
Hari-hari Jessy berlalu begitu saja, tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Hanya saja status barunya sebagai istri sekarang sudah melekat.
Karena statusnya sebagai istri membuatnya harus sering mengunjungi keluarga suaminya. Tapi itu hanya sekedar mengunjungi, tidak untuk menginap.
Ia masih belum berani jika menginap di rumah mertuanya. Bukannya apa-apa, tapi ia berpikir bagaimana jadinya jika ia masuk di kandang macam? Bisa-bisa ia habis di makan tak tersisa oleh Nathan.
Status istri sangat melekat jika di luar sekolah, dan jika di sekolah ia seperti siswi seperti pada umumnya.
Seperti sekarang ini, ia lagi-lagi terkena hukuman oleh suaminya. Apalagi kalau bukan karena kelakuannya sendiri yang terlambat masuk sekolah.
"Suami nggak ada akhlak!" gerutunya dengan membersihkan toilet. Kali ini Nathan memberikannya hukuman untuk membersihkan toilet wanita.
"Kalau aja nggak ingat dosa udah gue!"
Brak.
Jessy menendang ember yang berisi air kotor bekas celupan kain pel. Ia meluapkan kekesalannya pada suaminya ke ember yang tak berdosa. Tapi akibat tendangannya itu justru membuat lantai yang tadi bersih sudah ia pel, sekarang justru kotor kembali. Karena ember itu terguling karena tendangannya.
"Ya ampun!" pekiknya memandang nanar ke arah ember itu. "Jangan-jangan ini yang di sebut kualat?" Tiba-tiba saja ia merasa merinding dan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah toilet.
Klek.
"Woi, kalau ngepel yang bener dong!" Lisa yang baru keluar dari salah satu toilet.
Jessy tersentak kaget, bukannya ia kaget dengan ucapan Lisa, tapi ia kaget karena ada kehadiran Lisa yang tidak ia sadari. Bagaimana jika kakak kelasnya itu mendengar gerutunya? Semoga saja tidak.
Jessy tidak menanggapi ucapan Lisa, ia bahkan meninggalkan Lisa begitu saja keluar dari toilet. Jessy tidak berniat membersihkan ulang, yang pertama saja sudah membuatnya mandi keringat apalagi jika ia membersihkannya lagi.
Di saat jam istirahat tiba, kantin sudah di penuhi oleh para murid yang sedang mengisi perut mereka.
"Bro, kita liburan yuk? Udah lama kita nggak liburan!" kata Ariel di sela-sela makan mereka.
"Boleh juga ide lo," Reza yang menimpali. "Mumpung senin besok tanggal merah, enaknya kemana ya?"
"Gimana kalau ke vila milik Raka?" ide Ariel.
"Boleh juga tuh, kan terakhir kita liburan udah ke vila Nathan." sahut Reza.
Kemudian mereka berdua menatap ke arah Raka yang dengan santai menikmati makanannya.
Raka yang tersadar kedua sahabatnya menatap ke arahnya hanya menautkan alisnya. "Kenapa?"
"Yaelah ternyata dia nggak nyambung!" Ariel sedikit kesal pada Raka.
"Mereka kepingin liburan ke vila milik keluarga lo," Nathan yang angkat bicara. Meskipun sedari tadi ia juga sedang menikmati makanannya tapi ia juga mendengarkan apa yang para sahabatnya itu rencanakan.
Raka terdiam sejenak, boleh juga ide sahabatnya itu. Lagi pula vila keluarganya jarang di kunjungi. "Ok," putusnya.
__ADS_1
"Kalau ada ceweknya pasti lebih seger nih!" Reza yang mulai melengkapi paket liburan khayalan nya.
"Nah, manteb itu." Ariel sepemikiran dengan Reza. Kemudian ia mengedarkan pandangannya hingga terkunci pada keberadaan Jessy, Meili, juga Tasya yang sedang menikmati makannya.
Tanpa tunggu lama, Ariel segera beranjak dan berjalan ke arah meja Jessy.
"Woi garcep juga lo!" cibir Reza yang tidak di dengarkan Ariel.
Nathan yang melihat tingkah Ariel hanya memperhatikannya saja. Ia tau akan kemana sahabatnya itu pergi.
"Cantik!" sapa Ariel pada Jessy.
Sayang gadis yang ia sapa sama sekali tidak meresponnya.
Sedangkan Meili dan Tasya seketika menghentikan acara makannya dan menatap ke arah Ariel.
