Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
MINTA DINIKAHI BAB 82


__ADS_3

Queen sudah mulai bisa beradaptasi dengan Guru barunya. saat pulang sekolah juga sekarang tak pernah mengeluh lagi kalau Bu Ayu gak asik.


sekarang juga dia sendiri yang meminta agar aku tak menunggui nya di sekolah. dia meminta ku atau ayahnya untuk mengantar dan menjemput nya saja.


suatu malam setelah selesai sholat isa. aku mendengar suara bel rumah kami berbunyi. aku membuka pintu garasi dan melihat Kiki berdiri di depan nya. aku mempersilakan nya masuk.kemudian aku memanggil suamiku.


"Queen sudah tidur? "


dia mengedarkan pandangan nya ke semua sisi ruang.


"sudah Bu. sehabis ngerjain tugas nya tadi"


aku menyodorkan secangkir teh ke hadapan nya. lalu duduk di samping Suamiku. posisi duduknya berseberangan dengan kami.


"Ada apa Ki? malam-malam kamu datang. dan tak seperti biasanya"


suamiku mengawali pembicaraan nya dengan wajah datar.


"maaf,sebelumnya jika kedatangan ku mengganggu ketenangan kalian"


dia menatap wajah suamiku sangat lekat tanpa memperdulikan aku sebagai istrinya.


"bicaralah,gak usah basa-basi"


nada bicara suamiku agak meninggi. aku mengusap lengan nya untuk sedikit menenangkan nya.


"zaenal... "


Dia merengkuh dan bersimpuh di kaki suamiku sambil menangis.


suamiku spontan mengangkat kaki nya ke atas kursi dan menghindar .


"apa-apaan kamu Ki? "


aku berdiri sambil menutup mulutku dan bersandar ke dinding.


"zaenal.. aku menyesal dulu memilih menikah dengan orang lain. padahal aku sudah menyerahkan kesucian ku sama kamu"


suamiku menepis tangan nya yang terus meraih kaki nya.


"jujur, sampai aku bercerai aku masih masih mengharapkan kamu akan menikahiku"


dengan derai air mata dia tertunduk di bawah tempat duduk suamiku. suamiku tertawa sampai kepalanya menengadah ke atas.


"hahaha. lucu kamu Ki. kenapa dulu tak sabar menunggu?kenapa tak mencoba terus menghubungi ku? padahal jelas kamu punya kontak ku"


suamiku kini berdiri dan memeluku yang masih mematung.


"lupakan semuanya Ki, aku sudah punya istri yang sholeha dan anak yang cantik dan pintar. allah telah mengganti semua yang hilang dan pergi dengan yang jauuuuhh lebih baik"


Dia merangkak meraih kakiku kali ini.


"mbak, tolong mbak.. mbak juga sama perempuan, izinkan suamimu menikahiku walau pun hanya satu hari saja tak apa. sebagai tindakan pertanggungjawaban nya dulu yang telah... "


suamiku mengangkat tubuhnya dan mendorongnya.


"pergi Ki.. pergiiii"


Dia mengacung kan telunjuknya ke arah pintu. tangisan kiki semakin kencang dan kembali merangkul kakiku.


aku mencoba menghalau air mataku agar tak tumpah. sambil menengadah ke atas langit-langit.


"beri aku waktu untuk berpikir, pulanglah dulu. nanti aku akan mengabarimu"


aku mengangkat tubuhnya hingga berdiri. dia mengusap air matanya. lalu pamit pulang.


Brak


suamiku membanting pintu sangat keras dan menuntunku masuk kamar.


"Raina. apa lagi yang mau kamu pikirkan? "


Dia mengacak rambutnya.dan duduk memegangi kepalanya sambil menunduk di sampingku.


"mas, perempuan mana yang rela di madu. gak ada mas. tapi perempuan mana yang tak sakit jika orang yang telah merenggut kesucian nya harus menikah dengan orang lain"


Suamiku kembali menatap ku tajam.


"BUKAN AKU YANG TAK MAU,TAPI DIA YANG MEMILIH LAKI-LAKI LAIN"


dia berbicara sangat keras hingga aku menutup telingaku.


"Berarti kamu mau kan sekarang? "


Dia meninju tembok di sebelahnya.


"Raina,, istri macam apa kamu iniiiii.. sholeha kah? atau ini semua untuk menutupi rasa cemburumu?aku benar -benar tak mengerti isi otakmu"


aku tersenyum sinis.

__ADS_1


"cemburu...tentu mas. istri mana yang tidak cemburu ketika masalalu suaminya kembali datang di kehidupan barunya. tapi seperti yang dia katakan. kamu harus tanggung jawab atas dosa mu dulu. aku juga perempuan mas. punya perasaan yang sama. hanya saja mungkin aku tidak akan seberani dia. aku akan memilih diam dan menerima takdir."


aku menghela nafas dan menyeka air mataku.


