
Dari sini aku dan zaenal memulai kembali pertemuan yang sempat terpisah lama. meskipun tidak bertemu secara langsung tapi cukup terobati dengan bisa melakukan percakapan dan bertatap muka lewat video call.
meskipun kadang aku teringat Surya. Dia selalu memanggil ayah ketika detik-detik kepergian nya di panggil tuhan.
"Andai surya masih ada Nal. tentu dia sangat bahagia bisa bertemu ayah nya"
aku menunduk sedih saat videocall.
"Sudahlah Rai, anak kita sudah tenang di sana. kita tinggal menambah lagi ketaatan kita pada allah.insyaallah nanti kita berkumpul di sana"
Dia menyemangatiku.andai kami berdekatan aku pasti sudah memeluk nya dan menumpahkan semua tangisku di pelukan nya.
...****************...
Berbulan-bulan sudah kami merajut kembali cinta yang telah lama putus. tak pernah sekalipun kami lewatkan kebersamaan dan saling melepas Rindu. walau hanya sebatas melalui sambungan video call.
Bahkan hampir setiap malam juga aku dan zaenal bercakap sehabis selesai kerja di mes..sampai kami sama-sama tertidur tanpa memutuskan sambungan videocall di ponsel kami. tak jarang juga zaenal membangunkan ku untuk sholat subuh. baru mematikan nya.
Aku juga bercerita ke Ibu, Bu Tika kalau aku dan zaenal sudah kembali bertemu walau tidak secara langsung. mereka merasa bahagia mendengarnya. Dan satu hari aku menggabungkan panggilan kami dengan mereka.
__ADS_1
"Nal. kenalkan ini Ibu Tika yang pernah kuceritakan.Kalau yang satu kamu sudah lebih mengenalnya pasti.. haha"
aku mengenalkan dengan sedikit tertawa pas terlihat wajah ibuku di layar.
"Assalamualaikum Bu tika. terima kasih selama ini sudah merawat orang yang saya sayang. dan terima kasih juga atas semua yang ibu berikan untuk almarhum anak saya"
zaenal merapatkan keduatelapak tangan nya. sebagai tanda terimakasih.
"Tak apa Nak, Raina sudah ibu anggap anak sendiri. Dan Almarhum Surya juga cucu ibu yang sangat sholeh dan membanggakan. Ibu senang memiliki keduanya"
"Assalamualaikum. juga Ma. sehat kan ma. maaf selama ini zaenal telah terlalu lama menghilang dan memberi duka bahkan mungkin luka untuk kalian. insya allah setelah ini zaenal akan menepati janji zaenal dulu untuk segera menikahi Raina. "
Kami tersenyum bahagia menanggapi ucapan zaenal. dan kamipun sama-sama larut dalam obrolan. hingga tinggal aku dan zaenal yang masih terjaga. karena hari sudah mulai malam.
"Rai. eeemmm. bolehkan aku manggil kamu kaya dulu. manggil dengan sebutan sayang? "
aku seketika tertawa terpingkal-pingkal.
"ha.. ha.. ha.. Kamu ini kenapaaaa? mau manggil sayang aja harus izin"
__ADS_1
Mukanya memerah menahan malu.
"tuh kan malah di ketawain. udah ah aku jadi malu"
dia mengalihkan kamera nya ke arah langit-langit.
"iya iya sayang."
aku mengiyakan dengan sedikit menahan tawa yang hampir meledak lagi.
kemudian kamera nya kembali mengarah wajahnya. Dia menatapku lekat. kali ini mukaku yang dibuat nya merah padam. salah tingkah mulai menjalar di perasaanku.
"Sayang..."
dia memanggilku dengan mata yang tetap tak berkedip memandangku. aku yang sedari tadi merasa salah tingkah. akhirnya mencoba menatap nya. aku tak menjawab dengan sepatah katapun.
"Aku kangen"
Manik matanya terlihat berembun. raut wajahnya pun terlihat menahan sesuatu yang bergejolak. kami hanya saling memandang. dengan perasaan yang sama-sama bergemuruh di dalam dada. perasaan rindu yang telah lama terpendam. jantungku berdegup sangat kencang tak beraturan. lalu air mata tak terasa menetes di sela rasa kerinduan ku padanya.
__ADS_1
meskipun saat ini agak terobati dengan bisa saling pandang. namun tetap kami tidak bisa saling membelai, memeluk satu sama lain. hanya hati kami yang saling bicara melalui tatapan kedua mata kami.