
Jessy duduk di balkon kamarnya di temani oleh sang suami tercinta.
Suasana malam itu cukup menyejukkan bagi pasangan suami istri itu.
Jessy duduk di kursi, dimana ia bersandar pada Nathan yang duduk di belakangnya. Dengan membawa selembar selimut yang mampu untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Sayang, sudah yakin dengan keputusan itu?" Nathan meyakinkan kembali niatan Jessy yang ingin pindah.
Tadi setelah kepulangan nenek dari rumah sakit, Nathan membicarakan keinginan istrinya pada keluarga besarnya. Dan mereka semua tidak ada yang keberatan, tapi mereka meminta agar tidak terlalu jauh.
Hingga akhirnya Oma menyarankan agar mereka tinggal di kediamannya saja, di daerah Bogor. Tempat itu tidak terlalu jauh, hingga Nathan tidak kesulitan membagi waktunya untuk kuliah.
Apalagi rumah Oma yang dekat dengan perkebunan, pasti cocok untuk Jessy dan Nenek. Rencananya nanti Oma juga akan ikut tinggal bersama mereka.
Mendengar perkataan suaminya, membuat Jessy menengadahkan wajahnya. Menatap wajah tampan yang kini juga menatapnya, ia kemudian menganggukkan kepalanya tanpa keraguan.
"Tapi bagaimana dengan kuliah sama counter?" Jessy sepertinya merasa mempersulit keadaan suaminya.
"Tidak apa-apa, semuanya bisa di atur. Tidak usah khawatir," jawab Nathan. "Lalu dengan Papa Danu bagaimana? Apa kamu tidak ingin berpamitan?"
Tidak ada jawaban dari istrinya, dan kemungkinannya Jessy memang tidak ingin bertemu dengan sang Papa.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin berpamitan," kata Nathan. Ia mengecup puncak kepala Jessy dan mengeratkan pelukannya.
*
*
__ADS_1
Ketika selesai sarapan pagi, Jessy dan Nenek sudah bersiap dengan kepindahannya.
Pagi ini semuanya berkumpul di rumah Mariam, tentu saja untuk membantu membereskan apa saja yang akan mereka bawa.
Di sisi lain, Meili sedari tadi terus saja menempel pada Jessy. Gadis itu seolah tidak rela akan di tinggal sahabatnya.
"Meili jangan seperti ini," Sedari tadi Jessy tidak bisa bergerak leluasa karena Meili terus saja merangkul tangannya.
"Nanti kalau aku kesepian bagaimana?" Meili tetap saja dalam mode merajuk.
"Kita bisa VC."
"Tapi rasanya berbeda."
"Tidak ada rasanya Meili." Jessy memutar bola matanya malas.
"Nanti kalau keponakanku kangen dengan aunty nya gimana?"
"Tapi bisa saja dia ingin bertemu aunty nya yang cantik ini."
"Astaga," Jessy sudah tidak tau lagi harus menghadapi sahabatnya itu bagaimana.
"Sayang, berangkat sekarang? Biar nggak terlalu siang." Mami Nilam datang menghampiri mereka.
"Iya Mi," sahut Jessy yang segera berjalan keluar rumah di mana semua barang-barang sudah masuk ke dalam mobil. Nenek dan Oma pun juga sudah berada di dalam mobil.
"Kamu jaga kesehatan ya, titip juga cucu Mami." Nilam memeluk menantu kesayangannya itu sebelum Jessy benar-benar pergi.
__ADS_1
Jessy begitu bahagia mendapat keluarga yang begitu baik, meskipun mereka bukan keluarga kandungnya. "Pasti Mi."
"Kalau ada apa-apa, cepat hubungi kami." Kini giliran Papi Tama yang memeluk menantunya.
"Iya Pi."
Hingga tiba saatnya giliran Meili, gadis itu masih saja menunjukkan wajah merajuknya. Dan di detik berikutnya gadis itu justru menangis ketika Jessy memeluknya.
"Huaaaaa," tangis Meili pecah. "Jangan pergi," imbuhnya di sela-sela isak tangisnya.
"Meili, gue pergi bukan untuk selamanya. Nanti gue akan kembali kalau udah kangen sama lo." goda Jessy.
Namun itu tak membuat tangis Meili berhenti.
Jessy kemudian melepas pelukannya, ia menatap wajah sahabatnya yang sudah di penuhi oleh air mata. Sahabat yang benar-benar tulus padanya, bahkan Meili sudah seperti adiknya. "Jaga kesehatan, nanti kalau ada waktu luang lo main ke sana." kata Jessy.
Meili mencoba untuk menghentikan tangisnya namun tidak bisa, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, gue pergi." Setelah itu Jessy berjalan ke arah mobil, dimana suaminya sudah membukakan pintu untuk nya.
"Mi, Pi Nathan pergi dulu." Pamit Nathan sebelum ia pergi.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut." Pesan Mami Nilam dan Papi Tama.
Mobil yang di kemudikan Nathan perlahan melaju meninggalkan halaman rumah Mariam, namun baru beberapa meter mobil itu melaju, Nathan tiba-tiba menghentikan mobilnya ketika ada mobil lain yang begitu saja memotong jalannya.
Nathan menoleh ke arah istrinya yang duduk di sampingnya, ia tahu betul itu mobil siapa.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," Jessy mengerti arti sorot mata suaminya.
...----------------...