
Setelah pemecahan kaca mobil kemarin aku sedikit trauma untuk mengantarkan Queen. sehingga suamiku memutuskan untuk mengantarnya bersama Nurul.
"Gak apa Yang. kamu tenangin diri dulu. biar aku yang antar Queen sekolah. Nurul Yang menunggui nya. pas jam pulang aku kembali menjemput nya"
suamiku mengelus rambutku dan mengecup pucuk kepalaku. aku mengangguk sambil tersenyum.
"Yuy, hati-hati ya!perhatikan terus Queen. jangan lengah"
sebenarnya ada perasaan takut yang bersarang di dalam hatiku. aku takut jika anaku jauh dari pantauan ku. tapi aku terus beristigfar untuk menepis firasat itu.
saat suamiku membonceng Mereka menggunakan motor,aku melihat dari teras rumahku sampai mereka hilang dari pandangan ku.
aku pun terus memantau mereka melalui ponsel ku. aku terus berhubungan dengan Nurul melalui pesan.
[udah sampe Yuy? ]
[udah, Teh.mas zaenal juga langsung pulang itu]
aku bernafas lega ketika dapat balasan kalau sudah di sekolahan.
[oke, hati-hati. jagain Queen, pantau terus kemanapun]
[Siap, Teteh. tenang aja Queen kan aku asuh dari bayi]
aku langsung menuju garasi saat terdengar suara motor suamiku.
"aman mas? "
aku mendekat dan menggandeng tangan suamiku. dia tersenyum dan mencium keningku serta mengelus tanganku yang menggandengnya.
"gak apa sayang. kamu yang tenang. kejadian kemarin mungkin hanya kecelakaan. atau mungkin salah sasaran. toh kita juga gak merasa punya masalah sama siapapun"
aku menghela nafas sambil mencerna ucapan nya. benar juga kami tidak punya masalah dengan siapapun.
"iya mas, tapi kalau orang yang merasa iri kan tidak tahu mas"
aku mendongakan wajahku ke wajahnya. yang memang suamiku jauh lebih tinggi dariku. kami lalu duduk di ruang Tv tanganku masih memegangi lengan nya.
"tenang sayang, berdoa terus sama allah. serahkan semuanya "
Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.mengecup keningku, kedua pipiku dan berakhir ******* bibirku sebentar. dan kemudian beralih ke Tv yang ia nyalakan.
"sini sayang"
dia menepuk pahanya,agar aku merebahkan kepalaku di situ. akupun melakukan perintahnya. dia terus mengelus kepalaku. dan sesekali membungkukan badan nya untuk mencium keningku.
"mass.. "
dia melihat ke arah wajahku di pangkuan nya.
"hmmh, apa sayang? "
aku menatap lekat wajah tampan nya dan mengusap nya.
"apa dulu kamu sering menyakiti pacar-pacar mu dan meninggalkan nya begitu saja? "
Dia terkekeh dan kembali mencium keningku.
"gak pernah sayang, aku hanya meninggalkan nya untuk merantau dan bekerja di luar kota. merekalah yang selalu meninggalkan ku"
aku mengernyitkan dahiku. lalu dia melanjutkan kata-kata nya melihat raut muka ku yang seperti tidak fahan ucapan nya.
"setiap aku pulang,bahkan kadang masih di perantauan selalu ada kabar kalau mereka sudah menikah. dan ada juga yang pas aku pulang sudah hamil besar dan menikah dengan temanku sendiri"
Dia menghembuskan nafas kasar.
"mas,,, maaf ya aku malah membahas masalalu mu. yang mungkin membuatmu sakit"
aku mengelus dadanya.
"tak apa sayang, sekarang aku kan sudah punya kamu dan Queen. yang selalu membuatku bahagia"
jari telunjuk nya mengelus lembut bibirku dan kembali dia menurunkan wajahnya untuk sekedar menikmati bibirku sebentar.
"sayang, aku mau ambil mobil ke Bengkel. trus nanti jemput Queen di sekolah.kamu mau ikut jemput? "
aku mengangguk dan bangun dari pangkuan nya.
"oke, nanti aku jemput kamu kesini dulu, bersiaplah"
Dia mengusap bahuku dan mengajak Ramdan ke bengkel. agar nanti Ramdan yang membawa motor pulang.
aku segera bersiap,mengganti bajuku dan berdandan.
__ADS_1
beberapa saat kemudian suara klakson mobil berbunyi. aku segera berlari dan masuk ke dalam nya.
"ayo sayang, Queen sudah menelpon dari tadi"
aku terkekeh dan segera menutup pintu mobil ku. suamiku segera menjalankan nya kembali menuju sekolahan Queen.
