
setelah melalui hari-hari yang teramat panjang dan penuh dengan pengharapan yang tak berujung. tiba saat nya aku harus berjuang,bertaruh nyawa demi menghadirkan kedua bayiku di dunia dengan selamat.
alhamdulillah meskipun aku harus di rujuk ke rumah sakit.namun proses nya masih bisa secara Normal. Bu Tika memberitahu Ibu lewat video call. dan ibu memberiku Doa meskipun tidak bisa mendampingi proses nya. mengingat tentang semua Rahasia ini.
Beberapa jam kemudian. kedua bayiku lahir. meskipun yang berjenis kelamin perempuan harus meninggal begitu di lahirkan. karena kondisi tali pusat yang melilit di lehernya. tetapi yang laki-laki lahir dengan selamat dan sehat.
Aku berpelukan dengan Bu Tika. air mata bahagia bercampur kesedihan meluncur tanpa henti. apalagi ketika anaku harus di adzani oleh supirnya Bu tika, bukan oleh ayah biologis nya.
paginya Bu tika pulang untuk mengurus pemakaman anaku yang satunya.kemudian siang nya aku baru diperbolehkan pulang beserta anaku. dan di jemput oleh Bu Tika dab sopir nya.
sesampainya di rumah Bu tika telah mempersiapkan kamar bayi yang sangat indah untuk bayiku Dan aku.
"terimakasih Bu, selama ini sudah mau merawat saya yang penuh dosa ini. Ibu sudah sangat baik sama saya. entah dengan cara apa saya membalas kebaikan Ibu"
__ADS_1
saya mengecup dan menggenggam kedua tangan nya.
"tak usah di pikirkan Rai, Ibumu bersahabat denganku dari dulu. bahkan sudah ku anggap seperti keluarga sendiri. begitu pula dengan kamu sudah ku anggap anak sendiri. lagipula aku tidak punya siapa-siapa di sini"
seketika raut mukanya berubah muram. dan kemudian dia bercerita tentang kehidupan dia dulu yang senasib dengan ku. Dia juga dulu di tinggal kan kekasih nya yang sampai sekarang tak kunjung datang. mirisnya Dia harus keguguran di usia kandungan yang masih kecil. hingga sampai saat ini dia enggan untuk menikah.
pantas saja dia begitu menyayangi ku. dan ikhlas merawatku. sementara keluarga nya tidak ada yang mau mengakuinya setelah kejadian itu.Dan dia hanya hidup sebatang kara sampai sekarang.
Aku memeluknya erat. dan dia pun mengecup pucuk kepalaku. membelaiku seperti anaknya sendiri. hingga kami tersentak dan tersadar dengan suara tangisan bayi ku.
sambil terkekeh. aku memang sempat menunjukan foto zaenal dulu ke Dia.
"Hahaha, iya Bu. mungkin idung nya keteken sama saudara kembarnya waktu di dlm perut"
__ADS_1
aku pun membalas nya dengan candaan sambil terus menyusui anaku.
"oh iya Rai. kemaren ibu sudah lancang gak minta izin ngasih nama anakmu yang perempuan. Ibu kasih nama sukma.mirip banget zaenal lho Rai. semuanya, idung nya, mulutnya. tapi allah lebih menyayangi nya Rai"
sambil membereskan barang bawaan dari rumah sakit ke dalam lemari dan melirik ke arahku sambil tersenyum.
"Tak apa Bu. namanya bagus. mungkin Ibu juga punya usul untuk nama si ganteng ini"
aku mencubit tipis pipi cabi bayiku.
"Alangkah baiknya ada nama panjang zaenal di sematkan Rai. sebagai tanda kalau dia darah daging nya. siapa tahu allah menakdirkan kalian bertemu kembali"
aku hanya tersenyum dan mengangguk. sambil berfikir nama apa yang cocok.
__ADS_1
"Gimana kalau Surya nur rahman. kan adik nya sukma. nur rahman katamu nama belakang nya zaenal"
Aku mengangguk senang. sambil mencium bayiku yang tertidur di pangkuanku.