"Kita mau ngadain liburan ke vila milik keluarga Raka, kalian mau ikut nggak?" tanya nya. Tapi pandangannya masih tertuju pada Jessy.
Mendengar kata liburan membuat mata Meili berbinar. "Kakak ngajak kami?" tanya nya yang mendapat anggukan dari Ariel.
Tanpa pikir panjang Meili menganggukkan kepalanya. "Boleh." Meili langsung menyetujuinya. Lagi pula ia sudah lama tidak liburan. Kemudian ia menoleh pada Tasya. "Tasya mau kan?"
Tasya juga menganggukkan kepalanya. "Boleh."
Dan yang terakhir Meili menoleh pada Jessy yang sibuk dengan makanannya. "Jessy mau--"
"Nggak," jawab Jessy.
Ariel sendiri juga merasa sedikit kecewa dengan jawaban Jessy, meskipun dua gadis cantik itu setuju untuk ikut liburan bersamanya.
"Lo bisa pergi dengan Tasya," ucap Jessy.
"Tapi kan lebih enak jika perginya bertiga," Meili mencari seribu alasan.
"Nggak!" jawaban Jessy masih sama.
"Jessy!" panggil Meili lagi dengan memelas. Apalagi sekarang matanya sudah sedikit memerah. "Ayo ikut," rengeknya dengan menggoyangkan tangan Jessy.
Jessy yang melihat tingkah Meili sungguh sangat menyebalkan. Selalu saja membuatnya tidak tega. Ia kemudian menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah, baiklah. Puas!"
Wajah Meili yang tadi sempat mendung kini cerah seketika, bahkan mata yang tadi sempat memerah kini bening seketika.
"Yey," Meili langsung memeluk Jessy.
Ariel yang ikut bahagia, reflek juga ingin memeluk Jessy seperti Meili. Tapi baru saja ia merentangkan tangan, Jessy sudah menatapnya tajam. "Oh, ok kalau begitu. Minggu jam tuju pagi ngumpul di sekolah ya." setelah mengatakan itu Ariel segera pergi dari sana dan kembali ke mejanya.
"Doi mau ikut bro," ucapnya senang.
__ADS_1
"Widih, bakalan manteb liburan kali ini." timpal Reza.
Sedangkan Nathan terus memandang ke arah istrinya.
*
*
Hingga hari yang di tentukan telah tiba, semua sudah berkumpul di halaman sekolah seperti rencana sebelumnya. Mereka hanya membawa hanya membawa baju dan perlengkapan pribadi saja.
Raka sudah menyiapkan segalanya nanti saat di vila.
Tapi formasi mereka sekarang bertambah, karena Lisa dan Tia yang mendengar rencana mereka berlibur memutuskan untuk ikut.
Dan Reza dengan senang hati menyetujuinya tanpa bertanya pada yang lainnya. Karena menurutnya semakin banyak cewek cantik yang ikut, maka akan semakin menyenangkan liburan nantinya.
"Kapan kita berangkatnya?" Lisa melihat jam tangannya sudah pukul delapan pagi, tapi mereka sekarang masih berada di sekolahan.
"Tunggu sebentar lagi," jawab Ariel.
Tentu saja mereka belum berangkat, karena Nathan dan Jessy masih belum datang.
Meili yang juga mencoba menghubungi Jessy juga tidak di angkat.
Entah sebenarnya mereka janjian atau apa? Hingga bisa telat bersama.
Ariel mencoba menghubungi kembali Nathan, karena tadi ia sempat menghubungi tapi tidak di angkat.
Hingga di dering ke empat, panggilan itu tersambung.
"Woi, udah jam berapa nih!" semprot Ariel ketika sambungan baru saja terhubung.
Semua orang juga langsung menatap ke arah Ariel, menanti jawaban apa yang akan di ucapkan oleh Nathan di sebrang sana.
"Sorry, gue telat bangun." Jawab Nathan dengan suara serak khas bangun tidur.
Mata Ariel membulat mendengar itu, tidak biasanya Nathan telat bangun meskipun di hari libur.
"Lo gil*, cepetan datang kesini. Semua lagi nunggu lo dan Jessy juga belum datang."
"Iya, gue siap-siap." sahut Nathan.
"Awas kalau lo--"
Tiba-tiba saja mata Ariel melebar.
...----------------...
__ADS_1
...Jum'at barokah 😁...
...22.59...