Hanya lima belas menitan kami sampai di sekolah Queen. Queen berlari ke arah pintu mobil yang terbuka. di susul Nurul yang tergopoh -gopoh di tarik Queen.
"pelan sayang, Kasihan Uyuy kamu tarik-tarik gitu"
aku mengangkat tubuhnya dan menciumi nya. lalu mengalihkan pandangan ke arah teman-temanku yang memanggil dan melambaikan tangannya ke arahku. aku membalas lambaian nya dan tersenyum.
"Duluan Ya!"
aku pamit dari kejauhan dan masuk ke mobil menggendong Queen di kursi depan. Nurul duduk di belakang kami.
Queen bercerita tentang sekolah nya hari ini.
"maaa, Hari ini aku di cubit Bu Guru"
dia memanyunkan bibirnya sambil menunjuk tangan nya yang masih merah kena cubitan.
"lho, kok bisa sayang? kamu nakal mungkin? "
Queen menggeleng.
"Queen gak nakal maa, Queen di suruh pindah bangku ke belakang, tiara yang pindah ke depan. tapi tiara gak mau. malah Queen yang di cubit. katanya kamu nakal dan ngeselin sama kaya ayahmu"
aku mengelus kepalanya. dan mengalihkan pandangan ke suamiku lalu ke Nurul. Nurul mengangkat kedua bahunya. dan suamiku menutup mulutnya dengan telunjuk nya untuk memberiku isyarat agar tidak bicara saat ini.
aku menghela nafas panjang. dan mencoba memberikan pengertian ke Queen.
"oh,,,Bu Gurunya Queen itu Dulu teman sekolah nya Ayah, mungkin dulu ayah pernah nakal di sekolahan jadi Bu Guru nya bilang gitu"
Bibir Queen masih mengerucut.
"tapi Queen kan gak nakal, ayah yang nakal kenapa Queen yang kena cubit? "
aku terkekeh untuk menyembunyikan sesuatu dari Queen.
"hehehe. mungkin dia takut sama ayah, jadi Berani nya sama Queen. soalnya ayah kan udah besar nanti takut di balas,mungkin"
Dia lalu tertawa.
"hahaha, iya ya maa"
sampai di rumah kami di kagerkan dengan Ramdan yang sedang membasuh tangan nya yang terluka.
Nurul langsung berlari ke arah suaminya.
"lho kenapa kamu? "
suamiku langsung meraih tangan nya. dan memeriksanya.
"dalem ini Ndan, Ayo ke klinik saja di jahit"
suamiku langsung membuka kembali pintu mobil, nurul segera ikut memapah suaminya masuk mobil.
"aku ikut mas. titip Queen dulu ke Ibu"
aku kemudian berlari menitipkan Quern ke mertua ku dan memberi tahu keadaan Ramdan. Ibu berlari ke arah mobil. dan kami segera menuju ke klinik. meninggalkan Ibu dan Queen di rumah.
"masuk Rumah dan kunci dari dalam Bu. jangan buka sebelum kami pulang"
Ramdan berteriak ke arah ibunya sambil menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.
"kok bisa luka gini sih Dek? "
aku meringis melihat tangan nya yang di balut handuk kecil. dan masih mengeluarkan darah.
"tadi pas pulang dari bengkel,aku ngelihat ada orang celingukan ke garasi dan tempat kerja.kebetulan kan gak ada yang masuk hari ini karena gak ada pesanan dan barang yang harus di Packing"
dia meringis sebelum melanjutkan.
"trus aku kira dia tamu atau orang yang mau pesan, aku masukin motor dong. pas aku tanya kok gak buka helm nya. dan gak jawab juga. tiba-tiba orang yang satunya yang masih duduk di motor mengacungkan golok dan langsung mengarah ke kepalaku. aku menangkisnya dengan lenganku. untung aku juga agak menghindar kalau gak udah putus nih tangan."
aku beristigfar mendengar ceritanya.
"trus kamu gak minta bantuan ke siapa-siapa? "
suamiku bertanya sambil melihat dari kaca ke arah Ramdan.
"aku sempat teriak. tapi keadaan memang lagi sepi mas, kemudian aku melempar helm ke arah mereka. dan menutup garasi dengan tangan ku yang satunya. Mereka pergi dengan motornya"
__ADS_1
aku menggeleng kan kepala. Nurul masih terisak sambil memegangi tangan suaminya yang terluka.
sampai di klinik. Ramdan langsung di tangani. aku dan Nurul menunggu di ruang tunggu. sementara suamiku menemani Ramdan di dalam.
