
Makin hari bisnis ku semakin naik dan maju. aku dan Mbak citra juga semakin kewalahan. sampai kami memutuskan untuk menambah lagi orang, kehadiran Naila tidak berpengaruh pada pengerjaan. kerjanya lambat bahkan lebih banyak bersolek. jika aku menegurnya Dia mengadu ke mertuaku hingga aku malah kena damprat. akhirnya aku biarkan saja kerja semaunya.
"Neng.tempat produksi juga kayanya harus terpisah dengan tempat pengemasan sudah terlalu sempit juga dengan melambung nya permintaan pengiriman"
aku berpikir sejenak.
"iya juga mbak. tambah lagi dengan produk varian yang baru. aku nanti coba bicara sama mas zaenal,kalau aku lebarin lagi sampai garasi gimana gitu. soalnya kan tanahnya sudah habis mbak. paling ya sementara ini kemasan yang sudah di packing di tumpuk di garasi."
mbak citra juga mulai kebingungan dengan pesanan yang semakin meningkat. sementara rumahnya juga sebagian sudah jd tempat penyimpanan.
"Neng juga gak niat ambil mobil box yang kecil Neng? buat pengiriman ke luar kota yang jumlah banyak. menggunakan jasa pengiriman barang justru malah biayanya lebih besar Neng"
aku menghela nafas lagi. selama ini aku menggunakan mobil bak terbuka milik nya untuk mengangkut sampai ke tempat jasa pengiriman barang. kalau jumlah nya sedikit dan daerah yang masih terbilang dekat aku menggunakan mobil ku sendiri.itu juga kami harus menunggu para suami pulang atau libur. biasanya kami mengirim hanya di hari sabtu dan Minggu saja. kami tampung dulu semua pesanan. mungkin karena itu juga yang bikin kami kewalahan.
"kayanya belum ada niat ke situ deh mbak. mengingat sopirnya juga gak ada. mobil ku juga kalau jok belakang nya di turunin. lumayan bisa buat nyimpen kok mbak. sementara ini yang keluar kota tetap kita pakai jasa.insyaallah gak rugi banget mbak"
sengaja aku beli mobil yang kapasitas penumpang nya masuk delapan orang. kalau sewaktu-waktu di pakai kursi tengah sama belakang bisa di turunkan untuk menyimpan barang pesanan.
...****************...
setelah aku ngobrol panjang lebar dan berdiskusi dengan suami akhirnya kami sepakat memindahkan garasi lebih maju ke depan. dan menjadikan garasi tempat untuk packing.
"untuk pengiriman. mas rasa masih aman Yang kalaupun pake jasa. toh kita juga kirim nya seminggu sekali itu juga kan kita kasih harga berikut ongkos kirim kan? "
aku mengangguk. sambil memijit keningku.
"kamu kecapekan sepertinya Sayang. wajahmu juga pucat"
Dia kemudian memijit tengkuk leherku.
"untung Queen sekarang sudah pisah kamar ya mas. dia juga lebih betah tidur sama Nurul. udah gak mau nyusu lagi lho mas"
dia terus memijit ku hingga ke pundak ku.
"oh ya. tapi asi mu masih kan Yang? "
"masih mas tapi udah agak berkurang,Queen juga sekarang malah sering nya minta susu Formula di botol"
Dia melingkarkan tangan nya di perut ku. dan menciumi pundak dan leherku.
"Ke kamar yuk Yang. biar mas pijitin kamu"
"aku lihat Queen dulu di kamarnya ya mas. mas duluan"
setelah lihat Queen tidur di peluk Nurul. aku pun melihat dulu anak-anak yang masih packing.
"Udah hampir jam sembilan. istirahat dan pulang ya.nanti biar Ramdan yang ngunci dan beresin"
sejak sibuk Ramdan memang membantu ku juga. dia juga yang minta di bikinkan sekat di gudang untuk nya tidur. katanya sambil jagain barang juga.
aku kemudian masuk ke rumah dan menghampiri suamiku di kamar.
"jadi kamu pijitin aku mas? "
aku merebahkan badanku.
