
"Loh, kalian sudah datang!" Mariam membuka pintu dari dalam, hingga menghentikan perdebatan suami istri itu.
Jessy menautkan kedua alisnya melihat senyum neneknya yang tak biasa. Seakan senyum itu ada maksud tersembunyi.
Jelas saja Mariam tersenyum penuh arti, karena tadi Oma sudah mengajaknya bergosip lewat telpon. Oma memberitahukan kehebohan yang terjadi pagi tadi di rumahnya, dan 99% Oma yakin jika cucu menantunya itu sudah tidak perawan. Itu semua juga di sambut gembira oleh Mariam.
Jessy menempelkan punggung tangannya di kening neneknya. "Nggak panas," kata Jessy ketika merasakan suhu tubuh Mariam normal. "Tapi kenapa Nenek agak!" Jessy menaruh jari telunjuk di keningnya dengan posisi miring.
Senyum Mariam sontak saja seketika hilang. "Mbok pikir Nenekmu iki wes gendeng!" sungutnya. (Kamu pikir nenekmu ini sudah gila )
Jessy hanya tertawa melihat Mariam sekarang yang kesal. Sedangkan Nathan hanya terdiam melihat interaksi cucu dan nenek itu, karena dia tidak mengerti apa yang di ucapkan Mariam.
"Ya sudah ayo masuk, cepat kalian ganti baju lalu makan. Nenek sudah masak banyak." Setelah itu Mariam berlalu begitu saja.
Setelah makan malam, Jessy menghabiskan waktunya bersama Mariam. Seperti biasa, Mariam tidak pernah ketinggalan salah satu stasiun televisi yang menayangkan acara musik dangdut kesukaannya.
Sedangkan Nathan ia berada di kamar Jessy, terlihat ia sedang serius membaca buku yang tadi ia beli bersama istrinya.
"Sudah malam, cepat sana tidur. Nenek juga mau tidur." Acara kesukaannya sudah selesai hampir tengah malam, dan kini waktunya Mariam untuk tidur.
"Iya," sahut Jessy lesu. Ia sama sekali tidak berniat untuk kembali ke kamarnya, pikirannya sudah melayang jauh. Kalau malam ini suaminya benar-benar menerkamnya, akan kemungkinan besar ia untuk hamil meskipun sekarang ia di masa tidak suburnya.
__ADS_1
Ketika Jessy masuk ke dalam kamar, ia melihat Nathan yang juga akan keluar dari kamar. "Mau kemana?" herannya. Ia melihat Nathan membawa kunci mobil. Semoga saja suaminya itu berubah pikiran dan memilih pulang ke rumahnya sendiri.
"Mau keluar sebentar," jawab Nathan.
Seketika raut wajah Jessy berubah lesu kembali. Harapannya hanya tinggal harapan.
Tak lama setelah itu terlihat Mariam berjalan ke arah mereka. "Oh ya tadi nenek mau memberikan ini, tapi lupa." Mariam memberikan sesuatu yang terbungkus kantong kresek.
Jessy dan Nathan kemudian menoleh ke arah Mariam. Jessy kemudian menerima apa yang di berikan neneknya, ia mengintip di dalamnya seperti kotak kardus yang biasa di buat untuk menaruh roti. "Apa ini?"
"Kalian buka saja sendiri, nenek mau tidur." Mariam kemudian kembali ke kamarnya.
Setelah Jessy membuka kotak tersebut, ia mengerutkan keningnya setelah melihat isinya. Tapi tidak dengan Nathan, ia mengulum senyum. Karena benda yang tadi hampir di belinya sekarang sudah berada di depannya. Nathan sendiri tadi sudah berselancar di dunia maya, mencari cara bagaimana ia bermain dengan aman.
"Apa ini?" Jessy melihat beberapa kotak yang cukup banyak dengan nama seperti merk nugget di dalam kotak yang ia buka. "Ada rasa buahnya," gumamnya sambil mengambil salah satu kotak itu. Tapi kemudian matanya melotot setelah ia membaca deskripsi yang berada di kemasan itu, Jessy langsung menaruhnya kembali. Wajahnya seketika merasakan hawa panas.
"Kenapa?" tanya Nathan. Ia kembali menaruh kunci mobilnya kembali.
"Bu-bukan apa-apa." Jessy merasa salah tingkah, dan penyebab ini semua adalah neneknya.
"Benarkah," Nathan yang mulai mendekat ke arah Jessy. "Ternyata nenek sangat pengertian, jadi aku tidak harus pergi untuk membelinya." ujar Nathan.
__ADS_1
Mata Jessy membulat mendengar penuturan suaminya. Jadi suaminya sendiri juga berniat untuk membeli barang yang seperti balon itu.
"Bagaimana kalau kita mencobanya, anggap saja menghargai memberikan nenek." Nathan yang terus menggoda istrinya. "Kamu mau rasa apa?"
Jessy sudah tidak tau harus menanggapi seperti apa, kini ia sudah tidak bisa menghindar kalau sudah ada benda balon itu.
"Baiklah, mungkin rasanya akan sama saja." Nathan mengambil satu kotak, dan sisanya ia simpan di laci samping ranjang. Ia kemudian kembali mendekati istrinya. "Ayo kita coba sekarang."
"Aku lupa jika ada PR." Jessy berniat beranjak dari ranjang, namun Nathan sudah dulu menarik tangannya dan menghempaskan nya si ranjang.
"Sekarang sudah tidak ada penghalang untuk kita tidak melakukannya kan?" Nafas Nathan yang sudah sedikit berat.
"A-- umph." Nathan tidak memberikan kesempatan untuk Jessy mengulur waktu lebih lama. Ia langsung melancarkan niatnya untuk mencapai kenikmatan surga dunia.
Hingga malam itu hanya terdengar suara merdu mereka berdua yang saling bersautan.
Sedangkan di dalam kamar Mariam, Nenek Jessy itu sedang tertawa dengan pikiran kotornya. "Pasti sekarang mereka sedang membuat adonan." Hingga kemudian ia teringat sesuatu. "Aku jadi rindu kakek kalau begini."
...----------------...
...Terima kasih buat semangatnya, tanpa kalian cerita ini nggak akan ada apa-apa nya ☺🙏...
__ADS_1