"astagfirullah, apa lagi ini Yuy, aku kok makin takut tinggal di sini"
aku dan Nurul saling berpegangan tangan.
"iya Teh, mungkin banyak yang Iri sama bisnis teteh dan mas zaenal"
aku mengangguk sambil tetap saling berpegangan.
"tapi aku juga gak habis pikir sama sikap Bu Kiki ke Queen yang tiba-tiba begitu"
Nurul mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin cemburu karena kebahagiaan kalian. Dia kan setelah menikah belum di kasih anak dan di cerai suaminya"
aku menoleh ke arah Nurul.
"berarti dia janda sekarang? "
Nurul mengangguk sambil mencibirkan bibir nya.
"apa mungkin dia masih berharap sama mas zaenal ya Yuy? "
Nurul kembali mengangkat kedua bahunya. tak berapa lama suamiku keluar bersama Ramdan yang tangan nya sudah di balut perban.
aku dan Nurul berlari kecil mendekati nya.
"tunggu di mobil Yang, aku mau ambil obatnya di apotik "
suamiku memberikan kunci mobil padaku. dan kami segera menuju dimana mobil kami terparkir.
"dalam lukanya Dek? "
aku menoleh ke arah Ramdan yang duduk di belakang bersama istrinya.
"lumayan mbak, delapan jahitan luar dalam. cukup lebar juga"
aku dan Nurul meringis mendengarnya. kemudian suamiku masuk dan memberikan obat ke Nurul. kemudian kembali mengemudi.
"kita beli kain kasa dan obat luka ke apotik dulu,untuk ganti nanti. soalnya di klinik nya gak di kasih. aku juga lupa gak beli sekalian barusan. mau balik lagi udah tanggung keluar"
suamiku memutar setir mobil ke arah kota. aku menepuk jidatku sendiri.
"selalu begitu, dasar pelupa "
suamiku melirik ke arahku sambil menjulurkan lidahnya.
"namanya juga panik,sayang.pikiran ku juga masih banyak pertanyaan ini"
aku mengerti tentang ucapan nya. karena bukan hanya dia,aku pun sama merasakan hal itu. sejak kami tinggal di kampung ini banyak sekali hal-hal yang mengancam kehidupan Rumah tangga ku dan keluarga. semua sangat berkaitan dengan mantan -mantan pacar nya suamiku ujungnya.
tak menutup kemungkinan juga,yang terjadi saat ini juga karena mantan pacar suamiku. entah karena dendam, masih cinta tapi keadaan tak memungkinkan untuk kembali, atau Iri akan kebahagiaan Rumah tangga kami. terutama dengan kehidupan kami saat ini yang bisa di bilang cukup sempurna. dari segi ekonomi dan keharmonisan. di tambah lagi keturunan yang sangat cantik dan pintar seperti Queen jadi pelengkap kebahagiaan kami.
"sayang... "
aku tersentak dari lamunan ku saat suamiku menepuk bahuku. aku melihat Ramdan yang sudah duduk di kursi tunggu apotik bersama istrinya yang sedang berdiri memesan.
"kenapa? hmmmh? "
suamiku memandangiku sambil mengelus kepalaku. aku menggeleng sambil tersenyum.
"gak usah terlalu banyak pikiran ya, sayang. ada aku yang selalu menjaga kalian. nyawa ku bahkan akan aku pertaruhkan untuk kalian"
dia meraih tanganku dan mencium nya. tak terasa kedua mataku mengalirkan air mata sangat deras. aku kali ini yang menciumi kedua telapak tangan nya. dan menghujani nya berulang-ulang dengan kecupan. tangan lembutnya menyeka air mata di kedua pipiku. dan mengecup keningku sangat lama. aku memejamkan mataku.
kami tersentak saat tiba-tiba pintu mobil di buka dari luar. Kedua adiku masuk sambil terkekeh.
"oalah, malah pacaran di dalem. kesempatan adek nya pada keluar."
Ramdan menggerutu.
aku tersipu dan menunduk. Nurul menutup mulut nya menahan tawa.
"Udah kan? mau beli apa lagi nih. mumpung masih di luar? "
suamiku melihat ke arah belakang.
"pengin nya sih di manja ini, yang tangan nya lagi sakit. makan apa gitu yang enak-enak"
Ramdan memutar bola matanya sambil melihat ke arah suamiku.
__ADS_1
"ck ck ck. oke bos. nanti kita makan di restoran china,tapi kita pulang dulu ajak ibu sama Queen dan yang lain nya. masa mau senang -senang sendiri"
suamiku berdecak tapi memberikan kesanggupan ke adik satu-satunya itu. membuat yang di beri harapan memasang wajah bahagia.