Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
MERANTAU BAB 31


__ADS_3

Esok sore nya aku dan suami bersiap dan berpamitan kepada seluruh keluarga. suamiku menciumi kedua anaku dan memberinya amplop kepada keduanya. tak lupa dia memberikan nasihat. kemudian mencium tangan Ibuku dan menyelipkan amplop pula. lalu menitipkan anak-anak padanya.


kami pun menuju terminal di antar Evan dengan mobilnya. sekalian dia juga akan kembali ke Bogor.Evan menunggui kami hingga naik Bis..


"Pamit ya Van. sehat dan Baik-baik. titip Ibu dan anak-anak"


suamiku menyalami nya dan menepuk pungungnya pelan.


aku hanya tersenyum sambil menahan air mata. baru kali ini aku benar -benar jauh dari mereka. biasanya tak pernah sampai beda propinsi.


"Siap mas. tenang saja.mas juga baik-baik di sana jaga kesehatan. titip kakaku ya mas."


Evan menunduk dengan kedua tangan tertungkup di dada.


kami pun segera masuk ke Bis. dan duduk di kursi yang telah di beri nomor sesuai yang tertera di tiket. aku dan suami melambaikan tangan ke arah Evan dari balik jendela hingga Bis yang kami tumpangi melaju dan menjauh.


setelah duduk dengan tenang. suamiku mengambil ponsel di dalam ransel nya. sementara koper di simpan di bagasi.


"Aku hubungi dulu orang di kampung ya sayang. ta kasih kabar kalau kita sudah berangkat"


Aku mengangguk sambil tersenyum. Dia asik mengetik pesan di ponsel nya dengan jari tangan kirinya. sementara tangan kanan nya menggenggam jemari tanganku dan menciumi berulang-ulang. aku tak mau terlalu mencari tau apa yang dia ketik. kemudian ku arahkan pandanganku ke luar di balik kaca mobil di samping ku.


"Yang"


dia membalikan wajahku lembut dengan jari telunjuk nya ke arahnya.


"Hmmh kenapa?"


aku tersenyum ke arahnya.


"Kata orangtua ku barusan lewat pesan nya mengatakan. kalau mereka telah menyiapkan rumah terpisah walaupun cuma satu kamar dan ruang depan. tak apa ya. yang penting kita pisah Rumah walau masih bersebelahan."


aku kembali mengangguk dengan senyuman.


" maaf juga tapi tak sebagus Rumahmu. belum ada lantainya. pinggir nya juga masih bata dan atapnya tak ada plafon nya. tapi nanti bisa di pasang karpet kok sayang"


Dia mengelus pipiku dengan punggung tangan nya. aku meraih tangan nya dan mengecup nya.


"Gak apa-apa suamiku. itu juga cukup. nanti kalau ada rezeki kan bisa di percantik sedikit-sedikit"


aku mengelus lengan nya. kemudian bersandar di bahunya.


"Yaudah. tidur biar gak pusing"


Dia mengecup lembut pucuk kepalaku yang tertutup kerudung. sepanjang jalan tangan kami tak lepas saling genggam. dan aku tertidur sambil bersandar di pundaknya. dengan kepala saling menempel.


...****************...


perjalanan sudah berjalan enam jam. Bis yang kami tumpangi tiba di sebuah Rest Area untuk beristirahat. Suamiku membangunkanku yang masih terlelap di bahunya.


"Yang. bangun kita turun untuk cari makan.aku juga mau ke toilet"


Dia menepuk pipiku pelan. aku menggeliat menoleh ke sisi Bis..kemudian berdiri dan menggeliat merenggangkan otot dan persendian kaki serta tanganku yang pegal duduk berjam-jam.


"Ayo turun"


Dia menuntunku untuk turun dari Bis dan mencari tempat makan.


"Aku ke toilet sebentar. kamu mau juga atau nunggu di sini? "


aku memilih mengikuti nya ke toilet. dan masuk ke toilet wanita di sebelah nya. untuk membasuh muka sekalian buang air kecil. dia sudah menunggu ku di depan toilet dan kembali menuntun tanganku. aku mengikuti nya hingga duduk di sebuah bangku di depan Kedai-kedai yang berjejer.


"Kamu mau makan apa Yang? aku akan memesan kopi hitam untuk menyegarkan badanku. kamu mau mie? "


aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya. tak berapa lama dia datang dengan dua mangkuk mie Rebus,kopi hitam yang masih mengepul asapnya. satu cangkir teh manis, dan satu botol air mineral dingin.


"Ayo makan Yang. istirahat nya gak lama lho. teh manis untukmu."

