
Di rumah makan milik Mariam siang itu begitu ramai, bahkan hampir di setiap kursi sudah di penuhi pengunjung yang ingin makan siang.
Gadis cantik yang mengantarkan setiap pesanan pengunjung terlihat cekatan.
Dia adalah Meili.
Sudah beberapa hari ia membantu di rumah makan itu, semua yang dilakukannya karena keinginannya sendiri.
Ia lebih memilih untuk membantu di rumah makan, dari pada menemani Jessy di rumah. Karena sahabatnya itu tidak jauh beda dengannya, melamun karena seorang pria. Sedangkan di rumah makan ia banyak bertemu dengan orang baru yang kadang membuatnya bisa melupakan masalahnya.
"Meili istirahat dulu!" ujar Mariam.
Meili yang baru saja mengantarkan pesanan pelanggan itu hanya tersenyum. "Nanti saja Nek, kalau Meili sudah capek pasti istirahat." jawabnya tersenyum. Ia menoleh pada pelanggan yang masih terus berdatangan. "Masih banyak pengunjung, kasian kalau nggak langsung di layani." Ia lalu meneruskan pekerjaannya.
Mariam menggelengkan kepalanya, meskipun Meili sifatnya terkesan manja namun ada juga sisi mandirinya.
Hingga beberapa saat Meili mendudukkan dirinya, ia sudah merasakan lelah. Terlihat dari keningnya yang sedikit berkeringat.
Pelanggan pun sudah tak seramai tadi.
(Ini kehaluanku tentang rumah makan Mariam itu kayak rumah makan nenek Korea yang sederhana 😁)
"Ahhh, seger." Setelah es jeruk yang di teguknya mengaliri tenggorokannya. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding rumah makan, merasakan dinginnya kipas angin yang menerpa wajahnya.
Baru saja keringatnya kering, lonceng pintu rumah makan Mariam sudah berbunyi. Menandakan ada yang datang.
Meili langsung saja berdiri untuk melayani.
__ADS_1
"Silahkan ..." Meili sedikit terkejut ketika mengetahui pengunjung itu adalah Raka.
Raka sendiri memutuskan untuk membeli makanan sebelum pulang ke apartemen. Karena kulkas di apartemen sedang kosong.
Meili menarik nafas dalam dan menghembuskan nya secara perlahan untuk menetralkan degup jantungnya yang berdetak cepat. Ia kemudian menghampiri Raka setelah merasa lebih tenang. "Silahkan duduk Kak." Meili memilihkan tempat kosong untuk Raka makan.
"Mau pesan apa?" tanya Meili setelah Raka duduk di tempatnya.
Bukan hanya Meili yang terkejut, Raka pun sedikit terkejut melihat keberadaan Meili di sana. Pasalnya ia memang tau jika rumah makan itu milik nenek Jessy, tapi ia tidak menyangka jika Meili juga membantu di sana.
"Kak mau pesan apa?" Meili mengulang pertanyaannya saat melihat Raka hanya diam saja.
"Oh," Raka seketika tersadar. "Nasi campur dan jeruk hangat saja."
Meili mencatat pesanan Raka. "Ok, tunggu sebentar."
Raka melihat punggung gadis yang dulu selalu menempel padanya semakin menjauh. Senyum di wajah cantiknya memang benar-benar sudah berubah.
Setelah Meili sampai di dapur, ia segera menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia memegang dadanya yang semakin berdebar. "Kenapa rasanya masih sama?"
Ia tidak mengerti dengan detak jantungnya sendiri, ia sudah mencoba untuk tidak lagi mengharapkan Raka. Tapi setiap bertemu dengannya, detak jantungnya masih sama seperti dulu.
"Kenapa?" Mariam heran melihat kelakuan Meili.
Meili hanya tersenyum kaku. "Nek nasi campur dan jeruk hangat." Bukannya menjawab, Meili malah menyebutkan pesanan Raka.
Mariam semakin menautkan kedua alisnya, gadis di depannya itu terlihat semakin aneh.
__ADS_1
Ia kemudian melirik ke arah pelanggannya yang sedang menikmati makan siang. Dan kehadiran Raka menyita perhatian Mariam, ia lalu menoleh kembali pada Meili. "Bukannya itu teman Nathan."
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
Sedetik kemudian, Mariam tersenyum. Kini ia mengerti kenapa kelakuan Meili menjadi aneh. "Kamu suka sama dia ya?" godanya.
Meili semakin gelagapan, dan segera menggelengkan kepalanya. "Nggak Nek!" Tapi rona di pipinya kian memerah.
"Halah, Nenek juga pernah muda. Jika cinta bilang aja, nggak usah nunggu dia yang bilang. Udah nggak jaman yang begituan," setelah mengatakan itu Mariam melenggang pergi untuk menyiapkan pesanan milik Raka.
Meili hanya terbengong mendengar ucapan Mariam. Ternyata nenek temanya itu sungguh keren.
Ketika pesanan Raka sudah siap, Meili langsung mengantarkannya. Dan tentu saja ia sekuat tenaga menyimpan rasa tegangnya. "Silahkan kak." Ia meletakkan sepiring nasi campur dan segelas jeruk hangat di meja depan Raka.
"Maka--" Belum sempat Raka mengucapkan terima kasih, sudah ada seseorang yang menghampiri gadis di hadapannya itu.
"Cantik!" panggil seorang laki-laki yang ternyata pelanggan di rumah makan Mariam.
"Kak Rian!" Meili menyapanya dengan senyum di wajah cantiknya. Membantu beberapa hari di sana membuat Meili juga mengenal beberapa pelanggan rumah makan Mariam, salah satunya Rian.
Rian sendiri adalah seorang mahasiswa, ia sering makan di sana karena selain enak, harganya juga ramah di kantong bagi mahasiswa seperti dirinya.
"Seperti biasa ya," ucapnya yang di angguki Meili. Lalu ia memilih meja yang masih kosong.
Tidak membutuhkan waktu lama pesanan Rian sudah di bawah kan oleh Meili. "Silahkan di makan kak."
Baru saja Meili akan pergi, Rian sudah mencekal tangan gadis itu.
__ADS_1
...----------------...
...Tuh kan ketemu lagi Meili sama Raka 🤭. Jodoh apa nggak sih mereka 🤭...