"cinta nya teramat besar untukmu mas. sehingga dia mengesampingkan perasaan yang lain untuk memperjuangkan kamu kembali ke sisinya"


Suamiku memeluku.


"lalu.... kamu mau aku menikahinya?"


aku mengangguk dalam pelukan nya.


"Raina...hatimu terbuat dari apa sih? kamu selalu mengorbankan perasaan mu untuk orang lain"


Dia mengelus rambutku dan mencium keningku.


"besok kabari dia mas. bilang kamu akan menikahinya "


Dia menetes kan air matanya sambil terus menciumi ku.


"baiklah. tapi aku tak mau secara resmi. hanya akan menikahinya secara agama. dan setelah itu aku akan kembali menalaknya. tanpa menyentuhnya sama sekali"


aku mengangguk sambil tersenyum. dan mencium tangan nya.


"astagfirullah. ya allah cobaan apa lagi yang engkau berikan ke kehidupan Rumah tangga kami ini"


dia menengadah sambil terus memeluku.


...****************...


keesokan paginya suamiku menghubungi Kiki. aku memberi nomornya setelah aku dapat dari grup sekolah Queen.


dia berbicara melalui sambungan telepon yang sengaja di loadspeaker agar aku bisa mendengar percakapan mereka.


"Baiklah mas, aku setuju dengan syarat mu. asal aku di nikahi"


suamiku meraih tanganku dan menggenggam nya.


"oke, aku juga mau hitam di atas putih tentang semua perjanjian nya. dan satu lagi. tak ada kamera atau apapun. kamu juga hanya boleh membawa wali dan satu saksi saja. jika itu kamu langgar aku batalkan semua "


suamiku berbicara sangat tegas. rahang nya terlihat keras menahan amarah. aku kembali menenangkan nya dengan mengelus lengan nya. lalu dia memutuskan sambungan nya sepihak.


"sayang... aku sudah tak bisa berkata apapun"


dia berlutut dan memegangi kakiku.


aku mengelus dadaku sendiri.


"maafkan aku Raina. karena dosa-dosaku dulu. kamu harus ikut menanggungnya saat ini, suami macam apa aku"


aku memeluknya dan mencium kepalanya. tubuhnya berguncang seiring suara tangisan di pelukan ku.


aku mengelus punggung nya sambil memapahnya untuk duduk. badan nya kembali membungkuk dan membenamkan kepala nya di pangkuan ku. aku terus mengelus kepalanya. dengan pandangan menerawang. membayangkan saat hari ijab Qobul suamiku sendiri bersama wanita lain di hadapanku.


"Queen pulaaaaangg. assalamualaikum "


kami tersentak. kemudian mengusap air mata kami dan bersikap seolah tak ada apa-apa di depan Queen.


"waalaikumsalam anak ayah. segera ganti baju dan makan ya sayang"


suamiku meraih kepalanya dan mencium kening nya. begitupun dengan aku. Nurul segera menuntun nya. sambil melihat ke arah kami. Aku dan suami sudah menceritakan semuanya ke keluarga langsung setelah kesepakatan ku malam kemarin bersama suami. keluarga hanya pasrah dan menyerahkan kembali keputusan kepada kami. yang terpenting semua akan baik akhir nya.


...****************...


waktu nya tiba. selesai sholat subuh,aku menyiapkan pakaian suamiku yang akan di gunakan untuk akad jam sembilan nanti.


aku juga menyuruh Nurul dan Ramdan untuk membawa Queen bermain sepulang sekolah di luar. agar tidak mengetahuinya.


"sayang, kamu tegar sekali. bahkan kamu mempersiapkan semuanya ini dengan tenang"


aku tersenyum sambil merapikan kerah baju koko warna putih yang di kenakan suamiku.


"aku sudah sholat istikhoroh mas. dan aku insyaallah ikhlas"


aku mengusap dada suamiku.


dia memeluku erat. dan berkata di telinga ku.


"masyaallah istri ku. aku saja sebagai laki-laki tak bisa sekuat kamu sayang"


aku melepaskan pelukan nya dan mengajaknya keluar untuk menunggu kedatangan kiki dan penghulu.


setelah semua kumpul. suamiku membacakan surat perjanjian yang di tandatangani oleh mereka dan para saksi. suamiku hanya mengundang ustadz untuk menikahkan nya. ayah dan nange sebagai saksinya.


aku duduk di antara mertua dan mbah. yang saling memeluku.


saat ijab itu di ucap. aku memejamkan mata..air mata meluncur sangat deras. dadaku serasa di tanjap benda yang sangat tajam. aku meremas dadaku. mertua ku meraih kepalaku dan menyandarkan di bahunya sambil mengelus kepalaku.


terdengar suara isak tangis mereka yang memeluku.

__ADS_1


"Kiki novita sari binti andriansyah. saat ini juga saya talak kamu di hadapan para saksi"


suamiku menjatuhkan kembali talak. sebelum kiki mencium tangan nya. Dia menangis meraung -raung dan berkali-kali meraih tangan suamiku yang menjauh dan merangkulku.


