Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
SESUATU YANG DI RAHASIAKAN BAB 69


__ADS_3

Beberapa jam kemudian Dokter keluar dari Ruang operasi.Suamiku segera berlari menemuinya. Bayi kami tak bisa di selamatkan karena memang usia kandungan yang masih muda dan kondisi bayi yang juga lemah. Tampak raut kesedihan menyelimuti semua keluarga terutama suamiku. Dokter menyarankan agar merahasiakan nya dulu dariku karena takut aku mengalami defresi pasca operasi yang tak terencana.


Saat aku mulai siuman di Ruangan bercat putih itu. mbak citra yang duduk di samping tempat tidur ku,tersenyum dan menahan bahuku agar jangan banyak bergerak.


"Tiduran saja dulu Neng, Neng habis operasi. gak boleh gerak dulu. kalau mau apa-apa bisa minta tolong aku Ya"


aku kemudian mengedarkan pandanganku ke sekeliling.


"bayiku mbak? "


Dia saling pandang dengan mertua ku.


mertuaku kemudian mendekat dan tersenyum ke arahku. sambil mengelus pucuk kepalaku.


"Bayimu sehat,Sekarang ada di Ruang inkubator di tungguin suamimu"


aku tersenyum dan menarik nafas lega.


"lkapan aku bisa melihat nya mbak? pasti ganteng seperti ayahnya ya? "


mbak Citra mengangguk dan tersenyum.


"iya sangat mirip ayahnya Neng, nanti kalau luka Neng udah kering baru boleh lihat. kondisi Neng juga sangat lemah kata dokter. sabar ya Neng.nanti kita lihat sama-sama "


mbak citra mengusap -usap lenganku. aku mengangguk dan kembali memejamkan mataku sejenak. merasakan efek obat dan perut yang mulai bereaksi pasca operasi.aku yang baru merasakan operasi cesar sedikit meringis saat luka itu mulai terasa perih.


"mbak, gini ya ternyata rasanya lahiran cesar. perjuangannya ternyata lebih berat setelahnya."


mbak citra mengangguk.


"iya lah Neng. kalau normal cuma pas kontraksi sama ngeden,kecuali yang di jahit. kalau ini kan sayatan nya lebih gede Neng. di perut lagi"


aku terkekeh sambil meringis.


"jangan ketawa dulu Neng. gak boleh batuk atau bersin juga usahain"


"oalah mbak. susah banget ya? katanya klw mau gerak juga harus hati-hati banget"


mertuaku tersenyum sambil mengusap lenganku.


"sabar. luka luarnya akan mengring lima sampe sepuluh hari kata nya. tapi kamu masih harus hati-hati. butuh waktu enam minggu sampai tiga bulan lukanya benar -benar mengering luar dalam."


aku mengangguk sambil merasakan sesuatu yang luar biasa di bagian perutku luar dan dalam.


...****************...


Sesudah lima hari aku di rawat karena kondisiku yang agak lemah akhirnya aku di ijinkan pulang. aku merengek ke suamiku untuk mampir ke ruangan Bayiku,tapi suami tak menuruti dengan alasan bayiku masih benar -benar belum bisa di ganggu.


"Sayaaang. lihat di kaca juga gak apa"


Dia tersenyum sambil terus mendorong kursi roda yang kunaiki.


"belum boleh sayang. yang ngasih sufor aja perawat.aku juga lihat jarang."


aku mengerucut kan bibirku. sambil


mendengus kesal.


aku melihat Queen di kursi depan di pangku Nurul melambaikan tangan ke arahku. seketika kesedihan ku hilang. dan berjalan hati-hati memasuki mobil ku.

__ADS_1


"Queen belum boleh di gendong mama ya sayang"


Nurul menahan Queen yang ingin pindah ke pangkuanku yang duduk di kursi belakang bersama mertua ku. mbah dan yang lainya juga ikut menjemput.


"mbah.. sudah lihat cicit laki-laki nya mbah? kata nya mirip banget mas zaenal. benar mbah? "


aku memutar kan badanku dengan hati-hati ke arah mbah yang duduk di kursi belakang ku.


"u...udah Nduk. I... i.. iya mirip zaenal"


aku mengernyitkan dahiku. heran dengan jawaban mbah yang terbata-bata. tapi aku tak begitu menghiraukan nya. mungkin mbah merasa kurang yakin karena hanya melihat dari kaca itupun dari kejauhan.


pikirku karena bayiku di inkubator juga jadi wajah mbah terlihat agak sedih.


sesampainya di Rumah aku di papah suamiku. dan langsung bersandar di pinggiran Ranjang di kamarku.


"sebentar ya sayang, aku bikin jus melon dulu. biar kamu segeran"


suamiku mengecup keningku kemudian berlalu meninggalkan ku. aku menarik nafas dan menghembuskan nya. melihat sekeliling kamarku sambil tersenyum.


"sayang,ini kamu yang beresin kamar tiap hari? "


aku bertanya ke suamiku yang menyodorkan jus melon ke arahku. dan kemudian aku meminum nya. dia mengangguk sambil kembali mencium keningku.


aku tersenyum dan mengusap wajahnya lembut.


Setelah Dua hari aku di rumah. hari keduanya aku melihat orang-orang sibuk lalu lalang ke rumah mertua ku. aku yang penasaran bertanya pada suamiku.


"mas, di Rumah Ibu ada acara apa sih? kok kayanya banyak orang bantu-bantu kaya masak gitu"


suamiku menoleh dan agak gugup.


dia kemudian membuang muka seolah ada yang di sembunyikan.


