Jodoh Yg Sempat Tertunda

Jodoh Yg Sempat Tertunda
DI MUSUHI MERTUA BAB 48


__ADS_3

Semalaman aku Dan suami memutar otak untuk bisa membantu istri dan anaknya teman suamiku. Perusahaan tempat mereka bekerja seolah tutup telinga dengan masalah karyawan nya apalagi kejadian nya di luar perusahaan.


"aku benar-benar merasa bersalah Rai. aku ingin membantu meringankan beban istrinya. tapi penghasilan ku untuk menghidupi kalian pun masih jauh di bilang berkecukupan "


aku mengelus punggung suamiku.


"kita bantu semampu kita mas. uang lemburan kan masih.untuk biaya hidup kita insyaallah aku akan atur dari gaji pokok"


Dia menghela nafas panjang dan menatap ke wajahku.


"lalu bagaimana dengan jatah Ibu? dia pasti akan ngomel jika jatahnya di kurangi"


Ibu mertua ku memang selalu meminta jatah tiap bulan nya. meskipun kadang tidak pernah menganggapnya kepada orang lain. para tetangga sering mengadu padaku kalau Ibu selalu bicara sama orang. tak pernah sepeserpun di beri uang dari sebelum menikah hingga sekarang.


semua perabotan termasuk Kulkas juga Ayah yang membelikan, kamar mandi juga Ayah yang membuat kan. padahal para tetangga tahu ketika suamiku dulu merantau selalu mengirimkan uang. bahkan ketika orang lain punya kulkas. dia pun merengek seperti anak kecil ke suamiku.


aku hanya tersenyum mendengar semuanya dari tetangga. soalnya saat ini juga sama dia selalu minta jatah bulanan dari suamiku. tapi menyuruh suamiku untuk merahasiakan nya dariku. tapi suamiku tetap bercerita kepadaku. dan sampai saat ini aku pura-pura tidak tahu.


Saat gajian tiba. seperti biasa Suamiku memberi kan gaji nya utuh kepadaku. kemudian kami memisahkan hasil lembur ke amplop yang satunya. kali ini kami membagi sama rata amplop itu.


"ini yang untuk bantu temanmu mas. semoga berkah ya"


aku menyerahkan kepada suamiku.


"Dan ini untuk Ibumu"


Suamiku meraih amplop yang untuk ibunya. mencium keningku dan bibirku.


"makasih atas pengertiannya ya sayang. kamu memang istri sholeha, bidadari surgaku"


aku tertawa.


"hahaha lebayy,, udah sana antar nanti keburu manyun ibu mu"


kemudian suamiku berdiri dan mengantar amplop itu. beberapa saat kemudian terdengar teriakan Ibu mertua ku.


"lho kok cuma delapan Ratus Ribu, biasanya dua kali dari ini"


kemudian terdengar suara Ramdan.


"suttt nanti kedengar mbak Raina. bukan kah dia tidak tau kalau ibu suka minta jatah bulanan? "


"BODO AMAAAATTT. RA NGURUSI.biar dia tau dan tidak seenaknya menghabiskan uang zaenal"


dia sengaja mengencangkan suaranya. aku mengurut dada sambil menghela nafas.


"astagfirullah, Bu dia istriku. dia punya hak atas gajiku"


"alah, dia berdosa jika melarangmu memberi ibu. bukan kah anak laki-laki masih tetap wajib memberikan kepada ibunya"


Masih dengan nada tinggi dia berbicara. kali ini aku melihat ke arah Queen sambil mencomot pipinya. lalu menggendong nya. aku menghampiri mereka.


"Bu... aku tidak pernah melarang mas zaenal untuk memberikan sebagian gajinya ke Ibu. bahkan ketika Ibu menyuruh suamiku merahasiakan nya dariku aku tetap ridho Bu. aku sampai saat ini masih pura-pura tidak tau."


aku mencoba berbicara dengan nada yang sangat lembut. mas zaenal kemudian mengambil alih Queen ke pangkuan nya.


"Ambil semua. aku tak butuh.buat apa uang segini. tak cukup"


Dia melempar uang itu ke lantai. dan masuk ke kamarnya. aku mengurut dada.


"Dan,punguti uang nya dan simpan"


suamiku menyuruh adiknya memungut kembali uang itu. lalu menuntun tanganku untuk pulang.

__ADS_1


"maafkan Ibuku ya Sayang. Dia memang begitu"


aku mengangguk sambil menggoda Queen yang berada di pangkuan suamiku. aku menggelitiki kaki Queen dengan hidungku. hingga dia tertawa kegelian.


"udah malem, Queen juga kayanya sudah mulai merah bibir matanya. mungkin sudah ngantuk"


aku meraih kedua tangan Queen dari pangkuan ayahnya. dan menidurkan nya di kasur.


aku memiringkan badanku menghadap Queen. membuka kancing dasterku dan menyusui nya. dengan tangan yang menyikut ke bantal sebagai tumpuan kepalaku dan menahannya dengan telapak tangan.


suamiku ikut memiringkan badannya di belakangku. tangan nya mulai nakal menggerayangi pahaku dan menyibakan daster bagian bawahku.


"masss. Queen masih menyusu dan belum tidur nyenyak "


aku berbisik ke arahnya.


"kan bisa lewat belakang sayang. sambil menyusui juga bisa. aku akan tetap bermain di belakang. kamu hanya perlu sedikit merenggangkan pahamu. dan menukik sedikit untuk memberi jalan senjataku masuk"


dengan nafas yang sudah memburu dia mengguruiku.