"Ikhlas lah Ki. bukankan permintaannya hanya sampai aku menikahi mu saja. dan kita sudah sepakat di surat perjanjian itu"


suamiku dengan wajah sayu namun tegas menjelaskan ke Kiki.


"iya mas, tapi tidak langsung begini. apakah kamu tidak mau melakukan kewajiban mu dulu terhadap aku yang beberapa saat lalu telah jadi istrimu? "


suami ku menggeleng sambil tetap memeluk ku.


"tidak ki. tugasku hanya bertanggung jawab atas perbuatan ku dulu. dan itu sudah aku penuhi. asal kamu tau. ini juga atas desakan istriku. jadi mana mungkin aku menyakitinya dengan menjamahmu. tidak mungkin Ki. cukup sekali dulu aku melakukan nya."


Kiki terus meraung dan di tenangkan oleh kakaknya yang jadi wakil ayahnya sebagai wali. dan juga saksi. kemudian pak ustadz memberikan pencerahan padanya.


"mbak Kiki. seharusnya legowo sama seperti mbak Raina. istri seperti mbak Raina sulit sekali di temukan.tak ada istri yang rela suaminya menikahi wanita lain di hadapan nya. bahkan dia rela menyiapkan semua ini untuk memenuhi permintaan anda. apakah mbak kiki tega membalas semua kebaikan nya dengan menuntut sesuatu yang akan lebih menyakiti nya? saya yakin mbak Raina tidak mudah untuk mengikhlaskan semua ini. proses nya sangat menyakitkan. saya yakin"


Aku mendekat dan meraih tangan Kiki.


"Ki,,maafkan dan ikhlas kan semua kesalahan suamiku di masa lampau. insya allah. allah akan memberikan ganti yang terbaik untukmu"


aku merengkuhnya dan memeluknya. tangis kami pecah bersamaan.


"makasih mbak Raina. kamu sudah rela berbagi suami meskipun hanya beberapa menit saja. tapi saya senang dan lega sekarang. doakan saya bisa ikhlas seperti mu mbak. dan bisa melupakan suamimu"


aku mengangguk dan mencium keningnya.


"insyaallah, kamu bisa Ki. teruslah berdoa minta yang terbaik sama allah"


setelah selesai dan kiki kembali tenang. semuanya berpamitan. aku mengantar Kiki sampai depan garasi dan kembali memberinya pelukan. suamiku menghampiri ku dan memeluku sambil mencium pucuk kepalaku.kami melambaikan tangan ke arah mobil yang di naiki Kiki.


aku dan suami kembali ke dalam dan duduk berbincang dengan pak ustadz dan yang lain nya.


"Masyaallah, saya salut dan kagum sama mbak Raina ini"


pak ustadz mengacungkan jempol nya ke arahku.


"saya hanya tidak ingin suami saya menanggung dosa seumur hidupnya pak ustadz, jujur saya juga perempuan biasa. hati saya juga sakit pak, apalagi pas tadi ketika suami mengucap ijab di hadapan saya"


aku menatap suamiku yang tersenyum ke arahku.


"syurga mbak... syurga balasan nya untukmu"


"aamiin pak ustadz"


aku mengangkat kedua tanganku mengaminkan.


"mas zaenal,bersyukurlah dan jagalah selalu jiwa dan raganya.dia benar-benar bidadari syurga yang allah kirim untuk mu"


suamiku mengangguk dan memandangi wajahku. aku menunduk dan tersipu.


setelah berbincang cukup lama satu persatu pamit pulang ke rumah nya. tinggal aku dan suami.


Dia memangkuku masuk kamar.


"sayang,gak usah nunggu malam ya? kita siang pertama saja"


aku tertawa.


"hahaha.. akadnya sama siapa yang di belah siapa? "


aku mencuil ujung hidungnya.


"terimakasih ya allah. engkau telah menganugerahkan istri sholeha untuku."


dia mengecup keningku dan turun dan terus turun.


"mas... "


aku mendorong badan nya.


"apa sayang? "


"pintunya... "


aku menujuk ke pintu kamar yang masih terbuka. kemudian dia menutup dan menguncinya.


Dia loncat keatas ranjang dan melancarkan sunnahnya pada istri pertamanya. setelah menikahi istri keduanya.


setelah selesai. dengan bercucuran keringat. dia meraih remote AC dan menyalakan nya. aku meraih semua pakaian ku dan mengenakan kembali. aku kemudian memberikan pakaian nya ke arahnya. dia berdiri dan memakai nya.


"makasih sayang"


dia kembali mengecup keningku. aku memeluknya dan membenamkan kepalaku di dadanya.


"tidur lah. nanti pas mau solat ashar kita mandi bareng dulu ya sayang, aku kangen di mandiin kamu"


aku terkekeh dan tertidur di pelukan nya.

__ADS_1


__ADS_2