__ADS_1


sambil menyodorkan teh manis hangat ke depan ku. kemudian kami menikmati nya. selang berapa lama Kondektur Bis menyuruh kami segera bersiap masuk kembali. dan setelahnya kami melanjutkan lagi perjalanan.


"ini masih lama ya mas?pinggangku udah panas banget ini"


aku bertanya pada suamiku saat Bis mulai berjalan lagi.


"Ini baru setengah jalan sayang. masih enam jam sampai terminal nya. terus nanti kita naik lagi Bis kecil menuju ke kampung ku."


Dia menjelaskan sambil mencuil daguku dengan telunjuk nya.


"trus Abis itu sampe depan Rumah? "


aku yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Rumah suamiku sebelumnya. karena kisah percintaan kami yang Dramatis. layaknya Sinetron di tv.


"gak yang. nanti ada yang jemput pake motor. Bu lek sama adeku. masih setengah jam dari pemberhentian"


aku menepuk jidatku dan pura-pura terkulai lemas bersandar ke kursi jok.


"Hahaha.. aku ini orang kampung sayang. nanti kamu tau sendiri"


Dia tersenyum sambil merangkulku. di sepanjang jalan dia bercerita tentang kampung nyq. keluarga, orang -orang nya. sampai aku tertidur kembali.


Aku terbangun ketika sinar sang fajar menyelusup di balik tirai kaca Bis. di saat yang bersamaan Suamiku tersenyum.


"Baru saja aku mau membangunkan mu. tuh sudah mau sampai di terminal.sudah kelihatan gerbang nya"


Dia menunjuk ke arah terminal. aku tersenyum dan membenahi penampilanku. ketika Bis mulai berhenti, orang-orang mulai turun. tiba-tiba perutku malah mual. aku menarik tangan suamiku. ku rogoh kantong keresek bekas snack dan memuntahkan isi perutku di situ.


"Oalah.. sudah sampai baru muntah..Hahaha aneh"


Dia tertawa melihat tingkahku. kemudian memapahku keluar dengan menggendong Ransel dan membuang kantong isi muntahan ku ke tempat sampah di bawah jok tempat duduk kami.


Jam enam pagi tepat kami sampai di terminal.


" cari sarapan dulu Yang. perutmu harus di isi lagi setelah muntah tadi. sambil menunggu Bis arah kampungku"


Diq menuntun ku ke arah warung-warung yang berjejer. aku yang masih agak pusing hanya mengintil saja.


Dia mengajaku masuk ke sebuah warung nasi yang menyediakan aneka makanan khas jawa timur termasuk Rawon. aku yang belum pernah mencoba nya mengangguk dengan semangat. kemudian duduk dan dia memesan Dua porsi berikut nasi dan kerupuk. serta air teh manis hangat.


"Bis nya nanti mangkal di depan warung ini Yang. "


sambil menunjuk ke arah jalan depan trotoar.


" lama mas? "


aku kembali bertanya.


"ya sampai penuh penumpang nya. sebenarnya jaraknya tak begitu jauh kalau naik motor. tapi karena naik bis kan kadang banyak berhenti untuk menurunkan atau menaikkan penumpang, jadi perjalanan nya akan sedikit lama"


Dia menjelaskan sambil meminum teh nya hingga habis.


"Ayo habiskan. tuh Bis nya sudah ada"


Dia menujuk ke arah Bis yang berhenti tepat di depan warung tempat kami makan. aku bergegas menghabiskan sarapanku dan teh nya. lalu memilih kursi paling belakang agar koper kami tak terlalu jauh dengan pintu keluar.


Bisnya kemudian berjalan setelah penumpang nya penuh. di tengah perjalanan ada juga yang turun dan kemudian ada juga yang naik dengan membawa bakul jamu. ada juga anak sekolah. dan di jok paling belakang tempatku dan suami duduk ada juga Ibu-ibu yang membawa ayam.


"Arep ning pasar mbah? "


(mau ke pasar mbah)


Suamiku bertanya pada Ibu yang membawa ayam kampung banyak itu. aku hanya manggut sambil tersenyum ke arahnya. satu jam setelah itu suamiku memberiku isyarat untuk bersiap turun dengan menepuk pahaku dan mengangguk. kemudian dia berdiri dan berteriak ke sopir nya.


" perempatan pak"


aku pun ikut berdiri dan begeser mendekati pintu.kemudian Bis berhenti aku turun duluan. suamiku menyeret koper kami sambik menggendong Ransel juga di punggung nya.

