Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
MUSIBAH MENJELANG PERSALINAN BAB 43


__ADS_3

Tinggal menunggu satu minggu lagi dari tanggal yang di perkirakan Bidan tempatku periksa tiap bulan. alhamdulillah tidak ada kendala pada kesehatan kandungan ku. sehingga insya allah aku bisa melahirkan secara normal.


Pagi itu saat suamiku hendak berangkat kerja. saat kulihat punggungnya menjauh dari pandangan ku. ada rasa tak enak hati di dalam dadaku. bayi di dalam perutku pun seolah merasakan yang sama. Dia terus bergerak sampai aku harus bolak-balik kamar mandi karena gerakanya yang menyebabkan aku ingin buang air kecil terus menerus.


Di saat jam istirahat nya suamiku. aku juga semakin gelisah. bergegas aku mengirim pesan padanya.


[mas, perasaan ku gak enak hari ini. kamu baik-baik saja kan di tempat kerja? ]


kemudian tertera keterangan mengetik di situ.


[mungkin kamu mulai tegang Yang. seminggu lagi proses persalinan mu. tenang saja mulai besok kan aku sudah mengajukan cuti untuk menemani mu menjalani semua proses itu. tenang ya Sayang. aku mulai kerja lagi.]


mungkin benar yang dikatakan nya. aku tegang menghadapi masa persalinan yang tinggal menghitung hari. aku berdzikir terus menerus untuk meredam rasa yang saat ini aku rasakan.


Hingga selesai sholat isa aku belum mendengar suara motor suamiku. biasanya dia pulang sebelum magrib. aku mencoba menghubungi nya dengan mengirim pesan tapi tidak di baca sama sekali. lalu aku mencoba menelpon nya. sama tak di angkat padahal aktif.


aku coba menyuruh adik iparku.


"Dan,mbak minta tolong cari tahu. mas mu kok jam segini belum pulang"


Ramdan segera mengiyakan perintahku. kemudian pergi mencari tahu dengan motornya.


selang berapa lama panggilan masuk dari Ramdan. lalu aku angkat.


"mbak, tapi tolong mbak jangan panik ya"


dia menggantung kalimatnya.


"iya. mbak gak panik ada apa Dan? "


aku menghela nafas mengatur detak jantung yang berpacu cepat. sambil terus beristigfar.


"aku dapat informasi dari temanku. pabrik tempat mas kerja kebakaran. saat ini aku dan temanku sedang menuju ke sana untuk memastikan"


kemudian dia mematikan sambungan telepon nya sepihak.

__ADS_1


aku menjerit histeris.


"Astagfirullah, masss"


Ibu mertua dan ayah berlari menghampiri ku yang menangis sejadi-jadinya. aku menjelaskan ke mereka sambil menangis.


"wes Yah, susul Ramdan sana. pastikan kondisi zaenal"


"kamu tenang Nduk. berdoa semoga suamimu gak kenapa-kenapa"


tubuhku terasa lemas. Ibu menuntunku masuk kamar. tak berapa lama mbah dan keluarga yang lain berdatangan. menunggu kabar dari Ramdan Dan Ayah. jam sudah menunjukkan jam sebelas malam. belum ada kabar dari ayah dan Ramdan.


sampai akhirnya suara motor terdengar di teras rumah. aku yang hendak terbangun di tahan Ibu agar tetap di posisiku.


terdengar suara mbah yang menangis histeris. akupun menyebut nama suamiku dari kamar sambil berteriak meskipun tak tau kondisi yang sebenarnya.


kemudian Suamiku masuk menghampiri ku. dengan tangan kanan nya yang di balut perban sampai sikut. Dia memeluku dengan tangan kirinya dan mencoba menenangkanku yang masih histeris.


"sut sut Sayang. aku gaj kenapa-napa hanya luka bakar sedikit di tangan. kasihan anak kita. udah nangisnya. aku masih selamat kan"


"benar kan firasatku tadi pagi. andai saja aku suruh kamu balik lagi tadi mung.. "


dia menutup mulutku dengan jari telunjuk nya.


"suttt gak boleh gitu. namanya juga musibah. yang ikhlas"


kembali dia membenamkan wajahku di dadanya. semua keluarganya saling menanyakan kronologis kejadian pada suamiku. mereka mengobrol sampai subuh di rumahku. Suamiku duduk bersama mereka sambil bercerita. aku di temani mbah dan mbak citra di kamarku.


"tidur Neng. nanti kamu sakit. suamimu hanya luka ringan. alhamdulillah masih selamat"


dia mengusap tanganku. kemudian adzan subuh sudah terdengar. mereka pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing. suamiku masuk ke kamarku. menciumi perutku tak henti. kemudian tangan kirinya mengusap air mataku yang masih mengalir.


"Tidur sayang, sini aku peluk "


aku membenam kan wajahku di dadanya dan tertidur.jam sembilan terdengar suara mbah mengantarkan makanan untuk sarapan kami.

__ADS_1


"Ndak usah masak dulu Nduk. kamu belum tenang. biar mbah yang antar sementara."


aku mengangguk. mengambilnya untuk suamiku dab menyuapinya. karena tangan kanan nya terluka.


"besok aku masak sendiri mbah gak usah mengantar makanan "


aku tersenyum ke arah mbah. dengan mataku yang bengkak karena menangis semalaman. mbah kemudian pamit hendak ke kebun.


"semoga nanti pas kamu lahiran tanganku sudah agak baikan ya Yang. tapi aku pasti berusaha nemenin kamu ko sayang."


sambil mengelus perut ku yang makin membuncit dan mengeras.


"perasaan makin hari kok makin mengeras ya Yang?"


Aku tersenyum.


"iya lah Yang. tinggal empat hari lagi dia keluar. posisinya juga semakin ke bawah mendekati jalan keluarnya "


"masa sih. aku mau lihat"


dia menarik dasterku ke atas hingga terlihat perut ku yang polos. dan meraba bagian bawahnya.


"iya Yang sudah dekat ke sini"


sambil meraba bagian intimku yang di tumbuhi bulu halus. aku memukul tangan nya. kemudian menutup kembali daster ku. takut ada orang masuk karena pintunya gak di kunci.


"Tapi nanti malam aku mau ngasih jejak untuk bayiku. mau ngasih tau ini lho jalan keluarmu Nak"


dengan senyum genitnya dia menggodaku. aku mencubit perut nya.


"dengan tangan seperti itu? "


aku menujuk tangan nya yang terluka.


"tapi kan masih bisa yang kiri. lagian yang masuk kan senjataku.weeee"

__ADS_1


Dia menjulurkan lidahnya. aku terkekeh sambil berdiri menyimpan piring kotor. kemudian memberikan obat untuk nya.


__ADS_2