"sini Sayang. Queen udah tidur kan? yang lain juga udah pada pulang juga? "
aku mengangguk sambil membuka bajuku.
"buka semua sayang"
Dia berbisik sambil membubuhkan handbody di tangan nya. aku melepaskan semua. dan telungkup di kasur. dia mulai membalurkan nya keseluruh tubuhku. dan memijat badanku dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"berbalik sayang"
kemudian aku membalikan badanku hingga terlentang bebas tanpa selembar benangpun. Dia kembali membaluri nya. kali ini aku menggeliat merasakan setiap sentuhan nya yang lembut dan licin. Rasa penatku seketika hilang berganti dengan rasa sesuatu yang menggebu.
kemudian suamiku menanggalkan semua pakaian nya dan kamipun bergulat bebas di ranjang hingga ranjang kami bergoyang hebat. kami sama -sama menikmatinya hingga saling melepaskan lahar kenikmatan.
selesai bergulat. aku meraih ponsel yang berdenting dari tadi. hanya saja aku abaikan karena tanggung dengan pergulatan tadi.
satu pesan dari Nurul.
[teh. maaf sekali. tadi pas aku mau ke dapur ambil air minum. gak sengaja lihat Naila lagi mengintip dari lobang kunci kamar teteh. dia meraba anu nya. dan meremas sesuatu di dadanya. sampai terkulai. aku takut mau menegurnya dan jijik juga sampai masuk lagi ke kamar]
aku bergegas menutup tubuhku dan suamiku dengan selimut. lalu menujukan pesan itu ke suamiku. dia bergegas memakai baju dan celana kemudian keluar kamar. sudah tak ada siapa-siapa di balik pintu. lalu suamiku mencari keberadaan naila.
aku memakai kimonoku. dan segera menyusul suamiku. aku mencari ke kamar mandi dan ruangan lain nya. sampai terdengar suara Naila di garasi.
"aahh. ayo Nal lakukan padaku seperti tadi ke istrimu. aku mau meskipun jadi simpananmu"
Dia menarik tangan suamiku hingga masuk ke balik rok mininya. suamiku mendorongnya hingga terjatuh.
"cuih gak sudi aku. jangan pernah berpikiran untuk mengusik rumah tanggaku Pel****,jangan harap pula aku akan tergoda"
aku mencoba mundur dan mengintip untuk melihat apa suamiku kuat atau tidak dengan godaan wanita Set** itu. serta menghidupkan ponselku untuk merekamnya
dia malah membuka seluruh pakaian nya. untung dari awal aku langsung merekamnya. akal-akalan apa lagi yang akan dia perbuat kali ini.
"aaaahhh... huhuhu.. Tolong Bu,tolong"
Dia berteriak sambil menangis ke arah belakang garasi yang dekat sekali dengan kamar mertuaku. sehingga kedua mertuaku berlari menghampiri.
suamiku mengangkat kepalanya dengan menjambak rambutnya dan kemudian menyuruhnya memakai bajunya kembali.
"dasar Ja****.sandiwara apa lagi yang akan ka... "
"apa yang kamu lakukan padanya Hah? "
lalu memeluk perempuan tak tau malu itu dan memakaikan pakaian nya.
"huhuhu. zaenal memaksaku melakukan nya di dalam mobil. tapi aku menolaknya karena takut ketahuan kamu Raina"
Dia mengarahkan pandangan nya kepadaku yang tengah berjalan menghampiri mereka. dengan menyilangkan tangan di kedua dadaku.
"Sa sayang. jangan percaya sa.. "
aku mengangguk dan memberi isyarat dengan mengejapkan mata ke arah suamiku.
"Nurul, sini Rul"
aku memanggil Nurul yang kemudian datang dihadapan kami semua.
"ceritakan yang tadi kamu lihat.gak usah takut aku bos mu di sini bukan mereka"
aku tau Nurul takut dengan Naila dan mertua ku. lalu Dia menceritakan nya. mulut mertua ku menganga dan menghempaskan tubuh Naila dari pelukan nya.
"Iya Raina aku memang mengintip, tapi tak bermaksud mengganggu. awalnya aku mau pipis tapi dengar suara di kamar kamu jadi"
dia menggantung omongan nya.