"hmmh baik lah, tapi jangan sampai menggangu Queen yang masih menyusu. nanti malah gak jadi tidurnya"


aku kembali berbisik.


Dia mengangguk sambil terus mrncium leherku. dia melepas celana dalamku dengan pelan. kemudian kembali ke posisi semula. aku merenggangkan kedua pahaku untuk memberi jalan, Dia menuntunya masuk dengan tangan nya melingkar ke depan, setelah masuk dia menekan dengan gerakan mundur maju tapi pelan.


"eeemmmhh"


aku membenamkan wajahku ke bantal. agar tak menimbulkan suara yang bisa membuat Queen bangun.


kepalaku mendongak dengan mulut yang menganga menahan suara.


"sssshhhh"


"ahhh ayo sama-sama keluarkan sayang"


tangannya meremas Pa***ku. sambil mengerang pelan di balik punggung ku. akupun berusaha sekuat tenaga menahan guncangan tubuhku sendiri saat mencapai puncak bersamaan,dengan melingkarkan satu tanganku ke pundaknya.


"haaaahh. sensasinya beda kan Yang kalau umpet-umpetan dari anak kaya gini"


aku menoyor kepalanya. setelah mulut Queen terlepas dari gunungku dan tertidur.


"sensasi gundulmu mas, aku mpot-mpotan saat mau keluar. takut Queen bangun merasakan getaran tubuhku"


dia tertawa.


"hahaha. iya ya biasanya kamu bergetar bebas seperti kesetrum"


aku menimpuk kepalanya dengan bantal.


...****************...


esok paginya aku yang sedang menyapu halaman ketika selesai memandikan Queen dan menidurkan nya. sudah kebiasaan Queen selalu tidur lagi sehabis mandi.


"Brak"


pintu Rumah mertuaku di tutup dan di banting dengan keras. aku hanya mengelus dada kemudian menyelesaikan kerjaan ku.


terdengar juga teriakan seolah di sengaja dari dalam.


"Huuuh Dasar sinetron. Dasar mantu tak tau diri. mau enak sama anaknya saja. mertua nya gak dipikirin. malah di pengaruhi agar tidak perduli"


aku yang tau kalau itu menyindir langsung masuk ke Rumahku.

__ADS_1


"Opo sih bu ngomeeeelll terus"


terdengar suara Ramdan komentar.


"itu film nyebelin banget"


Ramdan kemudian tertawa


"hahaha.. nyebelin apanya itu kan film kartun upin ipin. gak ada menantu sama mertua"


kemudian terdengar suara kepala yang di tabok entah pake apa. yang kemudian terdengar suara Ramdan yang mengaduh.


"uuuhh dasar mak lampir. ngomel tapi uang nya yang sudah di lempar diambil lagi"


aku cekikikan sambil menutup mulutku dengan satu tangan.


aku merebahkan tubuhku di samping Queen sambil menatap langit -langit. tanganku mengusap kening Queen dengan jari telunjuk ku.


lalu terdengar suara ponsel ku. suamiku melakukan videocall. aku langsung menerima nya.


"assalamualaikum sayang. mana Ratu kecilku? "


aku kemudian mengalihkan kamera ke arah Queen yang sedang tertidur pulas.


lalu aku beranjak menjauh agar tak membangunkan tidurnya Ratu kecil kami.


"alhamdulillah.sayang.besok hari buruh nasional. kami semua libur dan di kasih bonus oleh perusahaan. aku mau ngajak kamu dan Queen jalan -jalan besok"


aku tersenyum sambil menujukan ekpresi terkejut.


"waaahhh alhamdulillah.baiklah sayang. nanti sepulang kerja kita bicara lagi. Queen bangun"


aku berlari ke arah Queen yang merengek. dan mengucek matanya.


"jangan di tutup sayang. arahkan ponselnya ke Queen"


aku kemudian mengarahkan ponselnya ke Queen.


"Halooo Ratu cantiknya Ayah. baluu bangun ya tayang nya Ayah. uuuuhhh gemes nya"


seolah mengerti kalau ayahnya sedang mengajaknya bicara. Queen tersenyum lalu mengeluarkan bahasa bayinya.


"Tunggu ayah pulang ya cantik. jangan nakal jangan bikin repot mama ya sholeha nya ayah dan mama. muaaahhh"


ayahnya kemudian mendekatkan bibir nya ke kamera. Queen tersenyum girang sambil menghentak-hentakan kedua kakinya.


"udah mas. aku mau ajak Queen main ke Mbah. jenuh di rumah terus, hati-hati kerjanya. assalamualaikum.


"waalaikum salam. kamu juga baik-baik sayang. jangan bawa Queen jauh dulu. muaaahh"


dia kemudian menutup panggilan itu.


saat aku menggendong Queen hendak ke Rumah mbah. mertuaku yang sedang ngobrol bersama tetangga di teras depan Rumah. seketika mengambil sapu dan melemparnya ke arahku. untung tidak mengenaiku dan Queen.


"Hussss. hussss.. pergi Ayam tak tau diri"


aku mengurut dadaku sambil terus berjalan. karena jelas omongan itu untuku. soalnya tak ada ayam di situ.


terdengar juga tetangga teman gosip nya itu angkat bicara.


"masa sih"


kemudian ku lirik dengan sudut mataku mereka tampak berbisik sambil bergidik menatapku sinis.mulutnya mencibir ke arahku.

__ADS_1


aku tetap bersikap acuh. dan berjalan ke rumah mbah.


__ADS_2