
Ketika aku baru dua minggu kembali bekerja. aku harus di kejutkan dengan kabar buruk. Bos ku sudah tidak sanggup membayar sewa untuk tempat usahanya itu. karna pendapatan yang semakin menurun. Begitu pun dengan tempat yang lain.
Hari itu aku dan Marni sepakat untuk mencari kerja di tempat lain. tapi Nihil. hampir dua minggu lamanya kami tak mendapatkan pekerjaan lagi. aku pun mencoba meminta bantuan zaenal.
"Bos ku juga sama,Rai.entah berapa bulan lagi mau berhenti dulu katanya"
Dia menatapku dengan wajah sendu.
Menghela nafas dan melanjutkan lagi bicara.
"lebih baik kamu pulang kampung saja dulu. nanti kalau ada kerjaan aku kabarin. aku juga gak bisa bantu apa-apa.toh sekarang aku juga harus mulai nyari-nyari info lowongan kerja yang lain sebelum waktunya. yaaa kalau tidak ada aku juga terpaksa pulang kampung,dan cari kerjaan di kampung. "
Dia menghembuskan nafas nya pelan. aku mengiyakan pendapat nya.
"yaudah. tapi rencanaku besok aku mau pamit dulu ke teman-teman di tempat kerja ya.baru aku kemas-kemas"
aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
"iya gak apa. besok sepulang kerja aku bantu kamu berkemas ya! jangan lupa kabari ibu di kampung"
Dia membelai rambutku berulang-ulang. dan mengecup keningku. ya tuhan tinggal dua hari lagi kebersamaan kami. apa aku sanggup berjauhan dengan nya saat ini.
__ADS_1
seketika aku berbalik dan memeluknya erat. air mata ini tak terasa mengalir deras di kedua pipiku.
"hei, sayang. kenapa nangis? "
dia kemudian melepaskan pelukanku. dan menyeka air mata di pipiku.
"aku gak mau jauh dari kamu. aku takut kamu berpaling dari aku"
kalimat itu meluncur di sertai isak tangis ku.
"ya allah. sayang. Dengarkan aku Raina.Anggraeni,Demi allah aku gak akan menikah dengan siapapun selain sama kamu. ini janjiku bukan cuma sama kamu, tapi sama allah. "
Dia kemudian memeluku erat. dan menghujaniku dengan ciuman. Disaat yang bersamaan hujan turun sangat lebat. seolah mengerti kesedihanku.
semalaman kami tak lepas berpelukan. ada perasaan yang tak biasa di hatiku. seolah kejadian dengan felix dulu akan terulang lagi. kami harus berpisah dengan perasaan yang masih sama-sama sayang.
malam itu juga. kejadian malam yang lalu terulang lagi. aku yang paling merasa takut kehilangan akan dirinya. seolah lebih pasrah dari malam sebelumnya. kami saling menikmati masa perpisahan di malam yang di temani deras hujan itu. hingga aku kembali terlelap dalam pelukan nya.
...****************...
Tibalah saat nya,dimana hari yang paling tidak aku inginkan. aku harus pulang ke kampung. Dan menjalin hubungan jarak jauh. zaenal mengatarku dengan motor bos nya ke terminal. sambil menunggu bis penuh zaenal duduk di sampingku. yang tak henti menangis.
__ADS_1
"Hapus air matamu yang. aku janji nanti di waktu libur aku ke rumahmu. alamatmu kan udah aku tulis kemaren."
sambil mengusap kerudung di pucuk kepalaku. dan menyeka air mataku.
"janji ya, sayang. kamu nanti datang kalau libur"
aku merajuk seperti anak kecil.
"iya, sayang. janji. insyaallah tahun baru ya. tinggal sisa satu bulan lagi. gak lama kan? "
akupun tersenyum mendengar janji yang di ucapkan nya. kemudian para penumpang sudah mulai. penuh. dan sopir bis mulai menyalakan mesin mobil nya. zaenal bergegas berdiri. aku mencium tangan nya. kemudian dia mencium keningku. dan bergegas turun.
aku melambaikan tangan di balik jendela bis. air mataku kembali menetes. dan kami pun harus berjauhan saat ini. dan entah sampai kapan.
Beberapa menit kemudian ponsel ku berbunyi. ada pesan masuk dari zaenal.
[sayang. aku sudah di tempat kerja. kamu hati-hati di jalan. jangan lupa sholat kalau jauh dari aku. kabari segera kalau sudah sampai]
akupun segera membalas nya.
[iya sayang. insyaallah. nanti kalau sampai aku langsung telpon kamu ya. biar kamu bisa ngobrol sama mama dan anak-anak. mereka pasti senang]
__ADS_1
dia kemudian membalas dengan emoticon love.
aku memasukan kembali ponsel ku ke tas wanita ku. dan menikmati pemandangan di balik kaca,dengan perasaan yang campur aduk. sesekali juga bayangan bersama zaenal melintas di lamunan ku. apakah semua itu akan terulang atau kami akan di pisahkan kembali oleh kata TAKDIR.