"lalu setelah itu zaenal datang dan menarik tanganku. memaksaku melakukan nya lagi denganku. mungkin dia belum puas tadi sama kamu"
aku bertepuk tangan sambil tertawa.
"hahaha. Main mu kurang jauh Naila. suamiku tidak puas denganku atau kamu yang menawarkan kepuasan tambahan untuknya. dan bersedia menjadi simpanan nya kalau aku gak salah dengar tadi"
__ADS_1
matanya membelalak dan wajahnya pucat.
"ja jadi kamu dari ta"
"ya.. aku dari tadi di situ"
aku membentak nya. sambil menunjuk ke arah tembok dimana aku bersembunyi tadi.
"Dan lihat bukti video ini"
aku menujukan video itu ke semua orang. mertuaku histeris.
"pergi Kau Naila. bikin malu. pantas kemarin kamu memohon rupanya kamu masih mau mengincar anaku. kamu juga bersedia memberikan upahmu di sini lima puluh persen untuku. ternyata untuk ini. kamu mau masuk ke kehidupan anaku dengan cara curang"
Plak
satu tamparan mendarat di pipinya.
Naila berdiri dengan wajah geram.
"iya aku memang tak pernah rela zaenal bersama siapapun selain aku. aku kembali tertarik untuk merebutnya darimu Raina. ketika melihat zaenal melintas dengan mobilnya di depan ku yang saat itu sedang di pinggir jalan. hingga aku mencari cara agar bisa masuk ke kehidupan kalian"
Plak
Plak
kali ini tamparan dari suamiku mendarat dua kali di pipinya.sangat keras sampai mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
"aku kalah kali ini. tapi lihat Raina suatu saat suamimu sendiri yang akan datang kepadaku. setelah aku menghancurkan kehidupan mu dahulu"
dia menyeringai ke arahku. aku mendekat dan memegangi lengan suamiku.
"cuihh dasar tak tau malu. Ja****.asal kamu tau semua kemewahan ini bukan hasil jerih payahku. semua hasil istriku. jadi mana mungkin aku meninggalkan Berlian hanya untuk batu kali sepertimu"
Naila mengepalkan tangan nya. menatap tajam ke arahku. seolah memberi ancaman kalau ucapan nya tak main-main.
"perlu kamu tau juga. istriku selalu memberiku kepuasan.dia perempuan terhormat. anunya lebih nikmat dari punyamu yang sudah di masuki banyak laki-laki"
aku kaget saat suamiku mengatakan lebih nikmat dari punya mu. apakah dia pernah mencicipi wanita ini.
"hahaha. tapi dulu kamu selalu menikmatinya kan zaenal?"
plak
"An****.itu karena kamu dulu selalu menaruh obat se*** di minumanku. hingga aku lupa diri"
aku melepas tangan ku yang memegangi lengan nya. mundur dan menutup mulutku yang menganga.
"Bu. urus wanita ini. aku gak mau melihatnya menginjakan kaki lagi di rumah ini"
suamiku menyuruh mertuaku mengusirnya. dan menyusulku yang berlari ke kamarku.
aku menangis sambil telungkup dan meremas bantalku.
"sayang.. maafkan aku.tapi itu dulu sayang. itu juga karena dia dulu menjebaku.selalu membubuhkan sesuatu di dalam minumanku. aku juga dulu hanya menuruti kemauan Ibu yang selalu menyuruhku menjemputnya di tempat kerjanya"
aku masih menangis. dia membalikan tubuhku dan mengangkatku dalam pelukan nya.
"kamu boleh memarahi aku bahkan memukul atau menamparku. tapi jangan kamu menjauhiku apalagi meninggalkan ku"
aku melepaskan pelukan nya dan mengusap wajahnya. dengan tatapan penuh kasih sayang.
"siapa yang akan meninggalkan mu mas? aku hanya sedikit terkejut. tapi aku percaya sama kamu. dan aku juga bisa menebak dari tinggkah penggoda nya itu. "
__ADS_1
kemudian dia membenamkan wajahnya di dadaku. dan aku membelai kepalanya.