu. dia bernyanyi sambil jongkok di samping Queen yang berjoget dengan cuek nya sambil sesekali mencubit pipinya.
"hahaha. mirip ayah nya"
aku berbisik ke suamiku.
"hahaha. Iya. Mama nya gak bisa joget soale"
suamiku tertawa membalas ucapanku. kami sangat menikmati hari bahagia itu. kebersamaan keluarga sangat terasa kala itu. sampai keluarga yang lain berpamitan pulang satu persatu.
Jam sudah menunjukkan angka tiga sore. dan adzan ashar pun telah berkumandang.musik di hentikan sejenak. kami pun pamit pulang. tinggal menyisakan mertuaku yang menemani Ramdan sampai acara usai.
di sepanjang jalan pulang Queen tertidur di pangkuanku.
"Mass.. artis organ kecapek an"
aku mengelus rambutnya yang berkeringat. suamiku tersenyum ke arahnya.
"iya biarin aja Yang. dia joget terus dari tadi"
aku menahan tawaku agar tak membangun kan nya.
"hihi iya. kamu yang niat banget malah dia yang menguasai panggung. Pengantin aja sampai ikut menyingkir.jadi fokus ke Queen semua"
suamiku tertawa. di susul mbah dan Nange yang duduk di belakang.
"cicit ku ini memang paling lucu. menggemaskan"
seru Mbah.dan di barengi anggukan Nange.
"Nange jadi nyawer Queen akhirnya"
aku terkekeh sambil melihat ke arah nange dari kaca depan.
"Habis berapa Nang? "
Nange mengernyitkan dahinya yang mulai keriput. sambil mengingat -ingat.
"Satu juta mungkin ada. tinggal segini isi saku Nange"
Dia menujukan beberapa lembar uang lima ribuan yang ia keluarkan dari sakunya.
"Gak apa Nang. demi kebahagiaan cucu yang menikah. gak tiap hari juga"
suamiku menghibur Nange yang menilik-nilik uang sisa.
"Nanti Raina ganti Nang"
aku tersenyum ke arah nya.
__ADS_1
"eehhh gak usah Nduk. udah di niatin kok buat joget di nikahan Ramdan"
mbah juga tersenyum ke arahku sambil manggut-manggut.