__ADS_1


"kamu duduk di situ, aku telepon dulu adiku"


Dia menunjuk ke arah pos kamling di pinggir jalan itu. tak berapa lama dua motor menjemput kami. aku menyalami Bu lek lalu naik ke motornya. dan suamiku di bonceng adeknya. hanya kurang dari setengah jam kami pun sampai di Rumah mertua ku.


keluarga dan tetangga terdekat sudah berkumpul dan menyambut kedatangan kami. aku tersenyum dan menyalami mereka semua. kemudian duduk di antara mereka.


"ora muntah nduk? "


(gak muntah nak*sebutan untuk anak perempuan dalam bahasa jawa *)


mbah atau Nenek nya suamiku bertanya kepadaku. aku tersenyum sambil mengangguk .


"Muntah de'e.tapi wes teko terminal. anehh yo. haha"


(Muntah dia. tapi udah sampe terminal Aneh kan)


suamiku tertawa di susul dengan gelak tawa keluarga nya.. kemudian mereka mengobrol dengan bahasa nya mereka. aku yang belum mengerti hanya tersenyum. dan mengetik pesab di ponsel ku untuk mengabari keluarga kalau aku sudah sampai dengan selamat.


Setelah itu Suamiku mengajaku makan dan langsung menuju Rumah yang di ceritakan itu untuk beristirahat. terlihat sebuah kasur sudah tergelar di situ, dengan di alasi karpet pelastik di bawahnya. suamiku menepuk kasur itu dan menyapunya dengan kain sarung lalu merebahkan diri di atasnya.


"Sini sayang. maaf tak senyaman dan tak seempuk kasur di rumahmu"


Dia merentangkan kedua tangan nya. aku kemudian mendekati dan merebahkan diri dalam pelukan nya.


"Panas ya di sini Yang. tak seperti di Bandung"


Aku mengibas-ngibas tangan ke tubuhku.


"iya..sebentar sayang aku ambil kipas di Rumah Ibu. bekas kamarku yang sekarang di pake adek ada kipasnya. ta pindah sini"


Dia beranjak mengambil kipas angin. kemudian kembali dan memasangnya di kamar kami.


" Naahhh udah gk panas lagi kan sekarang. tempur nanti malam bisa lebih ganas nih. gak terganggu dengan rasa gerah"


Dia memencet hidung ku dan mengedipkan sebelah matanya Genit. aku pura-pura jijik dengan bergidig dan menjauh. Dia malah menggelitiki perut ku. hingga aku terpingkal di kasur.


"Yang.. Mau? "


Dia kembali berlaku genit dengan mengerucutkan mulutnya. aku menutupnya dengan telapak tanganku.


"Gak ah. masih siang banget ini"


aku mengangkat kedua bahuku. dan tidur membelakanginya. Dia memeluku dari belakang. dan meletakan mulutnya di leher belakangku. nafasnya terasa berhembus di tengkuk ku. kemudian aku merasakan di bagian belakang ada sesuatu yang mengeras. aku pura-pura tak tau saja. padahal dalam hatiku ingin sekali tertawa.


"Yang, udah tegang ini. sakit tauuu. tersiksa begini"


Dia meraih tanganku dan menempelkan di bagian yang mengeras itu. aku memencetnya sambil menjauh.


"Aaawww.sakit sayang. nakal ya istriku "


Dia terbangun dan menindih ku.menghujani leherku dengan ciuman.. aku tertawa geli sambil meronta mencari kebebasan. tapi dengan cepat dia melorotkan ****** ***** di balik rok ku. membalikan tubuhku jadi tengkurap. menarik perut dan bokongku sehingga poisi tubuhku agak sedikit membungkuk seperti mau merangkak.


"Sekarang aku bebas tak seperti di Rumah ibumu yang takut terdengar oleh orang-orang"


dengan nafas memburu Dia melalukan nya dengan gaya ku yang menungging memunggunginya.


"Awww,sa aaakitt"


aku sedikit merasa kesakitan pada posisi seperti itu. tapi dengan seperti itu aku malah duluan mencapai puncak nya.kemudian Dia membalikan tubuhku yang hampir terkulai. kali ini dia menyimpan kedua kakiku di pundaknya. dia mempercepat gerakan nya.


"Aaahhh."


Dia mengerang dan kemudian menghentikan aktivitas nya. lalu terkulai di samping ku.


"Kamu itu maksa banget Yang. mana panas tengah hari ini"


dengan nafas yang masih tersendat aku mengelap keringat suamiku di keningnya dengan tanganku.

__ADS_1


"Wajar lah Yang bertahun-tahun aku menahan nya. sekarang aku mau puas-puasin. kan udah halal. siapa yang mau larang"


Dia bangkit dan mencium keningku. lalu tidur siang.kali ini tak ada acara pelukan aku belum terbisa dengan cuaca panas di tempat ini. bahkan suamiku hanya mengenakan celana bokser dan kaos dalam.


__ADS_2