"mas, kamu gak lagi berbohong kan? kenapa harus di rumah Ibu, kenapa gak Di rumah kita? "


aku membalikan wajahnya ke arahku dengan memutar bahunya.


"sayang,,, kamu kan baru pulang.butuh istirahat dan ketenangan kalau di sini nanti berisik istirahat mu jadi terganggu"


oke kali ini masuk akal juga. tapi aku masih janggal dengan sikapnya. apalagi kalau aku tanya anaku. dia selalu bicara kalau mbak Citra yang bolak-balik ke sana, begitu pun dengan mbak citra yang selalu menolak panggilan video ku. dengan alasan tak boleh berisik.


saat acara di mulai aku juga di larang untuk mengikuti pengajian di sana. katanya biar ikut doa di sini saja sambil istirahat .aku menurut saja daripada banyak perdebatan.


saat suara pengajian di pengeras suara terdengar sampai Rumahku. Aku mengikuti dari dalam rumahku di temani Queen yang sedang bermain dengan game di notebook nya. meskipun terdengar samar. tapi ketika yang memimpin doa menyebutkan sebuah kalimat seperti untuk orang meninggal,seketika kecurigaan ku muncul lagi.


dan saat menyebut nama anak laki-laki dengan di sertai kata almarhu.aku semakin yakin kalau mereka menyembunyikan sesuatu.karena sebelum pulang aku sempat bertanya Nama yang dia berikan untuk anaku. suamiku memberinya nama Adiyaksa nur rahman. dan nama itu yang tadi terdengar di sebut.


kegelisahan mulai muncul di sertai amarah yang bergejolak. andai saja mereka benar-benar menutupi ini semua dariku,untuk apa?


akhirnya suamiku pulang dengan membawa beberapa kotak berisi nasi dan berbagai lauk.. serta kue-kue basah.


Dia tersenyum ke arahku kemudian membungkuk dan mencium keningku. aku menepis tangan nya saat dia mencoba memeluk ku.


"heyyy sayang. kenapa? "


aku menatapnya tajam dengan dada naik turun menahan emosi.


"katakan yang sejujurnya mas, acara apa tadi? TADI ITU ACARA TAHLILAN ORANG MENINGGAL KAN? "

__ADS_1


Aku meninggikan suaraku dengan nada yang bergetar.suamiku memeluku erat.


"maaf sayang, kami harus merahasiakan nya darimu. kondisimu saat itu sangat lah lemah. sehingga dokter pun menyarankan untuk tidak memberi tahu kamu dulu"


aku mendorong tubuhnya. dia meraih kedua tanganku. aku mencoba melepas nya tapi pegangan nya sangat erat.


"ja...jadi anak kita..?"


aku menggeleng dan menatapnya dengan air mata yang mengalir deras. dia memeluku yang masih mematung tapi dengan tangisan. bahkan pundaku berguncang karena rasa sesak yang menghujam dadaku. tubuhku terkulai lemas. dia menahan agar tubuhku tak terjatuh ke lantai.


"sayang....istigfar sayang"


dia menepuk pipiku pelan. melihat aku yang menangis tapi dengan tatapan kosong menerawang.


"astagfirullah.... astagfirullah al adzim"


dia menyebutkan kalimat istigfar di telingaku. lalu berlari memanggil Ramdan.


"Dan... Ramdan. panggil Ibu dan mbah Dan"


dia kemudian mengambil air putih dan mencoba meminumkan nya ke mulutku. tapi air itu malah tak tertelan. dia mengacak rambut nya gusar. kemudian memindahkan Queen yang tertidur di karpet ke kamarnya.


kembali memeluk dan mengusap-usap punggung ku sambil terus membisikan kalimat istigfar ke telinga ku.


tak berapa lama mertua ku dan mbah datang. kemudian di susul pak ustadz yang memimpin tahlilan tadi.


pak ustadz membacakan beberapa ayat suci di hadapanku. suara tangisku kembali terdengar meskipun di barengi teriakan histeris menyebut nama anaku.


suamiku memeluku erat sambil menghujani ku dengan ciuman.


"gak apa dia hanya syok. ayo Neng luapkan saja biar plong. tapi habis itu berhentilah menangisi yang takan kembali. lebih baik doakan yang terbaik. insyaallah Bayi Neng akan menjadi penuntun untuk Neng masuk surga"


pak ustadz menasihatiku sambil menepuk bahuku. seketika tangisan ku mulai mereda. suamiku membenam kan kepalaku di dadanya sambil terus memeluku.


dan memberiku minum air yang sudah di bacakan doa oleh pak ustadz.


"suwun pak ustadz"


suamiku mengangguk ke arah pak ustadz yang hendak berpamitan.


"Yang sabar Nduk, maaf kami selama ini menutupinya"


mbah mengelus kepalaku yang berkeringat.


"bawa ke kamar Nal. temani istirahat "


mertuaku menyuruh suamiku membawa ke kamar.


dia memapahku. dan sesekali menyelip kan rambutku yang terurai ke telinga ku.dan membaringkanku di tempat tidur.


aku meringkuk dan membelakanginya. dia ikut meringkuk dan memeluk ku dari belakang. menciumi kepalaku dan leherku.


aku membalikkan badanku hingga menghadap nya.


"maafkan aku sayang"


tangan nya menarik kepalaku dan mendekatkan dengan kepalanya. lalu mengecup keningku dan ******* bibirku. lalu melepaskan ciuman nya. dan membenamkan kepalaku di dadanya.


"istirahatlah Sayang"

__ADS_1


dia mengelus -elus kepalaku hingga aku terlelap di pelukan nya.


__ADS_2