
Di sekolah Jessy menatap layar ponselnya, yang menjadi fokusnya sekarang adalah melihat kalender. Ia sedikit bernafas lega, ternyata pergulatan yang terjadi semalam di waktu ia tidak subur. Apalagi Nathan melakukannya tanpa menggunakan pengaman.
Ia tahu seorang yang sudah menikah harus siap jika suatu saat di berikan momongan, tapi masalahnya Jessy sekarang masih berstatus pelajar. Ia sendiri tidak menyangka jika di umurnya yang masih muda ia sudah kehilangan mahkota yang menjadi kebanggan para gadis, tapi ia bisa apa jika yang mengambilnya adalah suaminya sendiri.
Dan untuk drama tadi pagi yang di sebabkan oleh sahabat nya, membuatnya harus menahan malu pada semua anggota keluarga suaminya. Meskipun semua orang bersikap biasa saja, tapi itu tetap saja membuatnya merasa canggung.
Mami Nilam dan yang lainnya memang bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu, namun Jessy yakin mereka melakukan itu untuk menjaga perasaanya.
Tapi tidak dengan Nathan, ia mendapat teguran dari Papi Tama. Papi Tama mengingatkannya agar lebih hati-hati jika ingin menyentuh istrinya, Papi Tama tidak melarang hanya saja jangan sampai ia kebablasan membuat menantunya itu hamil di saat sekarang. Meskipun ia sendiri sebenarnya juga menginginkan cucu, tapi ia harus bersabar sampai Jessy lulus sekolah. Dan Nathan menyanggupi itu.
Di sebelah bangku Jessy ada Meili yang juga menekuk wajahnya. Ia menyadari kebodohannya saat Jessy meminjam foundation nya untuk menutupi merah-merah yang di kiranya cacar air, dan betapa malunya ia saat itu. "Kenapa tidak bicara terus terang?" Meili menatap Jessy dengan bibir mengerucut dan tatapan kesal.
Jessy hanya memutar malas bola matanya, yang benar saja masalah seperti itu harus ia ceritakan pikirnya. "Tidak ada yang harus di ceritakan Meili."
"Tapi kan kalau aku tau itu cipo*an, aku jadi nggak ngerasain malu kayak tadi pagi." Meili masih saja mengomel yang sebenarnya adalah kesalahannya sendiri.
Jessy melotot mendengar ucapan Meili yang tidak di filter, bahkan beberapa teman sekelasnya menoleh ke arah mereka. "Cangkemmu!" ( mulutmu) geram Jessy.
"Ca? Ca apa ?" Meili tidak paham dengan apa yang di katakan Jessy.
"Sudah lah," Jessy memilih diam dan tidak melanjutkan obrolan mereka yang pastinya akan merambat kemana mana.
Tidak jauh dengan Jessy, Nathan juga mendapatkan tatapan tajam dari para sahabatnya. Mereka menuntut penjelasan apa sebenarnya hubungan Nathan dengan Jessy gadis tercantik di sekolah mereka.
__ADS_1
"Sebenarnya hubungan lo sama tuh cewek apaan sih?" Pertanyaan dari Ariel mewakili dari para sahabatnya.
Sedangkan yang di tanya hanya bersikap seperti biasanya, seperti tidak terjadi apa-apa. "Menurut kalian bagaimana?" Nathan justru balik bertanya, bagaimana dari segi pandang sahabatnya.
"Lah ni anak di tanya malah balik tanya," Reza yang sudah serius mendengarkan jawaban dari Nathan, malah balik tanya.
"Lo pacaran?" tebak Ariel. Sebenarnya ia sedikit ragu mengajukan pertanyaan itu, karena ia takut jika sahabatnya itu menjawab iya, maka tertutup lah sudah kesempatan ia mengejar Jessy. Tidak mungkin ia bersaing dengan seorang Nathan yang jelas memiliki banyak kelebihan di bandingkan dirinya.
Nathan hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban, tapi dari senyumannya yang mengembang seharusnya mereka sudah tau apa jawabannya.
Tetapi Raka jelas sudah mengetahui dari raut wajah sahabatnya yang tidak seperti biasanya.
*
*
Sebenarnya Jessy sepulang sekolah, ingin sekali ia pulang ke rumah Mariam. Setelah Nathan mengambil haknya ia sedikit canggung jika berdekatan dengan suaminya, karena ia selalu teringat kejadian bersejarah itu yang tiba-tiba saja membuat pipinya merona.
"Mau cari buku apa?" tanya Jessy ketika ia sudah sampai di toko buku.
Nathan menatap sekilas ke arah istrinya. "Hanya buku tambahan buat penunjang ujian." kemudian ia melanjutkan mencari buku yang di rasa tepat dengan keinginannya.
Jessy hanya menganggukkan kepalanya. Suaminya itu sangat berbeda sekali dengannya, ia jika di rumah tidak pernah belajar. Jessy hanya membuka bukunya di rumah jika mengerjakan PR, selebihnya ia tidak akan mengurusi pelajaran sekolahnya. Namun ia tetap masih menjadi yang terbaik di kelas, mengalahkan Tasya yang sebelumnya menduduki peringkat pertama.
__ADS_1
Terlihat Nathan sudah memilih beberapa buku setelah mengitari beberapa rak yang ada di toko itu. Ia kemudian menghampiri Jessy yang hanya melihat lihat tanpa berminat membelinya. "Kamu tidak ingin membeli buku?"
Jessy menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku bosan jika membaca buku pelajaran." katanya santai.
Nathan hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya, selama ia menikah dengan istrinya ia memang tidak pernah melihat istrinya belajar selain mengerjakan PR. Tapi herannya nilai pelajaran Jessy tidak ada yang jelek, bahkan hampir sempurna di segala mata pelajaran. "Ya sudah kalau begitu. Mau makan dulu atau makan di rumah?" tawarnya.
Jessy terlihat berfikir, tapi kemudian ia memutuskan untuk makan masakan neneknya saja. "Kita pulang saja, Nenek pasti sudah masak."
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang.
Ketika sudah sampai di rumah, Jessy terlihat heran karena Nathan juga ikut turun. Ia pikir suaminya akan langsung pulang.
"Nggak langsung pulang?" tanya Jessy saat sudah di depan pintu.
"Ngusir?"
"Nggak gitu?"
"Lalu kenapa nyuruh pulang?"
Jessy melipat kedua bibirnya, ia hanya takut jika suaminya itu akan menginap di rumahnya lalu nanti malam akan meminta haknya kembali.
...----------------...
__ADS_1
...Waktunya vote nih 😁...